Home » Catper

Catper Dempo : Apa Yang Tersembunyi? Di balik Kabut Hitammu…

4 June 2010 12 Comments


Mungkin kalimat di atas judul yang tepat menurut versi saya untuk menggambarkan wajah Gunung Dempo yang terletak di propinsi Sumatera Selatan kala itu.

Sedikit saya bercerita tentang perjalanan ini. Sebuah perjalanan yang hampir saja gagal di saat injury time. Sebuah rencana perjalanan yang tercetus nyeplos begitu saja pada saat berkumpul dengan sekelompok manusia nocturnal di sebuah kafe (baca : warung ) di Pasar Festival. Satu persatu teman-teman mengabarkan undur diri dengan berbagai alasan. Hingga tersisa 4 orang saja. Saya, Eddy, Mahdi dan Irda. Saya sempat dilanda dilema waktu itu. Ragu antara tetap jalan atau dibatalkan saja.. Bagaimanapun cuti sudah di approve. Ya sudah kita tetap jalan. And the story begin start from May 13rd- 17th 2010.

Kabut hitam terlihat menggelayuti sebagian wajah Gunung Dempo, menyambut kedatangan kami siang itu di Terminal Pagar Alam. Hal ini sempat membuat saya ragu, bisakah melakukan pendakian sore nanti? Apabila keadaan hujan dan gelap, sementara diantara kami tak ada satupun yang pernah mendaki ke sana.

Bis Lantra Jaya AC Eksekutif yang kami tumpangi dari Terminal Kalideres Jakarta ini berangkat pada pukul 12 siang dan tiba di Terminal Pagar Alam Kabupaten Lahat Sumatera pada pukul 12 siang keesokan hari. Lebih lambat beberapa jam dari waktu yang diprediksikan. Menurut informasi dari teman yang pernah ke sini, seharusnya bis bisa sampai jam 9 pagi di Pagar Alam. Karena molor waktu inilah yang menyebabkan perjalanan kami begitu terburu-buru.

Turun dari bis, segera saya, Eddy, Irda dan Mahdi mengambil keril masing-masing dan mencari tempat duduk hanya untuk sekedar meluruskan kaki sesaat. Di sela waktu itu, saya mencoba bertanya ke beberapa orang di sana bagaimana caranya menuju rumah Pak Anton yang bagi para pendaki yang pernah ke Gunung Dempo nama ini sudah tidak asing lagi. Sebenarnya saya sudah mengantongi informasi bahwa dari sini

ke rumah Pak Anton bisa dengan kendaraan ojek. Tapi kami berharap ada angkutan yang lebih murah. Sialnya saya bertanya kepada para tukang ojek yang sudah mengerubuti dari semenjak kami tiba. Mau gak mau, ya mereka pasti menyarankan naik ojek. Dan karena memang judulnya sesaat, sesaat itu pula kami berempat segera naik ke ojek yang sebelumnya sudah coba di tawar.

Sekitar Jam setengah 1, ojek sudah mengantarkan saya dan ketiga rekan di rumah Pak Anton. Senyum ramah keluarga ini menyambut sumringah kedatangan kami waktu itu. Perbincangan segar diselingi gurauan Sunda membuat suasana semakin akrab. Pak Anton sempat menyarankan supaya pendakian di lakukan keesokan pagi saja. Tapi karena waktu yang sedikit, tetap kita sepakat melakukan pendakian hari itu juga.

Setelah berpamitan, tepat jam 2 siang ojek melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan kami sampai di Kampung 4. Perjalanan yang dilalui cukup “horror”. Karena melalui jalanan berbatu dan kelokan tajam. Hampir seluruh perjalanan ngojek ini tak luput dari lubang-lubang menganga menghiasi jalanan beraspal yang sudah rusak di sana-sini. Ditambah hujan yang deras menemani perjalanan horror ini. Tak jarang saya lihat, Mahdi harus turun dan berjalan karena ojek yang dia naiki kesulitan untuk melewati lubang. Beruntung ojek yang saya, Irda dan Eddy naiki tidak mengharuskan kami turun seperti yang dialami Mahdi. Akhirnya perjualangan itu berakhir juga. Saya melirik jam di pergelangan tangan kanan. Jarum panjang menunjukkan pukul 15.15 sore hari.

Di kampung 4, kami bertemu rombongan pendaki dari Universitas Sriwijaya Palembang. Tapi mereka baru akan melakukan pendakian di keesokan pagi. Bersyukur sekali, teman-teman Unsri tanpa di minta mau mengantarkan kami ke Pintu Rimba. Jarak dari Kampung 4 ke Pintu Rimba lumayan jauh. Bisa ditempuh sekitar 30-45 menit. Tepat pukul 16.00 sore kami tiba di pintu rimba. Pintu Rimba adalah titik awal pendakian ke Gunung Dempo. Ditandai dengan sebuah papan segi empat besar terpampang. Berisi beberapa tulisan-tulisan peringatan bagi para pendaki.

Pendakian segera di mulai. Eddy berada paling depan sebagai sniper, diikuti Irda, Mahdi dan saya paling belakang. Boleh dikatakan perjalanan ini sebagai “wet trip” . Dari semenjak naik sampai turun tak henti-henti nya ditemani rintik hujan dan tiupan angin kencang mengantarkan butir-butiran air menerpa badan kami berempat.

Perjalanan dari Pintu Rimba sampai Pos I di suguhi trek yang ajib dengan kemiringan antara 80-90 derajat. Jalur yang becek serta aliran sungai kecil terkadang membuat kami harus ekstra hati-hati melangkah. Kita akan disuguhi hidangan dengan lebatnya pepohonan yang masih perawan merambat menutupi sebagian jalanan, pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalur. Sah-sah saja kalau anda mau merangkak, ngesot atau apalah. Karena memang itu yang saya lakukan. Tiba di sebuah jalur yang dinamakan Dinding Lemari. Kenapa dinamakan Dinding Lemari? Itu juga saya tidak tahu kenapa. Yang jelas melewatinya membuat lutut ini ngaroroncod. Hehe. Kami melewati pos I pada pukul 6 sore. Hanya beberapa menit saja istirahat, lalu meneruskan kembali perjalanan.

Udara semakin dingin, ditambah dengan perut yang terasa lapar. “ Edd, kita istirahat dulu saja bikin mie atau teh yang penting hangat” teriak saya pada Eddy. “ya sudah kita break saja di pos 2” jawabnya lagi. Rekan saya yang satu ini memang cocok di jadikan sniper. Geraknya yang cepat, menyulitkan saya mengikuti langkahnya. Bermodalkan lembaran-lembaran kertas yang berisi informasi-informasi tentang Dempo juga, Eddy didaulat menjadi GPS kami :P

Sayup sayup terdengar suara dari kejauhan. Ah benar rupanya dugaan saya. Pos 2 sudah di depan mata. Jam 9 malam kami sampai di sana. Ternyata di sana sudah ada beberapa orang pendaki dengan 3 tenda yang sudah didirikan. Kami bertegur sapa dengan mereka dan segera menurunkan keril masing-masing. “ teh, kita masak apa?” tanya Irda. “ ya udah bikin minuman trus mie, bakso, atau roti kalau mau” jawab saya sambil mengeluarkan trangia dari dalam keril. Santapan malam alakadarnya dinikmati malam itu dengan penuh keakraban. Ah, inilah salah satu yang membuat saya lupa. Bahwa saya sedang di gunung yang bukannya mencari kenikmatan malah mencari kesusahan :P

Beberapa saat berlalu, kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Kali ini formasi team berubah. Mahdi berjalan paling depan, Irda, saya disusul Eddy. Langkah kali ini sedikit lebih fokus mungkin karena perut sudah terisi makanan juga. Hehe…

Tak ada gelak tawa, hanya sesekali obrolan ringan yang terdengar dan juga nafas kembang kembis saya. Medan yang kami lalui dirasa semakin berat. Seringkali tangan ini harus merangkak, meraih akar-akar untuk melangkahi kemiringan jalur.

Perjalanan terhenti di sebuah pelataran yang bisa memuat satu buah tenda kapasitas 3-4 orang. Waktu itu sekitar pukul setengah 12. Dan disini pula yang membuat kami begitu tertawa terpingkal pingkal. Baru dikeesokan pagi tersadar bahwa tempat tenda yang didirikan adalah jalur air yang tertutup daun-daun kering. Pada malam hari tidak begitu terlihat memang atau karena kondisi kami yang begitu kelelahan, hingga begitu gembiranya menemukan dataran lapang. Memang tidak begitu becek tapi cukup membuat basah seluruh perlengkaoan kami.

Pagi itu, saya buka tenda. Dan oh no, tidakkk!!!! Fly sheet yang menutupi tenda kami terbuka berantakan. Kebetulan fly sheet yang di bawa Mahdi, bukan fly sheet pasangan tenda nya ternyata. Alhasil kami harus berkutat mengikat fly sheet ini ke sana kemari supaya tenda inner tertutupi. Sementara bivak kecil di sebelah tenda yang berfungsi untuk menutupi keril-keril pun terbuka. Rupanya akibat tiupan angin kencang yang sudah memporak porandakan singgasana kami. Hiks….hiks.

Saya hanya bisa tertegun duduk, sambil berkata “ woi bangun ! noh atap fly sheet terbang kemana-mana. Tuh liat SB lo Mahdi, Edd, Irda kena tetesan air “. Hihi. Sampai sekarang masing terbayang jelas response nya mereka. “ Trus keril kita basah dong Pik “ tanya si Eddy dengan santainya sambil tetap melanjutkan tidurnya. “Ya iyalah, hellow tuh lo liat aja sendiri udah kaya di kubangan saja “ jawab saya dengan tertawa. “kerilku gimana Teh? “ Tanya Irda sambil tetap bersembunyi di balik SB nya. Hanya Mahdi yang tak bergeming tetap dengan tidur nya. Fiuh….

Dengan bermalas-malasan, masing-masing sudah terbangun. Saya dan Irda segera membuat masakan alakadarnya. Eddy memasak nasi dan Mahdi mencari lokasi yang aman untuk melakukan ritualnya. Angin tetap berhembus dengan kencang membuat dapur ini terlihat amburadul. Sedikit demi sedikit, makanan ini berusaha dimasukkan ke mulut. Dinginnya udara membuat kami begitu menggigil, sulit sekali rasanya mengangkat sendok ini ke mulut. Berlomba dengan bunyi gemerutuk karena gigi yang beradu. Haha..lebay…

Perlengkapan segera di packing, dengan di tutupi Fly sheet semuanya ditinggal. Hanya keril Irda saja yang di bawa, berisi cemilan dan air minum. Berempat jam 9 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Dempo berketinggian 3.159 mdpl. Satu jam berlalu tibalah di puncak Dempo. Puncak Dempo ini hanyalah berupa pelataran kecil yang tertutup pohon-pohon. Boleh dikatakan puncaknya sangat biasa tidak ada yang special. Tapi tunggu sampai saya ceritakan kejutan berikutnya.

Hanya beberapa menit kami di sini, selanjutnya menuruni jalur yang tersembunyi di balik pepohonan Puncak Dempo. Sampailah di pelataran. Kurang lebih 30 menit waktu yang diperlukan untuk sampai dari Puncak Dempo ke Pelataran. Pelataran ini berupa areal lapangan luas. Di sini akan ditemui aliran sungai kecil yang membentang dari Puncak Merapi dan bermuara di sebuah danau. Sampai di pelataran kita harus menaiki kembali jalur ke atas untuk menuju puncak berikutnya. Karena tebalnya kabut, kami tidak sempat melihat danau itu, konon hanya berdasarkan cerita saja. Ikutilah aliran sungai ini, maka anda akan sampai di puncak Merapi. Kurang labih jam 11 siang kami sampai di bibir kawah puncak Merapi dengan ketinggian 3.173 mdpl. Lagi-lagi karena kabut tebal yang naik, hujan, dan angin kencang memaksa untuk tak berlama-lama di sini. Hanya sekitar 15 menit saja menunggu sang kabut berlalu. Kita memutuskan untuk turun kembali. Sungguh disayangkan, saya tidak bisa mengabadikan gambar kawah karena benar-benar keseluruhan kawah tertutup si kabur putih.

Kurang lebih sejam waktu tempuh untuk menuruni puncak dan kembali ke tempat tadi mendirikan tenda. Tiga puluh menit kemudian tepatnya jam setengah 1 kami sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuruni kembali Gunung Dempo. Karena hari siang, jalur menjadi kelihatan jelas. Oh beginilah ternyata jalur yang kami lalui semalam. Berbatu, becek, berair, kemiringan yang ajib sangat. Tampang kami saat itu sudah jelek sekali tak berbentuk. Celana yang dikenakan sudah berubah warna Lumpur semua. Begitu pun dengan pakaian, lepek bin basah. Sudahlah tak usah lebay lagi ah :D

Tepat jam 16.00 sore. Sampailah di Pintu Rimba. Melanjutkan lagi ke tujuan berikutnya Kampung 4 dan jam 17.00 sore akhirnya tiba juga di sana. Sampai sekitar jam setengah 7 malam, kami dan beberapa temen pendaki lain menunggu truk yang akan mengantar ke rumah Pa Anton. Baju basah yang masih melekat ini, semakin menambah dingin saja. “ Bu, saya pesan susu coklat dua ya” spontan saya memesan 2 gelas susu untuk saya dan Irda minum. “ Siko wae” jawab si Ibu. Saya hanya melongo

bengong dan beberapa orang di warung itu tertawa kecil. Salah seorang teman dari Palembang yang duduk di sebelah saya lalu menjelaskan kebingungan itu. Katanya si Ibu mengatakan kalau susunya habis dan hanya cukup untuk satu gelas saja. Oh, begitu artinya. Hehe…

Beberapa menit berlalu, truk yang kami tunggu datang juga. Semuanya bergegas menuju truk. Tawa renyah dan guyonan-guyonan khas Sumatera mengiringi perjalanan ke rumah pa anton. Saya hanya bisa tertawa saja tanpa begitu paham guyonan mereka. Hanya beberapa kata saja yang dikira-kira artinya. Bukan karena kalimatnya tapi karena logat dan sikap mereka yang menjadikan saya ikut tertawa terbahak-bahak.

Jam 20.00 tibalah semua di rumah Pak Anton. Dengan mengantri kamar mandi. Satu persatu bergiliran membersihkan diri. Di rumah Pak Anton inilah terdapat sebuah pondokan yang merupakan beskem untuk para pendaki. Tepat berada di belakang rumah beliau. Sebuah pondokan yang sederhana. Dengan beberapa memorabilia pendakian beliau terpampang di dinding. Ada yang khas dengan Pak Anton ini. Sikapnya yang penyayang terlihat dari cara dia mengakrabkan diri dengan kami. Ikut terlibat percakapan pada malam itu. Hari beranjak malam. Satu persatu dari kami mulai menutup resleting SB nya masing-masing.

Keesokan hari jam 8 pagi, berempat kami harus sudah meninggalkan rumah Pak Anton untuk segera ke terminal Pagar Alam. Ada rasa haru sedikit. Terharu dengan keakraban ini dan tak disangka juga saya bisa sampai ke sini. Setelah pamit pada semua, berempat berjalan ke depan gerbang rumah Pak Anton untuk mencari angkot. Sesaat kemudian tibalah di terminal di sana sudah menunggu Pak Anton yang ternyata sudah dari tadi berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan sepeda motor. Dengan setia, beliau menemani kami menyantap sarapan pagi di warung Padang dekat Terminal.

Bis yang kami tunggu untuk tujuan Jakarta tak kunjung tiba. Barulah kira-kira pukul 12 siang bis datang. Seharusnya bis sudah tiba dari jam 10 pagi. Perjalanan pulang kali ini terasa lama sekali dan panas. Bis AC yang seharusnya dijanjikan, diganti dengan bis ¾ dengan alasan sang supir ada keperluan. Oh my Frog, hellow that’s your business, not mine. I’m a customer okay. Grrrrr…..

Karena alasan itu juga, saya sempat ngotot dengan pengurus PO untuk mengembalikan uang tiket sebagian karena bis yang tidak sesuai. Beruntung dia mau mengembalikan sejumlah uang meski hanya Rp. 15.000,- / orang.

Melewati jalanan sekitar Lintas Sumatera Bambangan Umbu, sempat terjadi insiden. Bis yang kami tumpangi terkena lemparan si Bajing Luncat? (entah apa istilahnya kalau di Sumatera ) Saya tak tahu apakah itu batu atau peluru. Beruntung tidak sampai melukai supir. Hanya kaca samping kanan saja bolong. Beginilah Sumatera…hiks…

Keesokan hari, jam 12 siang sudah sampai di Terminal Kalideres Jakarta. Eddy sudah sejak tadi turun pertama di Terminal Merak. Sementara Saya, Irda, Mahdi masih harus meneruskan perjalanan dengan Busyway untuk menuju rumah masing-masing. Dengan tampang dekil, keril segede gaban tak pelak menjadi pemandangan kontras di

dalam busyway siang itu. Ah bodo amat, emang gw pikirin :P Alhamdulilah kira kira jam 2 siang saya sampai di kost. Segera makan siang, cuci kaki dan tangan dan terkaparlah tak berdaya di tempat tidur tak ingat apapun sampai keesokan pagi :D


Terima kasih tak terhingga kepada :

- Alloh SWT, atas ijin Mu kembali aku masih bisa menikmati karunia ini
- Parent, Mom and Dad thx for always trust in me.
- All Team, you rock guys! Eddy as a sniper. Mahdi and Irda, my partner in crime.
- Vincent and cobus. Untuk semua info-info nya.
- Vita Lele, thx sudah membantu membelikan logistik
- Semua yang telah men support, mendoakan kami. Kamu, anda, dia. Tanpa dukungan kalian kami tak mungkin berada di sana. I love u, I love u all…

Dikirim oleh:
Neng Asgar
http://nengasgar.multiply.com

12 Comments »

  • tejo said:

    keren….

  • Neng Asgar said:

    Makasih Tejo, ayo catper kamu bisa di share di sini juga :D

  • hanhan said:

    Wah bagus liputannya, selamat ya sudah sampai di puncak dempo.

    Oh ya, kita kemarin bertemu di pos II loh hehehe…. salam kenal yaa….. :D

  • Neng Asgar said:

    Oh yahh..wah kebetulan sekali.

    Bro Hanhan yang mana yaa….

    Saya yang pake kerudung (kata bro han : gak nanya :P )

    Salam kenal juga :D

  • Aboy said:

    AAAAAAAAAAAAAAAA….
    mupeng ketemu Lifa-nya….
    mupeng juga ma yg ada di balik awannya….

  • frogedd said:

    wuih… neng asgar memang senior euy…

    ajarin saya naik gunung dong kakak..

  • Igods said:

    salam lestari…………….

  • denibotack said:

    wahhh T.O.B abiezz,,, selamat ya udah ktmu sama kabut hitam nya GN DEMPO,,salam rimba & salam kenal ya,,,

    warm regards
    botack

  • Deorc Regnboga said:

    tapi alun-alun Demponya keren yah…sist, nice post…

    Great & Honor

    Deorc Regnboga

  • nengasgar said:

    @denibotack, terima kasih dan salam kenal kembali ya :)
    @ Cobus , yupz absolutely sangadth keren. Thank u juga utk semua info2 nya ya bro.

  • putrinidya said:

    wah keren…selamat ya…
    salam kenal…

  • nengasgar said:

    salam kenal kembali Putrii…:D

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.