2 Hari di Ujung Kulon
KAMIS, 27 MEI 2010
Jam 21.00 saya sudah sampai di parkiran LBH UKI Jakarta timur, tempat biasa dimana meeting point kalau JPers (Jejak Petualang Community) mengadakan acara. LBH UKI selain lokasinya strategis disini juga masih banyak tersedia angkutan umum 24 jam jika kita pulang kemalaman.
Saya masih harus menunggu beberapa jam lagi sampai teman-teman peserta lain pada datang, ternyata mereka jauh-jauh juga rumahnya, ada 5 peserta yang dari bandung dan 1 peserta yang dari garut.
Sudah jam 21.30 Bis belum juga datang, saya coba confirm ke pak ketu Erwin londi untuk menanyakan keberadaan bis yang akan mengangkut kami ke Taman Jaya, dan setelah Erwin Tanya ke Pak Oting selaku supir bis ternyata dia kira kita berangkatnya jumat malam, dia pikir tgl 27 mei 2010 jam 00.00 itu adalah hari jumat malam sabtu, dan posisi bis juga sekarang ini sedang berada di puncak pas mengantar tamu lain kesana, GUBRAKKKKK… Erwin langsung jatuh pingsan.
Sambil marah-marah Erwin minta supir bis utk segera turun dari puncak dan segera menjemput kami yang sudah menunggu di parkiran LBH UKI.
Satu persatu akhirnya teman2 datang semua, alhamdulilah walaupun mereka jauh-jauh tapi mereka bisa datang tepat waktu sebelum berangkat jam 23.00 wib, ngga lama kemudian bis datang dari puncak Pass, kami semua segera memasuki keril dan daypack ke dalam bagasi bis dan segera berangkat ke Desa Taman Jaya.
Pak Supir kami beri waktu setengah jam untuk istirahat tapi dia tolak, katanya dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, ya sudah lah.. kita berangkat, ngga lupa sebelum berangkat kita berdoa dulu agar diberi keselamatan selama perjalanan.
JUMAT, 28 MEI 2010
Sekitar jam 7 pagi kami sudah sampai di dekat pantai umang, ngga jauh dari desa sumur, berarti desa Taman Jaya tinggal sebentar lagi piker saya, seharusnya itinerary kami jam 7 pagi ini sudah sampai di desa Taman Jaya untuk sarapan, tapi ternyata desa Taman Jaya dari desa sumur dengan kondisi jalan yang rusak karna belum di aspal menambah delay beberapa jam untuk cepat sampai di sana.
Beberapa kali bis harus jalan pelan-pelan ketika melewati jembatan atau kali kecil agar tidak mentok dengan bagian dasar bis.
Untuk mengakalinya, teman-teman lelaki harus bergotong royong membuat tumpukan batu kali untuk bisa di lalui bis agar dasar Bis tidak mentok dengan tanah.
Beberapa rintangan telah berhasil dilalui oleh bis namun naas untuk rintangan yang satu ini, legokan aliran sungai kecil ini terlalu dalam yang mengakibatkan bagian dasar belakang bis kami mentok dengan tanah, knalpot bis sampai gepeng dan pintu belakang bis juga jadi pengok karna supir bis tidak memperhatikan aba-aba dari kami untuk menghentikan laju bis mundur, karna kami tau pintu belakang masih dalam keadaan terbuka. PRAAAAAAKKKK…. Pintu belakang akhirnya pengok juga, apes banget.. sudah knaplot jadi gepeng, di tambah lagi pintu belakang jadi pengok dan ngga bisa di tutup.
Kasian banget pask supir, mudah2an dia ngga kapok dengan perjalanan kali ini. Sabar ya pak… !
Sekitar jam 10 pagi kami akhirnya tiba di desa Taman Jaya, desa yang lumayan masih asri, dengan pemandangan sebelah kiri sawah hijau berterasiring dengan punggungan bukit2 yang lebat, dan di sebelah kanan hamparan biru pesisir pantai ujung kulon.
Sayang sekali keindahan perjalanan ini ngga bisa di abadikan karna posisi saya ngga tepat berada di samping jendela bis, dan di tambah lagi kaca bis memakai kaca riben gelap.
Sudah terlalu siang untuk sarapan di Taman Jaya, tapi ngga masalah, karna memang dari semalam kami belum makan sama sekali, sarapan nasi uduk yang ala kadarnya yang Cuma dengan bihun dan di campur tempe lumayan bisa mengganjal perut untuk 4 jam nanti menyebrang ke Pulau peucang.
Setelah selesai sarapan kami segera menuju dermaga desa Taman Jaya untuk berlabuh ke Pulau peucang, Kapal yang kami naiki masih bagus dan bersih sekali, beruntung banget karna kemarin di Pulau peucang banyak tamu-tamu lain yang mendapatkan Kapal dengan kondisi yang kotor dan kurang terawat.
Hampir 3 jam setengah kami berlabuh menuju Pulau Peucang, sepanjang perjalanan menuju pulau peucang hanya terlihat hutan-hutan di sekitar pesisir terluar pulau jawa bagian barat ini.
Untuk makan siangnya kami sudah di siapkan dari desa Taman Jaya Sayang sekali kalau sampai tidur selama perjalanan, walaupun yang terlihat Cuma hamparan laut dan hutan-hutan.
Sekitar Jam 15.00 kami tiba di pulau peucang, woooow.. lautnya masih biru sekali, pesisir pantai peucang benar-benar sangat indah, warna langit yang biru, warna laut dengan gradasi biru ke hijau-hijauan, hutan yang hijau, dan pasir yang berwarna putih menambah kontras dan merupakan perpaduan warna yang sangat indah sekali.
Setelah Kapal bersandar dan semua teman-teman turun kami segera menuju penginapan di pulau peucang, sore hari Rusa-rusa, babi hutan dan monyet-monyet seperti sudah bersiap menyambut kedatangan kami disini, memang katanya Rusa-rusa dan babi hutan disini akan keluar pada sore hari, kalau pagi dan siang biasanya mereka kembali ke dalam hutan.
dengan langkah pasti saya menggiring teman-teman ke penginapan Fauna yang berada di tengah-tengah pulau peucang, tapi ternyata Guide kami Pak Rosyid malah membelokan kami ke penginapan di belakang Penginapan Fauna, kami di taruh di barak-barak milik pengelola wanawisata.
Barak-barak itu terlihat tidak terawat, 1 kamar Cuma ada 2 kasur yang di letakan di lantai tanpa tempat tidur, dan penerangan di dalam kamar juga banyak yang Cuma pakai lampu pijar 5-10 watt saja, menambah sumpek keadaan didalam kamar. Dan jatah kami Cuma disediakan 5 kamar, yang berarti 1 kamar harus di isi sebanyak 6 orang.
Pak komar selaku guide yang dari awal akan membawa dan mengurusi kita selama disana ternyata dia punya tugas mengantarkan tamu lain ke Pulau Krakatau, dan tugas dia mengantarkan kami di alihkan ke pak Rosyid.
Benar-benar mengecewakan dan bikin kesel saja, karna kami masih 2 hari 2 malam di penginapan ini, dan harus bertahan dengan kondisi yang sangat minim dan memprihatinkan.
Listrik cuma nyala waktu sore sampai pagi hari saja, siang hari tidak ada listrik sama sekali, karna tenaga listrik juga berasal dari mesin diesel yang harus di salurkan ke beberapa penginapan di sekitar pulau peucang.
Mau complain ke siapa..?? Pak rosyid ngga tau menahu masalah penginapan kami, dia Cuma dapat tugas menggantikan pak komar tanpa ada amanat yang lain.
Padahal waktu itu penginapan yang kami pesan ke Pak Komar adalah penginapan Fauna.
Setelah memasuki semua perlengkapan kedalam kamar kami dikasih waktu 1 jam untuk berkumpul dan berlayar kembali menggunakan Kapal menuju pulau Cidoan, jarak pulau Cidoan dari pulau peucang cuma beberapa kilometer saja, sore itu kami tidak begitu beruntung karna kami hanya menemukan 1 banteng dan 1 burung merak saja,
kalau kami beruntung kami bisa menyaksikan sekumpulan banteng-banteng yang sedang merumput disini. Mungkin mereka terusik dan masuk kedalam hutan karna kedatangan kami dan rombongan lainnya.
Setelah puas mengunjungi Cidoan kami segera kembali ke penginapan karna sudah sore, awan di sebelah barat sudah gelap sekali pertanda akan segera turun hujan.
Jam 7 malam hidangan untuk makan malam sudah tersedia, menu ikan bakar dan sambel kecap, jadi berasa bener-bener sedang berada di pulau, makan malam dengan keadaan gelap gulita cuma diterangi pakai headlamp dan senter punya teman-teman saja, karna lampu penerangan dari diesel mendadak mati malam itu.
Selesai makan malam sebagian teman-teman langsung masuk kedalam kamarnya masing-masing, saya, Erwin, jiteng dan one terpaksa tidur diluar kamar hanya dengan beralaskan matras dan jaket tebal, dan malam itu ternyata ada juga teman-teman lainnya yang ikut-ikutan tidur di luar karna kamarnya terlalu kecil dan panas.
Lebih nyaman tidur di luar (ngeles mode on), tapi memang enakan tidur di luar, udaranya sejuk, dan ngga ada nyamuk juga kok.
SABTU, 29 MEI 2010
Jam 4 pagi sudah terusik sama berisiknya teman-teman wanita di kamar sebelah, Starsea and the gank memang super rame banget, ngga ada mereka mungkin perjalanan kali ini akan terasa sepi sekali.
Selepas shalat subuh saya, Erwin dan Dian gatra segera bergegas untuk menuju ke dermaga pulau peucang, menyaksikan sunrise di pulau ini, mudah-mudahan ngga mendung dan dapat sunrise yang bagus.
Bibir pantai agak pasang pagi itu, pasir yang seharusnya bisa utk bermain-main kalau siang kini sudah terendam air pasang. Ngga ada POI pagi ini, di tempat kami berdiri untuk mengambil gambar tidak ada sama sekali obyek yang bisa di jadikan POI, alhasil cuma sebatang ranting saja yang kami jadikan obyek dan di tambah sekali-kali teman-teman sendiri yang sedang motret yang dijadikan POI.
Setelah puas dengan Sunrise kami semua balik ke penginapan untuk sarapan, menunya nasi goreng dan mie goreng, cuma ada rasa yang aneh pada nasi goreng pagi ini, nasinya seperti nasi yang sudah berkeringat jadi terasa sekali di lidah, akhirnya kami minta dibuat kan nasi goreng yang baru lagi.
Selesai sarapan kegiatan dilanjutkan untuk snorkeling di tiga spot terbaik di ujung kulon, pertama di sekitar Pulau peucang, kedua di dekat Citerjun dan yang ketiga di Cikunya (kalau ngga salah, lupa dengan nama spotnya), Underwater Pulau Peucang benar-benar masih terlihat bagus, dengan kedalaman yang cuma beberapa meter saja kita sudah bisa melihat terumbu-terumbu karang yang berwarna warni, ikannya juga sangat bervariasi, untuk menemukan bintang laut sangat mudah, karna disini banyak terdapat bintang laut. Namun Ikan Nemo (Clownfish) di pulau peucang warnanya sedikit beda dengan warna ikan nemo pada umumnya, karna warna orangenya lebih dominan ke warna merah hati, gemesin banget melihat mereka bermain di balik anemone (rumput tempat mereka bersembunyi), rasanya pengen sekali menangkap dan memegang badan ikan Nemo.
3 Spot untuk snorkeling selesai lah sudah, jam sudah menunjukan jam 11 siang, waktunya kembali ke penginapan untuk makan siang dan melanjutkan kegiatan selanjutnya.
Hujan turun dengan derasnya siang itu, makan siang sambil ditemani rintik hujan, kondisinya benar-benar seperti di penampungan para TKI, sebagian teman-teman makan siang di emperan depan kamar sambil jongkok.
Acara trekking ke Cibom – Tanjung layar jam 1 siang terpaksa jadi ngaret sampai hampir jam 2 siang karna harus menunggu hujan reda, biarlah hujannya sekarang saja, dari pada turun hujan ketika kami sedang berada di hutan.
Sehabis hujan berhenti, langit di Pulau Peucang menjadi sangat cerah, pasir putihnya jadi sangat halus karna bekas terkena hujan, laut menjadi berwarna biru kehijua-hijauan karna terkena pantulan sinar matahari.
Kurang lebih 1 jam kami berlayar akhirnya sampailah kami di Cibom, Cibom masih masuk kedalam kawasan Taman nasional yang terletak di dataran tanah pulau jawa.
Dari kapal yang kami tumpangi kami di jemput dengan kapal boat kecil, karna kapal besar tidak bisa merapat sampai dibibir pantai.
Di sini terdapat pos untuk beristirahat dan papan-papan informasi yang berisi sejarah Cibom-Tanjung Layar. Disana tertulis bahwa pada tahun 1808 pemerintah Hindia Belanda sempat ingin menjadikan Cibom sebagai sebuah pelabuhan laut. Namun, karena para pekerjanya banyak yang sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, maka banyak yang melarikan diri dari tempat itu, sehingga pembangunannya tidak pernah terselesaikan.
Menurut informasi disini juga dahulunya pernah ada penjara peninggalan jaman belanda.
Jarak dari Cibom ke Tanjung layar tertulis cuma 1 km, tapi ternyata apa yang kita jalani lebih dari 1 km, ngga tau mereka menghitung jarak ini pakai apa atau hanya perkiraan saja.
Jalan menuju Tanjung layar persis seperti jalur pendakian menuju gunung salak, becek banget, hujan tadi siang mengakibatkan bubur lumpur sepanjang jalan, kasian dengan teman-teman yang memakai sepatu jadi harus berbelok-belok ria, dan untuk teman-teman yang memakai sandal jepit juga lebih kasihan lagi, karna harus merasakan sendalnya terbenam didalam lumpur dan sulit untuk diangkat, akhirnya mereka banyak juga yang jalan sambil bertelanjang kaki.
Di perjalanan ada beberapa peserta dari rombongan lain yang membatalkan untuk menuju Tanjung layar karna mereka tidak terbiasa dengan kondisi jalan seperti ini.
Cape jalan selama hampir 1 jam akhirnya tibalah kami di Tanjung layar, hamparan padang rumput menyambut kedatangan kami di tanjung layar, tebing-tebing menjulang tinggi seakan-akan menjadi pelindung pulau ini dari terjangan ombak-ombak besar, indah sekali pemandangan di Tanjung layar.
Menurut informasi batu-batu besar dan tinggi-tinggi ini adalah bekas letusan Gunung Krakatau puluhan tahun silam.
Tidak lupa kami mengabadikan keindahan ujungnya pulau jawa dibagian barat ini.
Kami disarankan untuk tidak berlama-lama di Tanjung layar karna masih ada 1 kegiatan lagi sore ini yaitu menuju karang copong.
Rasanya masih ingin berlama-lama di sini, lelah masih belum hilang ketika berangkat tadi tapi mau bagaimana lagi, sore sudah hampir gelap, jam sudah menunjukan jam 16.30 wib.
Mungkin kita ngga bisa mengejar ke karang copong, melihat kondisi teman-teman yang sudah kelihatan sangat lelah, di tambah lagi sore itu sudah sangat gelap karna mendung.
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menuju karang copong melalui darat tapi tetap melihat karang Copong melalui laut saja,
Karang Copong masih terletak di Pulau Peucang, untuk menuju karang copong kita harus berjalan membelah hutan kurang lebih 3 km menuju arah utara pulau peucang ini.
Karang copong merupakan pulau karang kecil yang berlubang di bagian tengahnya, pulaunya terpisah dengan pulau peucang. Kapal tidak bisa mendekat ke karang copong karna banyak batu-batu karang di pinggiran pantai. Kami hanya lewat saja dan memandang pulau kecil ini dari kejauhan.
Langit sudah sangat gelap sekali, mendung ini benar-benar pertanda akan turun hujan, tapi posisi kami masih berada di tengah lautan, dan jarak kami sekarang ke Pulau peucang masih jauh sekali karna untuk kembali ke Pulau peucang dari tanjung layar yang melewati Karang copong berarti kami harus mengelilingi pulau puecang terlebih dahulu.
Dan tiba-tiba saja hujan datang, tidak ada rintik-rintik hujan lagi, hujan langsung turun dengan derasnya, handycam yang saya pegang saja tidak sempat saya masukan kedalam tas, sambil menggigil saya tetap merekam kondisi keadaan teman-teman yang sedang tegang menggigil kedinginan karna hujan. Petir menyambar sangat menakutkan, pandangan mata cuma bisa melihat beberapa meter saja, kabut di tengah-tenga laut sudah membuat horror perjalanan pulang ini, teman-teman didalam Kapal tidak ada satupun yang masih kering, semua basah kuyup karna badai hujan ini. Suasana yang tadinya ceria penuh canda tiba-tiba jadi berisik karna ketakutan, tapi tetap tegar menjalani keadaan ini, semua merapat membentuk lingkaran kecil didepan nahkoda kapal, kami ngga perduli lagi nahkoda kapal ngga kelihatan pandangannya karna tertutup oleh badan-badan kami. Kami Cuma ingin berlindung dari sambaran petir saja, beberapa teman ada yang sempat kesetrum ketika berpegang pada langit-langit dek Kapal ketika petir datang menyambar, saya coba memantau keadaan teman-teman di belakang kapal, ternyata di belakang jauh lebih serius dari teman-teman yang ada di depan, yang didepan masih tetap santai dengan bercanda untuk menghilangkan ketakutan, sementara yang di belakang diam seribu bahasa. Tapi dalam hati kecil pasti mereka tetap berdoa dalam diri mereka masing-masing agar selalu diberikan keselamatan dalam melewati rintangan ini.
Jadi teringat badai yang sudah menghantam team JP di lautan papua yang akhirnya harus menenggelamkan perahu yang mereka tumpangi, musibah tersebut sudah membuat duka yang mendalam bagi team JP karna mereka harus terdampar beberapa hari disebuah pulau tak berpenghuni dan yang lebih parah lagi karna harus kehilangan salah satu kemeramen terbaiknya yang belum ketemu juga sampai sekarang.
Setelah beberapa jam berlayar menerjang ombak melawan badai hujan akhirnya kami semua sampai di dermaga pulau peucang, gerimis masih tetap belum berhenti juga, tapi Alhamdulillah kami semua masih tetap diberikan keselamatan dan umur panjang olehNya.
MINGGU, 30 MEI 2010
Jam 5.00 pagi teman-teman sudah bangun untuk shalat subuh, setelah shalat saya dan beberapa teman berangkat lagi untuk hunting sunrise di sekitar dermaga, dua hari ini sunrise benar-benar sangat bersahabat, pagi yang benar-benar indah, saya sudah puas dengan sunrise pagi kemarin, sekarang saatnya memotret teman-teman yang sedang narsis di pinggir pantai.
Jam 7 pagi kami kembali lagi ke penginapan untuk sarapan dan segera kembali ke desa Taman Jaya.
Rasanya belum puas saya mengekplore Ujung Kulon, belum semua sudut kami datangi, masih ada beberapa spot lagi yang belum saya liat, masih ada pantai ciramea, Cibunar, Pulau Badul, berkano menyelusuri ekosistem hutan mangrove sungai Cigenter di pulau Handeuleum, Cihandeuleum, dan masih banyak spot lagi yang saya sendiri belum tau.
Sebelum sampai didesa Taman Jaya kami sempat mampir sebentar untuk makan siang di pulau handeuleum yang sudah disiapkan dari pulau peucang dalam bungkusan, ternyata di pulau ini terdapat hutan mangrove yang cukup lebat, didalamnya juga ada beberapa penginapan yang bisa digunakan untuk bermalam, masih ada rusa, monyet, babi dan burung-burung liar yang berkicau tanpa henti.
Untuk menyusuri sungai Cigenter di Pulau Handeulem biasanya pengunjung dikenakan biaya Rp.50.000 perorang, menyaksikan semak belukar hutan bakau dengan segala ekosistemnya. Dan yang paling apes kata penjaga di pulau ini adalah kalau sampai ketemu dengan buaya sungai.
Lamanya waktu yang ideal untuk bisa mengeksplore semua spot disini disarankan kurang lebih 7 hari, baru semua bisa di datangi.
3 hari 2 malam kami belum cukup untuk bisa menikmati keindahan dan keeksotisan Taman Nasional Ujung Kulon.
Suatu saat saya pasti akan kembali. I Promise…! Semakin hari aku semakin bangga denganmu INDONESIA…
































huaaahhh mantabh bener neh…bener2 bikin iri saja bisa menyaksikkan kekayaan alam indonesia yg sangat mempesona…btw salam kenal semuanya ya…
“from pangkalpinang with love”
Leave your response!