Home » catper, climbing, mountaineering

Raung dan sebuah Ego

19 March 2012 No Comment

Kurang lebih satu bulan lamanya, saya mempersiapkan perjalanan yang menurut saya cukup menguras pikiran ini. Mulai dari menyusun jadwal perjalanan, menejemen perjalanan, pinjam peralatan, melatih fisik dan mental serta mencari partner yang akan menemani saya menuju Puncak Sejati Gunung Raung… ya, saya akan kesana Puncak Sejati Gunung Raung….

Puncak Sejati Gunung Raung adalah keegoisan saya.  Terbius oleh cerita dan foto-foto tim yang telah menjejakkan kakinya di Puncak Sejati Gunung Raung. Sempat sangat kesal ketika satu persatu anggota tim mundur dari rencana ini. Seperti yang saya bilang Puncak Sejati Gunung Raung adalah keegoisan saya, maka saya akan tetap berangkat walau hanya sendiri.

Seto, seorang sahabat lama.. kami pernah bertemu saat sama-sama memanjat tebing Ciampea dan Citatah125 waktu saya masih SMA dulu. Kami bertemu kembali di Papan Panjat Pasar Festival setelah sekian lama dan sayapun mengajak Seto untuk menemani saya mendaki Puncak Sejati Gunung Raung. Cuti  telah d approve, persiapan satu persatu telah terpenuhi, 2 minggu sebelum hari H Seto memberikan kabar gembira bahwa dia akan ikut dalam perjalanan ini… Alhamdulillah… saya tenang karena saya tahu kemampuan Seto dalam hal panjat-memanjat tidak perlu di ragukan lagi.

Mengumpulkan data, foto dan informasi sebanyak banyaknya dari catatan perjalanan Satu Bumi, tim Pembalak,  tim Ugal2an, #pendaki Indonesia, Gerombolan Kaki Berat dan MAPALA UI semakin membuat darah kami mendidih. Sayapun bertanya langsung kepada Mbah Jarody, Kong Faried, Om qisyute akar, Om Sinyo dan Bang Taufan tentang teknis pendakian terutama pada saat summit attack ke Puncak Sejati.

Sabtu, 28 May 2011

Peralatan telah siap, tiket telah dipesan, saya dan Seto pun bertemu di st. Pasarsenen untuk memulai perjalanan kami. Pukul 12.20 kereta Gaya Baru Malam Selatan membawa kami menuju St. Gubeng Surabaya. Udara panas di dalam kereta api, hiruk pikuk penumpang serta lalu lalang pedagang menemani perjalanan kami, tak henti hentinya kami berdiskusi untuk membahas teknik pemanjatan di Puncak 17, karna menurut informasi Puncak 17 adalah CRUX atau bagian tersulit saat summit attack mencapai puncak Sejati dan ada beberapa tim yang gagal melewati Puncak 17 ini. Adrenalin kami mengalir deras saat membayangkan apa yang akan terjadi di atas sana nanti.

Minggu, 29 May 2011

Pukul 03.05 dini hari kami tiba di st. Gubeng Surabaya. Rencana semula kami akan naik kereta bisnis yang berangkat pada pukul 09.00 pagi, setelah mencari informasi dari petugas stasiun dan mengintip dompet kami masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus dari Terminal Bungurasih. Untuk mencapai terminal Bungurasih kami menaiki kereta comuter jurusan Gubeng-porong sidoarjo dan turun di st. Waru. Kereta comuter berangkat dari st. Gubeng pukul 04.15 dan tiba di st. Waru pukul 04.35. di dalam kereta comuter kami bertemu dengan sebuah keluarga yang kebetulan mempunyai tujuan yang sama dengan kami, yaitu Jember. 10 menit berjalan dari St.Waru ke terminal Bungurasih sambil berbincang dengan si Ibu, beliau bercerita dulunya bapak adalah pendaki sama seperti kami, beliau kerap kali mengajak anak perempuan pertamanya untuk mendaki tapi si Ibu melarangnya.. hahaha… (mengingatkan saya ttg seseorang..oops). Saat memasuki terminal Bungurasih, si bapak membelikan kami tiket masuk terminal.. terima kasih banyak Pak.. J

Pukul 04.45 Bus ekonomi membawa kami membelah kesunyian kota Surabaya menuju Jember. Pukul 09.55 kamipun tiba di terminal Jember dan langsung berganti bus menuju Kalibaru. Ada kejadian menarik pada bus yg kami tumpangi, di depan terminal Jember tiba-tiba naik beberapa orang yang berusaha menipu penumpang bus. Sekelompok orang itu seperti bersandiwara seolah-olah salah seorang anggotanya adalah anggota perampokan dan berniat menjual Jam tangannya untuk pulang kembali ke kota asalnya di Lampung. Saya dan Seto langsung curiga dan menyembunyikan tas kecil kami, karna ada beberapa orang yang mempengaruhi penumpang lain untuk membeli Jam tangan tersebut. Benar saja, saat bus mulai meninggalkan terminal Jember para penipu itu pun turun satu persatu.. aahhh…dasar penipu kelas coro…. :p

Tepat pukul 12.00 siang kami tiba di St. Kalibaru dan langsung mencari rumah makan untuk mengisi perut. Di Kalibaru tersedia pasar yg cukup lengkap, setelah makan kamipun berbelanja untuk melengkapi kebutuhan logistik dan wadah air yang kurang, sambil menunggu Pak Musni menjemput kami. Pak Musni adalah penduduk lokal Dusun Wonorejo yang biasa mengantarkan para pendaki menuju Puncak Sejati Gunung Raung dan beliau kali ini akan mengantarkan kami ke sana.. J

Naik Ojek dari Kalibaru menuju kediaman Pak Musni di Dusun Wonorejo, melewati perkebunan tebu dan coklat. Sampai di rumah Pak Mus, lelaki kekar ini biasa dipanggil, kami disuguhi kopi hitam khas Wonorejo.. oh ini dia kopi yg sering dibicarakan Kong Faried, Qisyute dan Bang Taufan itu.. kental dan nikmat sekali… mantaps…

Sambil berbincang dan melihat-lihat koleksi foto Pak Mus dengan tim-tim pendaki yang pernah beliau antar ke Puncak Sejati Gunung Raung, semakin membuat kami berdecak kagum akan keindahan dan berbahayanya pendakian kami nanti..

Malam menjelang di Dusun Wonorejo, setelah mandi dan makan malam dengan masakan yg di buatkan Ibu Mus, kamipun repacking barang-barang yang akan kami bawa mendaki dan mengisi botol-botol air agar besok kita bisa langsung mendaki dan tak perlu mengisi persediaan air di POS 1 (Pondok pak Sunarya) seperti yang dilakukan tim-tim sebelum kami, kami tak ingin buang-buang waktu. Packing selesai dan waktunya ngopi…. Lagi…. Wkwkwk J

Kami adalah tim ke-13 yang diantarkan pak Mus untuk mendaki Gunung Raung. Beliau pertama kali mendaki Gunung Raung karena ada tamu dari Bali yang meminta untuk diantarkan Sembahyang di Puncak Gunung Raung, dengan bermodal mengetahui jalur hutan dan sedikit nekat Pak Mus mengantarkan orang tersebut dan bisa mencapai Puncak Sejati Gunung Raung. Setelah itu Pak mus adalah satu-satunya penduduk local Dusun Wonorejo yang terbiasa mengantarkan para pendaki untuk mencapai Puncak Sejati Gunung Raung.

Senin, 30 May 2011 “Terima kasih Hujan….”

Pukul 05.30 Teriakan Egi membangunkan saya, dan sayapun bergegas mandi di sungai belakang rumah Pak Mus. kembali ke rumah Pak mus telah tersedia kopi :D .. kopi hitam.. kental… ajib deuh…

Setelah sarapan, pukul 07.30 kami berangkat ke POS 1 (Pondok Pak Sunarya) menggunakan ojek melewati jalan tanah yang lebih mirip trek motocross yg mengharuskan saya berpegangan erat dan menahan nafas saat motor yg kami tumpangi menghantam gundukan tanah di tengah-tengah perkebunan kopi.. ohh.. ternyata ini yg bisa membuat perut orang-orang sini jadi sixpack.. hahay..

Pukul 08.15 kami sampai di POS 1 (Pondok Pak Sunarya), setelah ploting pada GPS dan berdoa pukul 08.30 kami memulai pendakian menuju POS 2. Jalur dari Pondok Pak Sunarya menuju POS 2 relatif landai melalui perkebunan kopi dan hutan yang tidak begitu lebat dan banyak pohon tumbang. Di tengah jalan menuju POS 2, entah karena beban yang terlalu berat saya pun banyak berhenti untuk sekedar menarik nafas. Beban yang kami bawa hampir setengah berat badan kami.. OMG.. Karena saya terlihat lelah sekali maka Seto menawarkan untuk menukar carrier, tak ingin mengecewakan kawan saya itu, sayapun langsung mengiyakan tawaran tersebut… heheheheh… thanks brow…

Pak Mus sudah melesat jauh di depan, karena paling lemah saya d tengah dan Seto sebagai Sweeper di belakang sambil memback up saya. Kami sampai di POS 2 pada pukul 11.45, makan siang dengan nasi bungkus buatan ibu Mus ditemani rintik gerimis. J

Pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Camp Qisyute dan berencana untuk bermalam disana. Ditemani hujan yang semakin deras kami tetap bersemangat menapaki trek basah yg masih bersahabat. Hujan ini sungguh membuat saya bersemangat, rasa lelah tak terasa, berjalan sambil menghisap bulir-bulir air yang ada di ujung-ujung daun yang saya lewati, mmhhh segar sekali. Meski terkadang bibir tergores duri yang tersembunyi di balik daun tersebut, saking napsunya.. wkwkwk

Pukul 13.30 kami sampai di Camp Qisyute, camp ini konon pernah digunakan oleh Kanjeng Adipati Kang Mas Bro Qisyute Akar dan timnya bermalam pada hari pertama pendakian, oleh karena itu beliau menamakan camp ini sesuai namanya.. saya ikutin aja deh daripada kuwalat… wkwkwkwk…

Karena masih terlalu siang untuk mendirikan tenda kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Camp selanjutnya yaitu Camp Cemara. Pukul 13.40 kami berangkat dari Camp Qisyute ke Camp Cemara dan ternyata eh ternyata jalurnya nanjak abeesss sodara-sodara hujanpun membuat semakin licin tanah labil yang kami injak, tanaman rotan berduri dan entah apa itu namanya seolah-olah ingin menghentikan langkah kami. Tak jarang kami harus merayap, jongkok, nyungsep, nyusruk dan harus rela tangan, kaki, rambut dan carrier kami terkoyak duri-duri cinta… hayyyaaahhhh….

Tepat pukul 15.00 kami tiba di Camp Cemara, saya dan Seto langsung mendirikan tenda coleman hasil pinjam dari mas bro Faries, sedangkan Pak Mus membuat perapian dengan kulit pohon cemara yang tidak tersentuh belaian hujan.. tsaaahhh….

Tenda sudah berdiri, pacet-pacet dah di cabutin, perapian dah nyala, pakean basah dah di ganti, dan waktunya Chef Uchit Cuit menunjukan kebolehannya mengolah bahan makanan yang di panggul pak Mus dari bawah.. wkwkwk… lagi enak-enaknya masak, kak Seto yg sedang mengisi kompor coleman-nya dengan Pertamax gan, tiba tiba dikejutkan oleh api yg nyamber dari kompor sebelah, kompor kak Seto pun terbakar, Pak mus reflek ambil air dan mengguyurnya ke kompor tersebut, habislah sebotol air buat minum sehari *tepok jidat… Api tak juga padam, saya ambil tanaman yg basah dan gebuk-gebukin ke sumber api… horeee matiii… *pantang pulang sebelum padam :D

Kak Seto terlihat sedikit shock dengan kejadian tersebut, bukan karena kebakarannya melainkan takut kompor tersebut rusak dan harus dipensiun dinikan.. *tepok jidat lagih… wkwkwkw…

“This Is it…” Teriakan Chef Uchit Cuit membangkitkan gairah Kak Seto dan Pak Mus yang sedang Gundah Gundala karena kelaparan… wkwkwk… menu kali ini adalah “Rice with mendoan and omelette ala Chef Uchit Cuiitt… hmmm yummy…” *terima kasih kepada kaka Boim akar, Nasi saya matang sempurna tanpa kerak.. cihuyy…

Malam menjelang, hujan pun turun dengan serius.. tenda kami banjir, terpaksa harus kerja bakti dan sedikit memodifikasi tenda dengan gelas plastic, payung dan sendal jepit… sedikit mengamalkan ilmu yang saya peroleh dari padepokan SMAKBo yang intinya memangpaatkan segala sesuatu di sekitar kita dengan motto “neper sey kenot”… :D

Akhirnya, setelah jungkir balik sana-sini air hujan pun tak tembus masuk tenda, kamipun bisa tidur nyenyak walau hujan turun sepanjang malam… *keprok-keproookkk.. :D

Selasa, 31 May 2011 “Terima kasih Kabut….”

Pukul 06.00 saya terbangun naluri pembantu saya pun muncul, langsung membuka kantung logistik dan mengambil bumbu dapur… menu pagi ini adalah nasi goreng setan, segala macam bumbu di iris, mulai dari cabe, daun bawang, bawang putih, bawang merah, bawang ijo, bawang biru, bawang kuning… *eh…

Setelah sarapan dan packing pukul 08.45 kami melanjutkan perjalanan ke POS 3. Kabut turun menemani langkah kaki kami meninggalkan Camp Cemara. Pada jalur menuju POS 3 terbentang tanjakan nan aduhai,  serta dihiasi berbagai macam rotan dan tanaman berduri di sisi jalur yang selalu nyangkut di tangan, kaki, carrier bahkan rambut.. L

Beberapa kali saya jatuh terjerembab di tanjakan karna tanah yg saya injak agak labil, sumpah serapah dan teriakan saya pun mewarnai perjalanan kami hari itu.

Pukul 11.30 kami sampai di POS 3, istirahat sejenak dan langsung melanjutkan pendakian ke Puncak Wates dengan jalur yang menanjak lebih parah dari jalur sebelumnya dan masih di temani tanaman-tanaman berduri itu… L

Pukul 13.00 kami sampai di Puncak Wates, disini kita sudah bisa melihat bunga Edelweiss tumbuh. Bunga edelweiss di Gunung Raung harum sekali… hmmm….

Di Puncak Wates kami makan siang, kali ini bukan saya yg masak tapi Pak Mus. Saya lelah sekali siang itu, Pak Mus memasak mie Instan dan sedikit nasi. Saya hanya makan sedikit mie, entah kenapa saya tidak berselera saat itu.

Pukul 14.00 kami melanjutkan pendakian ke POS 4 (ereng-ereng atas), Pak Mus sudah memperingatkan kami kalau jalur ini hampir vertical tidak ada bonus dan biasanya dia bisa mencapai POS 4 dalam waktu 3 jam. Saya dan Seto menarik nafas panjang, dan brangkaaaattttt…. Hah..hoh…hah..hoh…

Benar saja yg di bilang Pak Mus, kami disuguhi  jalur menanjak yang makasiiihhh banget. sumpah serapah dan teriakan saya menghiasi langkah kecil kami. Pak Mus sudah jauh di depan, Seto selalu berada d belakang untuk memback up saya.. *gw tau ini sebenernya cuma modus biar bisa banyak istirahat mengatasnamakan solidaritas… Ups.. Piss akh…

Jalur ini sungguh membuat nafas dan jantung saya berkejaran, kalo orang jawa  mah jantung arep pedhot cuk… ditambah lagi langkah kaki yag semakin berat… Ya Tuhan…

Sekitar pukul 16.00 kami tiba di Ereng-Ereng bawah, Pak Mus telah menunggu kami disini. Tak lama beristirahat kamipun langsung melanjutkan perjalanan ke POS 4 (Ereng-Ereng Atas) karena khawatir kami akan tiba disana saat gelap, apalagi kondisi saya sudah sangat kelelahan.

Seperti biasa, saya tidak bisa mengimbangi langkah Pak Mus. Beliau melesat jauh di depan, sementara saya masih sibuk mengatur nafas yg mulai pendek.

Di tengah jalur Saya dan Seto dimanjakan oleh pemandangan tebing batu yang sangat besar (Big Wall), indah banget… maklum, basic kami adalah pemanjat, jadi kami sangat senang kalau melihat tebing batu. Andai saja tebing batu itu tidak berada di atas ketinggian, pasti sudah menjadi arena pemanjatan yang seru. Cool abis deuh…

“Kiiiiiwww…” teriakan pak Mus membuyarkan khayalan kami, kamipun bergegas melanjutkan pendakian.. fiyuuuhhh….

Hari sudah hampir gelap, pukul 17.15 kami sampai di POS 4 (Ereng-Ereng atas) tubuh saya menggigil dan langsung mendirikan tenda bersama Seto. Dan seperti biasa Pak Mus mencari kayu-kayu kering untuk dibuat perapian.

Setelah tenda berdiri Seto langsung menyuruh saya berganti pakaian dengan yang kering. Setelah berganti pakaian saya langsung membuka kompor untuk membuat kopi. Perapian yang dibuat Pak Mus langsung menyala, itu sangat membantu saya untuk menghangatkan badan. Badan saya sudah tidak menggigil lagi, sayapun langsung memasak nasi, telur dadar, dendeng dan sup ayam untuk makan malam. Kami harus tidur nyenyak malam ini, karena besok kami akan muncak menuju Puncak Sejati.. ya Puncak Sejati….

Rabu, 1 Juni 2011 “Terima kasih Matahari….”

Pukul 06.00 saya terbangun menyusul Pak Mus yang sedang memasak air untuk membuat susu coklat. Saya langsung membuka kantung kacang ijo yang terselip di plastik logistic kami. Merebus seperempat kilogram kacang ijo dengan banyak air. Waktu menunjukkan pukul 07.30, OMG… kacang ijonya ngga mateng-mateng… sayapun memutuskan untuk memasak air dan membuat bubur Oat untuk sarapan kami bertiga. Sebenarnya saya tidak suka dengan bubur Oat, Mas Bro Rangga pernag menyarankan saya untuk mencampurnya dengan susu kental manis, saya menyarankan yang sama ke Seto dan Pak Mus..

“Semoga hari ini langit cerah”, doaku pagi itu. Setelah menyiapkan 2 buah tali kernmantle, mengenakan Harness, mengaitkan karabiner, runner dan packing cemilan makan siang kami. Pukul 08.10 kami memulai summit attack, berjalan menuju batas vegetasi dan puncak Raung. Hanya membutuhkan 15 menit untuk mencapai Puncak Raung Kalibaru dari POS 4 (Ereng-Ereng Atas). Di Puncak Raung Kalibaru kami menyiapkan tali kernmantke 25 m untuk moving together atau jalan beriringan dihubungkan dengan tali pada masing masing pengaman harness agar apabila ada anggota tim yang terjatuh, bisa diketahui dan ditahan oleh anggota tim yang lain.

Kami bertiga moving together dengan posisi saya di depan, Pak Mus tengah dan Seto di belakang melewati igir-igir tipis dengan masing-masing sisi adalah jurang yang berkedalaman ratusan meter. Sebelum Puncak 17 kami harus sedikit traverse ke kanan dan kamipun bertemu dengan jalur pemanjatan vertical setinggi 5 meter. Saya langsung memanjat jalur tersebut, sebenarnya jalur pemanjatan tersebut tidak begitu sulit, tapi karena d sebelah kanan bawah saya adalah jurang dengan kedalaman ratusan meter, maka saya harus extra hati-hati. Sampai di atas tebing, sayapun langsung memasang cowstail untuk mengamankan diri dan bersiap mem-belay pemanjat kedua dan ketiga dengan teknik upper belay. Setelah kami semua melewati tebimg tersebut, kami berjalan lagi mendekati Puncak 17 dengan jalur berpasir dengan kemiringan yg cukup membuat jantung berdegup cepat. Tepat dibawah puncak 17, Pak Mus memberitahu start awal pemanjatan. Tali 25m kami gunakan untuk memanjat Puncak 17, saya memanjat pertama dengan di-Belay Seto menggunakan pasak yang tertancap d bawah seutas tali prusik dan runner. Tak ada ketakutan sedikitpun pada saat itu, padahal jika terjatuh saat pemanjatan saya bisa membandul sampai jurang d bawah start awal pemanjatan. Sempat pijakan kaki saya lepas karna menginjak batuan yang ambrol, untunglah pegangan saya pada batuan yang solid, jantung langsung berdetak cepat, sayapun lebih hati-hati memilih pegangan dan pijakan.

Sampai di puncak 17 saya dan Seto berkomunikasi dengan HT pinjaman dari Om Timmy. Karena konon, kalau kami berteriak, maka kabut akan naik. Di Puncak 17 saya langsung memasang cowstail pada beberapa pasak yang tersedia untuk mengamankan diri dan bersiap mem-belay pemanjat selanjutnya yaitu Pak Mus dan Seto dengan teknik upper belay. Setelah semua tim aman di Puncak 17, kami berjalan ke sisi belakang Puncak 17. Pak Mus dengan cekatan membuat pengaman sebagai penambat untuk kami Rapeling menuruni Puncak 17 sepanjang 60 meter. Tali yang kami gunakan hanya sepanjang 50m, dan kami akan menggunakan 2 webbing untuk menyambung tali tersebut. Pak Mus Rapeling pertama, saya kedua dan Seto ketiga menggunakan figure of eight. Jalur Rapeling menuruni Puncak 17 tidak berupa jalur lurus, tapi harus berbelok ke kanan, oleh karena itu kita harus memasang runner pada pasak yang berada d tengah jalur, agar menjaga tali tetap pada tempatnya, tidak bergeser karena angin dan yang lain pada saat kita tinggalkan untuk melanjutkan pendakian. Kabutpun mulai naik, menemani kami… brrrr….

Setelah semua pemanjat aman, kamipun melanjutkan pendakian melewati punggungan tipis selebar kurang dari satu meter. Di jalur ini kami harus lebih hati-hati, berjalan menyusuri punggungan lalu sedikit belok kanan dan turun sepanjang lima meter dan kembali menyusuri punggungan tipis tepat disamping jurang. Di ujung punggungan terdapat beberapa pasak dan kami harus menuruni jalur turun sedalam 20 meter, disitu kami kembali menggunakan tali 25m untuk Rapeling menuruni tebing tersebut. Saya membuat simpul delapan yang dikaitkan di dua buah pasak dengan menggunakan karabiner dan runner. Pak Mus Rapeling pertama saya kedua dan Seto ketiga menggunakan figure of eight. Setelah semua tim sampai di bawah, kamipun melanjutkan pendakian melipir tebing ke arah kanan dan turun melewati sebuah celah yang merupakan penghubung jalur. Setelah melewati celah ini kami dihadapkan pada hamparan batuan yang mudah ambrol yang berada tepat di bawah Puncak Tusuk Gigi. Kami terus berjalan mendaki menuju Puncak Tusuk Gigi, Pak Mus berada jauh di atas kami, berteman kabut tebal kami terus berjalan. Tepat di bawah batuan besar yang berdiri berbentuk seperti tusuk gigi, saya melihat sebuah lorong dan ternyata dari situ bisa tembus ke Puncak Tusuk Gigi. Pak Mus yang telah terlebih dahulu sampai di Puncak Tusuk Gigi kaget karena saya tiba-tiba muncul di sisi kanannya. “lho kamu kok ada disitu Chit?” katanya, “aku lewat situ pak, ada lubang tembus, jadi tidak perlu repot-repot memanjat batu besar di Puncak Tusuk Gigi.. heheee” kataku sembari nyengir…

Dari Puncak Tusuk Gigi kami berjalan ke kanan dan memanjat jalur setinggi 2 meter. Nah, dari balik tebing itu kami tinggal berjalan menuju Puncak Sejati Gunung Raung. Akhirnya pada pukul 12.00 kami bertiga berhasil menjejakkan kaki di PUNCAK SEJATI GUNUNG RAUNG 3344mdpl… yeeeaaahhhhh…

Sayang sekali Plat yang bertuliskan Puncak sejati 3344mdpl milik tim perintis PATAGA Surabaya sudah tidak berada di tempatnya. Seto telah mengetahui hal tersebut, karena itu dia membawa ROKOK SEJATI untuk difoto dan kami hisap bersama-sama di Puncak Sejati… hahahaha… gw suka gaya loe Brow…

Selebrasi pencapaian terbaik saya dengan sebatang Coklat Almond.. makasih bgt… :)

Sempat juga menelpon Boim Akar, untuk mengabarkan bahwa kami telah berhasil mencapai Puncak Sejati. :D

Pukul 13.00 kami memutuskan untuk turun, Karena rencana awal, jika kami bisa mencapai POS 4 (Ereng-Ereng Atas) pada jam 15.00 kami akan langsung packing dan turun sampai Puncak Wates dan bermalam disana supaya besok bisa lebih santai untuk turun.

Menuruni Puncak Sejati kami dihadapkan pada kabut tebal yang membawa bulir-bulir air, menyebabkan batuan disekitar puncak menjadi basah dan licin. Dibawah Puncak Tusuk Gigi jarak pandang kami hanya sekitar 5 meter. Kami terus menuruni Puncak Tusuk Gigi dengan perlahan karena licin dan labilnya hamparanatuan yang kami injak. Kabut semakin tebal dan kamipun kehilangan arah, karena kabut tebal saya hanya bisa melihat ikat kepala Pak Mus yang berwarna merah yang bergerak mencari jalur menuju Puncak 17. Saya baru sadar ternyata jalur yang kami lalui pada saat naik tadi sangat berbahaya. Sekarang jurang-jurang itu ada di hadapan saya, belum lagi batuan yang mudah ambrol apabila terinjak.. Ya Allah…

“Braakkkk….!!! “ Seto menginjak batu sebesar kepala dan batu itu menggelinding ke arah Pak Mus yang berada di bawah, saya reflek berteriak kepada Pak Mus untuk menghindar, untung pak mus langsung berlindung di balik batu besar disampingnya. Alhamdulillah Ya Allah..

Pergelangan kaki Seto sempat berdarah karena tergelincir saat kejadian itu. Mulai saat itu kami pun berjalan dengan sangat hati-hati dan agak terpencar, tidak dalam satu garis lurus.

Matahari mulai nampak, kabut mulai menghilang sedikit demi sedikit, puncak 17 semakin terlihat jelas dan kamipun menemukan jalur menuju Puncak 17, kami bergegas menaiki tebing terakhir dengan teknik prusiking, Prusiking adalah teknik menambah ketinggian dengan bantuan tali prusik yang di simpulkan (simpul prusik) ke tali kernmantle, yang apabila tali prusik ini terbebani maka tali tersebut akan mengunci sehingga beban tetap tertahan dan tidak terjatuh.Saya naik pertama disusul Pak Mus, dan Seto naik dengan teknik upper belay sekaligus sebagai cleaner jalur.

Dibawah Puncak 17 Pak Mus mengeluhkan sakit di kepalanya, lalu saya menyuruh Pak Mus untuk naik duluan ke Puncak 17 dengan teknik prusiking sambil menunggu Seto datang merapihkan tali dan alat-alat. Setelah Pak Mus sampai di Puncak 17 saya menyusul, dan Seto naik dengan teknik upper belay sambil clean jalur. Saat di Puncak 17 Pak Mus masih saja mengeluhkan sakit dikepalanya dan dia ingin cepat cepat sampai POS 4 (Ereng-Ereng Atas), lalu saya membiarkan dia untuk turun dari Puncak 17 duluan dengan teknik rapeling double rope, disusul saya dan Seto.

Saat saya sampai bawah Puncak 17 ternyata Pak Mus berjalan duluan melewati igir-igir menuju Puncak Raung. Masalah pun terjadi saat kami ingin menarik tali kernmantle yang membawa kami menuruni Puncak 17. “Tali ngga bisa di tarik…!!!” damn…

Saya dan Seto memutar otak, tadinya Seto akan melakukan climb down, tapi resikonya terlalu besar apabila terjatuh. Akhirnya saya menyarankan untuk meninggalkan webbing diatas sebagai penambat, dengan harapan tali pada webbing akan lebih mudah di tarik daripada tali disematkan langsung pada pasak. Seto pun naik lagi ke puncak 17 dengan teknik Prusiking, sampai di atas kami berkomunikasi lewat HT. Perasaan tidak karuan menyerang, khawatir dengan keadaan Pak Mus yang berjalan sendiri dan Seto yang masih ada diatas Puncak 17. Seto pun turun dengan meninggalkan webbing sebagai pengaman, meski masih ada perasaan takut talinya tidak bisa ditarik… Saya mulai menarik tali tersebut, Anjrittt beraatttt… jangan-jangan ngga bisa di tarik lagih…

Saya tarik berdua dengan Seto, Alhamdulillah talinya bisa di tarik… Kamipun mengeluarkan seluruh sisa tenaga kami untuk menarik tali tersebut. Membereskan alat dan langsung berjalan menuju Puncak Raung Kalibaru untuk menyusul Pak Mus.

Sampai di batas vegetasi hampir gelap, saya menghentikan langkah Seto untuk masuk hutan.. “gw pengen nikmatin Sunset dulu To, kapan lagi kita kesini…” sambil mengeluarkan kamera, kuabadikan setiap momen sunset dan setiap sudut pemandangan dari Puncak Raung Kalibaru. Di sebelah barat, semburat keemasan berada tepat di atas gugusan pegunungan hyang Argopuro, dengan hamparan awan yang melayang-layang disekelilingnya. Ditimur terdapat punggungan batuan pasir Gunung Raung dengan guratan merah muda pada langit biru  di atasnya semakin menambah cantik pemandangan sore itu…

Setelah agak puas dan mulai gelap, kamipun bergegas kembali ke POS 4 (Ereng-Ereng Atas). But DAMN.. “Jalurmya yang mana yak…?” OMG kami lupa jalur menuju POS 4, ada tanda TWKM pada sebuah pohon cantigi, kamipun memasuki jalur tersebut tapi kok beda dengan jalur tadi kami berangkat. Merasa tidak yakin kami balik lagi ke titik awal batas vegetasi, sambil berteriak memanggil-manggil Pak Mus.

Setelah berteriak-teriak akhirnya Pak Mus membalas teriakan kami, kami langsung mencari sumber suara Pak Mus, Syukurlah kami dapat menemukan POS 4, kejadian tadi bener-bener shock terapi yg cukup membuat keringat dingin untuk saya.. whooosssaaahhhhh…..

Pukul 06.10 Saya dan Seto sampai di POS 4, Pak Mus masih berada di Sleeping bag dengan tubuh kedinginan. Sementara Seto membereskan alat dan Pak Mus beristirahat, saya membuat minuman hangat dan memasak makan malam untuk kami bertiga. Menu makan malam kita adalah Nasi, telur dan kornet tumis mentega ala Chef Uchit Cuiittt.. mmmhhh yummy…

Sehabis makan dan minum obat, tak lama Pak Mus kelihatan sehat dan beliaupun langsung membuat perapian untuk menghangatkan tubuh-tubuh kami yang mulai kedinginan. Mantaapp..

Seto langsung tidur, sedangkan saya dan Pak Mus masih berbincang di depan perapian, berbincang tentang keluarga besarnya, pekerjaannya sebagai petani kopi dan pengalaman mengantar tamu-tamunya menjejakkan kaki ke Puncak Sejati Gunung Raung. Saya hanya mendengarkan, bertanya sesekali, sambil meminum kopi hitam kami. Memandang langit cerah yang bertabur bintang banyak sekali, malam itu tak seperti malam-malam sebelumnya, seolah langitpun merayakan keberhasilan kami menggapai Puncak Sejati, tetapi pikiran saya sedang tidak disini… andai bukan Pak Mus yang duduk disamping saya…. aahhh…

Oh, bukankah kupernah melihat bintang

senyum menghiasi sang malam

yang berkilau bagai permata

menghibur yang lelah jiwanya….

menghibur yang sedih hatinya….

Sang Penghibur by Padi

Semua kayu telah menjadi arang, apipun mengecil.. Saya dan Pak Mus bergegas tidur mengumpulkan tenaga karena perjalanan kami masih panjang esok hari…

Kamis, 2 Juni 2011 “Terima kasih Bintang….”

Pukul 05.30 saya terbangun dan langsung memasak sisa logistic kami, nasi putih, ikan sarden, dan telur dadar. Setelah sarapan, kami packing untuk turun ke Dusun Wonorejo. Pukul 08.30 kami mulai berjalan turun, melalui jalur dengan turunan curam dan tanaman-tanaman yang kurang bersahabat.

Sempat bertemu dengan 3 orang pendaki dari UPN Jogja dengan seorang porternya Mas Sumardi/bendot di atas Camp Cemara.

Kami makan siang di Camp Qisyute, karna saya sudah drop, Pak Mus menggantikan posisi saya untuk masak. Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan turun dan sampai di POS 1 (Pondok Pak Sunarya) pukul 15.00 tepat. Alhamdulillah…

Membuat segelas kopi dan meminumnya bersama-sama, sambil menunggu ojek-ojek kami datang menjemput.

-End-

Terima kasih untuk Sang Pencipta kami, orang tua kami, sahabat-sahabat kami…

Pencapaian ini untuk kalian….

Uchit d’climber & Seto Yohanes

Biaya – biaya:

1.       Kereta gaya baru malam Ps. Senen 12.30 – Gubeng SBY 03.05  = 34000

2.       Kereta comuter Gubeng 04.15 – St Waru 04.35  =   2000

3.       Bus ekonomi SBY – term. Jember  = 28000

4.       Bus ekonomi term. Jember – Kalibaru  = 10000

5.       Ojek Kalibaru – Rumah Pak Mus = 15000

6.       Ojek rumah Pak Mus – POS 1 (pondok Pak Sunarya) = 25000

7.       PORTER per hari   =100000

8.       Kereta Sri tanjung Kalibaru 07.20 – Gubeng SBY 14.00 = 24000

9.       Kereta Kertajaya Ps. Turi 15.30 – Ps. Senen 05.30 = 43500

======================
BlackCoffeetography….
======================

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.