Home » mountaineering

[Bawakaraeng] The Journey Is Never Expired

9 September 2014 No Comment


Kalau ibarat makanan mungkin catatan perjalanan ini sudah mau expired, menyimpan catatan berbulan-bulan demi untuk menyelesaikannya tapi hasilnya sampai saat ini belum semuanya maklum wanita karir eh kurir, tapi bagi saya “The Journey Is Never Expired But It Has History For Your Life” (artinya lihat di mbah dukun Google aja ya) . Pernah salah seorang teman saya sebut saja inisialnya si Opay (eh itu mah namanya) meminta melanjutkan catatan perjalanan ke museum, tapi sampai saat ini belum saya selesaikan (I’m sorry kakak **sungkem**). Sudah ah nanti kalau kebanyakan dikira curcol , kita kembali ke catatan yang masih setengah seperempat kelar.

Tak ada libur panjang ditahun ini tapi saya dan kawan lainnya berencana melakukan perjalanan yang sangat jauh dari rumah untuk bisa menikmati alam Indonesia yang sangat indah, dan perjalanan kali ini membawa saya, Riri, Diana, Ragil, Cris dan Bawink ke bumi Celebes, bumi belahan timur Indonesia bagian selatan yang terkenal dengan “Kota Daeng” kota yang dari tahun 1971 secara resmi dikenal sebagai Ujung Pandang yang memiliki wilayah seluas 175,77 km2 dengan penduduk sebesar kurang lebih 1,4 juta jiwa (dapat contekan dari si mbah Wikipedia).  Pencarian tiket pun dimulai dan hal itu kami rencanakan sudah lama demi mencari harga promo dari sebuah maskapai penerbangan, dan Alhamdulillah wa syukurilah wa nikmatilah kami mendapatkan tiket pesawat yang murah seharga 600 ribu untuk pulang pergi, dan teman saya tak lupa menghubungi salah seorang kenalannya di Makassar untuk bisa menumpang di tempatnya, perjalanan singkat yang hanya memakan waktu 3 hari 2 malam dan sudah di buat itennarynya semoga semuanya sesuai dengan jadwal. Tak sabar rasanya menunggu saat itu untuk berpetualang bersama kawan-kawan ke kota yang belum kami singgahi sebelumnya, waktu demi waktu bulan demi bulan akhirnya tanggal yang ditentukan telah tiba, horeee….rasanya seperti anak kecil yang senang menari dibawah rintikan hujan.

Tanggal 5 September pun tiba  dan kami memilih penerbangan malam hari  karena hari itu kami masih bekerja seperti biasanya agar tidak mengambil cuti yang panjang, maklum kami semua adalah kuli yang masih membutuhkan rupiah demi hidup dan hobi kami . Jam demi jam sudah berlalu, rasanya saat itu pikiran saya sudah melanglang buana ke bumi Celebes menikmati suasananya, adat istiadatnya dan tak lupa adalah makanan khasnya Coto Makassar, es pisang ijo dan es palubutung (sluuuurrppp…. **nelan air ludah**). Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB saya segera bergegas untuk pulang on time karena barang-barang yang sudah saya packing sehari sebelumnya masih ada di kost-an, tadinya saya berniat membawa tas keril ke tempat kerja tapi takut nantinya banyak pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya malas untuk dijawab. Sepanjang jalan menuju kost tercinta saya terus berkomunikasi dengan yang lainnya, kami sepakat untuk bertemu di bandara Soekarno Hatta pukul 19.30 WIB agar tidak ada yang ketinggalan pesawat, dan berdasarkan info dari kawan saya bahwa perjalanan kami nanti akan di ditemani oleh kawannya yang berasal dari Palu bernama Mona, pukul 20.00 WIB kami sudah berkumpul di ruang tunggu terminal 3, hampir satu jam kami menunggu dan pengumuman dari pengeras suara pun terdengar bahwa pesawat kami mengalami keterlambatan pemberangkatan (istilah kerennya Delay). Dan teman saya segera mengabarkan berita itu ke temannya di Makassar. Akhirnya  pukul 22.30 WIB pesawat pun take off setelah delay hampir 45 menit , dan pukul 02.15 WIT kami tiba di bandara Hasanudin bersama rombongan pendaki lainnya yang mungkin punya rencana mendaki juga seperti kami, dan sungguh di luar dugaan, kami dijemput oleh sebuah rombongan dari organisasi yang menaungi pencinta alam di Sulawesi Selatan yang bernama Bakorpala, saat itu perasaan saya terharu dan kaget. Kami dijamu seperti saudara sendiri padahal kami baru bertemu saat itu, perkenalan pun terjadi dan teman kami bernama Mona pun ikut datang menjemput, dalam bayangan saya saat mendengar suaranya, Mona itu berperawakan tinggi besar tapi ternyata orangnya sama seperti saya, Riri dan Diana berperawakan minimalis,  imut dan manis (dilarang protes). Sebelum meninggalkan bandara, kami menyempatkan untuk berfoto di depan bandara Hasanudin sebagai bukti bahwa kami pernah menginjakan kaki disini dan entah kapan kita akan kembali lagi ke sini bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka.

Dikarenakan sudah dini hari menurut waktu Indonesia bagian timur,  kami disarankan untuk beristirahat malam ini dan melanjutkan perjalanannya esok pagi, dan hal itu diluar jadwal yang sudah dibuat yang seharusnya malam itu juga kami menuju ke desa Lembanna dan beristirahat disana karena perjalanan menuju desa tersebut hampir 4 jam dari bandara, terjadi sedikit diskusi kecil dan akhirnya kami pun setuju untuk tidak melanjutkan perjalanan malam itu lalu kami diantar menuju  salah satu rumahnya anggota Bakorpala, tempat kami untuk beristirahat. Waktu sudah hampir pukul 3 pagi kami pun merebahkan diri mungkin kami sudah lelah dan esok pagi kami harus membutuhkan energi karena perjalanan kami tidaklah sebentar dan setelah sampai di desa Lembanna kami harus sudah mulai mendaki agar perkiraan waktu yang kami jadwalkan sebelumnya sesuai.

Pukul 08.00 WIT kami bergegas berangkat menuju desa Lembanna, desa terakhir di kaki gunung Bawakaraeng. Sekitar 3-4 jam dari kota Makassar untuk sampai ke desa Lembanna ,sungguh kehormatan bagi kami karena selain kami dijamu kami juga diantar oleh anggota Bakorpala menuju desa Lembanna perjalanan pun terasa menyenangkan, kami berhenti sebentar karena menunggu Fiedel salah satu teman saya yang tinggal di Makassar dan ingin ikut pendakian ini. Dikarenakan ini hari jum’at maka kami mencari masjid terdekat untuk melaksanakan sholat jum’at bagi kaum adam sekalian untuk beristirahat karena perjalanan kami masih jauh sekitar 2 jam lagi, saat semuanya sudah selesai dan segar kembali perjalanan pun dilanjutkan. Sekitar pukul 15.30 WIT kami tiba di desa Lembanna di rumah Pak Tata Mandong seorang juru kunci gunung Bawakaraeng, tempat kami beristirahat sejenak sebelum memulai untuk mendaki, disini kami bercengkerama dengan anggota Bakorpala dan pak Tata Mandong tentang gunung Bawakaraeng kehangatan dan kebersamaan yang terjadi walau kami baru kenal sesaat . Sekitar pukul 17.00 WIT pendakian pun dimulai yang didahului berdo’a bersama agar perjalanan kami di lindungi olehNya. Kami ditemani oleh 5 anggota Bakorpala serta 2 teman kami dari Palu dan Makassar, jadi ada sekitar 13 orang rombongan kami menuju Bawakaraeng.

Gunung Bawakaraeng mempunyai ketinggian 2.845 mdpl yang berada di wilayah kabupaten Gowa, Sulawei Selatan. Gunung Bawakaraeng mempunya arti sendiri bagi masyarakat sekitar, “Bawa” artinya mulut dan “Karaeng” artinya Tuhan, jadi gunung Bawakaraeng diartika sebagai gunung mulut tuhan, dan juga meyakini bahwa gunung bawakaraeng sebagai tempat pertemuan para wali.

Gunung Bawakaraeng salah satu gunung yang banyak sumber mata air tapi hanya di pos-pos tertentu. Untuk mendaki gunung Bawakaraeng ini dimulai melalui Desa Lembanna, dengan melewati 10 pos peristirahatan untuk mencapai sampai ke puncaknya.

Setapak demi setapak kami pun tiba di pos rimba dan perjalanan dari pintu rimba sampai menuju pos I dibutuhkan waktu sekitar 1 jam, di pos I dapat aliran air yang jernih dan kami istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Dan hampir 1 jam kami berjalan akhirnya sampai di pos II dan kami beristirahat lumayan lama di pos ini karena waktu sudah menjelang magrib dan kami pun mempersiapkan headlamp untuk menerangi perjalanan malam ini. Waktu untuk mencapai pos II ke pos III sekitar 45 menit, disini juga ada sumber air. Cuaca malam itu begitu bersahabat dengan bertaburan bintang-bintang dilangit indah sekali hanya kamera buatan Tuhan yaitu mata yang bisa mengabadikannya , untuk mencapai  pos IV waktu dan jarak tempuhnya tidak berbeda dengan pos sebelumnya. Sekitar pukul 21.45 WIT kami tiba di pos V tempat kami beristirahat malam ini,  kamipun segera mendirikan tenda karena angin malam itu begitu kencang.

Keesokan paginya kami bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan karena masih harus melewati 5 pos lagi untuk mencapai puncak dengan perjalanan yang lebih panjang dibanding pos-pos sebelumnya. Dan sebelum melanjutkan perjalanan kami sarapan terlebih dahulu, pagi itu saya membuat bihun goreng dan kolak ubi merah yang sebenarnya saya ingin membuat biji salak, permintaan salah satu kawan saya. Sekitar pukul 07.30 WIT kami melanjutkan perjalanan kembali, hampir 1 jam kami tiba di pos VI, tidak jauh di pos VI ada bukit bebatuan dan disini saya bisa melihat kota Makassar dari kejauhan. Sekitar 1,5 jam kemudian kami tiba di pos VII, kami istirahat lumayan lama di pos ini karena menurut info kawan dari Bakorpala bahwa perjalanan dari pos VII ke pos VIII sekitar 2 sampai 3 jam dan istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan kembali sampai pos IX dan pos X agar tidak sampai malam. Perjalanan dari pos VIII menuju pos IX sekitar 1-2 jam dan mulai menanjak melewati hutan basah dan lebat,  menurut info yang saya dapat diperjalanan ini kita bisa melihat lokasi pasca longsor yang terjadi tahun 2004 silam, itu sebabnya perjalanan kita lebih lama karena kita memutari punggungan gunung akibat longsor tersebut.

Dan sore itu rintiknya hujan mengguyuri perjalanan kami menuju pos IX dan saat perjalanan menuju pos X saya sungguh lapar, teman saya Riri berusaha menyemangati saya bahwa pos X sedikit lagi tapi saya sudah sering di PHP-in kalau soal jalur pendakian ya intinya sih agar kita semangat lagi tapi apa daya cacing- cacing didalam perut saya sudah berjoget-joget ria akhirnya saya memutuskan untuk berisitirahat sejenak dibawah rintikan hujan ditemani oleh 2 anggota Bakorpala dan Riri melanjutkan perjalanan menyusul Bawink , beristirahat sejenak sambil menunggu teman saya lainnya yang masih ada dibelakang lalu saya membuka perbekalan saya yang bisa dimakan cepat dan mengeyangkan, satu bungkus besar jelly nata decoco habis saat itu juga (lapar apa lapar ?).

Tak lama kemudian suara Riri berteriak “Joe….sudah pos X nih ” tersentak saya sangat gembira saat itu juga, oh Tuhan ternyata pos X hanya berjarak sekitar 15 menit dari tempat saya beristirahat saya pun bergegas beranjak menuju pos X. Sesampainya di pos X sore hari sekitar pukul 17.00 WIT saya melihat Riri berada di depan tenda milik rombongan lain dan sedang disuguhin segelas teh manis panas, lalu saya pun menghampiri dan ikut bergabung serta tidak lupa berkenalan, ternyata salah seorang rombongan tersebut juga berasal dari Jakarta yang bertempat tinggal tidak jauh dari tempat saya dan Riri. Teh manis panas saat itu sedikit membantu saya mengusir rasa lapar dan dingin akibat guyuran air hujan.

Setelah berbincang-bincang agak lama kami berpamitan untuk segera menuju tenda kami yang sudah didirikan oleh Bawink, lalu saya segera masuk tenda untuk berganti pakaian yang basah dengan yang kering agar menghindari rasa dingin yang kelamaan. Satu persatu kawan kami akhirnya muncul dan segera masuk ke tenda karena mereka begitu kedinginan dan kawan saya memberikan beberapa gelas teh manis panas yang sudah dibuat olehnya kepada mereka. Malam pun datang, dan tenda yang saya, Riri dan Mona tempati kedatangan kawan-kawan dari Bakorpala untuk sekedar bercerita dan adapula yang curhat, saya pun belajar sedikit bahasa Makasar seperti “Cipuruka, Eloka Manre”, “Eloka Jokka-jokka”, “Bassoroma” ya seperti itulah yang nantinya akan dipraktekkan saat kami turun nanti. Sementara ditenda yang Ragil, Cris dan Bawink tempati mereka terlihat sepi ternyata mereka sedang bermain game dan memasak makan malam. Malam pun kian larut, saatnya kami harus beristirahat setelah perjalanan panjang ditambah dengan bonus rintik hujan karena esok kami harus melanjutkan perjalanan pulang setelah dari puncak gunung Bawakaraeng.

Mentari pun menyapa dibalik pepohonan, embun-embun pagi bertetesan dari daun dan dahan-dahan pohon membasahi pagi ini membuat kami segera bergegas menuju puncak gunung Bawakaraeng yang jaraknya tidak jauh dari tenda kami, sebelum menuju puncak ada sebuah tanah lapang yang cukup luas dan ada mata air buatan berupa lubang besar untuk menampung air hujan. Dari kejauhan dipuncak terlihat banyak rombongan pendaki yang sudah berada diatas sana, akhirnya kami pun sampai dipuncak gunung Bawakaraeng tidak lupa kami mengabadikannya dalam kamera buatan manusia. Waktu sudah hampir siang dan kami harus segera turun dari puncak untuk menyiapkan makan siang dan packing barang-barang untuk turun kembali ke desa Lembanna, sekitar pukul 12.00 WIT kami kembali turun melewati jalur yang kemarin kami lewati saat naik, sebenarnya saya dan beserta kawan-kawan lainnya ingin sekali bermalam lagi di lembah Ramma tapi apa daya waktu kami tidak cukup karena esok hari kami sudah harus berada di Jakarta untuk memulai aktivitas seperti biasanya. Perjalanan turun memang lebih cepat daripada saat naik dan Alhamdulillah kami sampai di desa Lembanna sore hari, dan beristirahat untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan pulang menuju bandara.

Pukul 19.00 WIT kami diantar kembali ke tempat kami menumpang untuk beristirahat, disana kami bersih-bersih diri dan merapikan kembali barang-barang bawaan. Setelah bersih dan wangi kamipun diajak berkeliling kota makasar pada malam hari, tempat yang kami tuju pertama kali adalah warung coto Makassar karena cacing-cacing diperut sudah berlompat-lompat. Dan ini adalah pertama kalinya saya makan coto Makassar, bentuknya lebih mirip rawon cuma agak gurih dan tidak semanis rawon. Sebenarnya saya ingin sekali memakan es pisang ijo dan es palubutung, tapi mungkin karena sudah hampir tengah malam banyak warung yang tutup. Setelah kenyang kami diajak menuju pantai Losari pantai yang berada di kota dan terkenal di Makassar, bukan ke Makassar kalau tidak mampir ke sini celetuk salah seorang teman dari Bakorpala. Menghabiskan malam terakhir kami di Makassar bersama kawan-kawan dari Bakorpala sebelum kami berangkat ke Jakarta, waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIT lalu kami diantar menuju bandara, dan ternyata di bandara sudah banyak antrian untuk check-in. Akhirnya kami berpamitan sebentar dan berfoto sebagai kenangan karena kami harus segera naik ke dalam pesawat. Pukul 06.00 WIB kami tiba di Jakarta, kota metropolitan yang penuh kemacetan dan hiruk pikuk serta kemajemukan masyarakatnya.

Terima kasih Rabb, karena ijinMu kami bisa berpijak di bumi Celebes. Terima kasih kawan-kawan Bakorpala dan Mona  yang telah menjamu kami dengan segala keramahan dan kebaikan hatimu semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu kembali. Terima kasih sahabat (Riri, Diana, Cris, Ragil dan Bawink) yang selalu bersama dalam setiap perjalanan, suka duka sedih dan bahagia kita lalui bersama.

“Dream what you want to dream, Go where you want to go, Be what you want to be, Because you have only one life and one chance to do all the things you want to do”. (unknown)

Ditulis oleh: Joe Van Java

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.