Home » Catper

Catper : Gunung Ciremai 3078 Mpdl via Apuy-Palutungan

11 March 2010 3 Comments

Hi…sekedar ingin berbagi cerita saja. Maaf kalau tulisannya amburadul….

Kp. Rambutan, 26 February 2010 Pukul 21.00 WIB

Alhamdulillah sampai juga di Terminal Kp. Rambutan setelah sebelumnya sempat dicecar pertanyaan seorang teman Panda di telepon “Pik, lo dah di mana sih? Lama amat, lo belum nongol juga. Buruan…” dan beberapa pertanyaan lainnya” hehe. Dalam hati, “dasar aki-aki bawel awas kalau sampai gak ikut”. Dan memang dia tidak ikut. Cape deeeh.

Bergegas turun keluar dari Busway dengan keril di pundak, dilanjutkan masuk ke gerbang Terminal di sana sudah menunggu beberapa orang. Ternyata banyak sekali orang-orang yang duduk di ruang tunggu dengan penampilan anak gunung semua. Tapi tanpa kesukaran yang berarti, saya bisa mengenali mana teman-teman yang termasuk dalam rombongan. Di kubu sebelah utara, adalah rombongan OANCeh Idos Cs dengan tujuan Gunung Cikuray- Garut. Ada pula rombongan di kubu selatan lengkap dengan perlengkapan snorkelingnya. Tak lupa juga rombongan pengantar antara lain terlihat Kong Nanda dan Buluk. Sementara kami, berdampingan dengan team Cikuray adalah rombongan dengan tujuan Gunung Ciremai- Kuningan.

Tepat pukul 22.00 WIB, masih tersisa dua orang teman kami yang belum sampai di Kp. Rambutan. Setelah di konfirmasi ulang melalui telepon, mereka berdua menyarankan kami untuk berangkat sebagai rombongan pertama melihat situasi mereka pun yang terjebak macet dan tidak tahu jam berapa akan sampai di Kp. Rambutan. Akhirnya kami berdelapan memutuskan untuk berangkat ke Cileunyi. Toh nanti kalau kedua teman kami itu benar jadi ikut, pasti akan bertemu di Cileunyi.

Dengan Menaiki bus Doa Ibu Jurusan Tasikmalaya, perjalanan terasa begitu lama sekali. Bus melaju dengan lemah gemulai, lembretha Lamborghini. Tidak terlihat sedikit pun semangat Bapak Supir untuk sekedar menambah kecepatannya atau bahkan terbakar emosi tersalip bis-bis disebelahnya. Kami hanya bisa menggerutu,  menikmati perjalanan itu dengan obrolan ngalor ngidul. Kurang lebih jam 2 dini hari, berdelapan (Cepot, Saya, Franklin, Eddy, Bodrex, Sunyi, Henry, Anggo) sudah sampai di perempatan Cileunyi dan segera menuju Mesjid yang ada di sekitar situ untuk sekedar beristirahat sejenak sambil menunggu kedua rekan kami yang katanya akan menyusul (Ricky dan Emblis). Tidak di nyana, 30 menit kemudian Ricky dan Emblis muncul. Hmm…how fast???

Sekitar jam 3 dini hari, dengan formasi lengkap. Bersepuluh kami bersiap untuk meneruskan perjalanan menumpang elf menuju Terminal Maja. Hampir saja salah satu rekan kami, Eddy tertinggal dan hanya keril segede gabannya saja yang terlihat tak bertuan. Rupanya dia diketemukan sedang terkapar tidur lelap di pojokan mesjid tanpa dosa. Huaaaaaaaaaaa….

Baru berselang 15 menit berlalu, tiba-tiba kendaraan yang kami tumpangi mendadak mogok. Bau gosong terbakar sangat tajam tercium, dan asap mengepul dari balik stir. Sementara suasana masih terlihat gelap dan sepi, saya sendiri tidak tahu pada saat itu sedang berada di mana. Beruntung ada angkot yang menawarkan kami untuk melanjutkan perjalanan ke Terminal Maja dengan biaya per orang Rp. 20.000,-. Sempat terjadi negoisasi sengit antara saya dan abang angkot. Meski rayuan maut sudah dikeluarkan. Tapi rupanya ongkos tetap bertengger diangka 20.000 dan tidak mau bergeming turun. Kali ini ajian kerlingan maut mata saya tidak mempan (Hihihi…matanya sedang kelilipan maksudnya ditambah gelap ya mana bisa kelihatan). Ya sudahlah…

Bagi kami semua, perjalanan ini adalah sebagai ujian terberat. Bagaimana tidak ?, angkot yang ditumpangi berguncang ke sana kemari dengan dahsyatnya. Sepertinya si Abang supir nya mantan pembalap F1, asli saya tidak lebay. Bak uang receh di dalam celengan, badan kami dan seluruh isi yang ada di dalam angkot di hempaskan ke sana kemari dalam kurun waktu 2 jam lebih. Berbanding terbalik 180% dengan gaya slow motion supir bis yang kami naiki sebelumnya. Hehe…turun dari angkot, semua nya terlihat semaput. Beruntung tidak ada yang jack pot, hanya saja turun dari angkot terhuyung huyung memegangi kepala.

Sampailah kami semua di Terminal Maja. Waktu menujukan pukul 05..30 pagi hari. Segera semuanya mencari Mesjid untuk melaksanakan Sholat Shubuh. Dan kejutan. Saya menemukan Ibu-ibu penjual Kue Serabi oncom. Haha..my paporito. Lumayan buat ganjel perut.

Perjalanan di lanjutkan dengan menggunakan truk L200 menuju Pasar Maja ( saya kurang yakin juga namanya). Di sini kami berhenti sejenak untuk mencari sarapan pagi dan melengkapi logistic yang kurang. Setelah semuanya siap, perjalanan diteruskan ke Desa Apuy dengan terlebih dahulu mengurus perijinan pendakian. Di sini kami berganti kendaraan truk L300 untuk diantarkan ke pos pendakian awal lewat jalur Apuy. Dan lagi-lagi L300 yang kami tumpangi ini melewati jalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dengan cekatan dan trampil, sang supir mengemudikan truk melesat melintasi jalanan berbatu, belokan tajam dengan kanan kiri jurang curam, melewati beberapa halaman rumah penduduk (dan ini benar-benar halaman rumah depan pintu), berbagi jalanan dengan ayam-ayam peliharaan penduduk. Lumayan sensasi ber off road ria, melatih jantung supaya kuat a.k.a Sport Jantung. Saya dan Mbak Sunyi duduk di depan, hehe agak sedikit lebih nyaman memang dibandingkan  teman-teman kami yang duduk di belakang.

Tiba-tiba bau gosong mulai tercium, asap mulai mengepul dari balik kemudi. Dan benar dugaan saya, mobilnya mogok. Again? Oh no…Dengan kerelaan masing-masing, para pria perkasa ini di daulat untuk mendorong mobil. Grenggg…grenggg Si L300 sudah hidup kembali. Spontan para pria ini berloncatan ke bak mobil, saya dan mbak Sunyi dengan sigap kembali duduk di depan sebagai Co-driver Om Rifat Sungkar..:P. Andai saja para supir truk di sini bisa ikut perlombaan Off Road, sepertinya tidak akan kalah bersaing dengan para pembalap lainnya. Haha…

Pendakian di mulai,

Semuanya berjalan beriringan. Seperti biasa Eddy berjalan dengan cepatnya, di susul Ricky, Emblis, Bang Henry, Mba Sunyi, Saya, Franklin, Bodrex, Cepot, Anggo. Hutan Ciremai memiliki pepohonan yang lebat dan rapat sehingga lumayan juga menyulitkan perjalanan kami. Ditambah pula medan tempur yang berbatu dengan kemiringan yang “oh no” membuat saya begitu termehek-mehek mencapai pos V. Nama-nama pos di sini, saya kurang bisa menghapalnya. Terlalu banyak dan serupa namanya.

Berlomba antara suara jangkrik dan nafas kembang kempis saya. Akhirnya sampai juga kami semua di pos V. (Sanghiyang Rangka). Berupa areal lumayan luas yang bisa menampung beberapa buah tenda. Tenda segera didirikan. Dan acara masak memasak Bakwan Jagung, haha hihi pun dimulai. Hari berganti malam, satu persatu diantara kami mulai memasuki singgasana masing-masing. Langit begitu cerah. Dari balik versatibule tenda, saya luangkan waktu ber-ritual menatap langit ditemani secangkir susu coklat panas. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb. Kembali Engkau mengijinkanku menikmati karunia ini.

Keesokan Hari, Sabtu tanggal 27 February 2010

Jam 8/9 pagi setelah semuanya menghabiskan sarapan masing-masing, perlahan namun pasti bersepuluh plus porternya Mba Sunyi bergegas melanjutkan perjalanan berikutnya menuju pertigaan Apuy-Palutungan. Ternyata jalur menuju puncak lebih terjal dan berbatu, tak jarang saya sendiri kebingungan mencari pegangan. Seluruh keril kami di tinggal di jalur pertigaan Apuy- Palutungan ini dengan di jaga Porter nya Mbak Sunyi. Tanpa keril saja kami sudah di buat ngesot geboy apalagi kalau membawa beban. Sekitar jam 11 siang kami semua sudah sampai di Puncak, tanpa formasi lengkap karena Anggo masih tertinggal di bawah. Akhirnya lagi-lagi foto keluarga kami tanpa Anggo. Hehe…..

Setelah beberapa foto naris diabadikan di Puncak, kembali kami menuruni jalanan berbatu untuk selanjutnya menuju ke beskem melalui jalur Palutungan. Jalur Palutungan tidak kalah bersaing “ajib” nya dari jalur Apuy dan Linggar jati. Terkenal karena lumayan lebay dan harus melalui beberapa bukit. Ditambah dengan kerapatan pepohonan dan semak belukar tajam. Di saat gelap bagi yang baru pertama kali melintasi jalur ini akan sulit membedakan antara jalur resmi dengan jalur cabang. Jalanan menuju Beskem Palutungan di warnai dengan jalur becek sisa-sisa air hujan di beberapa hari sebelumnya mungkin, pohon-pohon basah khas hutan tropis merapat dengan gagahnya. Banyak pula pohon-pohon tumbang diantara jalan yang kami lalui. Mendekati kawasan perkebunan penduduk akan dijumpai jalur motor trail dengan lebar hanya 15 cm sementara kanan kirinya licin dan dibuat miring. We have no choice harus tetap berjalan di jalur trail tersebut sambil menjaga keseimbangan kalau tidak ingin jatuh terpelanting. Sumpah, susah bangeet !

Ada cerita menggelikan pada saat saya dan Franklin hendak tiba di Pos Cigowong. Kami berdua berteriak girang. Alhamdulillah sudah sampai. Tapi ternyata oh ternyata warung dan lampu-lampu yang terlihat berasal dari teman pendaki lain yang sedang mendirikan tenda. Dan warung yang kami lihat hanya kerangkanya saja. Aslinya perjalanan dari Cigowong ke Beskem Palutungan mungkin harus ditempuh sekitar 2 jam an lebih lagi. Hihihi…..

Tapi cerita tidak hanya sampai di situ saja, beberapa meter lagi menjelang beskem Palutungan kami dicegat sekawanan anjing-anjing edan tak bertuan. Dengan sombongnya saling menggonggong satu sama lain. Mau gak mau saya di buat ketar ketir, kalau tidak merasakan berat keril dipundak dan dengkul yang sudah ngaroroncod karena Faktor U :-P mungkin sudah lari terbirit-birit. Pelan-pelan namun pasti kami pun memutar arah ke rute ladang penduduk. Dasar anjing gila, padahal sebenarnya dari situ jarak ke Beskem sudah dekat.

Alhamdulillah, sampai juga kami di Beskem. Di sana sudah sampai terlebih dahulu Ricky, Emblis, Eddy, Bodrexx. Di susul berikutnya Cepot, Mba Sunyi dan Bang Henry. Dan tetap yang paling akhir tiba dari keluarga kami kemarin adalah Anggo…J

Thx to :

-         Alloh SWT

-         My parents

-         Rekan seperjalanan : Cepot, Franklin, Mba Sunyi, Bang Henry, Andre Bodrexx, Eddy Unisi, Ricky Manado, Emblis dan Anggo Binus.

*Hobby ko naik gunung? Makanya punya hobby tuh yang wajar2 saja. Naik gunung tuh capek, bikin gosong muka, ngabisin duit pula…:P* Fiuhhhh

Sekian,

Neng Asgar

* bukan anak gunung, tapi anak ibu dan bapaknya *


Because adventure is about togetherness

YM : epik_w
MP : http://nengasgar.multiply.com

3 Comments »

  • Muklis said:

    Kapan ya.. Jajak Petualang ke Semeru..?? tak tunggu kabarnya…

  • boimakar said:

    owh… pantesan.. ama beliau… hihii
    brapo neng asgaar

  • admin (author) said:

    team JP Crew beberapa kali mengunjungi semeru. team JP Survival sekitar bulan September tahun 2009 kemarin juga liputan di Ranu Kumbolo.
    Bahkan Jambore Jejak Petualang 2 juga diadakan disana.

    untuk JPers tahun 2008 kemarin juga melakukan pendakian bersama BUSER Semeru,…

    kesana lagi kapan ya.. ditunggu aja mas :D

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.