Home » catper, mountaineering

Lebih dari TAMBORA. 16 – 23 May 12…(2)

8 June 2012 No Comment

Di Lanjut…..

Sekitar jam 5.00 WITA Andri noel2 kaki saya…bang bangun bang, sholat shubuh katanya. *makasih Andri*. Setelah sholat yang lainnya pun terbangun kami mulai siap2 packing. Ganti pakaian tempur, pake leging ditutupi kaos kaki panjang supaya Pacet ga bisa mampir :D .  Cek n ricek lagi apa kekurangannya. Ria, Bang Joy dan Andri langsung bergegas menuju pasar terdekat…pakai Xtrada Bang Edi tentunya :D Kalo ga salah beli cabai rawit, ikan teri ama kambing 2 ekor hehehehe. Setelah sarapan bersama2 dan packing selesai Bang Edi mulai mewawancarai kami 1 per satu…*ada wartawan dadakan hahaha*…setelah wawancara sesi foto2 dimulai..klik klik klik :D .

Tadinya kami mau menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp. 30.000 sampai pintu rimba. Kalau jalan lumanyun…3 jam bray!!! Pake motor semi trail kira2 25 menit dah. Tapi lagi dan lagi…Bang Edi dan Bang Joy dengan tulus mau mengantarkan kami pakai Xtrada lagi *sumpah..kaga bosen2 kite2 pake tu mobil*. Sekalian survey kata Bang Edi. Untuk antisipasi ojek kami sewa 2 saja sebagai back up kalau2 mobil tidak mampu melahap jalur yang menanjak, licil, berlubang, bergelombang dan bikin ajrut2tan. Sekitar jam 10an WITA Xtrada mulai menerabas masuk jalur yang di dominasi perkebunan kopi…manteb dah. Saya, Bang Joy, Andri n Dedi dapet jatah duduk di bagasi dah kaya kardus :D Ria Chandra, Bang Ipul n The Driver Bang Edi di dalam. Ampe pengkor kaki karena mobil yang berkecamuk dengan jalur yang kaya off road. Alhamdullilah tuh mobil nyampe juga, malah nglewatin pintu rimba, mentok di perkampungan warga bali. Carriel di turunin, foto2, cekakak cekikik, salam2lam terus wejangan, nasehat dan berdoa bersama dengan harapan yang terbaik buat kami dari mereka2. Makasih bang joy, bang edi n bang ipul.

Jalur yang kami lewati masih di hiasi kebun kopi, tidak lama mulai berganti dengan vegetasi pohon2 pakis hutan kalau tidak salah, menyerupai lorong gang yang rapat. Hutannya pun masih alami, masih banyak pohon2 berdiameter besar2 Baru beberapa menit berjalan dengan trek yang masih landai, keringat mulai bercucuran. Ternyata cuaca memang lembab. Dingin engga terlalu, panas juga engga. Lembab ajah. Tu wa tu wa tu wa..masih pada semangat semuanya…lanjuttt. sampai Pos 1 *Tau itu Pos 1 setelah turun, itu ujga infomasi dari tukang ojek*. Di Pos 1 ada shelter yang lumayan besar, sekitar 10 meter arah utara ada bak saluran air yang melimpah *ga ada krannya*. Istirahat terus siap2 makan siang dengan logistik yang wah wah wah. Untungnya ngajak Ria…seluruh isi kulkas rumahnya di bawa :D . Andri n Dedi mencari daun pakis, kita coba sayur pakis + indomie saat itu. Kokinya kalo banyak….makanya rasanya masakannya enak2 banget. Sumpah…:D. Baru beberapa suap…serrrrrr…ujan euy. Gerak cepat fly sheert di kembangkan. Semuanya bekerja, Chandra gali lobang air *dinas PU*, Andri, Dedy ngiket fly shett ogut lupa ngapain hehehe. Cuma Ria yang planga plongo…terkesima dia liat laki2 lari kesana kemari :D . Amannnnn lanjut makan siangnya + sholat dzuhur. Ooo iya..lupa…welcome drink Tambora dah berdatangan…Pacet !!!

Hujan reda kita lanjut kembali, formasi seperti semula, Andri di depan di ikuti Ria dan Chandra, saya dan Andri di belakang. Masuk kembali pada rapatnya lorong hutan pakis kanan kiri..tinggi2. Mengikuti jalur pipa air. Mulai dah rintangan Tambora. Sodara2,  ga bisa dihitung berapa banyak pohon2 yang tumbang. Dengan beban berat pepohonan tumbang kami lompati, ngerayap, jongkok dan berbagai gaya. *Coba bawa gergaji mesin*, beberapa kali kami beristirahat sekedar meneguk air, mamam roti n ngecek apakah sodara sodari pacet hinggap. Yang laen pada kena…ogut….masih aman hehehe, berkat leging bo :D . Sampai Pos 2 kira2 dah sore, jam 5 kayanya. Istirahat sebentar, ngisi air dekat sungai…lanjut nanjak !!!! Malam pun datang *di skenario kita g ad tuh jalan malam, kasian Ria..maaf yah Ri*. Belum nyampe2 juga target hari itu…Pos 3. Kaki mulai bermasalah, karena basah terkena sisa air hujan yang menempel di dedaunan. Bukan saya aja yang keram, chandra, dan 2 guide kami yang baru kali ini keram. Pasang koyo ga ngaruh, di sirem spirtus aj kata dedi….masa sih…coba ahhhh. Lumayan rada enteng, Cuma sebentar, kaki pun keram lagi aduuuuhhh…sakiitttttt. Mau pulanggggg :( . Lembo ade, kata Dedy…yang artinya sabar, sabar dan sabar. Kata2 itu terus yang menjadi salah satu penyemangat kami di kala gundah gulana…yap…Lembo Ade Brother.

Sekitar jam 20.030 WITA kami berenti di shelter, saya dah ga kuat..kaki ga mau kompromi. Saya minta ke dedi, andri, ria n chandra kita istirahat n ngecamp di sini ajah. Pos 3 masih lumayan jaraknya. Permintaan saya di kabulkan…alhamdullilah *fisik manula*. Buka tenda, trus siapin makanan malam sama ikan teri n spagheti, sedikit tebak2kan lalu kami terlelap dalam pelukan malam hutan Tambora.

Morning..morning…bangun molor pala pening :D . Semuanya bergegas bangun *rajin2*, siap2 bikin menu masakan pagi yang yahut, dari koki2 yang yahut pula :D . Perut kenyang, hati riang. Beres2 sekitar jam 7.00 WITA bergegas menuju POS 3. Pacet masih jadi teman setia di perjalanan…sekali lagi…saya belum kena :D . Nyampe Pos 3 kira2 jam10 dah kayanya. Pos 3 di fasilitasi lahan yang cukup luas untuk buka tenda serta saung dari kayu yang masih berdiri kokoh. Saya, Andri dan Dedi bergegas mengambil air jaraknya lumayan dah…Ria n Chandra siap2 nyiapin makan siang. Sampai di mata air yang modelnya kaya mata air di suya kencana ngisi botol2 yang lumayan banyak. Buat stok. Setelah selesai Andri pun selesai BAB lanjut kembali ke Pos 3, 2 koki menunggu air dari kami. Buka tenda terus makan siang, menunya sayur pakis n sedencis *bener kan nulisnya :D *. Makan siang yang uenak tenan. Planning saat itu kami berencana summit sore *debar2 juga*. Start jam 12.00 siang WITA kita siap dengan double pakain tempur…welcome drink Tambora ke 2…Daun Jelatang!!! Daun yang tersohor di kalangan pendaki, kalo kena durinya…mamam dah :D .

Mulai menuju Pos 4…jalur menanjak, badan udah gerah, gimana ga gerah, ngebela2in g mau kena duri daun jelatang kita2 pakai jaket, sarung tangan. Geraahhh, buka ah. Dengan resiko kudu lebih hati2 terhadap jelatang. Sangat2 hati2 kami berjalan…zig zag kanan kiri menghindari senyum jelatang :D . Ga ngaruh, udah hati2 kena juga, aduuhhhhh…jari kelingking bersalaman juga sama duri jelatang, perih euy, makyos dah. Jangan di usap kata Andri, tar juga hilang..kira2 1 jam!!! Saat itu kayanya Cuma Ria saja yang engga kena, mungkin karena bodynya yang kecil n ramping :D .

Sampai Pos 4, yang mirip shelter di hiasi hutan jelatang yang luas…*kapan di panen nih :D *. Istirahat sejenak mulai lanjut menuju Pos 5. Fiuhhh keringet deras mengucur. Wajah Ria sudah rada berubah…kecapean dia. Semangat terus kami kumandangkan satu sama lain. Nyampe juga Pos 5, langsung berbaring di rumput seperti karpet hijau di rumah. Kalo tidak salah sekitar jam 4.00 WITA…dah sore euy. Semangat belum padam, sedikit lagi. Lanjut…target jam 6 sudah harus di puncak Tambora, minimal sampai pinggir kawah dah. Akhirnya batas vegetasi hutan mulai berubah, pohon2 besar mulai berganti dengan alang2 dan cemara hutan. Puncak Tambora mulai terlihat…nun jauh di sana, masih lumanyun euy :D . Sesekali terdengar jeritan ayam hutan *semangat2..kata sang ayam :D *. Itu cemara terakhir kata Dedi dan Andri…dari situ kita akan menemui tanjakan penyesalan !!! Waduh…langsung saya teringat tanjakan penyesalan di Rinjani…siap2 hah heh hoh dah nafas.

Tanjakan penyesalan akhirnya di lewati dengan riang gembira *baca ngos2 san*, fisik Ria ternyata oke..kalah gw :D , suasana mulai berganti, kami mulai menyusuri punggungan Tambora, di sebelah kiri tersaji jurang dalam yang di tutupi kabut. Hari kian sore, masih berharap cuaca selalu bersahabat dengan kami saat itu. Dedi masih di depan mencari jalur yang sudah di dominasi lautan pasir dan bebatuan sisa muntahan Tambora serta jurang2 dan retakan2 di sekitar pinggir kawah. Di belakang Chandra masih setia mendampingi yayang Ria. Jantung mulai berdebar2…di depan mata…sebentar lagi!!! Dinding kaldera sudah terlihat !!! Kawah Tambora….yang di nanti bertahun2 sedikit demi sedikit mulai tampak. Langkah kaki mulai di percepat. Yaaakkk….Akhirnya…sekitar jam 5.30 WITA..Alhamdullilah ya Allah…sampai juga *berkaca2*, terlihat Kawah Tambora yang maha luas, besar..besar sekali. Di dasarnya yang dalam terlihat Doro Api Toi atau gunung api baru yang masih mengeluarkan asap tipis.

Kami semua tidak mau melewatkan moment ini, cekrak cekrek…sesi foto di mulai. Cuaca masih cerah, nun jauh disana  mentari masih tersaji. Indah ne !!!. Kami tidak boleh terlalu dekat dengan bibir kawah, minimal 3 meter. Takut longsor, kalau jatuh kebawah kan nanti nongol di korang :D . Saat itu saya hanya terdiam…memutar otak apakah hanya sampai kawah saja karena waktu yang makin sore. Tiba2 Chandra dan Ria menyerahkan tugas terkahir kepada saya. Win..lu aj yang ke puncak kata, di ikuti anggukan Ria. Andri dan Dedi pun siap, kami pun siap. Dengan hanya berbekal kamera dan sebotol air kami meninggalkan Chandra dan Ria di pinggir kawah. Tugas negara harus selesai :D . Lari bang, sahut Dedi…aneh sekali…baru kali ini saya berlari sekuat tenaga hanya untuk mengejar waktu yang pendek menuju puncak sebuah gunung. Tenaga sudah habis…hanya sisa semangat dan tanggung jawab dari amanat Chandra dan Ria serta keluarga di rumah *ga nyampe puncak bisa di poles bini*. Bukit terakhir dilewati setelah melewati beberapa jurang dengan kedalamam 5/8 meter. Jatuh sih g apa2, Cuma kalo dah jatuh males bangun ajah :D . Di bukit terakhir puncak terlihat, 1 tanjakan lagi kira2 100 meter puncak. Didepan terlihat Dedi dan Andri berdiskusi…entahlah, sepertinya mereka akan mengambil keputusan. Saat itu, saya terima apapun keputusan mereka, mundur atau terus. Kaki sudah lemas, nafas seadanya…Dedi tiba2 berteriak..ayo bang…lariiiiii lagi…bujug dah. Saya pun terpaksa berlari…di depan tanjakan terkahir saya hanya bisa berjalan terseok2…dan akhirnya…tersungkur di puncak Tambora. Jam 6.00 WITA…kami bertiga berhasil menggapai Tambora. Jujur dah hehehe..saya nangis *tutup muka*…antara cape cape cape dan cape, flash back ke belakang. Bertahun2 menanti moment ini, lama sekali. Saya pikir hanya mimpi bisa ke tambora. Sekarang saya mewakili Chandra dan Ria berdiri di puncak Tambora. Puncak yang di tandai dengan tugu setinggi 1 meter dan bendera merah putih semakin meyakinkan saya…Tambora itu hanya ada di Indonesia.

Alhamdullilah….

Tar di lanjut lagi..*markirin pesawat dulu prit prittt*

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.