<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jejak Petualang Community</title>
	<atom:link href="http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jejakpetualang.org/web</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 10:28:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menyapa Satwa Kalimantan Timur</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=521</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=521#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Aug 2010 16:53:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=521</guid>
		<description><![CDATA[Penjelajahan Kalimantan Timur untuk bertemu satwa khas KalTim yang menakjubkan&#8230;
(Berikut catpernya secara garis besar atas request beberapa rekan-rekan JPers&#8230;   Lebih lengkapnya silahkan saksikan JePe terus ya hehehe.. Mohon maaf bagi yang waktu itu nitip kalung manik dayak, barangnya lagi kosong di pasar2.. asli deh hehe )

Dimulai dari kota Balikpapan, kami dari Tim Jejak Petualang Satwa memulai perjalanan dengan mengunjungi Kawasan Penangkaran Rusa di Kabupaten Penajam Paser Utara. Untuk mencapai kawasan tersebut kami harus menyeberangi Teluk Balikpapan dengan menggunakan fasilitas kapal feri. Sampai di tujuan, pemandangan indah padang rumput ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penjelajahan Kalimantan Timur untuk bertemu satwa khas KalTim yang menakjubkan&#8230;</p>
<p>(Berikut catpernya secara garis besar atas request beberapa rekan-rekan JPers&#8230; <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Lebih lengkapnya silahkan saksikan JePe terus ya hehehe.. Mohon maaf bagi yang waktu itu nitip kalung manik dayak, barangnya lagi kosong di pasar2.. asli deh hehe )</p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070683.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-522" title="P1070683" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070683.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p>Dimulai dari kota Balikpapan, kami dari Tim Jejak Petualang Satwa memulai perjalanan dengan mengunjungi Kawasan Penangkaran Rusa di Kabupaten Penajam Paser Utara. Untuk mencapai kawasan tersebut kami harus menyeberangi Teluk Balikpapan dengan menggunakan fasilitas kapal feri. Sampai di tujuan, pemandangan indah padang rumput menyambut kedatangan kami. Dengan luas kurang lebih 50 Ha, penangkaran rusa tersebut tampak nyaris tak berujung. Pagar kayu pada paddock seluas kurang lebih 1 Ha tertata begitu apik. &#8212; Wah &#8216;Brokeback Mountain&#8217; banget deh pokoknya&#8230;.hehehe.&#8211; Terdapat dua jenis rusa: Rusa Sambar (Cervus unicolor) dan Rusa Timor (Cervus timorensis).</p>
<p>Pantai Lamaru, Balikpapan, menjadi tujuan kami keesokan harinya. Menurut penduduk sekitar, di area tersebut sering ditemukan ular. Hehe&#8230;Tak heran kami semakin semangat untuk melakukan pencarian. Hanya saja kali ini saya tidak didampingi oleh Mas Aji. Ternyata pencarian kami tak sia-sia, saya berhasil menemukan seekor Ular Sanca Batik (Python reticulatus) yang berhasil saya tangkap seorang diri &#8212; tenang&#8230;dilepasin lagi kok hehe&#8211;.</p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070352.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-524" title="P1070352" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070352.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p>Mengunjungi KalTim, tentu saja rasanya tak puas jika tidak menyapa buaya di Penangkaran Teritip. Penangkaran ini pernah diliput oleh TIm JP Mas Dody sebelumnya, namun kali ini kami liput dari angle yang berbeda&#8230; (ya kalo gak basi dong hehe). Kalo waktu itu ada makan sate buaya dan proses pengulitan (karena penangkaran ybs memang semacam crocodile farm juga), nah untuk episode kali ini, sepertinya bisa dibilang lebih eco-friendly ya? Haha. Kebetulan sekali, saat itu petugas sedang ingin memindahkan Buaya Muara (Crocodylus porosus) dari kandang satu ke kandang-kandang lainnya. Maklum, kapasitas maksimum satu kandang buaya hanyalah untuk menampung sekitar 40 buaya. Pada hari itu saya beruntung sekali dapat mengikuti proses pemindahan Buaya Muara betina. Betapa melelahkan, karena kami harus mencari buaya betina di antara puluhan buaya yang bersembunyi di bawah permukaan air. Sebelum pemindahan, air di kolam harus dikuras terlebih dahulu. Namun hujan semalaman telah membuat permukaan air tak kunjung surut. Pompa penyedotnya saja sampai rusak karenanya. Jujur saja, saya sempat tertawa geli mendengar pompanya sampai rusak. Bayangkan saja, untuk mengurasnya diperlukan waktu</p>
<p>1.5 hari&#8230; Jika buaya berhasil ditangkap, kami harus memeriksa jenis kelaminnya terlebih dahulu &#8212; kalau jantan, ada sesuatu &#8216;benda&#8217; yang keluar&#8230;gitulah intinya hahaha &#8211;. Kalau tidak beruntung, yakni menangkap buaya jantan, kami harus melepaskan kembali buaya tersebut ke kolam &#8211;padahal udah capek-capek huehe&#8211;. Sekedar informasi, pada hari itu terdapat 25 ekor Buaya Muara yang ingin dipindahkan. Kurang seru rasanya kalau belum berinteraksi lebih dekat dengan buaya-buaya yang ada. Oleh karenanya, saya juga memberi makan ikan kepada Buaya-buaya Air Tawar (Crocodylus siamensis) dan juga menduduki Buaya Sampit (Tomistoma schegelli). &#8211;Wuih&#8230;saking kagumnya saya peluk dan cium-cium Buaya Sampitnya soalnya kapan lagi bisa begitu hahaha&#8230; &#8211;</p>
<p>Buaya&#8230;oh buaya&#8230;makhluk purba yang menakjubkan karena setiap detil tubuhnya begitu mengagumkan. Namun kala kita menatapnya jantung pun berdebar semakin keras. :p</p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070539.jpg"><img title="P1070539" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070539.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p>Maskot Balikpapan, yakni Beruang Madu / Helarctos malayanus / Sun Bear, menjadi satwa yang kami sapa berikutnya. Terletak di Km 23 Balikpapan, yang masih termasuk kawasan Hutan Lindung Sungai Wain, enklosur Beruang Madu merupakan kawasan penelitian dan perlindungan bagi Beruang Madu yang sangat terjaga keaslian habitatnya. Banyak yang belum mengetahui bahwa penelitian pertama beruang madu di dunia diadakan di Balikpapan, Kal-Tim, Indonesia. Harusnya sebagai putra-putri Indonesia kita merasa bangga akan hal ini dan ikut menjaga kelestariannya. Menyusuri Sungai Wain, kami bertemu beberapa satwa elok lainnya hingga akhirnya perjalanan kami berujung pada kawasan di luar hutan lindung. Di sana saya mengikuti para nelayan menyusuri sungai dengan perahu untuk memancing Bidawang.</p>
<p>Bukan petualang namanya, kalau belum masuk hutan di Kalimantan. Setidaknya itu yang kami rasakan pada saat itu. Karenanya tim kami melakukan ekspedisi memasuki Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain, menuju ke Camp Djamaluddin. Perjalanan menuju camp memakan waktu sekitar 4 jam. Kami pun pasrah akan &#8217;serangan&#8217; pacet-pacet yang dengan lihainya menyusup ke dalam sepatu dan pakaian kami &#8211;walaupun sudah antisipasi ya pasti tetap kenalah&#8230; &#8212; Hutan Lindung Sungai Wain merupakan hutan yang masih tergolong &#8217;sehat&#8217;. Selain jenis primata yang terdapat di dalamnya masih lengkap, terdapat 274 jenis burung yang berhabitat di dalamnya. Macan Dahan pun pernah ditemukan di sana.</p>
<p>Suasana di sekitar Camp Djamaluddin benar-benar menyenangkan &#8212; Julia Roberts aja pernah ke sini lho&#8230;waktu pembuatan film Orang Utan &#8211;. Terdapat sungai tempat para peneliti dapat sekedar membasuh diri, berenang, maupun buang air&#8230;(haha makanya lihat-lihat siapa yang lagi di ujung dan lagi ngapain tuh dia). Malam itu kami berhasil menemukan trenggalung (sejenis musang) yang diam-diam menghampiri sisa-sisa makanan kami. Bulan purnama yang bersinar terang menjadi satu-satunya sumber cahaya kami di kegelapan malam (selain senter lah haha). Suara serangga dan burung mengantar kami ke alam mimpi saat kami mencoba untuk tertidur lelap. Wah&#8230;sungguh menyejukkan hati dan membuang segala kepenatan yang ada. Terapi alam ya&#8230; Keesokan harinya kami berjalan kembali ke lokasi tempat ditemukannya tumbuhan Jahe terbesar di dunia. Jenis tersebut baru ditemukan di Balikpapan, oleh karenanya tumbuhan tersebut diberi nama Balikpapanensis. &#8212;Asli deh gede banget&#8230;pohonnya aja 2-3 meter &#8211;</p>
<p>Hmmm&#8230; perjalanan kali ini tak akan terlupakan!<br />
<a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070127.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-525" title="P1070127" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/P1070127.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p><a href="http://www.facebook.com/Paramita.Mentari">Paramita Mentari</a><br />
(Tim Yoga Endryanto)</p>
<p>*Penulis pernah menjadi Host Jejak Petualang, yang kemudian terpilih menjadi Miss Water Indonesia tahun 2008 dan sekarang aktif di organisasi WWF.</p>
<p>Tulisan ini pernah diposting di MP Jpers (<a href="http://jejakpetualang.multiply.com/photos/album/69/Menyapa_Satwa_Kalimantan_Timur"> http://jejakpetualang.multiply.com</a> ) dan di milis JPers tanggal 9 Mei 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=521</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdiskusi dengan Alam di Ranu Kumbolo&#8230;</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=511</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=511#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 04:19:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[
Gugusan pegunungan Tengger menghampar ditengah Bumi Timur menyuguhkan sebuah kedamaian yang selalu memenuhi mimpi untuk menyapa kehidupan yang sederhana. Bumi Timur ini sungguh sempurna menemani ribuan hasrat untuk menjadi pusat penyatuan Nusantara, kerajaan-kerajaan besar Jawa Klasik (dikenal dengan Jaman Hindu-Budha) telah silih berganti mendirikan kekuasaanya disini, sebut saja Kerajaan Kediri, Jenggala, Singosari, yang kemudian dari keturunan raja-raja tersebut lahirlah Kerajaan Majapahit. Dan silsilah dari raja-raja jawa tersebut masih segaris keturunan dalam Wangsa Isana.
Majapahit dengan ambisi Gajah Mada-nya telah berhasil mempersatukan Nusantara dari Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, Jawa dan sebagian Indonesia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/36960_1412975720015_1101198037_31197269_5344695_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-512" title="36960_1412975720015_1101198037_31197269_5344695_n" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/36960_1412975720015_1101198037_31197269_5344695_n.jpg" alt="" width="647" height="429" /></a></p>
<p>Gugusan pegunungan Tengger menghampar ditengah Bumi Timur menyuguhkan sebuah kedamaian yang selalu memenuhi mimpi untuk menyapa kehidupan yang sederhana. Bumi Timur ini sungguh sempurna menemani ribuan hasrat untuk menjadi pusat penyatuan Nusantara, kerajaan-kerajaan besar Jawa Klasik (dikenal dengan Jaman Hindu-Budha) telah silih berganti mendirikan kekuasaanya disini, sebut saja Kerajaan Kediri, Jenggala, Singosari, yang kemudian dari keturunan raja-raja tersebut lahirlah Kerajaan Majapahit. Dan silsilah dari raja-raja jawa tersebut masih segaris keturunan dalam Wangsa Isana.</p>
<p>Majapahit dengan ambisi Gajah Mada-nya telah berhasil mempersatukan Nusantara dari Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, Jawa dan sebagian Indonesia Timur. Berdiri menjadi sebuah kerajaan kuat seperti sosok Gajah Mada yang duduk bersila menjaga Madakaripura di sisi utara pegununggan Tengger ini. Sedangkan di sisi selatan pegunungan Tengger inilah atap jawa menjulang tinggi memasak kedalam perut bumi dengan kuat. Dalam gugusan pegunungan Jambangan Puncak Mahameru berdiri menjadi pusat perhatian orang-orang suci terdahulu yang menganggap itulah pura tertinggi di Jawa.</p>
<p>Sedangkan sebuah danau terluas dikawasan itu yang terbentuk dari massive kawah Gunung Jambangan juga selalu menarik minat untuk mengunjungi dan menikmati keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Ini. Sama seperti minat Majapahit untuk menandai kekuasaanya dengan meninggalkan sebuah batu prasasti berhuruf Sangsekerta di sisi barat danau dengan ketinggian 2390mdpl ini. Danau ini telah dijamah manusia jawa jauh sebelum jaman Kolonial menguasai negeri ini.</p>
<p><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs220.snc4/39350_1412989000347_1101198037_31197316_6610194_n.jpg" border="0" alt="" width="608" height="405" /><br />
Pagi ini, kabut dingin Tengger menyelimuti membekukan nyali kami untuk menyapanya lebih lama. Beberapa badai kecil masih silih berganti menyambut Matahari yang tak kunjung menampakan sinarnya. Ranu Kumbolo berkabut pagi itu, Kami melingkar manyatukan sebuah harapan dibawah tenda besar menghadap kearah matahari terbit. Ada Riyanni Djangkaru didepanku dengan jacket biru mudanya, Mba Nida dari manajemen Jejak Petualang TRANS|7 dan Ncep yang menjadi presenter JP mengapit dalam dingin. Sedangkan disamping kananku ada Medina Kamil dan mas Herna “Tyo” disamping kiriku dengan Jacket Cartenz-nya yang cukup nyaman. Beberapa JPers jatim pun berbaur diantara kami, Hero, Nurul, Doi Fani, Udin, Kang Tovic, Cempluk…</p>
<p>Pagi itu kami Derdisuki Dengan Alam, dan Ranu Kumbolo dengan sempurna telah memberikan kesempatan itu, meskipun sesekali angin dingin memaksa kami untuk lebih merapatkan mimpi…</p>
<p>***</p>
<p>Sehari sebelum perjalanan dimulai&#8230;</p>
<p>Tidak seperti biasanya, tiba-tiba aku menuruti ajakan untuk berkumpul di sebuah dataran dengan ketinggian diatas 2000 mdpl. Mengumpulkan peralatan pendakian yang sudah entah dimana keberadaanya, dan akhirnya harus pinjam kanan kiri. Kompor gas yang buntu karena terlalu lama dalam kardusnya. Sleeping Bag yang masih kurang satu. Dan tenda yang langsung memenuhi kapasitas packing Airspace 35lt-ku. Menyusun menu untuk 2 hari pendakian dan akhirnya menemukan 6 teman pendaki yang akan menemaniku menempuh perjalanan jauh dari Surabaya ke Ranupani.</p>
<p>Beberapa minggu kemarin aku menolak mentah-mentah ajakan mendaki dari Deedee, seorang teman komunitas yang yang juga akan mendaki Semeru diakhir Juli ini. Paksaan yang ia suguhkan tak mampu meracuniku untuk kembali memulai manajemen perjalanan pendakian gunung. Tapi satu email singkat dari seorang yang bernama Riyanni Djangkaru telah membulatkan asa yang mulai menghilang, bahkan semakin tak terasa setelah 2 tahun selalu menolak ajakan untuk mendaki puncak trianggulasi tertinggi disuatu dataran. Pendakian ke slamet akhir tahun kemarin aku melaluinya tanpa persiapan hanya percaya dengan team besar yang memang sudah ada dan peralatan yang lengkap, diriku hanya nyempil diantaranya.</p>
<p>Maka Virus itu benar-benar meracuniku, memaksaku untuk merasakan kembali aroma kehidupan yang selama ini lebih banyak memenuhi Wall dan Blog-ku. Diawali dengan track panjang dari Surabaya-Ranupani yang kami tempuh dalam lima jam. Melewati jalanan terjal yang menyiksa motor bebek kami. Beberapa kali aku melewatinya dan selalu saja tak kuat untuk membawa kedua tubuh penumpangnya melewati tanjakan terjal sebelum desa Ngadas maupun setelah pertigaan Jemplang. Dan lewat tengah malam, setelah jari-jari tangan terasa membeku saat menenumbus kabut Tengger. Sampailah kami berenam yang menaiki 4 motor di desa tertinggi di TNBTS ini. Ranupani dengan ketinggian 2300mdpl.</p>
<p>Begitu jatuh cintanya aku dengan desa ini, beberapa tulisan telah kubuat di Blog-ku untuk menggambarkan kehangatan embun- embun yang berubah menjadi butiran es yang mematikan di pagi hari. Juga menginspirasikanku untuk membuat Group FB Ranupani “Serpihan Sruga”. Ranupani, desa terakhir untuk memulai pendakian ke Semeru, jauh lebih terkenal di luar negeri dari pada di negeri sendiri. Bahkan orang Malang-pun aku tak begitu yakin banyak yang mengenal desa dengan tradisi masyarakat Tengger yang kuat ini.</p>
<p>Malam ini, setelah 3 jam perjalanan dari Malang melewati hutan gelap dan jurang-jurang terjal dikanan kiri jalan tak rata. Kami memutuskan untuk menginap di sebuah rumah di dekat pos pendakian. Meskipun sebelum kesini telah menghubungi Bu Nunuk yang selalu menjadi jujugan kami jika kesini. Tapi karena kedatangan kami ditengah malam ini tidak tega untuk membangunkannya dalam selimut dingin Ranupani. Baru keesokan harinya sebelum pendakian dimulai kami menitipkan motor-motor kami disana. Membiarkanya membeku dan basah dalam hujan musim kemarau ini.</p>
<p>Perjalanan panjang, dulu 3,5 jam kini 5 jam..ckck…<br />
24-25 Juli 2010. Ranupani-Ranu Kumbolo, TNBTS.</p>
<p><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs228.snc4/38719_1412985480259_1101198037_31197302_6854028_n.jpg" border="0" alt="" width="614" height="409" /><br />
Enggan meninggalkan desa ini, menggantinya dengan peluh keringat dan beban berat dipunggung. Telat kami memulainya. Setelah pukul 10 pagi, rombongan kecil ini baru memulai perjalanan. Dua lembar fotokopi KTP dan selembar Surat Dokter menjadi syarat wajib yang baru tahun ini diberlakukan untuk mendapatkan surat ijin pendakian ke Semeru. Kali ini perjalanan yang awalnya hanya aku rencanakan dengan Pak WEA, seorang teman dikantorku. Yang mulanya adalah untuk mengunjungi air terjun Madakaripura di Sukapura dan menginap semalam di puncak Pananjakan. Akhirnya harus dialihkan juga setelah mendapat kabar dari milis JPers tentang acara Kumpul kumpul bersama crew Jejak Petualang di Ranu Kumbolo.</p>
<p>Maka 4 teman lainya adalah temen-teman yang terbiasa menemaniku menjelajahi bumi dengan langkah kaki. Ada Nurul, anak kuliahan yang aktif dipendakian. Ada Doi Fani, seorang mekanik diutara Surabaya yang pernah bersusah payah mencari rumah RD di bogor tapi belum sempat ketemu RD. Ada pasangan Udin dan Vita, Bapak dan Ibu Dosenya Nurul yang juga sama-sama suka menjelajah kesemak semak. Dan lengkaplah berenam kami memulai pendakian ini. Dan beberapa teman aku temui sepanjang perjalanan ini, ada Om Bonie pemilik took Adventure Camp Pondok Gunung Malang, dan Mas Bernad yang aku kenal di EASTJAVAGANZA awal April kemarin.</p>
<p>Nafas yang terengah, keringat yang membasahi dan terik yang mulai mengeringkan kerongkongan mengawali perjalanan kami. Dibeberapa tempat yang menarik untuk diabadikan beberapa frame dari Panasonic Lumix nya pak WEA telah me-narsiskan kami. Ditambah lagi dengan dua DSLR gede bawaanya. Tak ada salahnya kami naris diperjalanan yang semakin melelahkan ini. Jika dua tahun kemarin aku melewatinya hanya dengan 3,5 jam sampai di Ranu Kumbolo, kali ini setelah 5 jam perjalanan kami (Aku dan pak WEA) baru sampai pada tikungan dimana kita akan melihat sebuah danau hijau untuk pertama kali. Sedangkan rombongan yang lain telah meninggalkan kami berdua.</p>
<p>“Bukan faktor usia yang memaksaku semakin lambat, tapi perut yang tertahan daypack didepan dadaku” Alibiku kali ini untuk ngeles dari waktu panjang yang kujalani.</p>
<p>Pak WEA masih sibuk dengan mata lensanya yang panjang memaksaku untuk meninggalkanya, mengurangi letih yang sudah cukup membakar kalori tersisa berganti dengan stamina yang mulai menurun.</p>
<p>Sore itu Ranu Kumbolo menawarkan cahaya terang…<br />
Mata-mata jeli mengabadikan dari balik lensa…<br />
Tubuh tubuh kedinginan menghangatkan dengan sisa terik&#8230;<br />
Sarung hijauku kali ini menemaniku kembali menghangatkan raga&#8230;</p>
<p>Ada Hero, kang Tovic, Faries dan Cempluk yang sudah sejak kemarin mendirikan tenda disini, disisi barat danau. Mereka berempat berniat mengikuti acara yang diadakan oleh team Jejak Petualang TRANS|7 dari awal . Kali ini team JP akan mengambil liputan untuk materi 17 Agustus nanti. Diisi dengan upacara bendera, dan game-game ringan. Yang nantinya akan tayang di Jejak Petualang edisi 17 Agustus 2010. Sungguh istimewa, meskipun sangat disayangkan acara ini baru dipublish dalam waktu yang sangat singkat. Dua hari sebelum kegiatan ini berlangsung aku baru membantu mempublishnya di Event FB JP Comm dan WEB JPERS [ www.jejakpetualang.org ].</p>
<p>Istimewa. Baru kali ini team JP begitu lengkapnya, apalagi berada di sebuah gunung. Mulai dari Eksekutif Producer om Dudit yang biasa membawakan acara Mancing Mania, Produser JP om Budi yang juga salah seorang yang melahirkan JP, 6 presenter JP : Riyanni Djangkaru, Medina Kamil, Herna “Tyo” Survival, Septi “Ncep” yang pernah di Petualangan Bahari, Putri Ayudya yang pernah liputan JP di Katmadhu, dan Presenter baru JP yang cantik Indrayani Laksmi. Lengkaplah keisitimewaan Ranu Kumbolo dengan bunga-bunga ilalangya yang mulai tergantikan dengan semak musim kemarau.</p>
<p>Satu persatu menyalami mereka, memperkenalkan diri meskipun beberapa sudah ada yang pernah ketemu. Dan sebuah bingkisan istimewa dari team JP aku dapatkan berupa kaos kegiatan limited edition di Ranu Kumbolo ini. Meskipun telat mereka masih mengingat beberapa JPers yang datang terlambat ini. thanks.. <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs107.ash2/38712_1413022441183_1101198037_31197354_1864592_n.jpg" border="0" alt="" /></p>
<p>Akhirnya dipagi berikutnya kami dari JP dan JPers terlibat dalam jamuan tentang kebersamaan yang selama ini sudah dijalin dalam sebuah persahabatan. Saling bercerita tentang kami, kita dan kebersamaan yang selama ini lebih hidup didunia maya. Dari JPers menyampaikan beberapa hal tentang komunitas yang sudah mulai menggeliat dengan event-event yang cukup besar. Dan manajemen JP TRANS|7 yang diwakili mba Nida menyampaikan jalinan kebersamaan ini yang diharapkan akan lebih baik dan lebih bermanfaat untuk semua. Jamuan itu pun berakhir dengan badai kabut yang membawa rintik rintik air, membubarkan kami yang memang mulai kedinginan.</p>
<p>Dan siang itu setelah team Putri Ayudya turun dari puncak, aku sempat memberikan welcome drink sebuah kaleng minuman berkarbonasi. Dan setelah aku mendapatkan kompor ku yang dipinjam oleh team tersebut, team JPers dan JP beriringan melewati jalan setapak mendaki dan menuruni hutan tropis yang masih cukup rimbun ini. Kembali di Ranupani dan bertemu dengan sahabat-sahabat yang lain yang akan menempuh jalan yang telah kami lewati, ada Deedee, Titi, Joe, Eka dan teman-teman dari Indocement Jakarta.</p>
<p>***</p>
<p>Sore itu kami membersihkan diri dirumah pak Thomas, kepala desa Ranupani yang biasa menjadi jujugan kami jika berkunjung kesini. Tempat dimana kami menitipkan motor-motor bebek buatan Jepang. Disebelahnya adalah rumah Bu Nunuk dan Pak Ingot, masih saudara dari Pak Thomas. Hujan deras memaksa kami untuk lebih lama menghangatkan di tungku ruang tengah. Tak ada pergerakan dari kami sampai ada sapa dari mba Hana, istinya Pak Thomas yang baru kukenal.</p>
<p>“Rombongan dari mana mas” Tanya mba Hanna.<br />
“Dari Surabaya mba, yang kemarin menitipkan motor disini.” Jawab kami.<br />
“Pak Tasrip ko nggak keliatan ya mba, biasanya beliau menemani kami disini.” Aku mulai merasa ada yang kurang tanpa keberadaan pak Tasrip yang biasa menyambut tamu-tamunya dengan ramah, dan guyonan segarnya.<br />
“Bapak Sudah tidak ada mas”<br />
“Baru tanggal 30 Juni kemarin, sebenernya sakitnya sudah beberapa bulan. Karena suhu Ranupani yang tidak baik untuk kesehatanya, bapak sempet dibawa turun ke Senduro. Dan Bapak meninggal dirumah sakit” Mba Hanna menerangkan meninggalnya Pak Tasrip.</p>
<p>Cukup kaget mendengar berita itu, Bagi kami bapak Tasrip adalah sosok yang sederhana, ramah, suka menyapa dan mencandai kami dengan guyonannya. Sekilas teringat pertemuan terakhirku dengan beliau. (di note: Ranu Pani – Love never End). Beliau menemani kami dengan cerita tentang masyarakat Tengger dengan upacara-upacara adatnya yang masih bisa ditemui, tentang awal mulanya beliau memilih tinggal di Ranupani setelah pindah dari Lumajang. Dari cerita Mba Hanna bukan cuma kami yang merasa kehilangan. Ada seorang tamu dari Prancis yang setiap tahun datang ke Ranupani dan selalu mencari untuk bertemu dengan Pak Tasrip.</p>
<p>Orang baik akan dikenang baik.. <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>***</p>
<p><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs208.snc4/38719_1412985760266_1101198037_31197309_1069945_n.jpg" border="0" alt="" /><br />
Dan malam itu juga kami melanjutkan perjalanan pulang turun ke Malang dilanjutkan ke Surabaya. Ditameni gerimis dan licinya jalur turun yang memang sudah rusak parah. Hawa dingin yang membekukan jari-jari dan tangan kami. Bahkan sampe sukses membuatku jariku kram saat menuruni jalanan berbatu sepanjang Ranupani –Tumpang.</p>
<p>Terima kasih untuk:<br />
-Alloh SWT, untuk kesempatan kembali mengunjungi Ranu Pani “Serpihan Surga”<br />
-Tante Riyanni DJangkaru, Media Kamil mas Herna, untuk pertemuanya kembali.<br />
-Preseter JP: Putri Ayudya dengan suara khas-nya, Septi si Ncep, dan Indrayani laksmi, terima kasih untuk perkenalannya.<br />
-Mba Nida yang menemani kami “Berdiskusi dengan Alam”<br />
-Team JP TRANS|7<br />
-JPers Jatim: Nurul, Doi Fani, Udin, Vitta, Hero, Kang Tovic, Faries, Cempluk<br />
- Deedee yang taernyata keberuntungan berpihak padamu mendpatkan kaos JP-ku yang ukuran sesuai untukmu, Titi, Joe, Eka dan semua taemnya.<br />
-Pak WEA, mohon maaf telah mengajak menjalani perjalanan melelahkan ini. thanks bidikan kameranya.<br />
-Siku..siku… <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>-hans-<br />
<a href="www.trihans.com">www.trihans.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=511</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rinjani, Diantara Perjuangan dan Ketakjuban</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=508</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=508#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 04:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[
Sudah semenjak lama saya memimpikan untuk bisa menginjakkan kaki di Gunung ini. Sebuah gunung yang begitu membuat saya takjub dengan segala keunikannya. Mencoba mensiasati waktu demi mewujudkan sebuah keinginan diantara sela pekerjaan.
Hanya membutuhkan waktu sekitar sebulan saja, untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari mengumpulkan informasi-informasi dari internet, hunting tiket, kemudian koordinasi dengan teman di Lombok yang saya kenali dari Jejaring Facebook.
Team kecil mulai terbentuk. Dari Jakarta : Saya, Kang Erwin, Eddy, Franklin, dan Rio. Menyusul Chandra, seorang teman yang menyusul dari Flores. Ditambah dua orang teman dari Lombok, Locker dan Cubon ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/SDC10372.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-509" title="SDC10372" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/SDC10372.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p>Sudah semenjak lama saya memimpikan untuk bisa menginjakkan kaki di Gunung ini. Sebuah gunung yang begitu membuat saya takjub dengan segala keunikannya. Mencoba mensiasati waktu demi mewujudkan sebuah keinginan diantara sela pekerjaan.</p>
<p>Hanya membutuhkan waktu sekitar sebulan saja, untuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari mengumpulkan informasi-informasi dari internet, hunting tiket, kemudian koordinasi dengan teman di Lombok yang saya kenali dari Jejaring Facebook.</p>
<p>Team kecil mulai terbentuk. Dari Jakarta : Saya, Kang Erwin, Eddy, Franklin, dan Rio. Menyusul Chandra, seorang teman yang menyusul dari Flores. Ditambah dua orang teman dari Lombok, Locker dan Cubon yang akan menemani kami naik Rinjani. Total team 8 orang.</p>
<p>Chandra sudah terlebih dahulu sampai di Mataram di pagi hari. Sementara kami baru akan mendarat di malam harinya dengan menumpang pesawat LION AIR penerbangan langsung dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta menuju Bandara Selaparang Mataram.</p>
<p>Beruntung persiapan kami tidak begitu mengalami kesukaran berarti. Hanya sempat terganjal di masalah “worrying of ticketing hunting” di awal rencana. Saya dan Rio di pusingkan untuk konfirmasi transfer uang kesana kemari. Rupanya hal itu juga yang menyebabkan saya mengalami “pre hiking syndrome” akut selama 2 hari menjelang hari H. Makan bubur lupa bayar, mau ambil ambil uang ke ATM lupa bawa kartunya, dan sering salah juga menuliskan tanggal. Pada akhirnya tiket sudah di pesan dari salah seorang teman JPers yang bekerja di Biro Travel, Myra yang juga salah satu sahabat karib saya.</p>
<p><strong>Day 1</strong></p>
<p>Disepakati meeting point di Bandara Soekarna Hatta pukul 17.00 WIB. Karena pesawat yang akan mengantar kami dijadwalkan terbang pukul 19.15 WIB.</p>
<p>“Pik, gw dah nyampe neh” terdengar suara Rio di handphone saya. Ternyata masih jam 4 sore dan Rio sudah sampai duluan. “Ya udah, lo tunggu deh. Gw masih di kantor. Jam 4 sore gw baru cabut ke Bandara” jawab saya agak tergesa.</p>
<p>Bergegas jam 4 sore theng ! saya berlari kecil keluar kantor. Di luar sana sudah menunggu Ikhwan yang dengan setia sudah membawakan keril saya. Malam sebelumnya Ikhwan sengaja datang ke kost mengambil keril terlebih dahulu. Supaya di keesokan hari saya tinggal lenggang kangkung saja tanpa perlu memikirkan caranya membawa keril keluar kantor.</p>
<p>Secepat kilat saya dan Ikhwan melaju di atas motor menuju gerbang tol terdekat ke arah Bandara. Hingga tak memerlukan waktu lama setelah berganti taksi, dua puluh menit kemudian saya sudah berada di Bandara. Terima kasih banyak buat adik ku Ikhwan J</p>
<p>Tiba di Bandara Soetta, di sana sudah menanti Eddy, Rio dan Franklin. Lalu di susul saya dan sepuluh menit kemudian Kang Erwin muncul. Masih tersisa jeda yang lumayan lama sampai ke waktu penerbangan tiba, kami memutuskan untuk check in lebih dahulu supaya tenang dan sisa waktu yang lumayan lama itu dipergunakan untuk makan malam dilanjutkan Sholat Maghrib.</p>
<p>Kurang lebih pukul 19.30 WIB pesawat yang sudah kami tumpangi mulai mengepakkan sayapnya beranjak naik perlahan akan mengantarkan ke bumi bagian Timur nusantara ini.</p>
<p>Pesawat yang kami tumpangi mulai memasuki landasan dan landing di Bandara Selaparang. Satu persatu para penumpang mulai keluar dari pesawat dan saya langsung menghidupkan handphone. “Locker, dah di mana? “ tanpa basa basi saya bertanya, sesaat setelah HP dinyalakan “Gw dah di luar neh sama Chandra nungguin, langsung aja keluar pintu” jawab Locker.</p>
<p>Itulah saat pertama kali saya bertemu langsung dengan Locker setelah hampir sekian lama intens berkomunikasi di YM, SMS, e-mail, dan telepon mengenai perjalanan ini. Seorang ABG labil dengan sosok perawakan kurus menyapa saya dan teman-teman dengan terkesan malu-malu. Mengapa kebanyakan orang yang hobi mendaki gunung itu badannya kurus kecil ya? He…</p>
<p>Sejenak berlalu, kami masuk ke dalam mobil temennya Locker yang sudah bersedia menjemput dan mengantar ke Bandara pada saat kepulangan nantinya.</p>
<p>Tiba di Beskem Oasistala, melanjutkan ke beskem Gema Alam. Di sana kami bermalam sehari. Keesokan pagi nya saya, Locker, Chandra dan Kang Erwin berbelanja logistic ke pasar traditional.</p>
<p><strong>Day 2</strong></p>
<p>Saya mengira banyak sekali logistic yang dibeli pada saat itu. Namun ternyata dibeberapa hari perjalanan mendatang, logistic yang dibeli itu benar-benar pas dan habis dihari terakhir. Hanya tersisa sedikit tomat, cabe rawit, gula merah, dan garam, yang kami tawarkan ke tetangga sebelah tenda. Mereka kebetulan masih menambah sehari bermalam di Danau Segara Anak.</p>
<p>Angkot yang membawa kami ke Pasar Aikmel sampai ditujuan menjelang Dhuhur. Di sana sudah menunggu beberapa teman pendaki dari Padang. Lalu berganti kendaraan bak terbuka menuju Desa Sembalun.</p>
<p>Panas menyengat begitu terasa membakar kulit. Kaos tangan panjang, topi rimba, dan slayer yang saya kenakan seakan tak mampu menghalau panas ini.</p>
<p>“Pik, gw beli deh slayer JFE lo tiga puluh rebu sekarang, gw butuh neh buat nutupin muka gw” celetuk Rio membuka percakapan di hening siang itu. “Ah lo seh, salah sendiri waktu itu ditawarin kaga mau. Berasa butuh kan? “ jawab saya nyengir menahan silau panas matahari.</p>
<p>Bercampur dengan barang dagangan penduduk yang kebetulan ikut di dalam mobil terbuka itu membuat kami semua berdesakan duduk. Saya sendiri duduk mepet diantara keril-keril yang disusun berderet sedemikian rupa dan hanya diikat oleh seutas tali.</p>
<p>Akhirnya tiba juga di gerbang pendakian Sembalun. Sambil menunggu semua keril diturunkan, Saya, Kang Erwin, Rio, Franklin, Eddy mencari musholla kecil untuk sholat. Agak susah juga mencari-cari ke sana kemari. Terutama air untuk berwudlu yang hanya berupa tampungan bak air saja.</p>
<p>Sekitar pukul 15.15 WITA, kami telah bersiap dengan peralatan tempur masing-masing. Beberapa keril terlihat begitu overloaded dan dipaksakan. Seakan tiada rela menyisakan celah sedikit pun. Di jejal terus. Pun dengan keril yang saya bawa. Hanya daypack kecil di dada saya yang sengaja tidak terlalu di isi full supaya menyisakan ruang leluasa untuk bernafas.</p>
<p>Bersiap semuanya untuk melakukan perjalanan ini. Cubon berjalan paling depan, saya,  diikuti Rio, Eddy, Locker, Franklin, Kang Erwin, dan Chandra. Berhubung kondisi stamina masing-masing, formasi ini mengalami perubahan. Hanya dia yang mempunyai nafas paling kuat yang bisa bertahan di depan <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Saya sendiri pun sebenarnya sedikit khawatir keteteran mengimbangi langkah para lelaki ini. Selama perjalanan selalu berusaha untuk berjalan ditengah. Dan tersisa The Pengkors, demikian mereka menamakan dirinya. Berada di paling belakang team ini. Siapakah dia? Nanti pembaca akan tahu sendiri <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Silakan menebaknya.</p>
<p>Jalur Sembalun yang kami lalui benar-benar menguras seluruh energi. Keringat bercampur debu mengucur deras. Dengan tak memperdulikan tetesan keringat yang beberapa kali mengenai mata, saya terus berjalan perlahan namun pasti. Semuanya terbayarkan oleh cantiknya pemandangan yang disuguhkan. Padang savana terhampar begitu luasnya. Seolah permadani yang meliuk liuk terkena tiupan angin. Panas terik matahari seakan langsung ditumpahkan dari langit. Kelihatannya saja seperti dekat padahal kami masih harus melewati beberapa bukit untuk bisa sampai di pos 2.</p>
<p>Menjelang maghrib, kami sudah tiba di Pos 2. Di sana sudah ada 3 orang pendaki, mahasiswa dari Jakarta juga yang belakangan kami akrab memanggilnya Pak Haji. Kenapa? Karena mereka bertiga ini selalu memakai peci putih pemberian Pak Haji yang mereka kenali diperjalanan dan bersedia menampung ketiga mahasiwa ini selama perjalanan ke Lombok. Inginnya anak gadis yang dihadiahkan dari Pak haji, namun ternyata hanya peci. Lumayan, begitu celoteh mereka.</p>
<p>Lucunya lagi polah mereka ini, ketika saya ikut nimbrung ber ha ha  hi hi bermaen kartu di malam hari. Salah satu dari mereka spontan mengingatkan untuk melepas peci ketika permainan berlangsung. Dosa katanya, memakai peci bukan untuk maen kartu tapi untuk sholat. Hihihi…</p>
<p>Udara mulai terasa dingin. Saya segera mengeluarkan trangia dan spirtus dari dalam keril. Locker dan Cubon begitu cekatan juga mengolah makanan untuk santap malam. Sementara yang lain masih berkutat mendirikan tenda. Tidak banyak aktifitas yang kami lakukan malam itu, saya sendiri terlelap didinginnya malam di jam 11.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Day 3</strong></p>
<p>Keesokan pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun. Ternyata jalurnya tidak lebih mudah daripada sebelumnya. Kali ini semakin banyak ditemui tanjakan. Bertiga, saya, Rio dan Cubon sampai terlebih dahulu di Plawangan Sembalun. Tak lama kemudian Eddy dan Franklin muncul dari balik tanjakan. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat jalur menuju mata air. Hingga beberapa menit kemudian barulah terlihat Chandra, Kang Erwin dan Locker mendekati tenda kami.</p>
<p>Menjelang waktu Isya, makan malam segera tersaji. Beginilah nasib, menjadi perempuan seorang diri diantara para lelaki. Didaulat menjadi chef. Meski tak sehebat Chef Farah Quinn, tapi boleh lah hasil makanannya di adu <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Menu kali ini nasi, sarden, goreng tempe, goreng ikan teri, kerupuk dan sambal maknyus hasil racikan Chandra dan Locker. Saya tahu sekarang, dibalik cepatnya jalan Eddy ternyata tersimpan kelemahan. Pedas, dan cabe rawit ya itulah kelemahan dia. Kasihan partner saya yang satu ini dikerjai makanannya ditambahi pedas. Tiap kali dia makan selalu kelimpungan mencari air minum. Alhamduliah santap makan malam kali itu begitu nikmat tiada tara. Udara yang menggigil terkalahkan dengan pedasnya rasa sambal.</p>
<p>Ada satu lagu yang menjadi Theme Song selama perjalanan kemarin. Pertama kali Locker memutar lagu ini dari HP nya, telinga sensitive Eddy rupanya menangkap cita rasa unik lagunya. Akhirnya kami semua mulai menyukainya juga. Lombok I love You yang dinyanyikan oleh Band Reggae Indie Amtenar. Tak henti-hentinya selama perjalanan dilalui, lagu ini kerap kali di teriakan. Hehe..dan saya hanya bisa menyahuti sebatas echo nya saja  “Lombok I love you….” karena tidak hapal liriknya.</p>
<p>Kurang lebih liriknya seperti ini,</p>
<p>Sinar Mentari pagi</p>
<p>Bangunkan ku dari mimpi</p>
<p>Butir embun putih</p>
<p>Bagai mutiara didadun yang hijau</p>
<p>Buih ombak putih, menghiasi lautan</p>
<p>Birunya bagai hati</p>
<p>Seiring sunset tenggelam dipantai</p>
<p>Senyum ramah penghunimu, Oh sungguh pulau yang indah</p>
<p>Membuatku tenang dan damai</p>
<p>Lombok I love you, manjakan aku dengan alammu oh oh</p>
<p>Lombok I love you, menyatu aku dengan pasir putihmu.</p>
<p>Lombok I love you, sebar rinduku untuk kembali lagi…</p>
<p>Dst….</p>
<p>Satu lagi satu password gaul yang dipopulerkan Chandra, dengan tangan bak seorang gitaris sambil berucap “jreng jreng jreng”. Jreng jreng jreng ini bisa dilakukan kapan pun dan dimanapun ketika kami mau. Bisa diantara keheningan perjalanan, bisa pada saat capek ataupun sekedar bersenda gurau. Ya begitulah, resiko bergaul dengan orang-orang stress tingkahnya pun aneh di luar kewajaran. Huehue….</p>
<p><strong>Day 4</strong></p>
<p>Di jam 2 dini hari, kami semua sudah bersiap untuk summit. Dua daypack kecil sudah siap di belakang punggung saya dan Eddy. Berisi air minum, P3K dan cemilan kecil. Berjalan beriringan kami mulai menapaki jalur menuju puncak. Ditemani angin kencang, rasa kantuk yang teramat sangat serta dinginnya udara menyulitkan perjalanan ini. Beberapa kali, saya sengaja menjatuhkan badan ke depan untuk melawan kuatnya angin yang menerjang. Lebih baik ke depan dari pada terjengkang ke belakang. Tak jarang langkah kami terhenti untuk membetulkan syal atau jaket karena tiupan angin yang sangat kencang. Saya sendiri baru sadar dipagi harinya, jalur yang kami lalui semalam ternyata sangat ekstrim juga. Kanan kiri jurang, kalau saja tergelincir. Apa kabar saya? Hiks…</p>
<p>Menjelang pagi hari, team kami mulai sampai menapakkan kaki di puncak. Rasa terharu bercampur bahagia begitu bergemuruh di dada ini. Hanya teriakan kecil sambil menghempaskan diri ke tanah begitu yang biasa saya lakukan ketika berhasil sampai di puncak. Alhamdulillah, bisa juga saya sampai di sini. Menginjakkan kaki di puncak Gunung Rinjani yang berketinggian 3.726 m dpl. Terima kasih ya Rabb.</p>
<p>Di sana sudah ada bule-bule yang sudah semenjak tadi sampai terlebih dahulu. Puncak Rinjani ternyata biasa saja. Hanya dataran sempit. Kalau ingin berfoto solo harus antri bergiliran. Tapi yang begitu membuatnya terasa special, adalah ketika  pemandangan tertuju ke arah Danau Segara Anak. Subhanallah. Sulit dilukiskan dengan kata-kata.</p>
<p>Saya memperhatikan satu persatu tingkah dari semua partner in crime Rinjani ini. Locker dengan ekspresi biasa saja, wajar karena dia sudah terlalu sering ke Rinjani. Rio dengan begitu antusias mengabadikan foto diri sana sini dan segera mengambil Dunkin Donuts dari wadah Tupperware di Daypack kecil saya. Lalu dipasangnya Lilin dengan angka 25. Seketika orang-orang menghampirinya mengucapkan Ulang Tahun. Fiuhh, padahal ulangtahun nya kapan? Dirayakannya kapan? Dasar aneh. Hehe&#8230;</p>
<p>Eddy dan Franklin bak kutu loncat, mengabadikan foto dari segala angle dengan kamera pocketnya. Cubon hanya duduk memandangi danau Segara Anak. Entah kenapa anak ini? Apa karena kedinginan? Atau kelaparan? Chandra dan Kang Erwin, dua orang personil di team kami yang boleh dikatakan sebagai fotografer Profesional nya <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Karena hanya mereka berdua yang membawa kamera SLR. Dengan sigap mengabadikan moment di pagi itu.</p>
<p>Udara yang semakin dingin memaksa tak bisa berlama-lama di puncak, Hanya sejam berselang kami mulai menuruni jalur turun. Pasir bercampur kerikil, batu-batu besar dan kecil menjadi teman selama kurang lebih 2 jam perjalanan itu.</p>
<p>Sampailah kembali di Plawangan Sembalun, beristirahat sejenak sambil mengolah makanan untuk santap siang. Gelak canda dan tawa selalu menjadi bumbu di penat perjalanan ini. Begitu pula saat santap siang. Sekaleng cocktail yang di bawa Chandra dinikmati bersama di terik siang itu. Satu sendok dipakai bergiliran untuk semua mulut. Busett…hehe…</p>
<p>Dan tetap dengan lagu “Lombok I love u, manjakan aku dengan pasir putihmu….”</p>
<p>“Berapa lama dari sini ke Sagara Anak Lock?” Tanya saya sambil tetep mengunyah butiran buah segar cocktail. “ya kurang lebih tiga sampai empat jam an “. What??? Saya pikir hanya 1 atau 2 jam an saja. Karena kalau di lihat, letak danau sepertinya tidak begitu jauh dari Plawangan Sembalun. Hmm…aroma gemporwati mulai terendus, terasa membayangkan jalurnya.</p>
<p>Peralatan tempur masing-masing sudah dirapikan. Kembali kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Segara Anakan. Diawali dengan turunan berbatu membuat kami harus ekstra hati-hati melangkah. Kabut mulai sedikit turun waktu itu. Agak sedikit menghalangi pandangan.</p>
<p>Tak jarang disela perjalanan, selalu berpapasan dengan bule-bule asing. Dengan Porter nya di depan. Pantas saja langkahnya begitu ringan, mereka hanya membawa diri saja. Sementara kami berdelapan dengan termehek meheknya membawa beban sebegitu beratnya. Hehe..(berusaha mencari alibi, padahal memang team Pengkors <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ).</p>
<p>Apalagi melihat kerilnya Kang Erwin yang terlihat semakin miring tak menentu. Entah apa gerangan yang terjadi dibalik rain cover nya. Mungkin karena isi packingannya berubah.</p>
<p>Tiba di dataran setelah jembatan kayu, kami berpapasan dengan 4 teman pendaki dari Masbagik yang sedang bernyanyi memetik ukulele. “mari yukk ngeteh, ngopi dulu”. Sapa mereka menyodorkan setermos minuman hangat. Tanpa menolak kami pun duduk di sana. Terjadilah konser dadakan di sana. Suara merdu kami ternyata mampu mengalahkan dinginnya udara. Berbekal kemampuan menjadi penyanyi latar. Konser dadakan yang bertajuk Lombok I Love you mampu menghipnotis rumput-rumput di sekitar untuk ikut bergoyang. Lagu Lombok I Love You bergema di seantero pelataran sore itu.</p>
<p>Perjalanan dilanjutkan kembali. Sekitar waktu beberapa jam sebelum Maghrib tiba, sampai juga di Danau Segara Anak. Kembali saya berteriak “wow&#8230;”. berlari kecil menuju ke bibir danau.</p>
<p>Kepulan asap tipis terlihat membumbung dari balik kawah gunung Barujari yang baru-baru ini meletus. Sementara air danau terlihat begitu tenang. Dari cerita teman saya yang asli orang Lombok, konon katanya pernah ada Bule yang mencoba berenang menyebrang dari bibir danau menuju gunung Barujari yang terletak ditengah danau. Tapi kemudian dia menghilang begitu saja bak ditelan bumi. Disebabkan karena fenomena alam atau memang unsur magis saya tak tahu.</p>
<p>Danau segara anak terlihat begitu cantik mempesona. Beberapa orang berjejer di bibir danau menunggu sang ikan melahap umpan yang dipasang di pancingan. Menyisakan rasa iri tiada tara. Ini pula lah yang menjadi penyesalan saya sampai sekarang. Kenapa sampai lupa membawa alat pancing ke Rinjani?&#8230;arghhh….</p>
<p>Di dekat Danau Segara Anak terdapat sungai pemandian air belerang panas alami. Sambil menunggu Kang Erwin dan Chandra yang belum kunjung tiba, saya mengikuti Locker menuju ke sungai. Hanya berjarak beberapa meter dari tempat lokasi tenda berdiri. Lumayan, meskipun hanya kaki saja yang di rendam tapi cukup membantu mengurangi rasa penat.</p>
<p><strong>Day 5</strong></p>
<p>Pagi ini, kami harus kembali membereskan semuanya. Dijadwalkan seharusnya jam 8 pagi harus sudah mulai meninggalkan Danau Segara Anak. Tapi karena keasyikan menikmati suasana pagi, sambil tetap bemalas malasan jam setengah 12 siang barulah meninggalkan Danau.</p>
<p>Sedih juga rasanya harus berpisah dengan tetangga tenda. Setelah berpamitan, perlahan namun pasti kami meninggalkan Danau. Baru beberapa meter berjalan, mulailah di suguhi tanjakan. Lutut ngarodoncod mulai terasa, nafas tersengal-sengal  disertai cairan tipis mengalir dari balik hidung saya. Karena dinginnya udara juga, saya sedikit mengalami flu di pagi itu.</p>
<p>Tiba-tiba Locker yang berada di depan berteriak. “Awas ada ular!”. Ada seekor ular kecil melingkar dibalik belukar kering. Langkah kami terhenti seketika. Saya berjalan pelan- pelan melangkahi ular itu. Diikuti yang lain. Perjalanan dilanjutkan kembali. Locker jauh melesat berada di depan. Dan The Pengkors seperti biasa berada di belakang <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ditengah perjalanan menuju Desa Senaru, Locker sempat menunjukkan lokasi terjatuhnya turis Itali yang beberapa bulan kebelakang ini santer diberitakan di media massa. Pantas saja dia terjatuh. Kalau dilihat lokasinya memang terlihat sangat berbahaya. Batu bersusun terlihat rapuh. Secara logika kalau tergelincir sedikit saja akan langsung terperosok ke jurang. Sementara di bawah nya batu-batu tajam siap menghujam siapa pun yang terjatuh diatas nya. Membuat bulu kuduk saya bergidik saja.</p>
<p>Tepat di atas tanjakan, kami menemukan areal datar. Lapar sangat terasa mendera. Karena malas mengolah makanan, mie kering, Energen, dan sale roti pun didaulat menjadi cemilan di siang itu. Makanan berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Semua terbagi rata. Haha….kasihan. Bagi saya, jalur Plawangan dan Jalur Senaru tak ada bedanya. Sama-sama membuat termehek-mehek. Tanjakan tajam masih banyak sering saya temui.</p>
<p>Tiba di Plawangan Senaru, di sambut beberapa monyet yang sedang asyik bercengkrama. Kang Erwin dengan asyik nya mengabadikan aktifitas mereka. Sementara di atas bukit sana terlihat beberapa orang bule sedang menikmati indahnya Danau Segara Anak. Hanya beberapa menit saja kami beristirahat di sini. Memanfaatkan waktu istirahat dengan melaksanakan Sholat Dhuhur dan Ashar.</p>
<p>Memasuki kawasan hutan stress, di sini mental dan fisik kami di uji. Bagaimana tidak. Jalur terasa begitu panjang tak berujung. Jarak dari satu pos ke pos yang lain sangat jauh. Seharusnya sebelum malam menjelang, dijadwalkan kami telah tiba di gerbang senaru. Namun sampai jam 8 malam, kami baru sampai di Pos Extra. Air minum yang di bawa masing-masing sudah habis. Hanya tersisa di water bladder saya dan Eddy. Bergantian kami meminum air dari selang yang terpasang di keril saya.</p>
<p>Beberapa meter menjelang pintu gerbang Senaru, terlihat ada warung masih menyala lampunya. “woi, break dulu yuk, duduk!” teriak Kang Erwin. Semuanya terlihat sangat kelelahan. Istirahat yang rencananya hanya beberapa menit saja menjadi hampir 45 menit. Di pojok bale-bale, Chandra dan Franklin tertidur dengan lelap. Rio bersandar dengan muka tak berbentuk. Cubon, terlihat menyeka keringat yang bercucuran. Kang Erwin dengan muka klimis bin lepek memeluk tas kamera di dadanya. Hanya Eddy, dan Locker yang kelihatan masih bertenaga. Dan saya? Tak tahu juga bagaimana bentuk rupa waktu itu. Saya hanya cekikian menahan tawa melihat tampang mereka.</p>
<p>“Yuk ah kita lanjut” Suara Eddy memecah keheningan. “tunggu dulu dong, kita kan terserah Locker. Kalau dia masih duduk dan capek kita harus mengikuti dia. Kalau gw sih kuat-kuat aja. Lo semua kuat gak ? “. Spontan saja semua nya tertawa terbahak mendengar guyonan Kang Erwin yang berbanding terbalik dengan kenyataan. Locker hanya tersenyum saja. Yah, memang si Kang Erwin ini terkenal sebagai si Lebay madu. Hehe…</p>
<p>Baru saja berjalan beberapa langkah, hujan segera turun. Akhirnya kami memutuskan beristirahat di bale-bale yang berjarak satu rumah dari warung tadi. Tak tega membangunkan Locker dan semuanya. Istirahat berlanjut sampai keesokan hari. Kami bermalam di sana. Ditemani gerimis hujan dan nyamuk. Semuanya berbagi tempat diatas bale-bale bambu berselimutkan sleeping bag.</p>
<p><strong>Day 6</strong></p>
<p>Pukul 8 pagi hari. Teman nya Locker sudah menunggu di gerbang Senaru. Beruntung pagi itu, saya sudah membersihkan diri dan berganti pakaian. Keril sudah dimasukkan ke dalam mobil dan mobil pun segera melaju perlahan meninggalkan Desa Senaru.</p>
<p>Perjalanan Senaru- Mataram menempuh waktu lumayan lama. Hampir 4- 5 jam kami melewati kelokan, dan juga bibir pantai di sepanjang Lombok Barat. Hingga tibalah di Kota Mataram sekitar pukul 2 siang hari. Kami singgah sejenak di sebuah toko yang menjual beberapa merchandise khas Lombok. Tak lupa juga mengisi perut yang keroncongan di sebuah Rumah Makan Ayam Taliwang yang di sajikan bersama Plecing. Sejenis makanan khas Lombok, berupa tauge dan kangkung yang sudah di kukus di makan dicampur  bersama sambal pedas. Lagi-lagi makanan musuhnya Eddy. Hehe…</p>
<p>Waktu berlalu terasa begitu cepat, perjalanan di lanjutkan menuju Bandara Selaparang. Jadwal pesawat kepulangan ke Jakarta pukul 16.20 WITA. Tiba di Bandara Selaparang sekitar pukul 15.30 WITA. Berlima segera menghampiri counter check in dan menghabiskan sisa waktu dengan berfoto-foto bersama team penghantar.</p>
<p>Adalah sebuah kewajaran sepertinya. Lion Air mogok dan mengumumkan delay hampir satu jam setengah. Mau berkata apa, ya sudah kami hanya bisa pasrah menikmati waktu itu sambil tiduran di kursi, memutar lagu-lagu MP3 dari HP dan tetap supaya eksis dikatakan anak gaul, tak ketinggalan beberapa teman saya ini terlihat selalu mengecek Facebook. Seribu satu macam gaya dilakukan orang-orang untuk membunuh waktu.</p>
<p>Ada rasa sedih juga, harus berpisah dengan teman-teman yang selama hampir 5 hari ini menjadi kawan saya blusukan menggembel di gunung. Tapi tak mengapa kawan. Suatu saat kita akan berjumpa. Entah dilain waktu dan kesempatan. Amin, Insya Alloh.</p>
<p>Sekitar pukul 20.00 WIB, tiba juga kami di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Saya sendiri melanjutkan perjalanan menaiki Bus Damri jurusan stasiun Gambir. Selamat tinggal Lombok, selamat datang kembali Jakarta !</p>
<p>“Tiada maksud untuk bersombong, kami hanyalah mahluk kerdil lemah yang hanya ingin menikmati karunia Nya”</p>
<p>Foto-foto perjalanan, sebagian bisa di lihat di :</p>
<p><a href="http://nengasgar.multiply.com/photos/album/99/Mt._Rinjani_-_Nusa_Tenggara_Barat" target="_blank">http://nengasgar.multiply.com/photos/album/99/Mt._Rinjani_-_Nusa_Tenggara_Barat</a></p>
<p>Epik would like thanks to :</p>
<p>-          Alloh SWT, atas ijin Nya kembali.</p>
<p>-          Parents, with your love I can be there.</p>
<p>-          Partner in crime Lombok : Locker dan Cubon, terima kasih telah menemani kami selama di sana. Terima kasih telah menjamu kami. Maaf kami tak bisa membalas apa-apa. Hanya persahabatan yang kami tawarkan. Sukses terus buat kalian.</p>
<p>-          Partner in crime Jakarta: Kang Erwin, Chandra, Rio, Eddy, Franklin. You rock guys! Awesome! Keep brotherhood.</p>
<p>-          Teman-teman di OASISTALA dan GEMA ALAM Lombok Timur NTB, terima kasih untuk sambutan dan  menampung kami selama di sana.</p>
<p>-          Ikhwan, my little bro. Terima kasih selalu ada ketika dibutuhkan bantuannya. Selalu tertawa meski mendengar omelan atau apapun. Thank you little brother!</p>
<p>-          Myra, thank you for  ticketing. Thank you for our friendship so far.</p>
<p>-          For someone, and everybody who support me always: thank you for everything, and I I love you all.</p>
<p>end&#8230;   Salam, Neng Asgar</p>
<p>&#8211;<br />
Because adventure is about togetherness</p>
<p>YM : epik_w<br />
MP : <a href="http://nengasgar.multiply.com/" target="_blank">http://nengasgar.multiply.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=508</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surya Ibrahim Dompas, Permata yang Hilang</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=501</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=501#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 03:52:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Maksud dan tujuan ditulisnya biography singkat ini tidak lain adalah untuk mengenang sosok Kakak kami, Saudara kami, Teman kami, Senior kami, Sahabat kami… Surya Ibrahim Dompas.
__________________________________________________________________________
Alun-alun Surya Kencana dan Gunung Gede..
Dua paduan yang sempurna, keindahan kawah vulkanik dan hamparan padang edelweiss..
 
 
Kedamaian merupakan sajian terbaikmu..
Setiap jiwa mengungkapkan rasa takjub sesaat setelah menginjakan kaki di salah satu padang edelweiss terluas di dunia..
 
 
Namun, 
masih terdapat sebuah misteri di balik kedamaianmu, 
misteri yang menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang yang mengenal sosok dirinya&#8230;


 
 
Surya Ibrahim Dompas,
Permata yang Hilang
 
 ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Maksud dan tujuan ditulisnya biography singkat ini tidak lain adalah untuk mengenang sosok Kakak kami, Saudara kami, Teman kami, Senior kami, Sahabat kami… <strong>Surya Ibrahim Dompas</strong>.</p>
<p>__________________________________________________________________________</p>
<p style="text-align: left;"><em>Alun-alun Surya Kencana dan Gunung Gede..</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Dua paduan yang sempurna, keindahan kawah vulkanik dan hamparan padang edelweiss..</em></p>
<p style="text-align: left;"><em> </em></p>
<p style="text-align: left;"><em> </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Kedamaian merupakan sajian terbaikmu..</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Setiap jiwa mengungkapkan rasa takjub sesaat setelah menginjakan kaki di salah satu padang edelweiss terluas di dunia..</em></p>
<p style="text-align: left;"><em> </em></p>
<p style="text-align: left;"><em> </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Namun, </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>masih terdapat sebuah misteri di balik kedamaianmu, </em></p>
<p style="text-align: left;"><em>misteri yang menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang yang mengenal sosok dirinya&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Surya Ibrahim Dompas,</strong></p>
<p><strong>Permata yang Hilang</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>“Masih ada yang belum ketemu sampai sekarang di Gunung Gede..</em></p>
<p><em>Namanya Surya Ibrahim… Anak 82..”</em></p>
<p><strong>(Herry ‘Macan’ Heryanto)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dilahirkan di Manado – Sulawesi Utara 30 Oktober 1971. Merupakan putra kedua dari empat bersaudara dari pasangan Wim Dompas dan Aisyah Dompas. Ketiga saudara kandungnya adalah laki-laki. Ayahanda Surya berasal dari Minahasa – Sulawesi Utara dan Ibundanya berasal dari Buol Toli-Toli &#8211; Sulawesi Tengah.</p>
<p>Masa kecil Surya tidak jauh berbeda dengan anak laki-laki seusianya, bisa dikatakan penuh dengan kenakalan yang menyenangkan, tidak jarang Surya membuat khawatir orangtuanya. Contoh saja, ketika Surya diajak berbelanja ke Pasar Blok M di Jakarta Selatan, sering kali ia tiba-tiba menghilang di tengah kerumunan orang dan menampakan diri di kios komik atau toko buku langganannya, orang tuanya sudah hafal kebiasaan Surya tetapi masih saja merasa khawatir akan hal itu. Atau seperti pada saat sedang berlomba untuk turun dari atas genteng rumah, Surya sudah hampir kalah cepat dengan saudara sepupunya tetapi ia mengambil jalan pintas dengan melompat ala Bruce Lee dalam film <strong><em>“Green Hornet”</em></strong> ke tiang bendera di tengah halaman rumah, yang membuat ia dapat turun lebih cepat dibandingkan saudara sepupunya, Surya menjadi pemenang pada waktu itu walaupun harus menderita luka yang cukup serius. Kedua kejadian di masa kecil Surya ini bisa dikatakan mewakili sifat aslinya, ia akan melakukan segala macam cara asalkan dapat mencapai tujuan akhir yang sama.</p>
<p>Surya, yang mempunyai kebiasaan di rumah memelihara sekitar 10 ekor kucing liar, menamakan kucing-kucing peliharaannya dengan nama makanan. Kucing Kesayangannya bernama Kornet, merupakan kucing peliharaan Surya pertama yang dibawa kerumah, “<strong><em>Saya dari yang tadinya gak suka kucing, jadi suka kucing gara-gara Surya.. Abis mau gimana lagi? Kucingnya dipindahin, dia langsung gak suka.. Ada aja kucing yg dibawa, tiba-tiba pas pulang kerumah di ranselnya dia nyempil kepala kucing, gak tau dia ketemu dimana..</em></strong>” ujar Sani, adik kandung Surya. Makanan kesukaan Surya sendiri adalah Nopia isi kacang hijau, makanan khas Purbalingga, bentuknya menyerupai bakpia tetapi mempunyai ukuran yang lebih kecil dan kue Moci, yang pertama kali ia temukan saat dalam perjalanan pulang dari Bandung menuju Jakarta melewati Jalur Puncak Cianjur – Bogor, Jawa Barat.</p>
<p>Salah satu saudara terdekat Surya sedikit bercerita mengenai kedekatan mereka<strong><em>. “Dia saudara sepupu saya, karena ibu dia dan ibu saya adalah kakak adik. Boleh dibilang we grow up together, yang membedakan cuma kami tinggal di rumah yang berbeda, walaupun dia sering nginap di rumah saya. Uya sering pake baju saya kalau ada acara.. Bajuku adalah bajunya, tapi bajunya bukanlah bajuku, hehe.. karena kebanyakan baju Uya ukurannya agak lebih besar dari saya punya…”. </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Uya, begitu biasa ia dipanggil, sempat bersekolah di SD ‎Muhammadiyah di Jl. Limau, SMP N XII di Jl. Wijaya dan SMA N 82 di Jl. Daha, semua sekolahnya terletak di daerah Blok M &#8211; Jakarta Selatan. Sewaktu SD dan SMP, tempat tinggal Uya terletak di daerah Radio Dalam &#8211; Jakarta Selatan. Tetapi ketika sudah menginjak SMA, Uya harus menempuh jarak yang lumayan jauh untuk bersekolah karena tempat tinggalnya pindah ke daerah Kelapa Gading – Jakarta Utara.</p>
<p><strong><em>Surya dan bakatnya…</em></strong></p>
<p>Semenjak kelas 1 SMP, Surya sudah mengenal olahraga bela diri, ia mengawalinya dengan bela diri Judo, bakat bela diri sudah terlihat sejak pertama kali bergabung, sehingga dia menjadi anggota Klub JUDO RBC Jakarta Raya (Remaja Bhayangkara Club). Setelah mengikuti beberapa kali pertandingan dan sempat memperoleh Juara Yunior di kelasnya yaitu 60 kg kebawah, Surya menjadi atlet Training Centre yang dapat berlatih di banyak tempat, termasuk berlatih di Klub Judo Cempaka Putih. Surya pernah juga mengikuti Pemusatan Latihan Yunior di Ciloto &#8211; Jawa Barat dan Latih Tanding di Taiwan selama kurang lebih satu bulan atas biaya Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI), yang dilakukannya pada saat liburan SMA kenaikan kelas 2 ke kelas 3 pada bulan Juni tahun 1989. Walaupun sedang berlatih bela diri di Ciloto – Jawa Barat, Surya masih tetap taat menjalankan ibadah puasa. <em><strong>“Prestasi tertinggi seingat saya adalah Juara 1 Yunior Nasional dan Juara 1 DKI Jakarta.”</strong></em> ujar Norick, saudara sepupu yang memperkenalkan olahraga bela diri pada Surya. Pejudo idola Surya adalah Yasuhiro Yamashita, berasal dari Jepang. Qoute yang bisa menggambarkan perilaku Surya adalah, <em><strong>“Judo is training not only a person&#8217;s body, but his heart and his feelings. A really strong person never shows that kind of behavior”.</strong></em> Atau mungkin dalam kalimat Bahasa Indonesia berbunyi, <strong><em>“Judo adalah latihan bukan hanya untuk tubuh seseorang, tapi hati dan perasaannya. Seseorang yang benar-benar kuat tidak pernah menunjukkan perilaku seperti itu”.</em></strong> Di antara teman-temannya, Surya mendapat julukan <em><strong>‘banteng’</strong></em>, terlihat dari perawakannya yang agak lebih besar dibandingkan anak seusianya dan kekar karena giat berlatih bela diri.</p>
<p>Memang bakat Surya ada pada olahraga bela diri karena dalam olahraga ketangkasan dia tidak berbakat sama sekali, berikut penuturan Norick sambil mengenang kembali saat-saat menyenangkan bersama Surya, <strong><em>“Kalau diajak main volley, dia memalukan, tangannya tidak bisa rapat kalau passing&#8230;. Basket juga tidak bisa, kalau mau merebut bola, bolanya dibawa kabur.. Bermain bola plastik, dia tidak bisa menendang bola dengan benar, senengannya nabrak orang terus, dia pantas main rugby kayanya.. Apalagi kalau jadi kiper, seringnya yang ditangkap malah orang yang mau nyetak gol.. Pokonya lucu deh.. Orang gak marah sama dia karena memang melakukannya dengan gaya yang tidak mengesalkan..”.</em></strong></p>
<p>Menurut penuturan Olvida, teman seperkumpulan Judo dengan Surya, <strong><em>“Surya adalah orang yang mempunyai disiplin tinggi dan fokus pada kegiatan yang dijalaninya, dia tidak pernah setengah-setengah sehingga banyak mendapatkan prestasi. Dia salah satu atlet yang diandalkan dalam setiap event kompetisi, mulai dari Kejurda (Kejuaraan tingkat daerah), Kejurnas (Kejuaraan tingkat nasional), PON (Pekan Olahraga Nasional) sampai event International lainnya. Makanya pada saat Surya hilang, olahraga Indonesia khususnya Judo sangat terkejut dan kehilangan satu atlet yang diandalkan untuk mengharum nama Bangsa. Di usianya yang masih muda, sudah banyak prestasi yang dia ukir baik untuk kebanggaan dia sendiri, keluarga, club, daerah dan tentu saja untuk Tanah Air kita&#8230;”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Di dalam keluarga, Surya lebih dekat dengan adik kandungnya yang paling muda, Adzani atau lebih akrab dipanggil Sani dibandingkan dengan saudara kandung lainnya, mereka berbeda 5 tahun. Sedari kecil, Surya dan Sani mendapatkan didikan menjadi individu yang tidak manja, berani berbuat, berani bertanggung jawab.. Bisa dikatakan Surya bukan berasal dari keluarga yang mapan dalam banyak sisi, sehingga kepribadian seorang Surya tumbuh dalam suatu proses yang penuh dengan usaha untuk menentukan bagaimana bersikap dalam menjalani hidup, tidak ada yang membimbing atau mensupport dirinya.. Berikut gambaran yang dapat dituturkan oleh Sani,<strong> <em>“Surya menang emas di kejuaraan tapi tidak mendapatkan apresiasi sebagaimana seorang juara, dia menang emas lho.. Surya seperti mau menyalurkan kemarahan-kemarahan dia pada semua hal yang terjadi ke hal-hal yang positif, seperti olahraga bela diri, naik gunung..”</em></strong>.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Surya di  SMA N 82 Jakarta…</em></strong></p>
<p>Semasa SMA, Surya aktif dalam kegiatan organisasi antara lain, menjadi anggota Pencinta Alam, anggota aktif seksi Majalah Dinding. Dia sering membuat puisi dan komik di Majalah Dinding SMA N 82 dengan nama panggung <strong><em>“Mount Boy”</em></strong> dan pernah juga menjadi Ketua Keamanan Sekolah dalam struktur organisasi OSIS SMA N 82 tahun 1989-1990. Sebagai murid, Surya dikenal cukup disayang oleh guru-gurunya karena dia tidak pernah menganggap remeh mereka. Guru kesayangannya adalah Bu Aisyah (Guru Matematika) dan Bu Yenita (Guru Drama). Di SMA juga Surya kembali mengikuti organisasi bela diri, kali ini ia bergabung dalam perkumpulan Merpati Putih.</p>
<p>Di kalangan siswa-siswi SMA, Surya lumayan dikenal sebagai laki-laki yang sering berusaha mencuri perhatian pada siswi juniornya, tetapi tidak ditekuni secara serius. Dia melakukannya semata-mata hanya karena tidak mempunyai saudara perempuan. Banyak yang mengaku dekat dengannya tetapi Surya hanya menganggapnya sebagai kakak atau adik, tidak hanya kepada perempuan tetapi laki-laki juga dia perlakukan demikian.</p>
<p>Rutinitas Surya saat SMA antara lain menjemput adiknya, Sani saat pulang sekolah, pada waktu itu Sani masih bersekolah di SMP N XII – Jakarta. <strong><em>“Kalau saya pulang, biasanya Surya jemput saya.. Kalau dia kebetulan lagi naik gunung, saya dijemput sama mama.. Pernah waktu dia jemput saya, lagi jalan mau naik bus di blok M, kebiasaan Surya adalah dia selalu gandeng saya kalau jalan berdua, tiba-tiba ada 9 orang anak SMA lain kelilingin Surya ngajak ribut, “Anak mana niy? Anak mana?”, Surya tidak mau bilang dia anak mana, padahal setau saya 82 saat itu tidak ada masalah dengan sekolah lain, dia hanya minta saya agak menjauh sambil berkata, “De.. Bentar yah..” mendadak Surya mengeluarkan jurus-jurus bela diri sambil tanya “Mau sendiri apa rame-rame?”, setelah mereka cukup takut, Surya bilang, dia anak 82.. Oke, pada saat itu tidak terjadi keributan.. tapi pada saat mau naik bus, Surya masih merasa ganjil, “Bentar De, gw masih belum puas..”, eh anak-anak SMA yang tadi dikejar, malah digodain, “Ayo dong.. tadi kan mau ribut..”, yang ada mereka jadinya temenan”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Sifat yang menonjol dari Surya adalah solidaritasnya yang tinggi dan sangat peduli dengan teman-temannya, baik 1 angkatan maupun angkatan diatas dan dibawahnya. Sebagai junior yang berada 2 tahun dibawah Surya, Boy Syabana (Bayu Buana) menuturkan, <strong><em>“Surya anaknya tidak pernah merasa kalau dia senior, dia menghormati dan menghargai rekan-rekannya, bahkan kepada juniornya juga dia perlakukan seperti itu.. Dia salah satu senior yang sangat saya segani..”. </em></strong>Berikut juga penuturan Norick, sebagai sepupu terdekat, “<strong><em>Pada prinsipnya, Surya tidak menyukai One Day, bahkan dia menentang adanya One Day. Surya sampai menantang saya untuk sama-sama berkelahi dengan sekolahan lain daripada One Day adik kelas..</em></strong>”.</p>
<p><strong><em>Surya dengan dunia Pencinta Alam..</em></strong></p>
<p>Sejak kelas 1 SMA, Surya memutuskan untuk bergabung dalam WerdiBhuwana (WB), organisasi Pencinta Alam di  SMA N 82 Jakarta yang mempunyai arti “<strong><em>Melestarikan Kehidupan di Bumi, Gunung dan Hutan</em></strong>”. Berdiri sejak 26 April 1987, pengukuhan organisasi WerdiBhuwana sendiri dilakukan pada pendakian Tim Tujuh di Puncak Gunung Ciremai – Jawa Barat. Surya menjadi angkatan ke 3 (1990) di WerdiBhuwana dan mempunyai nama angkatan <strong><em>Tapak Rimba</em></strong>, yang mempunyai arti <strong><em>Jejak Rimba</em></strong>, diketuai oleh Ardan Ardiansyah. Motivasi Surya bergabung dalam organisasi Pencinta Alam pada saat itu, selain ia mengidolakan Heru Banu Wahono (Putra Rimba) &#8211; yang merupakan senior 2 tahun diatasnya dan salah satu pendiri WerdiBhuwana -, dia menyukai unsur dari petualang itu sendiri, <strong><em>test to the limit</em></strong>.</p>
<p>Selama mengikuti Pendidikan dan Latihan Pencinta Alam, Surya dibekali berbagai pengetahuan dasar agar dapat meminimalkan resiko-resiko yang mungkin terjadi di alam bebas, antara lain Navigasi Darat, Search And Rescue, Survival di Alam Bebas, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, Tali Temali, Mountaineering, P2M &#8211; Perlengkapan, Perbekalan dan Makanan. Fisik dan mental juga ditempa disana, ditambah dengan pengalaman Surya mengikuti banyak pertandingan bela diri sekaligus meraih gelar juara di kelasnya, sepertinya untuk kesiapan fisik dan mental hampir sudah tidak diragukan lagi.</p>
<p>Sifat Surya yang paling membekas adalah dia sangat memegang teguh prinsipnya, tidak ada yang dapat memerintah atau mengatur dirinya kecuali keluarga dan teman terdekatnya, <strong><em>“Ngimpi kalo teman seangkatan atau juniornya mau ngatur-ngatur dia, Surya itu gak bisa diatur anaknya..”</em></strong> tandas Pusakawanto (Werdi Paksi), anggota WB 1 tahun di atas Surya. Dijelaskan kembali oleh Norick, saudara sepupu Surya, <strong><em>“Itu memang sudah prinsipnya Surya, keras, tidak mau nurut kalau orang tersebut tidak bisa menjadi panutan yang baik.. Bagus, tetapi dia menjalankan prinsipnya dalam tingkat toleransi yang sangat sulit”. </em></strong>Dan ditambahkan juga oleh adik kandung Surya, <strong>“<em>Kakak saya itu.. dia akan melakukan sesuatu kalau dia yakin bisa, dan memang dia bisa. Makanya kebanyakan orang mau nasihatin dia juga gak didengar karena sudah tahu kalau Surya udah yakin bisa, dia akan melakukannya&#8230;”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Pada libur kenaikan kelas 1 ke kelas 2, WB mengadakan kegiatan Pendakian Pencar, dimana hampir seluruh anggota WB secara serentak berpencar untuk mendaki gunung di daerah Sumatera, Jawa dan Lombok. Gunung yang masuk dalam daftar antara lain, Kerinci di Jambi, Rinjani di Lombok &#8211; NTB, Sundoro di Jawa Tengah, Ciremai di Cirebon &#8211; Jawa Barat dan Semeru di Jawa Timur. Surya mendaki Gunung Rinjani bersama Pusakawanto (Werdi Paksi), Baharudin (Werdi Paksi) dan Rudi (simpatisan WB dan tergabung dalam Merpati Putih).</p>
<p>Gunung Rinjani, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia yang terletak di Lombok – Nusa Tenggara Barat, merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan pegunungan rendah hingga pegunungan tinggi dan savana di Nusa Tenggara. Jalur menuju puncak Rinjani hampir menyerupai bulan sabit, dimana sebelumnya pendaki harus melalui jalur yang didominasi oleh batuan kerikil sampai butiran pasir dan kemiringan jalur hampir 50º sehingga agak sedikit menyulitkan pendaki untuk berdiri tegak.</p>
<p>Pemandangan yang tidak asing terlihat dari puncak Rinjani adalah Danau Segara Anakan, yang merupakan Danau di ketinggian 2.010 mdpl dan Gunung Baru Jari dengan ketinggian 2.376 mdpl. Tingkat kesulitan pada gunung ini beraneka ragam karena hampir semua jenis jalur terdapat disini, mulai dari padang Savana yang luas, jalur tanah, batuan kerikil hingga berpasir dalam perjalanan dari dan menuju puncak Rinjani. <strong><em> </em></strong></p>
<p>Surya memilih Gunung Rinjani karena menurutnya, Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi dalam ekspedisi Pendakian Pencar, sehingga ia harus kesana. Dilihat dari ketinggian diatas permukaan laut, Kerinci adalah gunung tertinggi dalam Pendakian Pencar tetapi Surya mengambil kesimpulan bahwa tinggi gunung tersebut diambil dari seberapa jauh ia akan mendaki. Ketinggian desa Kresik Tuo sebagai desa terakhir di Gunung Kerinci berada pada ketinggian sekitar 1.500 mdpl dan puncak tertinggi berada pada 3.805 mdpl, jadi pendakian akan menempuh ketinggian sekitar 2.305 meter, sedangkan kaki Gunung Rinjani dengan desa Sembalun sebagai desa terakhir berada pada ketinggian sekitar 1.300 mdpl dan puncak tertingginya berada pada 3.726 mdpl, jadi pendakian akan menempuh ketinggian 2.426 meter. Kejadian selama pendakian yang membuat Pusakawanto kagum dengan fisik Surya salah satunya adalah <strong><em>“Waktu dalam perjalanan menuju Plawangan Sembalun, Surya udah jauh di depan, dia kayanya udah sampe di Plawangan.. Gw di belakang, udah cape.. Surya teriak nanyain gw dimana, gak lama Surya turun, dia turun sambil lari, ngambil tas yang gw pake, terus jalan lagi ke atas.. Gw aja yang udah gak bawa tas, masih gak bisa ngimbangin dia.. Fisik Surya memang luar biasa..”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Program lainnya sudah disusun, antara lain akan diadakannya Pendakian Bersama WerdiBhuwana ke Gunung Gede – Jawa Barat pada bulan November 1989. Tepatnya 2 minggu sebelum Ujian Tengah Semester, pada saat itu Surya berada di kelas III A12 (Setara dengan kelas III IPA2). Pendakian diikuti 17 orang, antara lain Ardan Ardiansyah (Tapak Rimba), Hendra Utama (Wana Padri), Hary Judianto (Wana Padri), Surya Ibrahim Dompas (Tapak Rimba), Boy Syabana (Bayu Buana), Alm. Julini (Tapak Rimba) dan 11 anggota WerdiBhuwana lainnya.  Pendakian Gede ini juga merupakan janji Surya kepada angkatan kelas 1 yang baru saja dilantik pada akhir Oktober 1989, angkatan Bayu Buana 1992. Berikut penuturan Boy Syabana (Bayu Buana) mengenai pendakian ke Gede, <strong>“<em>Surya minta maaf, dia tidak bisa ikut dalam acara pelantikan WB angkatan gw, karena kebetulan tanggalnya bentrok dengan acara pelantikan keamanan, dia ketua keamanan saat itu dan pas pelantikannya juga berbarengan dengan proses regenerasi, Hary Judianto menggantikan Surya jadi ketua keamanan untuk periode 1990-1991.. Tapi Surya janji akan ajak angkatan gw naik gunung, dan dia menepati janjinya…”.</em></strong></p>
<p><a href="http://theaarabella.multiply.com/photos/hi-res/1M/2080"></a>Gunung Gede berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango – Cianjur, Jawa Barat, merupakan gunung dengan 2 puncak tertinggi dan masing-masing didampingi oleh alun-alun luas yang dipenuhi oleh hamparan padang bunga edelweiss. Salah satu puncak tertingginya, Gunung Gede dengan ketinggian 2.958 mpdl mempunyai alun-alun yang dinamakan Surya Kencana pada ketinggian 2.750 mdpl dengan luas hampir sekitar 50 hektar. Pendakian dapat dilakukan melalui jalur Gunung Putri, Cibodas dan Salabintana. Jalur yang sering dilewati oleh pendaki adalah jalur Gunung Putri dan Cibodas. Jalur Gunung Putri memiliki karakteristik terjal hampir 45º tetapi lama perjalanan naik dari Pos Pendaftaran hingga puncak Gede dapat ditempuh hanya dalam waktu 5-6 jam dan perjalanan turun dapat ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Lain dengan jalur Cibodas, yang mempunyai tingkat kesulitan lebih rendah karena tidak terlalu terjal tetapi jarak tempuh dari Pos Pendaftaran menuju Puncak Gede bisa mencapai 8-9 jam dan perjalanan turun bisa ditempuh selama 4-5 jam.</p>
<p><strong>25 November 1989</strong><strong> </strong></p>
<p>Semua anggota tim pendakian sudah berkumpul di SMA N 82 Jakarta dan sebelum memulai perjalanan, diawali dengan doa, Surya yang memimpin doa untuk keselamatan selama perjalanan. Ketika sudah berangkat dari sekolah sekitar magrib di kawasan Blok M, Surya yang menjadi bagian dokumentasi pada saat itu, tidak mempunyai kamera, sehingga ia meminta tim untuk tetap melanjutkan perjalanan ke Gunung Gede sementara ia akan meminjam kamera Norick, sepupunya yang tinggal tidak begitu jauh dari Blok M. Saat berada di tempat Norick, Surya masih berusaha mengajak Norick untuk ikut dalam pendakian, sejak pagi di sekolah Surya sudah mengajaknya tetapi karena keadaan yang tidak memungkinkan, Norick hanya meminjamkan kameranya dan pada saat itu Surya berjanji, bahwa ini adalah pendakian terakhirnya karena ia ingin fokus belajar untuk Ujian Akhir Semester di sekolah.</p>
<p>Rencana awal pendakian akan dimulai dari jalur Cibodas dan akan turun melalui jalur Gunung Putri. Tidak ada rencana untuk bermalam di gunung, sehingga perlengkapan yang dibawa bisa dikatakan minim. Jam 22.00 tim sudah berada di Cibodas dan langsung menuju Information Centre untuk melapor dan mengurus ijin pendaftaran kepada petugas PHPA.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>26 November 1989</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Setelah mendapatkan ijin pendakian, tim bergerak menuju Pos Kandang Badak jam 00.30. Tim beristirahat sejenak di Pos Panyangcangan, lalu Surya Ibrahim, Hary Judianto, Hendra Utama dan (alm.) Julini memutuskan untuk beristirahat di pos sambil menunggu pagi hari sedangkan tim lainnya melanjutkan pendakian menuju Puncak Gede. Menurut pandangan Hary Judianto, <strong><em>“Waktu naik gak keliatan kaya Surya yang biasa naik gunung sama gw, dia lebih sering cape, banyak berhenti.. Mungkin juga karena dia masih engkel akibat latihan di Taiwan, tapi herannya dia masih maksain untuk naik dengan kondisi seperti itu..”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Bisa dikatakan Surya dan yang lainnya tertinggal hampir 6 jam, karena tim sudah mencapai Puncak Gede jam 05.30 subuh, sebelum <em>sunrise</em> tetapi sekitar jam 12.00 Surya dan yang lainnya masih belum sampai Puncak Gede. Ketika tim memutuskan untuk kembali melalui Pos Kandang Badak, Surya dan yang lainnya sudah melewati Pos Kandang Badak tetapi masih dalam perjalanan menuju Puncak Gede, sempat berpapasan di Tanjakan Setan jam 13.30. Saat berpapasan, tim mengajak Surya dan yang lainnya untuk ikut turun sebelum kena hujan dan gelapnya malam karena kondisi saat itu sudah mendung, yang mengikuti ajakan turun hanya (alm.) Julini. Surya Ibrahim, Hary Judianto dan Hendra Utama masih tetap melanjutkan pendakian menuju Puncak Gede.</p>
<p>Menurut penuturan Hendra Utama, pada waktu muncak sudah sekitar jam 14.00, dia dan Hary memutuskan untuk ikut dengan rombongan lain yaitu turun melalui Cibodas tetapi Surya masih ingin melewati alun-alun Surya Kencana dan pada akhirnya turun melewati Gunung Putri. Hendra dan Hary mengetahui Surya sudah beberapa kali melalui jalur Gunung Putri, sehingga mereka tidak khawatir untuk melepasnya melewati jalur Gunung Putri seorang diri walaupun kondisi Surya tidak sehat dan perbekalan yang sangat minim. <strong><em>“Waktu sampai puncak kita gak ada makanan, sampai dikasih sama pendaki lain yang ada di puncak. Perbekalan minim, Surya hanya memakai daypack..”.</em></strong> Keterangan lain yang dapat dirangkum dari Hary Judianto adalah, <strong><em>“Waktu muncak, fisik gua emang udah gak kuat lagi, gw gak mau maksain lewat Putri karena tau jalurnya kaya gimana kalo hujan, tapi Surya masih maksain mau lewat Putri.. Dan pada saat itu gw memutuskan untuk menjadi follower, mengikuti rombongan yang lain.. Emod (Hendra) turun duluan, waktu gw sama Surya mulai jalan menjauh, disana kita tatap muka untuk yang terakhir kalinya&#8230; Dan sampai sekarang, gw masih nyesel karena dari awal gw udah janji mau naik gunung bareng dia..”.</em></strong></p>
<p>Sekitar jam 14.40, Hary Judianto dan Hendra Utama mulai bergerak turun kembali menuju Cibodas. Pada saat turun ini, Hary dan Hendra sempat diantar oleh Surya Ibrahim sampai pada pohon pertama dari puncak. Setelah mengantar Hary dan Hendra, kemudian Surya melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Gede dan disini Hary masih sempat melihat Surya sedang bergerak menuju puncak. Dan disinilah saat terakhir Hary melihat Surya Ibrahim.</p>
<p>Ditambahkan oleh Ardan Ardiansyah, <strong><em>“Keputusan untuk turun lewat Cibodas diambil karena saya bawa anak-anak kelas 1 dan kondisi sudah mulai mendung, kasihan kalau mereka kena malem dan lewat jalur Putri.. Sewaktu turun ke Pos Kandang Badak, kami papasan dengan Surya tepat setelah tanjakan setan, Surya mengalami engkel, memang sebelum pendakian juga dia sudah engkel. Itu terakhir saya ketemu dengan Surya. Kami sampai di Cibodas sekitar jam 17.30, masih menunggu Surya dan yang lain di warung pasar bawah, cuaca pada waktu itu sudah hujan deras.. Ketika kami mau menyusul keatas sekitar jam 19.00, dari kejauhan Hendra dan Hary datang, tanpa Surya.. Memang kemauan Surya sulit digoyahkan, kalau dari awal dia mau turun lewat Putri, dia pasti akan lewat Putri.. Pada waktu itu kami tidak lapor ke petugas, karena di pos pendaftaran tidak ada yang jaga.”.</em></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p><strong>27 November 1989</strong><strong> </strong></p>
<p>Satu tim pendakian sudah kembali ke sekolah untuk persiapan Ujian Tengah Semester. Tetapi di antara mereka, tidak terlihat sosok Surya Ibrahim. Ibunda Surya mulai menanyakan dimana keberadaan Surya, pihak sekolahpun diberitahu oleh Norick, sepupu Surya dan mulai dilakukan pencarian di beberapa lokasi dimana Surya mungkin berada, tetapi tetap saja tidak ditemukan sosok dirinya. Pada Selasa 28 November 1989, Surya dilaporkan hilang ke pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.</p>
<p>Surya Ibrahim Dompas dinyatakan hilang sejak 26 November 1989, tanggal dimana terakhir kalinya Hary dan Hendra berpisah dengannya. Pencarian sosok Surya di Gunung Gede – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur &#8211; Jawa Barat segera dilakukan bersama 30 tim yang tercatat dalam Laporan SAR, dibuat oleh Herry ‘Macan’ Heryanto selaku SMC (<em>SAR Mission Coordinator</em>) pada pencarian itu, berasal dari masyarakat sekitar Cibodas, perkumpulan Pencinta Alam, Instansi terkait dan Swasta yang berjumlah hampir lebih dari 160 orang personil.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><strong><em>Operasi SAR Surya Ibrahim Dompas..</em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Keterangan mengenai Survivor</strong></p>
<p>Organisasi : WerdiBhuwana SMAN 82 Jakarta</p>
<p>Pengalaman:</p>
<p>§   Mendaki Gunung Rinjani</p>
<p>§   Mendaki Gunung Semeru</p>
<p>§   Mendaki Gunung Gede 5 kali dan 2 kali turun melalui Gunung Putri</p>
<p>§   Mendaki Gunung Salak</p>
<p>§   Mengikuti kursus Rock Climbing selama 3 bulan yang diadakan oleh GRADE, Depok</p>
<p>Perlengkapan yang dibawa / dipakai Survivor :</p>
<p>§   Baju                        : Kain Vlanel, dasar Hijau, kotak – kotak Biru dan Merah</p>
<p>§   Celana                    : Warna Coklat</p>
<p>§   Sepatu                   : Merk “NIKE” warna Biru No. 42</p>
<p>§   Kaos Kaki              : Warna Putih, bintik-bintik Kuning</p>
<p>§   Kaos Dalam           : Warna Putih, ada tulisan “HONGKONG”</p>
<p>§   Sapu Tangan         : Warna Cream, dengan pinggiran warna Coklat</p>
<p>§   Jam Tangan          : Merk “SWATCH” warna Hitam</p>
<p>§   Cincin                     : Batu Hitam, ikatan warna Kuning, ada tulisan “Sin Lam Ba”</p>
<p>§   Gelang                   : Tali Prusik, warna Hitam bergaris-garis</p>
<p>§   Kacamata              : Frame warna Hitam</p>
<p>§   Ransel                    : Merk “JAYAGIRI” warna Merah. Sisi kiri, kanan dan bawah warna Cream, tali ransel warna Biru</p>
<p>§   Senter                    : Badan warna Merah dan kepala warna Hitam</p>
<p>§   Korek Api              : Merk “ZIPPO”, dengan tulisan Coca-cola</p>
<p>§   Minyak Rambut   : Merk “LAVENDER”, warna Hijau dan 1 (satu) buah sisir</p>
<p>§   Sisa Uang               : Rp. 750,- (tujuh ratus lima puluh rupiah)</p>
<p>§   Lencana                 : Lencana WerdiBhuwana SMA N 82 Jakarta</p>
<p>Data Psikologi Survivor :</p>
<p>§   Pendiam</p>
<p>§   Berkemauan keras</p>
<p>§   Berjiwa Pemimpin</p>
<p>§   Setia Kawan</p>
<p>§   Pemberani</p>
<p>Lain – lain :</p>
<p>§   Atlit Nasional Yudo kelas 60 kg</p>
<p>§   Anggota Bela Diri : Merpati Putih</p>
<p>§   Anggota Bela Diri : Sin Lam Ba, Depok</p>
<p>§   Pernah mengalami gangguan di kepala waktu umur 11 tahun</p>
<p>§   Salah satu kakinya masih sakit, bekas terkilir waktu mengikuti Try Out Yudo di Taiwan</p>
<p><em>(sumber : Laporan SAR Surya Ibrahim Dompas)</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/surya-ibrahim-dompas1-crop1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-506" title="surya-ibrahim-dompas1-crop" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/surya-ibrahim-dompas1-crop1.jpg" alt="" width="179" height="238" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Berbekal foto ini, pencarian segera dilakukan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Keterangan mengenai kondisi lapangan pada saat SAR berlangsung yang bisa digambarkan Kang Herry ‘Macan’ adalah “<strong><em>Pencarian pada saat itu bisa dikatakan sulit karena sejak Surya dinyatakan hilang, tidak ada hari tanpa hujan, jadi merupakan resiko tersendiri untuk tim SAR yang turun ke lapangan pada saat itu.. Kemungkinan terbesar Surya berada pada daerah punggungan menuju Alun-alun Surya Kencana, karena disana banyak terdapat ceruk-ceruk kecil yang dalam, jika masuk ke daerah sana, apalagi dalam kondisi hujan, sudah sangat  sulit untuk dicari..”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Mulai ramai diberitakan di media massa, bahwa telah hilang Pejudo Junior Nasional di Gunung Gede – Cianjur, Jawa Barat. Merupakan salah satu pencarian pendaki hilang terlama, operasi SAR Surya Ibrahim Dompas memakan waktu hampir 2 bulan lebih, mulai dari 28 November 1989 hingga 6 Desember 1989 yang ditangani langsung oleh pihak Kepolisian, lalu dibagi menjadi 2 tahap pada 7 Desember 1989 hingga 30 Januari 1990 dan dilaksanakan penuh oleh perkumpulan Pencinta Alam.</p>
<p>Hasil analisa hilangnya Surya yang dapat dirangkum adalah <strong><em>“Bila dilihat keadaan cuaca yang mulai berkabut tebal, kondisi kaki serta jam saat berpisah Survivor dengan Hary dan Hendra maupun niatnya mengambil bunga Edelweis. Kemungkinan Survivor mulai tersesat saat mencari jalan turun dari puncak ke Alun-alun Surya Kencana. Dengan perkiraan survivor terus menyusuri punggungan dan turun melalui G. Rumpang dan G. Sela, atau kemungkinan Survivor kembali lagi mengambil jalur turun ke arah Cibodas dan mulai tersesat di persimpangan jalan antara G. Gede – G. Pangrango dan Kandang Badak. Kemungkinan Survivor dari Alun-alun Surya Kencana Timur sudah turun melalui track yang menuju Gunung Putri dan mulai tersesat di persimpangan jalan antara Gunung Putri dengan turun kearah Maleber. Dengan perkiraan setelah mengambil bunga Edelweis, Survivor harus menghindari pos penjagaan PHPA yang berada di Gunung Putri. Dan perkiraan ini dikuatkan juga dengan kemauan yang keras dari Survivor itu sendiri sebelum tersesat, dengan rencananya dari Puncak Gunung Gede untuk mengambil jalur turun ke Gunung Putri”.</em></strong></p>
<p><em>(sumber : Laporan SAR Surya Ibrahim Dompas)</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Menurut penuturan Djukardi Adriana, yang lebih dikenal dengan panggilan kang Bongkeng &#8211; Wanadri, pencarian dilakukan dari titik pertama Surya berpisah dengan Hary dan Hendra. Area penyisiran mencakup alun-alun Surya Kencana, semua punggungan Gunung Gede baik dari alun-alun Surya Kencana Barat hingga Timur hingga jalur Salabintana, lalu sampai kemungkinan terakhir yaitu Surya tidak sengaja memasuki jalur menuju ke bibir kawah Gede karena cuaca berkabut atau kondisi sudah gelap. <strong><em>“Pada saat itu, kita pikirkan semua kemungkinan yang mungkin terjadi, kemungkinan dia tidak sampai ke alun-alun Surya Kencana, kemungkinan dia tidak sampai turun ke jalur Putri, masih di sekitar alun-alun Surya Kencana dan kemungkinan masuk ke jalur menuju kawah dan kemungkinan Surya mencari tempat berlindung karena terjebak cuaca berkabut atau kena gelap”.</em></strong></p>
<p>Tim pencari dari SMA N 82 Jakarta ikut serta dalam pencarian selama 2 bulan penuh, dimana pada waktu itu sebagian dari anggota WB <em>bentrok</em> dengan Ujian Tengah Semester, pencarian Surya dilakukan malam hari dan siang harinya kami kembali ke SMA N 82 Jakarta untuk mengikuti Ujian Tengah Semester, sudah bisa dipastikan sangat melelahkan dan mengurah tenaga tetapi kami tetap semangat untuk mencari dan menjemput saudara kami yang hilang. Operasi SAR juga diikuti oleh Guru Bela Diri Surya yang sengaja datang dari Jepang, tujuannya hanya satu, agar dapat menemukan Surya Ibrahim, salah satu anak didik kebanggaannya.</p>
<p>Pada saat SAR berlangsung, ada beberapa tanya yang terungkap karena ternyata sosok Surya tidak seperti apa yang selama ini dalam benak teman-teman sepermainan Surya di sekolah. Berikut penuturan Adzani, “<strong><em>Banyak yang mengira ayahnya Surya sudah tidak ada karena Surya sama sekali tidak pernah bercerita atau menyinggung mengenai ayahnya, karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Norick, saudaranya dan lebih mengagetkan lagi saat melihat saya, ternyata adiknya Surya laki-laki. Karena menurut pengakuan teman-temannya, Surya selalu bercerita mengenai adiknya tetapi terkesan seperti adiknya adalah perempuan..”.</em></strong></p>
<p>Rizal Bustami &#8211; warga Cibodas yang ikut serta dalam pencarian SAR &#8211; menambahkan, <strong><em>“Waktu SAR Surya posko sempat berpindah-pindah saking lamanya. Sempat di Gunung Putri, lalu pindah ke Pasir Muncang dan sempat di Cibodas juga. Ibunda Surya menunggu di Gunung Putri, setiap ada pendaki yang turun pasti selalu ditanya, “Ketemu Surya diatas?”, pertanyaan itu merupakan tekanan batin juga untuk kita yang nge-SAR karena Surya belum juga ketemu..”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Pada saat proses pencarian SAR, ditemukan beberapa jasad pendaki lain yang hilang sebelum Surya tetapi jejaknya, daypack.. kamera… baju… sepatunya pun seakan raib ditelan bumi. Setelah SAR Surya berakhir, masih ditemukan jasad pendaki lain di Gunung Gede – Pangrango, Ibunda Surya selalu dihubungi perihal tersebut untuk memastikan apakah itu jasad anaknya tetapi tidak ada satupun yang menyerupai Surya. Ditambahkan lagi oleh Pusakawanto, <strong><em>“Saya yakin, kalaupun terjadi sesuatu dengan Surya, misalnya kaki patah atau kejadian fatal lainnya, dia merangkakpun pasti sampai di pos pendaftaran Gunung Putri.. Ketahanan fisik Surya Luar Biasa”.</em></strong></p>
<p>Alam bebas memang tidak dapat dipisahkan dengan hal-hal gaib, kita secara tidak langsung hidup berdampingan dengannya. Untuk sebagian masyarakat, Gunung Gede dipercayai sebagai tempat bersemayamnya Pangeran Surya Kencana dan di dalam hutan yang mengitari Alun-alun Surya Kencana terdapat sebuah situs kuburan kuno tempat bersemayam Prabu Siliwangi. Dalam proses pencarian SAR Surya, dikerahkan semua kemampuan yang ada, termasuk meminta bantuan paranormal untuk mencari tahu dimana keberadaan Surya. Ada 2 kejadian yang bisa dikatakan menarik, diduga kalau Surya telah diambil oleh Kerajaan Surya Kencana karena disukai oleh Putri Raja dan Surya sudah memakan makanan yang diberikan Putri tersebut, sehingga sulit untuk ‘<em>menarik</em>’ Surya kembali. Pihak keluarga juga sudah meminta bantuan paranormal yang dipercaya, tetapi pada detik-detik paranormal tersebut ingin memberitahukan dimana keberadaan Surya, ia meninggal dunia. Berikut penuturan Sani perihal pencarian paranormal pada saat hilangnya Surya, <strong><em>“Pada saat operasi SAR, ada seorang paranormal yang sengaja datang dari Banten, sepertinya dia tidak mengerti juga kenapa dia harus datang ke Cibodas. Yang menarik, dia bisa memperagakan detik-detik terakhir Surya hilang, dia bisa tau nama “Uya” dan kakinya sedang sakit.. Setelah Surya pisah dengan Hary dan Hendra, dia masih jalan melipir kawah Gede, lalu sholat di dekat tumbuhan Cantigi, setelah sholat tiba-tiba dia mengeluh kakinya sakit sambil menyebut nama mama dan saya.. tetapi setelah itu, tidak dapat dilihat lagi apa yang terjadi.. Sudah dicoba beberapa kali tetapi paranormal itu seakan ‘terlempar’, ada sesuatu yang menghalanginya..”.</em></strong> Percaya atau tidak, entah kebetulan atau tidak, hingga saat ini jejaknya pun tidak dapat ditemukan.<strong><em> </em></strong></p>
<p>Norick ternyata mempunyai pemikiran yang hampir sama dengan Kang Hery &#8216;Macan&#8217; perihal hilangnya Surya di Gunung Gede<strong><em>, “Firasat saya, ia berada di jalur menuju alun-alun Surya Kencana, sebelum tiang, masih di pinggiran kawah Gede.. Pernah saya melewati jalur tersebut bersama Surya di pendakian sebelum November itu, agak rapat jalurnya, Surya yakin ini bisa tembus ke alun-alun, makanya mau coba dilewatin waktu itu.. tetapi ketika kita coba melewati jalur itu, semakin lama suaranya Surya semakin menjauh, karena takut tersesat, saya minta ia untuk kembali..”.</em></strong> Mengingat kebiasaan Surya bahwa ia akan mencoba segala macam cara untuk tujuan akhir yang sama, kemungkinan Surya mencoba melewati jalur lain untuk dapat sampai ke alun-alun Surya Kencana itu sangatlah mungkin.</p>
<p><strong><em>Pasca hilangnya Surya..</em></strong></p>
<p>Berikut penuturan Sani mengenai pengalaman spiritual dengan kakaknya di tahun 2000.<strong><em> “Sekitar tahun 2000, saya bertemu dengan ahli spiritual, tidak disengaja, awal mulanya hanya sharing mengenai kehidupan. Lalu entah kenapa bisa berbicara mengenai Surya, dan ahli spiritual tersebut berinisiatif untuk ‘memanggil’ Surya, awalnya saya tidak percaya akan hal seperti ini.. apakah bisa? tetapi setelah dia melakukan persiapan, ada seorang muridnya yang ‘kemasukan’.. tidak berapa lama, orang itu berbicara, dan suaranya Surya. Saat ditanya, dia dimana.. Surya hanya bilang, “Disini gelap.. Gelap dan dingin..” Setelah dituntun oleh ahli spiritual untuk membaca Al-Fateha, Surya sudah mulai merasa ‘lebih terang’ lalu mendadak Surya menghilang, tetapi saya masih ada sesuatu yang mengganjal, masih ada yang kurang, kenapa dia menghilang tiba-tiba.. di saat saya lagi kesal, mendadak ada seorang muridnya lagi yang ‘kemasukan’ tanpa dipanggil, lalu Surya kembali lagi dan langsung melihat ke arah saya, dia menyentuh saya dan saya tau, ini sentuhan khas Surya, ini sentuhan kakak saya yang hilang.. Dia bisikan ke saya “De.. kakak pergi yah…”, disana saya menangis sejadi-jadinya karena saya sangat kehilangan dia, saya benar-benar kehilangan panutan dalam hidup saya dan saya juga sempat marah padanya, kenapa dia harus pergi. Setelah saat itu, baru saya mau melakukan sholat gaib untuknya..”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Kenangan bersama Surya yang masih teringat jelas oleh Hary Judianto yaitu pada saat penerimaan anggota Keamanan  OSIS SMAN 82 Jakarta dan One day.. <strong><em>“Surya itu 1 tahun diatas gw, pas lagi seleksi keamanan, gw dipasangin sama Surya.. Dada gw ditendang, sempet mental 5 meter ke belakang, dan pas jatuh, langsung leher gw dipinting sama dia.. Untung ditahan sama temennya, kalo gak ditahan, gak tau deh. Setelah itu, Surya minta maaf sama gua.. Dia kalo udah di lapangan dalam kondisi bertarung, pembawaannya udah beda, kalo yang gw liat yah, walaupun masih muda tapi dia sangat profesional.. Waktu One Day, Surya bantuin gw, lagi dibarisin, tiba-tiba Surya berdiri di belakang gw, padahal gua belum kenal pada saat itu sama dia, senior yang lain cuma bisa diem aja ngelewatin gw, siapa coba yang berani ngapa-ngapain kalo udah ada Surya.. Sejak itu, gw kenal Surya lalu dekat sama dia sampai terakhir, yah.. pendakian di Gede..”.</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Kepastian masih belum ditemukannya Surya juga ditegaskan kembali oleh Bapak Nono, Petugas Taman Nasional Gunung Gede Pangrango pada Januari 2010, <strong><em>“Saya sudah disini sejak tahun 1982 dan ikut juga dalam proses pencarian SAR Surya tetapi Surya Ibrahim belum ketemu sampai sekarang..”. </em></strong></p>
<p>Uya..</p>
<p>Kau memang telah lama menghilang,</p>
<p>tetapi kenangan bersamamu akan selalu melekat di hati setiap jiwa yang mengenalmu..</p>
<p>Figur seorang kakak terbaik yang dengan setia menjaga adiknya, gaya khas <em>perlente</em> lengkap dengan rambut klimis dan minyak rambut yang setia menemani kemanapun kau pergi, celotehanmu yang nyeleneh, aturan anehmu saat bermain bola dan tingkah lakumu yang sering kali tidak terlintas dalam akal sehat kami&#8230;.</p>
<p>tetapi itulah dirimu, Surya Ibrahim Dompas, Permata yang Hilang..</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><em>Seperti yang telah kau janjikan,</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Memang inilah pendakian terakhirmu….</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Mungkin memang inilah yang terbaik untukmu..</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Sampai bertemu lagi Uya..</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Semoga kau dapat merasa nyaman dan beristirahat dengan tenang, dimanapun kau berada..</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Doa kami selalu menyertaimu..</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong><em>“ </em></strong><strong><em>SERAUT WAJAH DALAM KENANGAN</em></strong><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Hanya untuk sebuah nama…</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dendam rinduku kupendam lama…</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Walau jauh diseberang sana&#8230; bahkan entah berada dimana&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Seraut wajah yang disayang&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>siang malam ada dalam bayang&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>tetap mendekam dan terkenang&#8230;<br />
jauhi jiwa dari ketenangan&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tujuh belas tahun berlalu&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>tiada yang terbawa angin lalu&#8230;<br />
bagai benalau dalam kalbuku&#8230;</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>kecerahan dibalut kalbu kelabu..<br />
sadar dalam tambatan cobaan<br />
ketegaran iman dirambati godaan&#8230;<br />
dengan bersujud&#8230; sepenuh kepatuhan.. diri..</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>mengaminkan kehendak Tuhan…</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Seraut wajah dalam kenangan…</em></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>anandaku&#8230; SURYA IBRAHIM DOMPAS&#8230;<br />
29-11-89… 29-11-06…. </em><strong><em>”</em></strong><strong><em> </em></strong></p>
<p style="text-align: center;"><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>(Tulisan ayahanda Win Fokke Dompas di 17 tahun hilangnya Surya Ibrahim)</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><em><br />
</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Oleh Thea Arabella</strong></p>
<p><em>Penulis merupakan Anggota WerdiBhuwana SMA N 82 Jakarta – Angkatan Rinai Giri.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em>&#8220;Di usia yang sangat muda dia telah menjadi seseorang yang mampu menjadikan kepahitan&#8230; kesakitan&#8230; dan keterbatasan hidup menjadi motivasi untuk prestasi serta menciptakan keindahan-keindahan yang manis untuk orang-orang disekelilingnya&#8230;. dan dia&#8230;.. kakak saya&#8230;.&#8221;.</em></p>
<p><strong>Adzani Dompas – Adik kandung Surya Ibrahim Dompas</strong></p>
<p>”<em>Surya adalah sepupu saya yang paling mewarnai masa kanak-kanak saya. Seandainya dia masih bersama kita, saya pikir dia akan menjadi orang yang “<strong>stand up among the crowd</strong>”.”</em></p>
<p><strong>Norick Indrajit- Saudara sepupu Surya Ibrahim Dompas dari pihak ibu</strong></p>
<p><strong>”</strong><em>Kalo mau liat copy-an Surya…tinggal liat adeknya Sani (Adzani Dompas) aja”.</em></p>
<p><strong>Hary Judianto – WerdiBhuwana angkatan Wana Padri (1991)</strong></p>
<p><em>“Surya itu pendaki yang idealis, pendaki dengan disiplin tinggi dan guru yang baik untuk adik-adiknya.”<br />
</em><strong>Rizal Bustami &#8211; Anggota SAR dari warga Cibodas</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Sumber : </strong>http://theaarabella.multiply.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=501</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BUBER JPers 2010</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=497</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=497#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 03:39:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[
Ramadhan tlah tiba…
Puasa tlah tiba….
Buber tlah tiba&#8230;&#8230;&#8230;  
Ramadhan memang istimewa dengan segala rahmat, berkah, pengampunan dan pahala yang berlipat ganda.
&#8230;&#8230;Selain itu, so pasti kehangatan persahabatan dan persaudaraan antar sesama juga lebih terasa.
Karena itu seperti tahun-tahun sebelumnya, Jadwal Buka Bersama yang satu ini pasti sudah ditunggu-tunggu…
Buka Bersama di bulan Ramadhan sambil reunian kali ini pun demi mempererat tali silaturahmi, dari yang ngga kenal menjadi kenal, dari yang sudah kenal Buka Bersama di bulan Ramadhan sambil reunian kali ini pun demi mempererat tali silaturahmi, dari yang ngga kenal menjadi kenal, dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/flyer-bukber-2010.jpg"><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/41256_1440985140233_1101198037_31275683_4517201_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-531" title="41256_1440985140233_1101198037_31275683_4517201_n" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/41256_1440985140233_1101198037_31275683_4517201_n.jpg" alt="" width="559" height="400" /></a></a></p>
<p>Ramadhan tlah tiba…<br />
Puasa tlah tiba….<br />
Buber tlah tiba&#8230;&#8230;&#8230; <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ramadhan memang istimewa dengan segala rahmat, berkah, pengampunan dan pahala yang berlipat ganda.<br />
&#8230;&#8230;Selain itu, so pasti kehangatan persahabatan dan persaudaraan antar sesama juga lebih terasa.</p>
<p>Karena itu seperti tahun-tahun sebelumnya, Jadwal Buka Bersama yang satu ini pasti sudah ditunggu-tunggu…<br />
Buka Bersama di bulan Ramadhan sambil reunian kali ini pun demi mempererat tali silaturahmi, dari yang ngga kenal menjadi kenal, dari yang sudah kenal Buka Bersama di bulan Ramadhan sambil reunian kali ini pun demi mempererat tali silaturahmi, dari yang ngga kenal menjadi kenal, dari yang sudah kenal menjadi lebih dekat lagi, seperti istilah &#8220;tak kenal maka tak sayang&#8221; <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita akan mengadakan acara Buka Puasa Bersama (BUBER) di :</p>
<p>Hari / Tanggal : Sabtu, 28 Agustus 2010<br />
Waktu : 16.30 Wib s.d Selesai<br />
Tempat : GOR Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan<br />
Biaya : Rp. 50.000/org ( Tajil, Minuman, Makan Berat, free pin &amp; Majalah Divemag Indonesia)</p>
<p>Bagi yang ingin lanjut sampai SABER (Sahur Bersama), boleh banget kok, mengenai biayanya&#8230;.kolekan di TKP aja yaaaa&#8230;&#8230;..</p>
<p>Cara pendaftaran :<br />
Dengan mengirim data : nama, alamat email, dan no HP,<br />
ke : Anna &#8211;&gt; email &amp; YM : adrienne_chaaz@yahoo.com</p>
<p>Pembayaran :<br />
Transfer biaya buber ke<br />
Mandiri No Rek : 1560004096667, an Cynthia Valianty<br />
BCA No Rek : 3971195795 a/n Diana Susanti</p>
<p>dengan mencantumkan 2 digit no terakhir<br />
misal : no HP 0812 3456789, maka transfer Rp. 50.089<br />
lalu melakukan konfirmasi ke sdri. Anna di 0815 86375200</p>
<p>Biasanya di buber ini, kita mengundang senior / tokoh di dunia adventure juga loh.<br />
Jadi kita bisa tanya2 cerita seputar pengalaman petualangannya deh.<br />
Yang pernah hadir di Buber Jpers terdahulu yaitu Om Herman Lantang (siapa sih yang ngga kenal beliau <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ), Dody Djohanjaya (Sesepuh &amp; Produser JP sebelumnya), Riyanni Djangkaru (Host JP), Syifa Kumala (Host JP), Paramita Yang pernah hadir di Buber Jpers terdahulu yaitu Om Herman Lantang (siapa sih yang ngga kenal beliau <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ), Dody Djohanjaya (Sesepuh &amp; Produser JP sebelumnya), Riyanni Djangkaru (Host JP), Syifa Kumala (Host JP), Paramita Mentari (Host JP &amp; Miss Water Indonesia), Tyo (Host JP Survival).<br />
Mudah-mudahan buber kali ini diantara mereka ada yg bisa hadir lagi atau bahkan kita kedatangan tamu dr Crew2 JP lainnya??<br />
Jadi penasaran, kira2 siapa yaaa yang bisa hadir tahun ini???<br />
Makanya …..tunggu aja info selanjutnya, hehehe dan jangan ragu untuk ikut hadir d acara Buber Jpers</p>
<p>Info lebih lanjut bisa menghubungi :<br />
Anna &#8211;&gt; email &amp; YM : adrienne_chaaz@yahoo.com / HP 0815 86375200<br />
Diana &#8211;&gt; email &amp; YM : d334na@yahoo.com / HP 0857 10032291<br />
Riri &#8211;&gt; email &amp; YM : riri.goddess@yahoo.com / HP 0857 82257833</p>
<p>Yang jelas, kalo ngga ikut pasti rugi bgt deh<br />
Ayo jangan sampai menyesal karena ga hadir d acara ini…<br />
So&#8230;&#8230;..be there <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salam,<br />
Jejak Petualang Community</p>
<p style="text-align: center;">+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++</p>
<p>Untuk yang di Jatim&#8230;. ikut yang ini ya, jangan salah kamar&#8230;. <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/flyer-bukber-jatim-2010.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-518" title="flyer-bukber-jatim-2010" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/flyer-bukber-jatim-2010.jpg" alt="" width="587" height="420" /></a></p>
<p>Ramadhan tlah tiba…<br />
Puasa tlah tiba….<br />
Buber tlah tiba&#8230;&#8230;&#8230; <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ramadhan memang istimewa dengan segala rahmat, berkah, pengampunan dan pahala yang berlipat ganda.<br />
&#8230;Selain itu, so pasti kehangatan persahabatan dan persaudaraan antar sesama juga lebih terasa.</p>
<p>hiyaa&#8230;kalimat awalnya sama&#8230; kaya BUBER yang di Jakarta.</p>
<p>Tahun kemarin BUBER Jatim juga berhasil mengumpulkan lebih dari 40 petualang se-Jatim, ada yang datang langsung dari Malang, Batu, Pandaan, Pasuruan, Sidoarjo dan Tentunya dari Surabaya sendiri. nah.. tahun ini ngumpul lagi yuk&#8230; sambil temu kenal dan temu kangen yang sudah sering sapa di FB.</p>
<p>Masih ditempat yang sama seperti tahun kemarin:</p>
<p>Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Agustus 2010<br />
Waktu           : 16.30 Wib s.d Selesai<br />
Tempat         : di RUmah baca Az-Zahra, Komplek Telkom Ketintang<br />
jalan ketintang 156 (sebelah masjid takhobbar)<br />
Biaya            : Rp. 15.000/org<br />
(Tajil, Minuman, Makan Buka)</p>
<p>Tempat pendaftaran :<br />
-TOKO CARTENZ SURABAYA<br />
Jl. Raya nginden No. 8 Surabaya Phones. (031) 501 8879<br />
-Rumah Baca Az-Zahra  &gt; Kang Dadank<br />
sebelah Masjid Takhobbar Telkom Ketintang</p>
<p>Pendaftaran dan pembayaran diterima terakhir sehari sebelum acara.</p>
<p>Info lebih lanjut bisa menghubungi :<br />
kohan -&gt; YM : cak_kohan / HP 031 60580777</p>
<p>Ayo podo ngumpul rek&#8230;<br />
Yang nggak menjalankan puasa juga boleh ngumpul kok..<br />
apalagi ada Doorprize khusus yang dipersembahkan oleh CARTENZ SURABAYA..</p>
<p>Salam,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=497</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Amazing Dive</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=493</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=493#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 04:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/40651_1495687585145_1022754844_1476252_4235516_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-494" title="40651_1495687585145_1022754844_1476252_4235516_n" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/08/40651_1495687585145_1022754844_1476252_4235516_n.jpg" alt="" width="532" height="720" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=493</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpul bareng with Jejak Petualang Crew di Ranu Kumbolo</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=488</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=488#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 12:12:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[
Sabtu, 24 Juli 2010
Lokasi : Ranu Kumbolo &#8211; Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
***
Mau Ketemu Riyanni Djangkaru&#8230; kapan?&#8230;. cek informasi di bawah ini..
Ayo .. Kita seru-seruan, berkumpul bareng presenter dan kru Jejak Petualang Trans 7, bakal ada games seru dan upacara 17an ( syuting Edisi Special Agustusan).
Tahun ini mengambil lokasi di Gunung tertinggi di Pulau jawa, tepatnya di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, Jawa Timur, tanggal 24 juli All crew brangkat dr cengkareng 22 juli.
Start jalan dari Ranu Pane, tanggal 23 pagi, sesampai di Ranu Kumbolo 24 pagi ( persiapan upacara ). ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/07/Tanda-Tangan2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-489" title="Tanda-Tangan2" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/07/Tanda-Tangan2.jpg" alt="" width="540" height="405" /></a></p>
<p>Sabtu, 24 Juli 2010</p>
<p>Lokasi : Ranu Kumbolo &#8211; Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.</p>
<p>***</p>
<p>Mau Ketemu Riyanni Djangkaru&#8230; kapan?&#8230;. cek informasi di bawah ini..</p>
<p>Ayo .. Kita seru-seruan, berkumpul bareng presenter dan kru Jejak Petualang Trans 7, bakal ada games seru dan upacara 17an ( syuting Edisi Special Agustusan).<br />
Tahun ini mengambil lokasi di Gunung tertinggi di Pulau jawa, tepatnya di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, Jawa Timur, tanggal 24 juli All crew brangkat dr cengkareng 22 juli.<br />
Start jalan dari Ranu Pane, tanggal 23 pagi, sesampai di Ranu Kumbolo 24 pagi ( persiapan upacara ). So, tunggu apalagi guys&#8230;langsung ketemu disana yaa..!!</p>
<p>Hal yang perlu diperhatikan :<br />
- event ini bebas bagi siapa saja yg hobby hiking, berpetualang dan all fans Jejak Petualang Trans 7.<br />
- tidak berharap imbalan.<br />
- bawalah peralatan mendaki yg mendukung + obat2an.<br />
- bawa ransum secukupnya, selama pendakian.<br />
- ingat, simpan sampah dan bawa turun lagi (selama dlm pendakian).<br />
- tidak menanggung biaya ( ditanggung masing-masing).<br />
- jangan lupa bawa Kamera ! (untuk mengabadikan moment)..^_^</p>
<p>Salam Jejak Petualang ..</p>
<p>info: <a rel="nofollow" href="http://www.facebook.com/event.php?eid=123646064346848&amp;index=1" target="_blank">http://www.facebook.com/event.php?eid=123646064346848&amp;index=1</a></p>
<p>info lain di: milis Jejak Petualang ( jejakpetualang@yahoogroups.com )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=488</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 Hari di Ujung Kulon</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=481</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=481#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 05:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=481</guid>
		<description><![CDATA[




KAMIS, 27 MEI 2010
Jam 21.00 saya sudah sampai di parkiran LBH UKI Jakarta timur, tempat biasa dimana meeting point kalau JPers (Jejak Petualang Community) mengadakan acara. LBH UKI selain lokasinya strategis disini juga masih banyak tersedia angkutan umum 24 jam jika kita pulang kemalaman.
Saya masih harus menunggu beberapa jam lagi sampai teman-teman peserta lain pada datang, ternyata mereka jauh-jauh juga rumahnya, ada 5 peserta yang dari bandung dan 1 peserta yang dari garut.
Sudah jam 21.30 Bis belum juga datang, saya coba confirm ke pak ketu Erwin londi untuk menanyakan keberadaan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932767&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs507.ash1/29973_1391515881417_1637747486_932767_6563882_n.jpg" alt="" width="558" height="372" /></a></div>
</div>
<p><strong>KAMIS, 27 MEI 2010</strong><br />
Jam 21.00 saya sudah sampai di parkiran LBH UKI Jakarta timur, tempat biasa dimana meeting point kalau JPers (Jejak Petualang Community) mengadakan acara. LBH UKI selain lokasinya strategis disini juga masih banyak tersedia angkutan umum 24 jam jika kita pulang kemalaman.<br />
Saya masih harus menunggu beberapa jam lagi sampai teman-teman peserta lain pada datang, ternyata mereka jauh-jauh juga rumahnya, ada 5 peserta yang dari bandung dan 1 peserta yang dari garut.<br />
Sudah jam 21.30 Bis belum juga datang, saya coba confirm ke pak ketu Erwin londi untuk menanyakan keberadaan bis yang akan mengangkut kami ke Taman Jaya, dan setelah Erwin Tanya ke Pak Oting selaku supir bis ternyata dia kira kita berangkatnya jumat malam, dia pikir tgl 27 mei 2010 jam 00.00 itu adalah hari jumat malam sabtu, dan posisi bis juga sekarang ini sedang berada di puncak pas mengantar tamu lain kesana, GUBRAKKKKK… Erwin langsung jatuh pingsan.<br />
Sambil marah-marah Erwin minta supir bis utk segera turun dari puncak dan segera menjemput kami yang sudah menunggu di parkiran LBH UKI.</p>
<p>Satu persatu akhirnya teman2 datang semua, alhamdulilah walaupun mereka jauh-jauh tapi mereka bisa datang tepat waktu sebelum berangkat jam 23.00 wib, ngga lama kemudian bis datang dari puncak Pass, kami semua segera memasuki keril dan daypack ke dalam bagasi bis dan segera berangkat ke Desa Taman Jaya.<br />
Pak Supir kami beri waktu setengah jam untuk istirahat tapi dia tolak, katanya dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, ya sudah lah.. kita berangkat, ngga lupa sebelum berangkat kita berdoa dulu agar diberi keselamatan selama perjalanan.</p>
<p><strong>JUMAT, 28 MEI 2010</strong><br />
Sekitar jam 7 pagi kami sudah sampai di dekat pantai umang, ngga jauh dari desa sumur, berarti desa Taman Jaya tinggal sebentar lagi piker saya, seharusnya itinerary kami jam 7 pagi ini sudah sampai di desa Taman Jaya untuk sarapan, tapi ternyata desa Taman Jaya dari desa sumur dengan kondisi jalan yang rusak karna belum di aspal menambah delay beberapa jam untuk cepat sampai di sana.<br />
Beberapa kali bis harus jalan pelan-pelan ketika melewati jembatan atau kali kecil agar tidak mentok dengan bagian dasar bis.<br />
Untuk mengakalinya, teman-teman lelaki harus bergotong royong membuat tumpukan batu kali untuk bisa di lalui bis agar dasar Bis tidak mentok dengan tanah.<br />
Beberapa rintangan telah berhasil dilalui oleh bis namun naas untuk rintangan yang satu ini, legokan aliran sungai kecil ini terlalu dalam yang mengakibatkan bagian dasar belakang bis kami mentok dengan tanah, knalpot bis sampai gepeng dan pintu belakang bis juga jadi pengok karna supir bis tidak memperhatikan aba-aba dari kami untuk menghentikan laju bis mundur, karna kami tau pintu belakang masih dalam keadaan terbuka. PRAAAAAAKKKK…. Pintu belakang akhirnya pengok juga, apes banget.. sudah knaplot jadi gepeng, di tambah lagi pintu belakang jadi pengok dan ngga bisa di tutup.<br />
Kasian banget pask supir, mudah2an dia ngga kapok dengan perjalanan kali ini. Sabar ya pak… !</p>
<p>Sekitar jam 10 pagi kami akhirnya tiba di desa Taman Jaya, desa yang lumayan masih asri, dengan pemandangan sebelah kiri sawah hijau berterasiring dengan punggungan bukit2 yang lebat, dan di sebelah kanan hamparan biru pesisir pantai ujung kulon.<br />
Sayang sekali keindahan perjalanan ini ngga bisa di abadikan karna posisi saya ngga tepat berada di samping jendela bis, dan di tambah lagi kaca bis memakai kaca riben gelap.<br />
Sudah terlalu siang untuk sarapan di Taman Jaya, tapi ngga masalah, karna memang dari semalam kami belum makan sama sekali, sarapan nasi uduk yang ala kadarnya yang Cuma dengan bihun dan di campur tempe lumayan bisa mengganjal perut untuk 4 jam nanti menyebrang ke Pulau peucang.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932510&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391370357779_1637747486_932510_4612010_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Setelah selesai sarapan kami segera menuju dermaga desa Taman Jaya untuk berlabuh ke Pulau peucang, Kapal yang kami naiki masih bagus dan bersih sekali, beruntung banget karna kemarin di Pulau peucang banyak tamu-tamu lain yang mendapatkan Kapal dengan kondisi yang kotor dan kurang terawat.</p>
<p>Hampir 3 jam setengah kami berlabuh menuju Pulau Peucang, sepanjang perjalanan menuju pulau peucang hanya terlihat hutan-hutan di sekitar pesisir terluar pulau jawa bagian barat ini.<br />
Untuk makan siangnya kami sudah di siapkan dari desa Taman Jaya Sayang sekali kalau sampai tidur selama perjalanan, walaupun yang terlihat Cuma hamparan laut dan hutan-hutan.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932511&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs507.ash1/29973_1391370997795_1637747486_932511_849586_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Sekitar Jam 15.00 kami tiba di pulau peucang, woooow.. lautnya masih biru sekali, pesisir pantai peucang benar-benar sangat indah, warna langit yang biru, warna laut dengan gradasi biru ke hijau-hijauan, hutan yang hijau, dan pasir yang berwarna putih menambah kontras dan merupakan perpaduan warna yang sangat indah sekali.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932512&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391371557809_1637747486_932512_5120776_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Setelah Kapal bersandar dan semua teman-teman turun kami segera menuju penginapan di pulau peucang, sore hari Rusa-rusa, babi hutan dan monyet-monyet seperti sudah bersiap menyambut kedatangan kami disini, memang katanya Rusa-rusa dan babi hutan disini akan keluar pada sore hari, kalau pagi dan siang biasanya mereka kembali ke dalam hutan.</p>
<p>dengan langkah pasti saya menggiring teman-teman ke penginapan Fauna yang berada di tengah-tengah pulau peucang, tapi ternyata Guide kami Pak Rosyid malah membelokan kami ke penginapan di belakang Penginapan Fauna, kami di taruh di barak-barak milik pengelola wanawisata.<br />
Barak-barak itu terlihat tidak terawat, 1 kamar Cuma ada 2 kasur yang di letakan di lantai tanpa tempat tidur, dan penerangan di dalam kamar juga banyak yang Cuma pakai lampu pijar 5-10 watt saja, menambah sumpek keadaan didalam kamar. Dan jatah kami Cuma disediakan 5 kamar, yang berarti 1 kamar harus di isi sebanyak 6 orang.<br />
Pak komar selaku guide yang dari awal akan membawa dan mengurusi kita selama disana ternyata dia punya tugas mengantarkan tamu lain ke Pulau Krakatau, dan tugas dia mengantarkan kami di alihkan ke pak Rosyid.<br />
Benar-benar mengecewakan dan bikin kesel saja, karna kami masih 2 hari 2 malam di penginapan ini, dan harus bertahan dengan kondisi yang sangat minim dan memprihatinkan.<br />
Listrik cuma nyala waktu sore sampai pagi hari saja, siang hari tidak ada listrik sama sekali, karna tenaga listrik juga berasal dari mesin diesel yang harus di salurkan ke beberapa penginapan di sekitar pulau peucang.<br />
Mau complain ke siapa..?? Pak rosyid ngga tau menahu masalah penginapan kami, dia Cuma dapat tugas menggantikan pak komar tanpa ada amanat yang lain.<br />
Padahal waktu itu penginapan yang kami pesan ke Pak Komar adalah penginapan Fauna.</p>
<p>Setelah memasuki semua perlengkapan kedalam kamar kami dikasih waktu 1 jam untuk berkumpul dan berlayar kembali menggunakan Kapal menuju pulau Cidoan, jarak pulau Cidoan dari pulau peucang cuma beberapa kilometer saja, sore itu kami tidak begitu beruntung karna kami hanya menemukan 1 banteng dan 1 burung merak saja,</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932517&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391373357854_1637747486_932517_6631662_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>kalau kami beruntung kami bisa menyaksikan sekumpulan banteng-banteng yang sedang merumput disini. Mungkin mereka terusik dan masuk kedalam hutan karna kedatangan kami dan rombongan lainnya.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932519&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391376357929_1637747486_932519_7580373_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Setelah puas mengunjungi Cidoan kami segera kembali ke penginapan karna sudah sore, awan di sebelah barat sudah gelap sekali pertanda akan segera turun hujan.</p>
<p>Jam 7 malam hidangan untuk makan malam sudah tersedia, menu ikan bakar dan sambel kecap, jadi berasa bener-bener sedang berada di pulau, makan malam dengan keadaan gelap gulita cuma diterangi pakai headlamp dan senter punya teman-teman saja, karna lampu penerangan dari diesel mendadak mati malam itu.</p>
<p>Selesai makan malam sebagian teman-teman langsung masuk kedalam kamarnya masing-masing, saya, Erwin, jiteng dan one terpaksa tidur diluar kamar hanya dengan beralaskan matras dan jaket tebal, dan malam itu ternyata ada juga teman-teman lainnya yang ikut-ikutan tidur di luar karna kamarnya terlalu kecil dan panas.<br />
Lebih nyaman tidur di luar (ngeles mode on), tapi memang enakan tidur di luar, udaranya sejuk, dan ngga ada nyamuk juga kok.</p>
<p><strong>SABTU, 29 MEI 2010</strong><br />
Jam 4 pagi sudah terusik sama berisiknya teman-teman wanita di kamar sebelah, Starsea and the gank memang super rame banget, ngga ada mereka mungkin perjalanan kali ini akan terasa sepi sekali.<br />
Selepas shalat subuh saya, Erwin dan Dian gatra segera bergegas untuk menuju ke dermaga pulau peucang, menyaksikan sunrise di pulau ini, mudah-mudahan ngga mendung dan dapat sunrise yang bagus.</p>
<p>Bibir pantai agak pasang pagi itu, pasir yang seharusnya bisa utk bermain-main kalau siang kini sudah terendam air pasang. Ngga ada POI pagi ini, di tempat kami berdiri untuk mengambil gambar tidak ada sama sekali obyek yang bisa di jadikan POI, alhasil cuma sebatang ranting saja yang kami jadikan obyek dan di tambah sekali-kali teman-teman sendiri yang sedang motret yang dijadikan POI.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932518&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391375277902_1637747486_932518_3771406_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Setelah puas dengan Sunrise kami semua balik ke penginapan untuk sarapan, menunya nasi goreng dan mie goreng, cuma ada rasa yang aneh pada nasi goreng pagi ini, nasinya seperti nasi yang sudah berkeringat jadi terasa sekali di lidah, akhirnya kami minta dibuat kan nasi goreng yang baru lagi.</p>
<p>Selesai sarapan kegiatan dilanjutkan untuk snorkeling di tiga spot terbaik di ujung kulon, pertama di sekitar Pulau peucang, kedua di dekat Citerjun dan yang ketiga di Cikunya (kalau ngga salah, lupa dengan nama spotnya), Underwater Pulau Peucang benar-benar masih terlihat bagus, dengan kedalaman yang cuma beberapa meter saja kita sudah bisa melihat terumbu-terumbu karang yang berwarna warni, ikannya juga sangat bervariasi, untuk menemukan bintang laut sangat mudah, karna disini banyak terdapat bintang laut. Namun Ikan Nemo (Clownfish) di pulau peucang warnanya sedikit beda dengan warna ikan nemo pada umumnya, karna warna orangenya lebih dominan ke warna merah hati, gemesin banget melihat mereka bermain di balik anemone (rumput tempat mereka bersembunyi), rasanya pengen sekali menangkap dan memegang badan ikan Nemo.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932523&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391381758064_1637747486_932523_4993750_n.jpg" alt="" width="579" height="434" /></a></div>
</div>
<p>3 Spot untuk snorkeling selesai lah sudah, jam sudah menunjukan jam 11 siang, waktunya kembali ke penginapan untuk makan siang dan melanjutkan kegiatan selanjutnya.</p>
<p>Hujan turun dengan derasnya siang itu, makan siang sambil ditemani rintik hujan, kondisinya benar-benar seperti di penampungan para TKI, sebagian teman-teman makan siang di emperan depan kamar sambil jongkok.</p>
<p>Acara trekking ke Cibom – Tanjung layar jam 1 siang terpaksa jadi ngaret sampai hampir jam 2 siang karna harus menunggu hujan reda, biarlah hujannya sekarang saja, dari pada turun hujan ketika kami sedang berada di hutan.<br />
Sehabis hujan berhenti, langit di Pulau Peucang menjadi sangat cerah, pasir putihnya jadi sangat halus karna bekas terkena hujan, laut menjadi berwarna biru kehijua-hijauan karna terkena pantulan sinar matahari.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932542&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391384518133_1637747486_932542_2594094_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Kurang lebih 1 jam kami berlayar akhirnya sampailah kami di Cibom, Cibom masih masuk kedalam kawasan Taman nasional yang terletak di dataran tanah pulau jawa.<br />
Dari kapal yang kami tumpangi kami di jemput dengan kapal boat kecil, karna kapal besar tidak bisa merapat sampai dibibir pantai.<br />
Di sini terdapat pos untuk beristirahat dan papan-papan informasi yang berisi sejarah Cibom-Tanjung Layar. Disana tertulis bahwa pada tahun 1808 pemerintah Hindia Belanda sempat ingin menjadikan Cibom sebagai sebuah pelabuhan laut. Namun, karena para pekerjanya banyak yang sakit-sakitan dan akhirnya meninggal, maka banyak yang melarikan diri dari tempat itu, sehingga pembangunannya tidak pernah terselesaikan.<br />
Menurut informasi disini juga dahulunya pernah ada penjara peninggalan jaman belanda.</p>
<p>Jarak dari Cibom ke Tanjung layar tertulis cuma 1 km, tapi ternyata apa yang kita jalani lebih dari 1 km, ngga tau mereka menghitung jarak ini pakai apa atau hanya perkiraan saja.<br />
Jalan menuju Tanjung layar persis seperti jalur pendakian menuju gunung salak, becek banget, hujan tadi siang mengakibatkan bubur lumpur sepanjang jalan, kasian dengan teman-teman yang memakai sepatu jadi harus berbelok-belok ria, dan untuk teman-teman yang memakai sandal jepit juga lebih kasihan lagi, karna harus merasakan sendalnya terbenam didalam lumpur dan sulit untuk diangkat, akhirnya mereka banyak juga yang jalan sambil bertelanjang kaki.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932543&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391385718163_1637747486_932543_5346983_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Di perjalanan ada beberapa peserta dari rombongan lain yang membatalkan untuk menuju Tanjung layar karna mereka tidak terbiasa dengan kondisi jalan seperti ini.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932546&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391387118198_1637747486_932546_1133930_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Cape jalan selama hampir 1 jam akhirnya tibalah kami di Tanjung layar, hamparan padang rumput menyambut kedatangan kami di tanjung layar, tebing-tebing menjulang tinggi seakan-akan menjadi pelindung pulau ini dari terjangan ombak-ombak besar, indah sekali pemandangan di Tanjung layar.<br />
Menurut informasi batu-batu besar dan tinggi-tinggi ini adalah bekas letusan Gunung Krakatau puluhan tahun silam.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932547&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs547.snc3/29973_1391388358229_1637747486_932547_6395659_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<p>Tidak lupa kami mengabadikan keindahan ujungnya pulau jawa dibagian barat ini.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932553&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs547.snc3/29973_1391389958269_1637747486_932553_844137_n.jpg" alt="" /></a></div>
</div>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932560&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash1/hs507.ash1/29973_1391391998320_1637747486_932560_3316057_n.jpg" alt="" width="510" height="340" /></a></div>
</div>
<p>Kami disarankan untuk tidak berlama-lama di Tanjung layar karna masih ada 1 kegiatan lagi sore ini yaitu menuju karang copong.<br />
Rasanya masih ingin berlama-lama di sini, lelah masih belum hilang ketika berangkat tadi tapi mau bagaimana lagi, sore sudah hampir gelap, jam sudah menunjukan jam 16.30 wib.<br />
Mungkin kita ngga bisa mengejar ke karang copong, melihat kondisi teman-teman yang sudah kelihatan sangat lelah, di tambah lagi sore itu sudah sangat gelap karna mendung.<br />
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menuju karang copong melalui darat tapi tetap melihat karang Copong melalui laut saja,</p>
<p>Karang Copong masih terletak di Pulau Peucang, untuk menuju karang copong kita harus berjalan membelah hutan kurang lebih 3 km menuju arah utara pulau peucang ini.</p>
<p>Karang copong merupakan pulau karang kecil yang berlubang di bagian tengahnya, pulaunya terpisah dengan pulau peucang. Kapal tidak bisa mendekat ke karang copong karna banyak batu-batu karang di pinggiran pantai. Kami hanya lewat saja dan memandang pulau kecil ini dari kejauhan.</p>
<p>Langit sudah sangat gelap sekali, mendung ini benar-benar pertanda akan turun hujan, tapi posisi kami masih berada di tengah lautan, dan jarak kami sekarang ke Pulau peucang masih jauh sekali karna untuk kembali ke Pulau peucang dari tanjung layar yang melewati Karang copong berarti kami harus mengelilingi pulau puecang terlebih dahulu.</p>
<p>Dan tiba-tiba saja hujan datang, tidak ada rintik-rintik hujan lagi, hujan langsung turun dengan derasnya, handycam yang saya pegang saja tidak sempat saya masukan kedalam tas, sambil menggigil saya tetap merekam kondisi keadaan teman-teman yang sedang tegang menggigil kedinginan karna hujan. Petir menyambar sangat menakutkan, pandangan mata cuma bisa melihat beberapa meter saja, kabut di tengah-tenga laut sudah membuat horror perjalanan pulang ini, teman-teman didalam Kapal tidak ada satupun yang masih kering, semua basah kuyup karna badai hujan ini. Suasana yang tadinya ceria penuh canda tiba-tiba jadi berisik karna ketakutan, tapi tetap tegar menjalani keadaan ini, semua merapat membentuk lingkaran kecil didepan nahkoda kapal, kami ngga perduli lagi nahkoda kapal ngga kelihatan pandangannya karna tertutup oleh badan-badan kami. Kami Cuma ingin berlindung dari sambaran petir saja, beberapa teman ada yang sempat kesetrum ketika berpegang pada langit-langit dek Kapal ketika petir datang menyambar, saya coba memantau keadaan teman-teman di belakang kapal, ternyata di belakang jauh lebih serius dari teman-teman yang ada di depan, yang didepan masih tetap santai dengan bercanda untuk menghilangkan ketakutan, sementara yang di belakang diam seribu bahasa. Tapi dalam hati kecil pasti mereka tetap berdoa dalam diri mereka masing-masing agar selalu diberikan keselamatan dalam melewati rintangan ini.</p>
<p>Jadi teringat badai yang sudah menghantam team JP di lautan papua yang akhirnya harus menenggelamkan perahu yang mereka tumpangi, musibah tersebut sudah membuat duka yang mendalam bagi team JP karna mereka harus terdampar beberapa hari disebuah pulau tak berpenghuni dan yang lebih parah lagi karna harus kehilangan salah satu kemeramen terbaiknya yang belum ketemu juga sampai sekarang.</p>
<p>Setelah beberapa jam berlayar menerjang ombak melawan badai hujan akhirnya kami semua sampai di dermaga pulau peucang, gerimis masih tetap belum berhenti juga, tapi Alhamdulillah kami semua masih tetap diberikan keselamatan dan umur panjang olehNya.</p>
<p><strong>MINGGU, 30 MEI 2010</strong><br />
Jam 5.00 pagi teman-teman sudah bangun untuk shalat subuh, setelah shalat saya dan beberapa teman berangkat lagi untuk hunting sunrise di sekitar dermaga, dua hari ini sunrise benar-benar sangat bersahabat, pagi yang benar-benar indah, saya sudah puas dengan sunrise pagi kemarin, sekarang saatnya memotret teman-teman yang sedang narsis di pinggir pantai.</p>
<div>
<div><a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=932561&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=402794866249&amp;aid=-1&amp;auser=0&amp;oid=402794866249&amp;id=1637747486"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs527.snc3/29973_1391394158374_1637747486_932561_1393134_n.jpg" alt="" width="525" height="350" /></a></div>
</div>
<p>Jam 7 pagi kami kembali lagi ke penginapan untuk sarapan dan segera kembali ke desa Taman Jaya.<br />
Rasanya belum puas saya mengekplore Ujung Kulon, belum semua sudut kami datangi, masih ada beberapa spot lagi yang belum saya liat, masih ada pantai ciramea, Cibunar, Pulau Badul, berkano menyelusuri ekosistem hutan mangrove sungai Cigenter di pulau Handeuleum, Cihandeuleum, dan masih banyak spot lagi yang saya sendiri belum tau.</p>
<p>Sebelum sampai didesa Taman Jaya kami sempat mampir sebentar untuk makan siang di pulau handeuleum yang sudah disiapkan dari pulau peucang dalam bungkusan, ternyata di pulau ini terdapat hutan mangrove yang cukup lebat, didalamnya juga ada beberapa penginapan yang bisa digunakan untuk bermalam, masih ada rusa, monyet, babi dan burung-burung liar yang berkicau tanpa henti.</p>
<div>
<div><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/07/29973_1391396638436_1637747486_932563_4283073_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-486" title="29973_1391396638436_1637747486_932563_4283073_n" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/07/29973_1391396638436_1637747486_932563_4283073_n.jpg" alt="" width="503" height="335" /></a></div>
</div>
<p>Untuk menyusuri sungai Cigenter di Pulau Handeulem biasanya pengunjung dikenakan biaya Rp.50.000 perorang, menyaksikan semak belukar hutan bakau dengan segala ekosistemnya. Dan yang paling apes kata penjaga di pulau ini adalah kalau sampai ketemu dengan buaya sungai.</p>
<p>Lamanya waktu yang ideal untuk bisa mengeksplore semua spot disini disarankan kurang lebih 7 hari, baru semua bisa di datangi.<br />
3 hari 2 malam kami belum cukup untuk bisa menikmati keindahan dan keeksotisan Taman Nasional Ujung Kulon.<br />
Suatu saat saya pasti akan kembali. I Promise…!  Semakin hari aku semakin bangga denganmu INDONESIA…</p>
<div>
<div><a href="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs547.snc3/29973_1392095975919_1637747486_934184_816909_n.jpg"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs547.snc3/29973_1392095975919_1637747486_934184_816909_n.jpg" alt="" width="548" height="326" /></a></div>
</div>
<div>Ditulis oleh: Dani Setiawan</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=481</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JEJAK PETUALANG AMAZING CHARITY 2010</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=475</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=475#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 06:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[
..:: UNDANGAN ::..
Alhamdulillah,
setelah lama tidak diselenggarakan Baksos, terakhir kali JPers (Jejak Petualang Community) mengadakan acara baksos di Yayasan Himmata yang terletak di Tanah Merah, Plumpang Jakarta utara, maka Insya Allah JPers akan mengadakan lagi kegiatan serupa yaitu Bakti Sosial kepada adik-adik kita yang kurang beruntung khusunya didalam masalah pendidikan.
dan mudah-mudahan kegiatan baksos ini akan rutin di laksanakan setiap 2 bulan sekali di tempat-tempat yang berbeda.
“Jejak Petualang Amazing Charity 2010 ”
Lokasi Kegiatan :

Yayasan Qirbat
Jl. Inpeksi Kali Sunter No.36 di rt 004 rw 04 keluarahan kelapa gading Barat
Jakarta Utara
Waktu :

Sabtu, 3 Juli ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/07/jp2kecil.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-479" title="jp2kecil" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/07/jp2kecil.jpg" alt="" width="529" height="529" /></a></p>
<p><strong>..:: UNDANGAN ::..</strong></p>
<p>Alhamdulillah,</p>
<p>setelah lama tidak diselenggarakan Baksos, terakhir kali JPers (Jejak Petualang Community) mengadakan acara baksos di Yayasan Himmata yang terletak di Tanah Merah, Plumpang Jakarta utara, maka Insya Allah JPers akan mengadakan lagi kegiatan serupa yaitu Bakti Sosial kepada adik-adik kita yang kurang beruntung khusunya didalam masalah pendidikan.</p>
<p>dan mudah-mudahan kegiatan baksos ini akan rutin di laksanakan setiap 2 bulan sekali di tempat-tempat yang berbeda.</p>
<p><strong>“Jejak Petualang Amazing Charity 2010 ”</strong></p>
<p><strong>Lokasi Kegiatan :<br />
</strong></p>
<p><strong>Yayasan Qirbat</strong></p>
<p>Jl. Inpeksi Kali Sunter No.36 di rt 004 rw 04 keluarahan kelapa gading Barat</p>
<p>Jakarta Utara</p>
<p><strong>Waktu :<br />
</strong></p>
<p>Sabtu, 3 Juli 2010. Pukul 09.00 – 15.00 WIB</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Deskripsi QIRBAT,</p>
<p>Sekilas Yayasan Qirbat</p>
<p>Qirbat adalah sebuah yayasan yang terjun dalam dunia pendidikan. Merupakan sebuah sekolah nonformal yang menaungi anak-anak PAUD dan SD setara kejar paket A. Yayasan ini berdiri di daerah kali sunter sejak bulan November 2008, setelah sebelumnya sempat berdiri di kawasan Tanah Merah Pedongkelan, namun pada tahun 2008 sekolah untuk anak-anak tidak mampu ini kena gusur, dan terpaksa mereka harus pindah demi tetap melanjutkan cita-cita Pendiri untuk tetap memberikan pendidikan dasar pada adik-adik kita yang kesehariannya berada di jalanan, menyambung hidup dengan mengamen atau sekedar berkeliling menjajakan Koran. Walaupun sebuah kontrakan kecil yang sebenarnya kurang layak untuk PKBM harus tetap menjadi pilihan, setiap harinya adik-adik kita ini hanya belajar kurang lebih 2 jam saja untuk tiap kelas, karena ruangan yang sangat sempit dan SDM yang kurang membuat mereka harus rela bergelirian dengan anak-anak yang lain untuk menimba Ilmu. Tentu saja mereka sekolah secara Cuma-Cuma di sini, malah kadang-kadang mereka mendapat bingkisan makanan setiap harinya (ujar pak RT), guru-guru di sini bersifat sukarelawan, karena mereka bekerja tanpa pamrih, hanya uang pengganti transportasi yang tidak seberapa yang mereka terima setiap bulannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=475</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catper Dempo : Apa Yang Tersembunyi? Di balik Kabut Hitammu…</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/web/?p=458</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/web/?p=458#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jun 2010 12:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/web/?p=458</guid>
		<description><![CDATA[
Mungkin kalimat di atas judul yang tepat menurut versi saya untuk menggambarkan wajah Gunung Dempo yang terletak di propinsi Sumatera Selatan kala itu.
Sedikit saya bercerita tentang perjalanan ini. Sebuah perjalanan yang hampir saja gagal di saat injury time. Sebuah rencana perjalanan yang tercetus nyeplos begitu saja pada saat berkumpul dengan sekelompok manusia nocturnal di sebuah kafe (baca : warung ) di Pasar  Festival. Satu persatu teman-teman mengabarkan undur diri dengan berbagai alasan. Hingga tersisa 4 orang saja. Saya, Eddy, Mahdi dan Irda. Saya sempat dilanda dilema waktu itu. Ragu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/Before-trip.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-459" title="Before-trip" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/Before-trip.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a><br />
Mungkin kalimat di atas judul yang tepat menurut versi saya untuk menggambarkan wajah Gunung Dempo yang terletak di propinsi Sumatera Selatan kala itu.</p>
<p>Sedikit saya bercerita tentang perjalanan ini. Sebuah perjalanan yang hampir saja gagal di saat injury time. Sebuah rencana perjalanan yang tercetus nyeplos begitu saja pada saat berkumpul dengan sekelompok manusia nocturnal di sebuah kafe (baca : warung ) di Pasar  Festival. Satu persatu teman-teman mengabarkan undur diri dengan berbagai alasan. Hingga tersisa 4 orang saja. Saya, Eddy, Mahdi dan Irda. Saya sempat dilanda dilema waktu itu. Ragu antara tetap jalan atau dibatalkan saja.. Bagaimanapun cuti sudah di approve. Ya sudah kita tetap jalan. And the story begin start from May 13rd- 17th 2010.</p>
<p>Kabut hitam terlihat menggelayuti sebagian wajah Gunung Dempo, menyambut kedatangan kami siang itu di Terminal Pagar Alam. Hal ini sempat membuat saya ragu, bisakah melakukan pendakian sore nanti? Apabila keadaan hujan dan gelap, sementara diantara kami tak ada satupun yang pernah mendaki ke sana.</p>
<p>Bis Lantra Jaya AC Eksekutif yang kami tumpangi dari Terminal Kalideres Jakarta ini berangkat pada pukul 12 siang dan tiba di Terminal Pagar Alam Kabupaten Lahat Sumatera pada pukul 12 siang keesokan hari. Lebih lambat beberapa jam dari waktu yang diprediksikan. Menurut informasi dari teman yang pernah ke sini, seharusnya bis bisa sampai jam 9 pagi di Pagar Alam. Karena molor waktu inilah yang menyebabkan perjalanan kami begitu terburu-buru.</p>
<p>Turun dari bis, segera saya, Eddy, Irda dan Mahdi mengambil keril masing-masing dan mencari tempat duduk hanya untuk sekedar meluruskan kaki sesaat. Di sela waktu itu, saya mencoba bertanya ke beberapa orang di sana bagaimana caranya menuju rumah Pak Anton yang bagi para pendaki yang pernah ke Gunung Dempo nama ini sudah tidak asing lagi. Sebenarnya saya sudah mengantongi informasi bahwa dari sini</p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/team-with-Pak-Anton.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-460" title="team-with-Pak-Anton" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/team-with-Pak-Anton.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>ke rumah Pak Anton bisa dengan kendaraan ojek. Tapi kami berharap ada angkutan yang lebih murah. Sialnya saya bertanya kepada para tukang ojek yang sudah mengerubuti dari semenjak kami tiba. Mau gak mau, ya mereka pasti menyarankan naik ojek. Dan karena memang judulnya sesaat, sesaat itu pula kami berempat segera naik ke ojek yang sebelumnya sudah coba di tawar.</p>
<p>Sekitar Jam setengah 1, ojek sudah mengantarkan saya dan ketiga rekan di rumah Pak Anton. Senyum ramah keluarga ini menyambut sumringah kedatangan kami waktu itu. Perbincangan segar diselingi gurauan Sunda membuat suasana semakin akrab. Pak Anton sempat menyarankan supaya pendakian di lakukan keesokan pagi saja. Tapi karena waktu  yang sedikit, tetap kita sepakat melakukan pendakian hari itu juga.</p>
<p>Setelah berpamitan, tepat jam 2 siang ojek melanjutkan perjalanan untuk mengantarkan kami sampai di Kampung 4. Perjalanan yang dilalui cukup “horror”. Karena melalui jalanan berbatu dan kelokan tajam. Hampir seluruh perjalanan ngojek ini tak luput dari lubang-lubang menganga menghiasi jalanan beraspal yang sudah rusak di sana-sini. Ditambah hujan yang deras menemani perjalanan horror ini. Tak jarang saya lihat, Mahdi harus turun dan berjalan karena ojek yang dia naiki kesulitan untuk melewati lubang. Beruntung ojek yang saya, Irda dan Eddy naiki tidak mengharuskan kami turun seperti yang dialami Mahdi. Akhirnya perjualangan itu berakhir juga. Saya melirik jam di pergelangan tangan kanan. Jarum panjang menunjukkan pukul 15.15 sore hari.</p>
<p>Di kampung 4, kami bertemu rombongan pendaki dari Universitas Sriwijaya Palembang. Tapi mereka baru akan melakukan pendakian di keesokan pagi. Bersyukur sekali, teman-teman Unsri tanpa di minta mau mengantarkan kami ke Pintu Rimba. Jarak dari Kampung 4 ke Pintu Rimba lumayan jauh. Bisa ditempuh sekitar 30-45 menit. Tepat pukul 16.00 sore kami tiba di pintu rimba. Pintu Rimba adalah titik awal pendakian ke Gunung Dempo. Ditandai dengan sebuah papan segi empat besar terpampang. Berisi beberapa tulisan-tulisan peringatan bagi para pendaki.</p>
<p>Pendakian segera di mulai. Eddy berada paling depan sebagai sniper, diikuti Irda, Mahdi dan saya paling belakang. Boleh dikatakan perjalanan ini sebagai “wet trip” . Dari semenjak naik sampai turun tak henti-henti nya ditemani rintik hujan dan tiupan angin kencang mengantarkan butir-butiran air menerpa badan kami berempat.</p>
<p>Perjalanan dari Pintu Rimba sampai Pos I di suguhi trek yang ajib dengan kemiringan antara 80-90 derajat. Jalur yang becek serta aliran sungai kecil terkadang membuat kami harus ekstra hati-hati melangkah. Kita akan disuguhi hidangan dengan lebatnya pepohonan yang masih perawan merambat menutupi sebagian jalanan, pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalur. Sah-sah saja kalau anda mau merangkak, ngesot atau apalah. Karena memang itu yang saya lakukan. Tiba di sebuah jalur yang dinamakan Dinding Lemari. Kenapa dinamakan Dinding Lemari? Itu juga saya tidak tahu kenapa. Yang jelas melewatinya membuat lutut ini ngaroroncod. Hehe. Kami melewati pos I pada pukul 6 sore. Hanya beberapa menit saja istirahat, lalu meneruskan kembali perjalanan.</p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/Pintu-Rimba.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-461" title="Pintu-Rimba" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/Pintu-Rimba.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Udara semakin dingin, ditambah dengan perut yang terasa lapar. “ Edd, kita istirahat dulu saja bikin mie atau teh yang penting hangat” teriak saya pada Eddy. “ya sudah kita break saja di pos 2” jawabnya lagi. Rekan saya yang satu ini memang cocok di jadikan sniper. Geraknya yang cepat, menyulitkan saya mengikuti langkahnya. Bermodalkan lembaran-lembaran kertas yang berisi informasi-informasi tentang Dempo juga, Eddy didaulat menjadi GPS kami <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Sayup sayup terdengar suara dari kejauhan. Ah benar rupanya dugaan saya. Pos 2 sudah di depan mata. Jam 9 malam kami sampai di sana. Ternyata di sana sudah ada beberapa orang pendaki dengan 3 tenda yang sudah didirikan. Kami bertegur sapa dengan mereka dan segera menurunkan keril masing-masing. “ teh, kita masak apa?”  tanya Irda. “ ya udah bikin minuman trus mie, bakso, atau roti kalau mau” jawab saya sambil mengeluarkan trangia dari dalam keril. Santapan malam alakadarnya dinikmati malam itu dengan penuh keakraban. Ah, inilah salah satu yang membuat saya lupa. Bahwa saya sedang di gunung yang bukannya mencari kenikmatan malah mencari kesusahan <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Beberapa saat berlalu, kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan. Kali ini formasi team berubah. Mahdi berjalan paling depan, Irda, saya disusul Eddy. Langkah kali ini sedikit lebih fokus mungkin karena perut sudah terisi makanan juga. Hehe…</p>
<p>Tak ada gelak tawa, hanya sesekali obrolan ringan yang terdengar dan juga nafas kembang kembis saya. Medan yang kami lalui dirasa semakin berat. Seringkali tangan ini harus merangkak, meraih akar-akar untuk melangkahi kemiringan jalur.</p>
<p>Perjalanan terhenti di sebuah pelataran yang bisa memuat satu buah tenda kapasitas 3-4 orang. Waktu itu sekitar pukul setengah 12. Dan disini pula yang membuat kami begitu tertawa terpingkal pingkal. Baru dikeesokan pagi tersadar bahwa tempat tenda yang didirikan adalah jalur air yang tertutup daun-daun kering. Pada malam hari tidak begitu terlihat memang atau karena kondisi kami yang begitu kelelahan, hingga begitu gembiranya menemukan dataran lapang. Memang tidak begitu becek tapi cukup membuat basah seluruh perlengkaoan kami.</p>
<p>Pagi itu, saya buka tenda. Dan oh no, tidakkk!!!! Fly sheet yang menutupi tenda kami terbuka berantakan. Kebetulan fly sheet yang di bawa Mahdi, bukan fly sheet pasangan tenda nya ternyata. Alhasil kami harus berkutat mengikat fly sheet ini ke sana kemari supaya tenda inner tertutupi. Sementara bivak kecil di sebelah tenda yang berfungsi untuk menutupi keril-keril pun terbuka. Rupanya akibat tiupan angin kencang yang sudah memporak porandakan singgasana kami. Hiks….hiks.</p>
<p>Saya hanya bisa tertegun duduk, sambil berkata “ woi bangun ! noh atap fly sheet terbang kemana-mana. Tuh liat SB lo Mahdi, Edd, Irda kena tetesan air “. Hihi. Sampai sekarang masing terbayang jelas response nya mereka. “ Trus keril kita basah dong Pik “ tanya si Eddy dengan santainya sambil tetap melanjutkan tidurnya. “Ya iyalah, hellow tuh lo liat aja sendiri udah kaya di kubangan saja “ jawab saya dengan tertawa. “kerilku gimana Teh? “ Tanya Irda sambil tetap bersembunyi di balik SB nya. Hanya  Mahdi yang tak bergeming tetap dengan tidur nya. Fiuh….</p>
<p>Dengan bermalas-malasan, masing-masing sudah terbangun. Saya dan Irda segera membuat masakan alakadarnya. Eddy memasak nasi dan Mahdi mencari lokasi yang aman untuk melakukan ritualnya. Angin tetap berhembus dengan kencang membuat dapur ini terlihat amburadul. Sedikit demi sedikit, makanan ini berusaha dimasukkan ke mulut. Dinginnya udara membuat kami begitu menggigil, sulit sekali rasanya mengangkat sendok ini ke mulut. Berlomba dengan bunyi gemerutuk karena gigi yang beradu. Haha..lebay…</p>
<p>Perlengkapan segera di packing, dengan di tutupi Fly sheet semuanya ditinggal. Hanya keril Irda saja yang di bawa, berisi cemilan dan air minum. Berempat jam 9 pagi kami melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Dempo berketinggian 3.159 mdpl. Satu jam berlalu tibalah di puncak Dempo. Puncak Dempo ini hanyalah berupa pelataran kecil yang tertutup pohon-pohon. Boleh dikatakan puncaknya sangat biasa tidak ada yang special. Tapi tunggu sampai saya ceritakan kejutan berikutnya.</p>
<p>Hanya beberapa menit kami di sini, selanjutnya menuruni jalur yang tersembunyi di balik pepohonan Puncak Dempo. Sampailah di pelataran. Kurang lebih 30 menit waktu yang diperlukan untuk sampai dari Puncak Dempo ke Pelataran. Pelataran ini berupa areal lapangan luas. Di sini akan ditemui aliran sungai kecil yang membentang dari Puncak Merapi dan bermuara di sebuah danau. Sampai di pelataran kita harus menaiki kembali jalur ke atas untuk menuju puncak berikutnya. Karena tebalnya kabut, kami tidak sempat melihat danau itu, konon hanya berdasarkan cerita saja. Ikutilah aliran sungai ini, maka anda akan sampai di puncak Merapi. Kurang labih jam 11 siang kami sampai di bibir kawah puncak Merapi dengan ketinggian 3.173 mdpl.  Lagi-lagi karena kabut tebal yang naik, hujan, dan angin kencang memaksa untuk tak berlama-lama di sini. Hanya sekitar 15 menit saja menunggu sang kabut berlalu. Kita memutuskan untuk turun kembali. Sungguh disayangkan, saya tidak bisa mengabadikan gambar kawah karena benar-benar keseluruhan kawah tertutup si kabur putih. <a href="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/Top-of-Puncak-Dempo.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-462" title="Top-of-Puncak-Dempo" src="http://jejakpetualang.org/web/wp-content/uploads/2010/06/Top-of-Puncak-Dempo.jpg" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p>Kurang lebih sejam waktu tempuh untuk menuruni puncak dan kembali ke tempat tadi mendirikan tenda. Tiga puluh menit kemudian tepatnya jam setengah 1 kami sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuruni kembali Gunung Dempo. Karena hari siang, jalur menjadi kelihatan jelas. Oh beginilah ternyata jalur yang kami lalui semalam. Berbatu, becek, berair, kemiringan yang ajib sangat. Tampang kami saat itu sudah jelek sekali tak berbentuk. Celana yang dikenakan sudah berubah warna Lumpur semua. Begitu pun dengan pakaian, lepek bin basah. Sudahlah tak usah lebay lagi ah <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tepat jam 16.00 sore. Sampailah di Pintu Rimba. Melanjutkan lagi ke tujuan berikutnya Kampung 4 dan jam 17.00 sore akhirnya tiba juga di sana. Sampai sekitar jam setengah 7 malam, kami dan beberapa temen pendaki lain menunggu truk yang akan mengantar ke rumah Pa Anton. Baju basah yang masih melekat ini, semakin menambah dingin saja. “ Bu, saya pesan susu coklat dua ya” spontan saya memesan 2 gelas susu untuk saya dan Irda minum. “ Siko wae” jawab si Ibu. Saya hanya melongo</p>
<p>bengong dan beberapa orang di warung itu tertawa kecil. Salah seorang teman dari Palembang yang duduk di sebelah saya lalu menjelaskan kebingungan itu. Katanya si Ibu mengatakan kalau susunya habis dan hanya cukup untuk satu gelas saja. Oh, begitu artinya. Hehe…</p>
<p>Beberapa menit berlalu, truk yang kami tunggu datang juga. Semuanya bergegas menuju truk. Tawa renyah dan guyonan-guyonan khas Sumatera mengiringi perjalanan ke rumah pa anton. Saya hanya bisa tertawa saja tanpa begitu paham guyonan mereka. Hanya beberapa kata saja yang dikira-kira artinya. Bukan karena kalimatnya tapi karena logat dan sikap mereka yang menjadikan saya ikut tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>Jam 20.00 tibalah semua di rumah Pak Anton. Dengan mengantri kamar mandi. Satu persatu bergiliran membersihkan diri. Di rumah Pak Anton inilah terdapat sebuah pondokan yang merupakan beskem untuk para pendaki. Tepat berada di belakang rumah beliau. Sebuah pondokan yang sederhana. Dengan beberapa memorabilia pendakian beliau terpampang di dinding. Ada yang khas dengan Pak Anton ini. Sikapnya yang penyayang terlihat dari cara dia mengakrabkan diri dengan kami. Ikut terlibat percakapan pada malam itu. Hari beranjak malam. Satu persatu dari kami mulai menutup resleting SB nya masing-masing.</p>
<p>Keesokan hari jam 8 pagi, berempat kami harus sudah meninggalkan rumah Pak Anton untuk segera ke terminal Pagar Alam. Ada rasa haru sedikit. Terharu dengan keakraban ini dan tak disangka juga saya bisa sampai ke sini. Setelah pamit pada semua, berempat berjalan ke depan gerbang rumah Pak Anton untuk mencari angkot. Sesaat kemudian tibalah di terminal di sana sudah menunggu Pak Anton yang ternyata sudah dari tadi berangkat terlebih dahulu dengan menggunakan sepeda motor.  Dengan setia, beliau menemani kami menyantap sarapan pagi di warung Padang dekat Terminal.</p>
<p>Bis yang kami tunggu untuk tujuan Jakarta tak kunjung tiba. Barulah kira-kira pukul 12 siang bis datang. Seharusnya bis sudah tiba dari jam 10 pagi. Perjalanan pulang kali ini terasa lama sekali dan panas. Bis AC yang seharusnya dijanjikan, diganti dengan bis ¾ dengan alasan sang supir ada keperluan. Oh my Frog, hellow that’s your business, not mine. I’m a customer okay. Grrrrr…..</p>
<p>Karena alasan itu juga, saya sempat ngotot dengan pengurus PO untuk mengembalikan uang tiket sebagian karena bis yang tidak sesuai. Beruntung dia mau mengembalikan sejumlah uang meski hanya Rp. 15.000,- / orang.</p>
<p>Melewati jalanan sekitar Lintas Sumatera Bambangan Umbu, sempat terjadi insiden. Bis yang kami tumpangi terkena lemparan si Bajing Luncat? (entah apa istilahnya kalau di Sumatera ) Saya tak tahu apakah itu batu atau peluru. Beruntung tidak sampai melukai supir. Hanya kaca samping kanan saja bolong. Beginilah Sumatera…hiks…</p>
<p>Keesokan hari, jam 12 siang sudah sampai di Terminal Kalideres Jakarta. Eddy sudah sejak tadi turun pertama di Terminal Merak. Sementara  Saya, Irda, Mahdi masih harus meneruskan perjalanan dengan Busyway untuk menuju rumah masing-masing. Dengan tampang dekil, keril segede gaban tak pelak menjadi pemandangan kontras di</p>
<p>dalam busyway siang itu. Ah bodo amat, emang gw pikirin <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Alhamdulilah kira kira jam 2 siang saya sampai di kost. Segera makan siang, cuci kaki dan tangan dan terkaparlah tak berdaya di tempat tidur tak ingat apapun sampai keesokan pagi <img src='http://jejakpetualang.org/web/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong><br />
Terima kasih tak terhingga kepada :</strong><br />
-         Alloh SWT, atas ijin Mu kembali aku masih bisa menikmati karunia ini<br />
-         Parent, Mom and Dad thx for always trust in me.<br />
-         All Team, you rock guys! Eddy as a sniper. Mahdi and Irda, my partner in crime.<br />
-         Vincent and cobus. Untuk semua info-info nya.<br />
-         Vita Lele, thx sudah membantu membelikan logistik<br />
-         Semua yang telah men support, mendoakan kami. Kamu, anda, dia. Tanpa dukungan kalian kami tak mungkin berada di sana. I love u, I love u all…</p>
<p>Dikirim oleh:<br />
Neng Asgar<br />
<a href="http://nengasgar.multiply.com">http://nengasgar.multiply.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/web/?feed=rss2&amp;p=458</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
