Home » artikel, catper

Dieng, saat si kecil meminta mahar (2..selesai)

8 January 2012 No Comment

Hari pencukuran gimbal.

Aransemen nada ini begitu familiar, mengalun syahdu diiringi semilir angin gunung di sepanjang jalan raya Dieng hari Minggu itu. Orang-orang yang hilir mudik begitu ramai tak mampu melawan suara tek-tek dari perkusi bambu yang dimainkan  sekitar 15 orang. Bukan nada-nada gubahan gending Jawa, bukan pula dari nada-nada pop masa kini. Mereka memainkan nada-nada klasik gubahan Nino Rotta, Speak Softly Love, orang-orang mungkin lebih mengenal nada-nada ini sebagai original song theme-nya film Godfather. Nada-nada modern yang digubah secara tradisional oleh orang-orang tradisional pula, menakjubkan.

Mereka adalah para pemain musik tek tek yang dipermanis dengan gerak 2 penari perempuan di depannya. Arak-arakan kesenian lain ikut larut dalam kegembiraan. Para penari Rampag Yakso dengan riasan garangnya kadang membuat anak-anak kecil berlarian menyingkir menjauh dari rombongan. Sementara tabuhan kendang raksasa mengiringi tanpa henti lompatan-lompatan sigap singa merah dan singa putih dalam grup barongsai “Singo Barong”. Lalu beberapa penari Lengger dengan jaranan di antara 2 paha ikut beraksi menari-nari mengikuti komando sang pemimpin yang bertopeng aneh. Beberapa atraksi lain mengikuti sepanjang jalan yang dipagari keriuhan masyarakat. Di barisan depan, sang pemangku adat didampingi para sesepuh yang memegang nyala api dalam pot memimpin jalannya arak-arakan. Para anak gimbal mengiringi di belakangnya, dipangku para orang tua di mobil “odong-odong”. Sesajian beserta mahar untuk sang anak diarak di belakangnya oleh muda-mudi yang dirias dan beberapa buah mobil.

Sebentar lagi Dieng akan menjalankan tradisinya.

Aksi tarian Rampag Yakso

***

Pagi itu dimulai dengan kesibukan yang luar biasa di kediaman Mbah Naryono, sang pemangku adat. Sesajen, ubo rampe upacara, mahar-mahar tertata dengan rapi dan siap untuk diusung. Sementara orang-orang mulai berdatangan, termasuk para penari, pemain musik dan sesepuh-sesepuh berpakaian Jawa. Anak-anak gimbal yang akan diruwat datang diantar keluarganya. Bagian atas kepala mereka diikat dengan kain putih yang melingkar menutupi jidat hingga rambut bagian belakang. Gimbal-gimbal mereka dibiarkan tergerai, menggoda para fotografer untuk memotret mereka satu persatu.

Kirab akan dimulai dari kediaman Mbah Naryono. Ketua panitia Dieng Culture Festival, Alif Faozi akan memimpin jalannya kirab didampingi sang pemangku adat dan para sesepuh. Para peserta kirab akan berarak melewati perkampungan Dieng Kulon, lalu menyusuri jalan raya Dieng sepanjang 800 meter sebelum berakhir di kompleks candi Pandawa. Di sepanjang jalan itulah mereka akan menampilkan atraksi seni dan budaya yang membuat masyarakat akan riuh. Mereka akan menunjukkan tariannya sembari berharap para fotografer dan penulis akan memotret dan menyebarkan tarian mereka kepada dunia. Inilah Dieng yang berbudaya.

Sang pemangku adat memimpin jalannya kirab

***

Dewi Anjani, Muthoharoh, dan 5 anak gimbal yang lain masih belum tahu apa yang akan dilakukan orang-orang terhadap mereka. Seperti sedang bertamasya di tempat yang sangat ramai menggunakan mobil “odong-odong”, begitu mungkin pikir mereka. Tak ada yang menangis saat para fotografer mengambil potret mereka dari dekat. Mereka anak-anak yang terpilih.

Legenda mengatakan, rambut gimbal adalah titipan dari Ki Tumenggung Kolodete yang menguasai daerah Dieng. Dia kyai sakti yang berambut gimbal dan pernah menjadi pemimpin yang berpengaruh di desa Tegalsari, kawedanan Kretek, Wonosobo. Dia sangat dicintai masyarakatnya. Dan suatu hari, Ki Tumenggung Kolodete berniat untuk mencalonkan diri sebagai lurah. Suatu hal yang ditolak mentah-mentah oleh pemerintahan Mataram, yang membuat hati sang kyai dan pengikutnya bersedih. Dia merasa malu terhadap masyarakatnya dan sebagai pertanggung jawaban, dia memilih untuk mengasingkan diri untuk bertapa di dataran tinggi Dieng.

Sebelum bertapa, dia berpesan kepada rakyatnya,

“Mung semene wae anggonku njuwita pamarintah, aku arep menyang Dieng“ (Hanya sampai sekian aku mengabdi kepada pemerintah, aku akan ke Dieng)

Lalu dia memohon kepada dewata agar cita-citanya menyejahterakan masyarakat terkabul dan dewata merestui tanda bukti kecintaannya kepada masyarakat. Tanda buktinya adalah agar anak cucunya nanti berambut gimbal seperti dirinya. Dewata mengabulkannya, dan sampai sekarang banyak terdapat anak-anak berambut gimbal. Masyarakat menyebutnya Bocah Gembel dan dianggap sebagai keturunan Ki Tumenggung Kolodete.

***

Kirab telah berakhir. Para penari menuju panggung utama. Sementara itu anak-anak gimbal berjejer dipangku orang tuanya di Sendang Sedayu. 6 bocah perempuan dan seorang bocah lelaki. Pemangku adat dan para sesepuh berdoa di depan sumur, dari sumur itulah akan diambil air yang dipakai untuk jamasan rambut anak-anak gimbal. Rambut dan wajah mereka akan dibasuh dengan dedaunan yang dibasahi air dari sumur Sendang Sedayu.

Jamasan dilakukan sebelum mereka dicukur. Air Sendang Sedayu akan dicampur dengan kembang 7 rupa dan air dari Tuk Bimalukar, Sendang Buana, Goa Sumur, Kali Pepek, Tuk Kencen dan Tuk Sibido.

Bocah gembel bersiap dijamas

Dari Sendang Sedayu, pusat keramaian masyarakat akan beralih ke kompleks candi Pandawa. Acara puncak akan segera dimulai, pencukuran rambut gimbal.

***

Ada mahar-mahar yang tertata rapi di depan candi Arjuna. Naysila meminta minyak rambut, bola bekel dan boneka. Muthoharoh meminta tempe mentah berbungkus daun 500 biji. Dewi Anjani meminta telur mentah 600 butir, sekeping tempe matang seharga 500 rupiah, sebutir tahu matang seharga 500 rupiah dan ayam matang. Suwaibatul Aslamiyah meminta sepeda warna jambon. Maro’ah meminta anting-anting 1 gram, baju muslim, sandal dan payung kecil. Nurselli Marselina meminta rese tanjan 1 kg dan pindang 2 keranjang. Fajar, satu-satunya bocah lelaki meminta wedhus brengos (kambing gimbal) dan tempe kemul (mendoan) 100 biji.

Mahar-mahar permintaan bocah gembel

Sementara itu Dewi Anjani menunggu di pangkuan ibunya, dia yang paling kecil dari semuanya. Berjejer bersama yang lain tepat di antara candi Arjuna dan candi Semar. Mereka akan dipotong gimbalnya di tangga candi Arjuna. Para penari Rampag Yakso menjadi pagar hidup agar para fotografer tak bergerak lebih dekat ke arah tempat pencukuran. Kekhidmatan acara akan dijaga.

Fajar, satu-satunya bocah lelaki mendapat giliran pertama pencukuran. Perhatian massa terarah padanya, acara puncak pencukuran rambut gimbal telah dimulai. Lalu Naysila, si kecil nan imut berusia 4,5 tahun ini harus ditunggui ibunya di tangga candi Arjuna ketika dicukur. Dia ketakutan. Boneka berwarna jambon menjadi mahar untuknya sebagai pereda tangisnya. Muthoharoh mendapat giliran berikutnya. Putri 6 tahun ini mempunyai gimbal yang sangat lebat, dia yang paling lama proses pencukurannya. Sebatang rambut gimbal yang besar ditunjukkan ke arah massa oleh sang pencukur, sontak membuat para fotografer mengarahkan kameranya ke potongan rambut gimbal tersebut.

Sekarang giliran Dewi Anjani.

Muthoharoh, yang mempunyai gimbal paling lebat sedang dicukur

Anjani ditemani ibu bapaknya menuju tangga candi Arjuna. Semua pasang mata melihatnya. Dia akan mendekat ke arah Mbah Naryono, sang pemangku adat. Berinteraksi langsung dengannya yang akan mendoakan sambil memejamkan mata di tangga candi. Mbah Naryono pernah mengalami saat-saat seperti ini sebagai bocah gembel, dan sekarang Dewi Anjani dari generasi yang berbeda akan merasakannya. Sesuatu yang akan samar-samar diingatnya ketika dewasa nanti.

Semakin mendekat ke arah candi Arjuna, semakin erat pelukannya ke arah ibunya. Wajah ketakutannya yang tak pernah dia perlihatkan sepanjang kirab mulai terlihat. Dan benar saja, wajah memelas dan tubuh yang berontak mulai ditunjukkan saat dia didudukkan di tangga candi. Bapaknya mulai memegangnya dengan kuat, seolah memaksa dia agar dapat duduk dan tenang dan gunting cukur dapat memotong rambut gimbalnya.

Namun seolah ketidaktegaan mengalahkan semuanya, Anjani berteriak menangis sekencangnya. Melas.

Tangis Anjani

Sang ibu mulai menggendong dan berusaha redakan tangisnya. Para sesepuh memutuskan bahwa dia harus reda dari tangisnya dulu sebelum dicukur. Anjani akan dicukur setelah 6 anak yang lain dicukur.

Suwaibatul Aslamiyah, Maro’ah dan Nurselli Marselina berturut-turut duduk manis di tangga candi Arjuna. Beberapa tokoh, sesepuh dan pejabat bergantian menjadi pencukurnya. Mbah Naryono tetap berada di belakang anak gimbal untuk memanjatkan doa. Dewi Anjani mulai tenang kembali. Dan dia harus dicukur rambutnya sebagai penuntas upacara di pelataran candi Arjuna ini.

Anak kecil tetaplah anak kecil, kadang mereka akan mengalami ketakutan luar biasa saat orang-orang mengelilinginya. Seperti halnya Anjani, dia tetap berontak menangis. Tak tega rasanya untuk menggendong dia ke tangga candi, hingga akhirnya para sesepuh memutuskan untuk mencukur rambut gimbalnya di gendongan ibunya yang tetap duduk di kursi tunggu. Bapaknya yang memegang tubuh Anjani agar tidak berontak dan gunting cukur dapat mencukur rambut gimbalnya tanpa terluka.

Dewi Anjani telah dicukur dan itu berarti pencukuran rambut gimbal telah usai.

***

Penutup rangkaian acara ruwatan adalah ngalap berkah dan pelarungan rambut gimbal di Telaga Warna. Sesajian yang telah ditata di depan candi akan dilemparkan ke arah masyarakat untuk diperebutkan, itulah ngalap berkah. Masyarakat berharap akan berkah dari sesajian-sesajian tersebut. Sementara itu pemangku adat dan para sesepuh akan melarungkan potongan-potongan rambut gimbal ke Telaga Warna. Beserta sesajen dan doa-doa kepada Gusti.

Pelarungan rambut gimbal di Telaga Warna

Anak-anak gimbal yang telah diruwat pulang. Kembali ke rumah dan ladangnya. Lalu menunggu apa yang akan terjadi dengan rambutnya setelah diruwat. Sementara itu beberapa anak gimbal yang belum diruwat akan menunggu pemangku adat datang ke rumahnya sambil berkata,

“Gembele njaluk apa nduk/le?”

Merekalah sang Bocah Gembel, sang penerus tradisi.

Selesai.

fotografi dan reportase oleh : maufiroh isnainto, akoh martadiredja

Dieng Culture Festival 2, 1-3 Juli 2011

~ jarody hestu

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.