Home » Catper

Tenggelam Dalam Kabut dan Sulfatara Merapi

27 May 2010 2 Comments

Akhirnya aku bisa menjumpaimu lagi, setelah sekian lama hanya bisa memandangmu kagum dari kejauhan. Hanya bisa merindukanmu. Hanya bisa membiarkan jantungku berdetak kencang melihat birumu, Merapi.

Hari 1

Sabtu, 8 Mei 2010

11:30 Teman-teman yang ikut serta dalam pendakian Merapi kali ini sudah berkumpul di basecamp Vagus. Aku, Wawan, Dimas, Dewi, Ryan, Yudi, dan Loco. Masih ada 3 teman yang lain, Arief, Erika, dan Rita. Tapi mereka langsung berangkat ke basecamp Merapi. Kami berangkat dengan sepeda motor.

12:30 Kami tiba di Pasar Selo. Seperti biasa, kami membeli nasi bungkus untuk pendakian nanti. Lebih praktis dan bisa langsung dimakan :) .

13:00 Kami tiba di basecamp Merapi. Arief sudah berada di sana setelah mendaki Merbabu sendirian. Tinggal menunggu Erika dan Rita yang berangkat dari Jogja. Sambil menunggu, kami bersiap-siap untuk melakukan pendakian.

14:00 Erika dan Rita sudah datang. Erika segera memperkenalkan kami dengan Rita, yaitu adiknya yang masih duduk di kelas 2 SMA. Lalu kami memasukkan motor ke dalam basecamp Merapi untuk dititipkan. Kami berangkat menuju New Selo untuk makan siang terlebih dahulu. Menunya adalah nasi pecel. Sederhana memang. Nasi pecel dengan telur goreng dan tempe mendoan, entah kenapa rasanya nikmat sekali. Ditambah lagi dengan pemandangan indah Merbabu di seberang sana. Kami cukup membayar 5000 rupiah untuk nasi pecel itu.

Sementara menunggu pesanan, kami mendengar pembicaraan beberapa mas dan mbak di warung sebelah. Usianya jauh lebih tua dari pada kami. Sepertinya mereka adalah anak-anak mapala yang sedang reuni. Hmm, menyenangkan sepertinya bernostalgia lagi. Semoga kelak, saya dan teman-teman saya di Vagus juga bisa seperti itu.

15:30 Perut sudah kenyang. Setelah istirahat sebentar untuk membiarkan usus kami mencerna makanan dengan baik, kami segera memulai pendakian. Seperti biasa, kami membentuk lingkaran dan berdoa terlebih dahulu, lalu segera memulai perjalanan. Aku berjalan paling depan, disusul Rita, Erika, Dewi, Arief, Loco, Yudi, Dimas, Ryan, dan Wawan. Biasanya aku berjalan paling belakang dengan Wawan. Tapi Ryan dan Yudi ingin jadi sweeper kali ini, jadi aku memilih untuk berjalan di depan.

Melewati jalan di sisi kiri New Selo, menyusuri jalan setapak. Di kanan kiri bisa kita lihat ladang milik penduduk. Sesekali kami berpapasan dengan penduduk yang membawa hasil ladang maupun rumput untuk makanan ternak mereka. Wah, mereka kuat sekali membawa semuanya itu di atas kepalanya.

Beberapa kali kami beristirahat, melegakan nafas dan sambil foto-foto tentunya. Merbabu sebagai backgroundnya.

Setelah melewati ladang penduduk, kami mulai memasuki hutan.

17:30 Kami tiba di tugu pertama. Tapi sayang, tugunya sudah roboh. Di sisi kanan, jauh di depan sana, bisa kita lihat jalan menuju Puncak Merapi. Sayang sekali, sisi barat mendung sehingga kami tidak bisa menyaksikan matahari terbenam. Tapi pemandangan Merbabu menjelang petang cukup indah.

Hari mulai gelap, kami segera mengeluarkan senter. Dan tak lama kemudia gerimis pun turun mengiringi pendakian kami.

18:30 Kami tiba di tugu kedua. Pohon-pohon mulai berkurang, dan kami berada di punggungan, sehingga pemandangan lampu kota di sisi timur terlihat indah, apalagi setelah gerimis berhenti dan kabut mulai menyingkir. Rasanya tak ingin beranjak. Masih ingin menikmati indahnya lampu kota itu.Tapi, perjalanan kami masih harus dilanjutkan.

19:30 Jalanan mulai berbatu dan sedikit terjal. Hanya tanaman-tanaman pendek di sisi kanan dan kiri. Tandanya sebentar lagi kami tiba di Pasar Bubrah.

20:00 Kami tiba di Pasar Bubrah. Teman-teman yang lain beristirahat. Aku dan Arief mencari tempat yang cocok untuk mendirikan 1 dome besar dan 2 monodome. Setelah mencari-cari, kami mendapat tempat di balik batu dekat dengan tugu peringatan dari Mapala UPN.

Ketika kembali ke tempat teman-teman kami beristirahat, mereka sudah bersama dengan pendaki dari Jogja yang sudah tiba di Pasar Bubrah terlebih dahulu. Baik sekali mereka, kami diberikan setermos penuh jahe yang masih hangat.

20:30 Cukup beristirahat dan minum jahe, kami menuju tempat camp dan mendirikan tenda. Lagi-lagi, teman pendaki dari Jogja yang tadi kembali membantu kami mendirikan tenda.

Seperti biasa, suhu sangat dingin apalagi untuk aku yang tidak memiliki lapisan lemak ini. Selesai tenda berdiri saatnya membongkar carrier dan dypack, mempersiapkan tempat untuk istirahat. Sedikit memasak ditambah nasi bungkus yang kami bawa dari bawah, mengenyangkan kami malam ini dan kami siap untuk tertidur di atas dinginnya tanah dan bebatuan Pasar Bubrah. Sebenarnya kami sudah berniat bermain poker malam ini, tapi akhirnya kami tunda besok karena kami berencana mendaki ke puncak pagi-pagi sekali.

22:00 Sebelum tidur, tidak lupa aku menikmati sejenak keindahan alam. Taukah kalian? Bintang. Ya, bintang-bintang malam itu sangat indah, meskipun masih ada sebagian yang malu-malu untuk bersinar. Dan, selamat tidur bintang-bintang.

Hari 2

9 Mei 2010

04.00 Alarmku berbunyi. Saatnya membangunkan teman-teman yang lain supaya bersiap-siap melakukan pendakian ke puncak. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang cukup langka. Bangun pagi-pagi sekali untuk melihat sunrise di puncak, karena biasanya kami terlena dalam tidur lelap, bersembunyi di balik hangatnya sleeping bag.

Perlahan ku buka mata. Sesuatu menerangi dari luar membuat tumbuhan di sekitar tenda kami terlihat bayangannya di sisi tenda. Wah, ternyata bulan sabit sedang tersenyum manis di sebelah timur, berdampingan dengan bintang-bintang. Sementara bayangan merapi terlihat hitam dan bersih. Sepertinya kami akan mendapatkan sunrise yang indah pagi ini.

04.30 Kami memulai pendakian ke Puncak Merapi. Barang-barang kami tinggal di tenda. Cukup aman meninggalkan barang-barang di Pasar Bubrah. Kabut tipis berjalan dari arah timur yang mulai terang karena mentari segera menyingsing. Kami mendaki perlahan. Tapi tak disangka, kabut makin lama makin tebal. Jarak pandang kurang dari 5 meter. Aku mulai ragu dengan jalur yang kami lalui. Apakah sudah benar atau malah melenceng, karena jalur menuju Puncak Merapi tidak terlihat jelas dan bisa ditempuh dari mana saja. Namun ada beberapa tanda anak panah yang bisa kita ikuti. Sayangnya sekeliling kami yang terlihat hanyalah kabut. Sulit untuk berorientasi. Sisi timur yang tadinya terlihat mulai terang pun sekarang sama sekali tidak terlihat. Padahal setengah jam yang lalu jalan ini masih bisa terlihat jelas. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti sejenak. Sebagian teman yang lain berada lebih atas daripada aku, Wawan, Dimas, Dewi dan Yudi. Kami berharap kabut bisa menyingkir perlahan. Sambil menunggu, Dimas bercerita tentang pesan kakeknya ketika Dimas pamit ke Merapi. “Ono sing bahaya ning Merapi. Nek kabut, mandheg. Ngumpul bareng-bareng”. Artinya, kalau ada kabut, berhentilah dan berkumpul. Pas sekali pesan kakek Dimas untuk suasana pagi ini.

Kabut itu masih tak mau menyingkir, bahkan mencair menurunkan gerimis. Kemudian kami putuskan untu mendaki lagi, dan kami bertemu dengan Arief, Erika, Rita, Loco, dan Ryan. Kami mendaki lagi, dan akhirnya bertemu dengan tanda anak panah. Artinya kami sudah berada di jalur yang benar. Bau belerang mulai tercium. Wawan naik duluan, mencoba mencari jalur yang benar. Kami hanya bisa mengandalkan insting, ingatan dan tentunya anak panah berwarna oranye. Teman-teman yang lain mengikuti Wawan. Begitu juga aku. Dan masih di tengah gerimis. Sementara Dewi dan Dimas masih tertinggal di belakang. Dewi yang agak mual. Sepertinya tidak ikut ke puncak kali ini.

Kami terus mendaki di tengah kabut. Dan makin lama, bau belerang tercium makin menyengat dan kami merasa kadarnya makin meningkat. Semburan belerang menyertai hampir setiap langkah kami. Sampai akhirnya kami sadar bahwa asap putih yang mengelilingi kami bukan sekedar kabut, tapi bercampur dengan gas belerang yang pekat. Pernafasan kami mulai terganggu. Kami menutup mulut dan hidung dengan slayer, syal dan apapun yang bisa membantu kami bernafas lebih lega. Mata kami juga mulai terasa pedih. Beberapa dari kami mulai batuk-batuk. Demikian juga saya. Gas belerang ini sangat mengganggu. Tapi masih belum menyurutkan niat kami menuju puncak, karena kami berpikir perjalanan tinggal sedikit lagi dan setelah itu kami bisa langsung turun.

Tapi ternyata kami salah. Kabut membuat orientasi kami kacau. Seharusnya kami sudah tiba di puncak. Namun kami masih menemui tanjakan lagi dan lagi. Beberapa dari kami yang sudah pernah mendaki Merapi beberapa kali, sulit mengenali medan yang kami lalui. Semburan gas belerang dari celah-celah batu terasa makin menyengat. Kami mulai membasahi slayer kami supaya kami bisa bernafas lebih baik. Jarak pandang makin pendek. Tapi kami masih melanjutkan pendakian karena masih menemui tanda panah dan batu yang ditumpuk. Selain itu kami juga menemukan sesajen yang lumayan baru. Arief dan Ryan berjalan terlebih dahulu mencoba mencari puncak. Serba salah juga, karena jalan di depan belum tentu puncak, sementara di sini kami menunggu bersama semburan gas belerang di kanan kiri.

06:30 Tak beberapa lama, Arief memberi tanda bahwa dia sudah sampai di puncak. Ryan kembali, dan menuntun kami menuju puncak. Ternyata kami datang dari sisi utara Puncak Merapi yang biasanya dari sisi timur. Kami selamat tiba di Puncak Merapi. Tapi sayang kabut masih tetap tebal, tidak ada yang bisa kami lihat di Puncak Merapi. Begitu juga dengan Puncak Garuda yang tempo hari roboh. Kami tidak berani berjalan terlalu jauh karena sulit mengenali medan. Sementara itu, gas belerang yang tidak sengaja kami hirup makin mengganggu. Kami sempat merekam keadaan di Puncak Merapi. Dan sulit rasanya untuk berbicara karena ketika kami berkata-kata, gas belerang masuk ke tenggorokan dan menghentikan suara kami. Seperti tercekik rasanya. Tidak mau mengambil resiko, kami segera turun kembali melalui jalur di sisi timur. Wawan berjalan paling depan sampai menemukan tanda panah. Kemudian digantikan Ryan dan Arief. Untunglah dalam perjalanan turun kabut perlahan menghilang. Tapi ketika kami tengok ke arah puncak, kabut masih sangat pekat. Di sepanjang perjalanan turun, kami tidak berjumpa dengan Dewi dan Dimas. Kami berpikir mereka sudah kembali ke tenda.

Dalam perjalanan turun Wawan memperhatikan bahwa beberapa celah batu yang biasanya tidak menyemburkan belerang kali ini turut menambah pekatnya belerang. Karena celah batu yang berlumut hijaupun ikut berasap-asap.

07:00 Arief sudah tiba di tenda terlebih dahulu. Dan ternyata Dimas dan Dewi tidak ada di sana. Mungkin mereka sedang meninggalkan tenda sebentar, pikir kami. Tapi setelah beberapa lama, mereka tidak segera muncul. Wawan segera menyuruh kami untuk berstirahat dan makan sambil menunggu Dimas dan Dewi. Sambil bermain poker tentunya. Beberapa kali permainan, mereka tak muncul juga. Kami hentikan permainan dan mencoba tidur sebentar, karena setelah ini, kami akan mencari Dimas dan Dewi di jalur menuju puncak. Baru tertidur sebentar, Arief melihat sosok Dewi dan Dimas sedang menuruni jalur. Dan memang benar itu adalah Dimas dan Dewi yang kami kenali dari pakaian yang mereka kenakan. Hah, lega rasanya. Ternyata mereka juga menuju puncak seperti kami. Tapi kami sama sekali tidak bertemu di jalan. Mungkin akibat kabut yang terlalu tebal.

08:20 Melihat mereka kembali dengan selamat, aku, Wawan, Arief dan Loco segera melanjutkan misi. Yaitu menuju puncak Watu Gajah.

08:47 Kembali dari Watu Gajah, aku segera membereskan barang-barang dan packing. Dan satu keanehan aku temukan di kompor gasku. Kemarin ketika aku bawa naik, kompor gasku masih mulus dan tidak berkarat. Tapi ketika aku membereskannya, kompor gasku sudah berkarat di beberapa bagian. Aneh karena memang itu kompor gasku dan tidak tertukar.

10:00 Kabut bercampur belerang masih terus menyelimuti Puncak Merapi. Sementara di balik puncaknya terlihat sulfatara yang membumbung. Banyak.

Teman-teman yang lain sedang packing, dan kami menemukan keanehan lain setelah kompor gas yang berkarat. Yaitu golok milik Arief yang berkarat. Padahal sebelumnya masih ‘kinclong’, bisa dipakai untuk bercermin. Kami pun menyimpulkan bahwa kompor gas dan golok yang berkarat itu adalah akibat gas belerang yang terbawa kabut dan angin sampai ke tenda kami.

10:30 Semua sudah siap. Kami segera memulai perjalanan turun. Tidak lupa berdoa sebelumnya supaya diberikan keselamatan. Sebelum turun kami bertemu dengan Om dan Tante serta seorang pengantarnya yang baru tiba di Pasar Bubrah. Usianya sekitar 50 tahun.Wah hebat sekali mereka. Aku juga ingin seperti itu. Tidak berhenti mendaki.

Setelah ngobrol sebentar, kami pun berpamitan.

13:00 Akhirnya kami tiba di New Selo dengan selamat. Teman-teman yang lain masih beristirahat, sedangkan aku dan Wawan segera menuju basecamp. Kami tidak tahan ingin segera mandi. Segar sekali mandi setelah mendaki dengan air sedingin es.

15:00 Pendakian ini pun berakhir. Dan kami akhiri dengan makan tongseng “Bu Heru” di Pasar Selo.

Hidup seperti mendaki gunung. Cuaca bisa berubah kapan saja. Tidak bisa ditebak. Yang tadinya cerah bisa menjadi gelap dan hujan. Yang tadinya gelap dan hujan bisa tiba-tiba cerah. Dalam hitungan jam, menit, bahkan detik. Tak pernah kita tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Mungkin yang kita harapkan adalah puncak yang cerah dengan langit yang biru. Tapi yang kita dapatkan adalah badai dan puncak yang penuh kabut. Jangan menyerah, tetapah mendaki. Percayalah bahwa suatu saat, pada waktunya kita akan berdiri di puncak terbaik yang sempurna.

Terima kasih Merapi. Petualangan, pengalaman dan suasana baru kau hadirkan untukku pagi ini. Tetaplah tegak di sana. Dan aku akan datang lagi.

ditulis oleh:

yechimeru.blogspot.com

2 Comments »

  • ayuslim said:

    asik………………

  • nesti amelia tauristia said:

    mantaappp !!!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.