<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jejak Petualang Community</title>
	<atom:link href="http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jejakpetualang.org/jp</link>
	<description>Just another WordPress site</description>
	<lastBuildDate>Sun, 13 May 2012 04:30:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Official Merchandise Jpers &#8220;Iam following&#8230; @jepecom&#8221;</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=535</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=535#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 19:36:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[merchandise]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=535</guid>
		<description><![CDATA[

&#160;
Edisi siapa cepat dia dapat&#8230; saat ini hanya tersedia 48 pcs
Cara pesan:
1. Silahkan kontak Riri Goddess : t @ririgoddess, YM : riri.goddess
2. Tanyakan ukuran yang tersedia ( XL, L, M, S)
3. Jika tersedia dan dapat konfirmasi dari Riri, lakukan pembayaran RP 75.000,- + ongkir TIKI/JNE + 2.000 (Packing TIKI/JNE).

4. Lakukan Transfer ke rekening yang ditentukan. tambahkan 3 digit nomer HPmu dibelakang nilai transfer.
5. Konfirmasi pembayaran yang telah di transfer ke Riri. Sertakan alamat pengiriman dengan jelas.
6. Barang dikirim sesuai alamat.
7. COD hanya di pasfest tiap malam minggu dengan pemberitahuan sebelumnya.
&#160;
Selamat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/05/154774_3417348908092_1101198037_32842957_404119873_n.jpg"><img class="alignnone  wp-image-536" title="154774_3417348908092_1101198037_32842957_404119873_n" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/05/154774_3417348908092_1101198037_32842957_404119873_n.jpg" alt="" width="441" height="441" /></a></p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/05/@jepecom22.jpg"><img class="alignnone  wp-image-541" title="@jepecom22" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/05/@jepecom22.jpg" alt="" width="560" height="294" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Edisi siapa cepat dia dapat&#8230; saat ini hanya tersedia 48 pcs</strong></p>
<p>Cara pesan:</p>
<p>1. Silahkan kontak Riri Goddess : t @ririgoddess, YM : riri.goddess</p>
<p>2. Tanyakan ukuran yang tersedia ( XL, L, M, S)</p>
<p>3. Jika tersedia dan dapat konfirmasi dari Riri, lakukan pembayaran <strong>RP 75.000,- + ongkir TIKI/JNE + 2.000 (Packing TIKI/JNE).</strong></p>
<p><strong><span id="more-535"></span></strong></p>
<p>4. Lakukan Transfer ke rekening yang ditentukan. tambahkan 3 digit nomer HPmu dibelakang nilai transfer.</p>
<p>5. Konfirmasi pembayaran yang telah di transfer ke Riri. Sertakan alamat pengiriman dengan jelas.</p>
<p>6. Barang dikirim sesuai alamat.</p>
<p>7. COD hanya di pasfest tiap malam minggu dengan pemberitahuan sebelumnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selamat memakai baju JPers edisi <strong>&#8220;I am following @jepecom&#8230;&#8221; dengan panjang lengan 3/4</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>-admin-</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=535</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengintip Dapur Keju Kesohor di Swiss</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=523</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=523#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2012 13:58:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>idur</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=523</guid>
		<description><![CDATA[Selain terkenal dengan jajaran pegunungan alpennya, swiss juga negara yang terkenal dengan cokelat dan kejunya. Gruyere adalah salah satu distrik di Kanton (propinsi) Fribourg di Swiss yang terkenal dengan pembuatan kejunya, sekaligus dijadikan nama keju yang terkenal itu. La Maison du Gruyere (Demonstration Cheese-Dairy), adalah nama tempat di Gruyere yang membuat bakalan membuat rasa penasaran kita tentang bagaimana proses pembuatan keju. Untuk masuk ke dalam La Maison du Gruyere ini, kita cukup membayar tiket 7 CHF (Swiss Frank) atau sekitar 4,7 euro plus diberi keju untuk kita cicipi sambil menghilangkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Selain terkenal dengan jajaran pegunungan alpennya, swiss juga negara yang terkenal dengan cokelat dan kejunya. Gruyere adalah salah satu distrik di Kanton (propinsi) Fribourg di Swiss yang terkenal dengan pembuatan kejunya, sekaligus dijadikan nama keju yang terkenal itu. <em>La Maison du Gruyere</em> (Demonstration Cheese-Dairy), adalah nama tempat di Gruyere yang membuat bakalan membuat rasa penasaran kita tentang bagaimana proses pembuatan keju. Untuk masuk ke dalam <em>La Maison du Gruyere </em>ini, kita cukup membayar tiket 7 CHF (Swiss Frank) atau sekitar 4,7 euro plus diberi keju untuk kita cicipi sambil menghilangkan rasa penasaran kita bagaimana membuat keju disini.</p>
<div style="text-align: justify;">
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 306px"><a href="http://s70.photobucket.com/albums/i86/rudyrahadian/?action=view&amp;current=DSC02900.jpg" target="_blank"><img class=" " style="border-style: initial; border-color: initial; border-image: initial; border-width: 0px;" title="headset" src="http://i70.photobucket.com/albums/i86/rudyrahadian/DSC02900.jpg" alt="headset" width="296" height="221" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">headset guide</p></div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Apakah ada seorang pemandu disana yang akan menemani kita berkeliling? jawabannya “tidak!”. Tapi tenang ,setiap pengunjung yang masuk akan diberikan satu buah headset untuk menjadi pemandu kita selama berkeliling. headset ini bentuknya seperti <em>remote control</em> yang nanti akan menjelaskan setiap keterangan yang ada pada gambar,video, tulisan serta alat alat yang digunakan dalam proses pembuatan keju ini. Ada 6 pilihan bahasa yang bisa kita pilih Perancis, Jerman,Italy,Spanyol, Jepang dan Inggris. Tur ini diawali dari cerita bagaimana mereka memelihara sapi sapi mereka dengan baik untuk bisa menghasilkan susu yang baik sehingga nantinya keju yang dihasilkan juga berkualitas. Awal-awal tur kita akan disuguhkan berbagai macam gambar tentang pemeliharaan sapi. Setelah itu kita akan melihat dapur yang sebenernya, serta alat-alat yang digunakan dalam proses pembuatan keju.Sayangnya pada saat saya berkunjung kesana, hari sudah sore, jadi saya tidak bisa melihat proses pembuatan keju tersebut secara langsung. Namun saya juga tidak kecewa karena disana tetap ada video yang menggambarkan tentang bagaimana proses pembuatan keju ditempat itu, dipandu oleh alat yang sedari tadi saya bawa tentunya.</p>
<div style="text-align: justify;">
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 233px"><a href="http://s70.photobucket.com/albums/i86/rudyrahadian/?action=view&amp;current=DSC02908-1.jpg" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" title="cheese baker" src="http://i70.photobucket.com/albums/i86/rudyrahadian/DSC02908-1.jpg" alt="cheese baker" width="223" height="165" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">cheese baker</p></div>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<div class="wp-caption alignnone" style="width: 230px"><a href="http://s70.photobucket.com/albums/i86/rudyrahadian/?action=view&amp;current=DSC02907.jpg" target="_blank"><img style="border: 0pt none;" title="cheese maker" src="http://i70.photobucket.com/albums/i86/rudyrahadian/DSC02907.jpg" alt="cheese maker" width="220" height="165" border="0" /></a><p class="wp-caption-text">cheese maker</p></div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Setelah beberapa menit berkeliling dan diberi penjelasan tentang beberapa proses pembuatan keju, diakhir akhir tur kita juga bisa menguji pengetahuan yang baru saja kita dapat melalui <em>interactive games </em>yang berupa kuis. Pertanyaannya seputar info info yang baru saja kita dapatkan dalam tur tersebut. Tebak saja, apakah anda benar benar mengikui tur ini dengan baik. Setelah itu kita bisa keluar dan Kalau anda ingin mencoba segala macam makanan yang salah satu bahan utamanya adalah keju, disini juga ada restaurant yang menyediakan makanan tersebut. Selain itu, anda juga bisa membeli berbagai souvenir dari Gruyere.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang bukan Tur yang memakan waktu lama, tetapi cukup menghilangkan rasa penasaran saya tentang bagaimana proses pembuatan keju. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan yah, walaupun begitu sekarang keju keju sudah di proses secara modern. Tidak membutuhkan banyak orang lagi untuk mengerjakan semua proses itu.</p>
<div>
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;">
<dl id="" class="wp-caption alignnone" style="width: 458px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/05/DSC02912.jpg"><img class=" wp-image-529" title="DSC02912" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/05/DSC02912.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Cheese After Process</dd>
</dl>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=523</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Raung dan sebuah Ego</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=508</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=508#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Mar 2012 06:07:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[climbing]]></category>
		<category><![CDATA[mountaineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=508</guid>
		<description><![CDATA[
Kurang lebih satu bulan lamanya, saya mempersiapkan perjalanan yang menurut saya cukup menguras pikiran ini. Mulai dari menyusun jadwal perjalanan, menejemen perjalanan, pinjam peralatan, melatih fisik dan mental serta mencari partner yang akan menemani saya menuju Puncak Sejati Gunung Raung… ya, saya akan kesana Puncak Sejati Gunung Raung….
Puncak Sejati Gunung Raung adalah keegoisan saya.  Terbius oleh cerita dan foto-foto tim yang telah menjejakkan kakinya di Puncak Sejati Gunung Raung. Sempat sangat kesal ketika satu persatu anggota tim mundur dari rencana ini. Seperti yang saya bilang Puncak Sejati Gunung Raung adalah keegoisan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/jp2.jpg"><img class="size-full wp-image-510 aligncenter" title="SONY DSC" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/jp2.jpg" alt="" width="536" height="800" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kurang lebih satu bulan lamanya, saya mempersiapkan perjalanan yang menurut saya cukup menguras pikiran ini. Mulai dari menyusun jadwal perjalanan, menejemen perjalanan, pinjam peralatan, melatih fisik dan mental serta mencari partner yang akan menemani saya menuju Puncak Sejati Gunung Raung… ya, saya akan kesana Puncak Sejati Gunung Raung….</p>
<p style="text-align: justify;">Puncak Sejati Gunung Raung adalah keegoisan saya.  Terbius oleh cerita dan foto-foto tim yang telah menjejakkan kakinya di Puncak Sejati Gunung Raung. Sempat sangat kesal ketika satu persatu anggota tim mundur dari rencana ini. Seperti yang saya bilang Puncak Sejati Gunung Raung adalah keegoisan saya, maka saya akan tetap berangkat walau hanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Seto, seorang sahabat lama.. kami pernah bertemu saat sama-sama memanjat tebing Ciampea dan Citatah125 waktu saya masih SMA dulu. Kami bertemu kembali di Papan Panjat Pasar Festival setelah sekian lama dan sayapun mengajak Seto untuk menemani saya mendaki Puncak Sejati Gunung Raung. Cuti  telah d approve, persiapan satu persatu telah terpenuhi, 2 minggu sebelum hari H Seto memberikan kabar gembira bahwa dia akan ikut dalam perjalanan ini… Alhamdulillah… saya tenang karena saya tahu kemampuan Seto dalam hal panjat-memanjat tidak perlu di ragukan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengumpulkan data, foto dan informasi sebanyak banyaknya dari catatan perjalanan Satu Bumi, tim Pembalak,  tim Ugal2an, #pendaki Indonesia, Gerombolan Kaki Berat dan MAPALA UI semakin membuat darah kami mendidih. Sayapun bertanya langsung kepada Mbah Jarody, Kong Faried, Om qisyute akar, Om Sinyo dan Bang Taufan tentang teknis pendakian terutama pada saat summit attack ke Puncak Sejati.</p>
<p style="text-align: justify;">Sabtu, 28 May 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Peralatan telah siap, tiket telah dipesan, saya dan Seto pun bertemu di st. Pasarsenen untuk memulai perjalanan kami. Pukul 12.20 kereta Gaya Baru Malam Selatan membawa kami menuju St. Gubeng Surabaya. Udara panas di dalam kereta api, hiruk pikuk penumpang serta lalu lalang pedagang menemani perjalanan kami, tak henti hentinya kami berdiskusi untuk membahas teknik pemanjatan di Puncak 17, karna menurut informasi Puncak 17 adalah CRUX atau bagian tersulit saat summit attack mencapai puncak Sejati dan ada beberapa tim yang gagal melewati Puncak 17 ini. Adrenalin kami mengalir deras saat membayangkan apa yang akan terjadi di atas sana nanti.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Minggu, 29 May 2011</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 03.05 dini hari kami tiba di st. Gubeng Surabaya. Rencana semula kami akan naik kereta bisnis yang berangkat pada pukul 09.00 pagi, setelah mencari informasi dari petugas stasiun dan mengintip dompet kami masing-masing, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menggunakan bus dari Terminal Bungurasih. Untuk mencapai terminal Bungurasih kami menaiki kereta comuter jurusan Gubeng-porong sidoarjo dan turun di st. Waru. Kereta comuter berangkat dari st. Gubeng pukul 04.15 dan tiba di st. Waru pukul 04.35. di dalam kereta comuter kami bertemu dengan sebuah keluarga yang kebetulan mempunyai tujuan yang sama dengan kami, yaitu Jember. 10 menit berjalan dari St.Waru ke terminal Bungurasih sambil berbincang dengan si Ibu, beliau bercerita dulunya bapak adalah pendaki sama seperti kami, beliau kerap kali mengajak anak perempuan pertamanya untuk mendaki tapi si Ibu melarangnya.. hahaha… (mengingatkan saya ttg seseorang..oops). Saat memasuki terminal Bungurasih, si bapak membelikan kami tiket masuk terminal.. terima kasih banyak Pak.. J</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 04.45 Bus ekonomi membawa kami membelah kesunyian kota Surabaya menuju Jember. Pukul 09.55 kamipun tiba di terminal Jember dan langsung berganti bus menuju Kalibaru. Ada kejadian menarik pada bus yg kami tumpangi, di depan terminal Jember tiba-tiba naik beberapa orang yang berusaha menipu penumpang bus. Sekelompok orang itu seperti bersandiwara seolah-olah salah seorang anggotanya adalah anggota perampokan dan berniat menjual Jam tangannya untuk pulang kembali ke kota asalnya di Lampung. Saya dan Seto langsung curiga dan menyembunyikan tas kecil kami, karna ada beberapa orang yang mempengaruhi penumpang lain untuk membeli Jam tangan tersebut. Benar saja, saat bus mulai meninggalkan terminal Jember para penipu itu pun turun satu persatu.. aahhh…dasar penipu kelas coro…. :p</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat pukul 12.00 siang kami tiba di St. Kalibaru dan langsung mencari rumah makan untuk mengisi perut. Di Kalibaru tersedia pasar yg cukup lengkap, setelah makan kamipun berbelanja untuk melengkapi kebutuhan logistik dan wadah air yang kurang, sambil menunggu Pak Musni menjemput kami. Pak Musni adalah penduduk lokal Dusun Wonorejo yang biasa mengantarkan para pendaki menuju Puncak Sejati Gunung Raung dan beliau kali ini akan mengantarkan kami ke sana.. J</p>
<p style="text-align: justify;">Naik Ojek dari Kalibaru menuju kediaman Pak Musni di Dusun Wonorejo, melewati perkebunan tebu dan coklat. Sampai di rumah Pak Mus, lelaki kekar ini biasa dipanggil, kami disuguhi kopi hitam khas Wonorejo.. oh ini dia kopi yg sering dibicarakan Kong Faried, Qisyute dan Bang Taufan itu.. kental dan nikmat sekali… mantaps…</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil berbincang dan melihat-lihat koleksi foto Pak Mus dengan tim-tim pendaki yang pernah beliau antar ke Puncak Sejati Gunung Raung, semakin membuat kami berdecak kagum akan keindahan dan berbahayanya pendakian kami nanti..</p>
<p style="text-align: justify;">Malam menjelang di Dusun Wonorejo, setelah mandi dan makan malam dengan masakan yg di buatkan Ibu Mus, kamipun repacking barang-barang yang akan kami bawa mendaki dan mengisi botol-botol air agar besok kita bisa langsung mendaki dan tak perlu mengisi persediaan air di POS 1 (Pondok pak Sunarya) seperti yang dilakukan tim-tim sebelum kami, kami tak ingin buang-buang waktu. Packing selesai dan waktunya ngopi…. Lagi…. Wkwkwk J</p>
<p style="text-align: justify;">Kami adalah tim ke-13 yang diantarkan pak Mus untuk mendaki Gunung Raung. Beliau pertama kali mendaki Gunung Raung karena ada tamu dari Bali yang meminta untuk diantarkan Sembahyang di Puncak Gunung Raung, dengan bermodal mengetahui jalur hutan dan sedikit nekat Pak Mus mengantarkan orang tersebut dan bisa mencapai Puncak Sejati Gunung Raung. Setelah itu Pak mus adalah satu-satunya penduduk local Dusun Wonorejo yang terbiasa mengantarkan para pendaki untuk mencapai Puncak Sejati Gunung Raung.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Senin, 30 May 2011 “Terima kasih Hujan….”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 05.30 Teriakan Egi membangunkan saya, dan sayapun bergegas mandi di sungai belakang rumah Pak Mus. kembali ke rumah Pak mus telah tersedia kopi <img src='http://jejakpetualang.org/jp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .. kopi hitam.. kental… ajib deuh…</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sarapan, pukul 07.30 kami berangkat ke POS 1 (Pondok Pak Sunarya) menggunakan ojek melewati jalan tanah yang lebih mirip trek motocross yg mengharuskan saya berpegangan erat dan menahan nafas saat motor yg kami tumpangi menghantam gundukan tanah di tengah-tengah perkebunan kopi.. ohh.. ternyata ini yg bisa membuat perut orang-orang sini jadi sixpack.. hahay..</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 08.15 kami sampai di POS 1 (Pondok Pak Sunarya), setelah ploting pada GPS dan berdoa pukul 08.30 kami memulai pendakian menuju POS 2. Jalur dari Pondok Pak Sunarya menuju POS 2 relatif landai melalui perkebunan kopi dan hutan yang tidak begitu lebat dan banyak pohon tumbang. Di tengah jalan menuju POS 2, entah karena beban yang terlalu berat saya pun banyak berhenti untuk sekedar menarik nafas. Beban yang kami bawa hampir setengah berat badan kami.. OMG.. Karena saya terlihat lelah sekali maka Seto menawarkan untuk menukar carrier, tak ingin mengecewakan kawan saya itu, sayapun langsung mengiyakan tawaran tersebut… heheheheh… thanks brow…</p>
<p style="text-align: justify;">Pak Mus sudah melesat jauh di depan, karena paling lemah saya d tengah dan Seto sebagai Sweeper di belakang sambil memback up saya. Kami sampai di POS 2 pada pukul 11.45, makan siang dengan nasi bungkus buatan ibu Mus ditemani rintik gerimis. J</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 12.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Camp Qisyute dan berencana untuk bermalam disana. Ditemani hujan yang semakin deras kami tetap bersemangat menapaki trek basah yg masih bersahabat. Hujan ini sungguh membuat saya bersemangat, rasa lelah tak terasa, berjalan sambil menghisap bulir-bulir air yang ada di ujung-ujung daun yang saya lewati, mmhhh segar sekali. Meski terkadang bibir tergores duri yang tersembunyi di balik daun tersebut, saking napsunya.. wkwkwk</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 13.30 kami sampai di Camp Qisyute, camp ini konon pernah digunakan oleh Kanjeng Adipati Kang Mas Bro Qisyute Akar dan timnya bermalam pada hari pertama pendakian, oleh karena itu beliau menamakan camp ini sesuai namanya.. saya ikutin aja deh daripada kuwalat… wkwkwkwk…</p>
<p style="text-align: justify;">Karena masih terlalu siang untuk mendirikan tenda kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Camp selanjutnya yaitu Camp Cemara. Pukul 13.40 kami berangkat dari Camp Qisyute ke Camp Cemara dan ternyata eh ternyata jalurnya nanjak abeesss sodara-sodara hujanpun membuat semakin licin tanah labil yang kami injak, tanaman rotan berduri dan entah apa itu namanya seolah-olah ingin menghentikan langkah kami. Tak jarang kami harus merayap, jongkok, nyungsep, nyusruk dan harus rela tangan, kaki, rambut dan carrier kami terkoyak duri-duri cinta… hayyyaaahhhh….</p>
<p style="text-align: justify;">Tepat pukul 15.00 kami tiba di Camp Cemara, saya dan Seto langsung mendirikan tenda coleman hasil pinjam dari mas bro Faries, sedangkan Pak Mus membuat perapian dengan kulit pohon cemara yang tidak tersentuh belaian hujan.. tsaaahhh….</p>
<p style="text-align: justify;">Tenda sudah berdiri, pacet-pacet dah di cabutin, perapian dah nyala, pakean basah dah di ganti, dan waktunya Chef Uchit Cuit menunjukan kebolehannya mengolah bahan makanan yang di panggul pak Mus dari bawah.. wkwkwk… lagi enak-enaknya masak, kak Seto yg sedang mengisi kompor coleman-nya dengan Pertamax gan, tiba tiba dikejutkan oleh api yg nyamber dari kompor sebelah, kompor kak Seto pun terbakar, Pak mus reflek ambil air dan mengguyurnya ke kompor tersebut, habislah sebotol air buat minum sehari *tepok jidat… Api tak juga padam, saya ambil tanaman yg basah dan gebuk-gebukin ke sumber api… horeee matiii… *pantang pulang sebelum padam <img src='http://jejakpetualang.org/jp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Kak Seto terlihat sedikit shock dengan kejadian tersebut, bukan karena kebakarannya melainkan takut kompor tersebut rusak dan harus dipensiun dinikan.. *tepok jidat lagih… wkwkwkw…</p>
<p style="text-align: justify;">“This Is it…” Teriakan Chef Uchit Cuit membangkitkan gairah Kak Seto dan Pak Mus yang sedang Gundah Gundala karena kelaparan… wkwkwk… menu kali ini adalah “Rice with mendoan and omelette ala Chef Uchit Cuiitt… hmmm yummy…” *terima kasih kepada kaka Boim akar, Nasi saya matang sempurna tanpa kerak.. cihuyy…</p>
<p style="text-align: justify;">Malam menjelang, hujan pun turun dengan serius.. tenda kami banjir, terpaksa harus kerja bakti dan sedikit memodifikasi tenda dengan gelas plastic, payung dan sendal jepit… sedikit mengamalkan ilmu yang saya peroleh dari padepokan SMAKBo yang intinya memangpaatkan segala sesuatu di sekitar kita dengan motto “neper sey kenot”… <img src='http://jejakpetualang.org/jp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, setelah jungkir balik sana-sini air hujan pun tak tembus masuk tenda, kamipun bisa tidur nyenyak walau hujan turun sepanjang malam… *keprok-keproookkk.. <img src='http://jejakpetualang.org/jp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Selasa, 31 May 2011 “Terima kasih Kabut….”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 06.00 saya terbangun naluri pembantu saya pun muncul, langsung membuka kantung logistik dan mengambil bumbu dapur… menu pagi ini adalah nasi goreng setan, segala macam bumbu di iris, mulai dari cabe, daun bawang, bawang putih, bawang merah, bawang ijo, bawang biru, bawang kuning… *eh…</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah sarapan dan packing pukul 08.45 kami melanjutkan perjalanan ke POS 3. Kabut turun menemani langkah kaki kami meninggalkan Camp Cemara. Pada jalur menuju POS 3 terbentang tanjakan nan aduhai,  serta dihiasi berbagai macam rotan dan tanaman berduri di sisi jalur yang selalu nyangkut di tangan, kaki, carrier bahkan rambut.. L</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa kali saya jatuh terjerembab di tanjakan karna tanah yg saya injak agak labil, sumpah serapah dan teriakan saya pun mewarnai perjalanan kami hari itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 11.30 kami sampai di POS 3, istirahat sejenak dan langsung melanjutkan pendakian ke Puncak Wates dengan jalur yang menanjak lebih parah dari jalur sebelumnya dan masih di temani tanaman-tanaman berduri itu… L</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 13.00 kami sampai di Puncak Wates, disini kita sudah bisa melihat bunga Edelweiss tumbuh. Bunga edelweiss di Gunung Raung harum sekali… hmmm….</p>
<p style="text-align: justify;">Di Puncak Wates kami makan siang, kali ini bukan saya yg masak tapi Pak Mus. Saya lelah sekali siang itu, Pak Mus memasak mie Instan dan sedikit nasi. Saya hanya makan sedikit mie, entah kenapa saya tidak berselera saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 14.00 kami melanjutkan pendakian ke POS 4 (ereng-ereng atas), Pak Mus sudah memperingatkan kami kalau jalur ini hampir vertical tidak ada bonus dan biasanya dia bisa mencapai POS 4 dalam waktu 3 jam. Saya dan Seto menarik nafas panjang, dan brangkaaaattttt…. Hah..hoh…hah..hoh…</p>
<p style="text-align: justify;">Benar saja yg di bilang Pak Mus, kami disuguhi  jalur menanjak yang makasiiihhh banget. sumpah serapah dan teriakan saya menghiasi langkah kecil kami. Pak Mus sudah jauh di depan, Seto selalu berada d belakang untuk memback up saya.. *gw tau ini sebenernya cuma modus biar bisa banyak istirahat mengatasnamakan solidaritas… Ups.. Piss akh…</p>
<p style="text-align: justify;">Jalur ini sungguh membuat nafas dan jantung saya berkejaran, kalo orang jawa  mah jantung arep pedhot cuk… ditambah lagi langkah kaki yag semakin berat… Ya Tuhan…</p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul 16.00 kami tiba di Ereng-Ereng bawah, Pak Mus telah menunggu kami disini. Tak lama beristirahat kamipun langsung melanjutkan perjalanan ke POS 4 (Ereng-Ereng Atas) karena khawatir kami akan tiba disana saat gelap, apalagi kondisi saya sudah sangat kelelahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, saya tidak bisa mengimbangi langkah Pak Mus. Beliau melesat jauh di depan, sementara saya masih sibuk mengatur nafas yg mulai pendek.</p>
<p style="text-align: justify;">Di tengah jalur Saya dan Seto dimanjakan oleh pemandangan tebing batu yang sangat besar (Big Wall), indah banget… maklum, basic kami adalah pemanjat, jadi kami sangat senang kalau melihat tebing batu. Andai saja tebing batu itu tidak berada di atas ketinggian, pasti sudah menjadi arena pemanjatan yang seru. Cool abis deuh…</p>
<p style="text-align: justify;">“Kiiiiiwww…” teriakan pak Mus membuyarkan khayalan kami, kamipun bergegas melanjutkan pendakian.. fiyuuuhhh….</p>
<p style="text-align: justify;">Hari sudah hampir gelap, pukul 17.15 kami sampai di POS 4 (Ereng-Ereng atas) tubuh saya menggigil dan langsung mendirikan tenda bersama Seto. Dan seperti biasa Pak Mus mencari kayu-kayu kering untuk dibuat perapian.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah tenda berdiri Seto langsung menyuruh saya berganti pakaian dengan yang kering. Setelah berganti pakaian saya langsung membuka kompor untuk membuat kopi. Perapian yang dibuat Pak Mus langsung menyala, itu sangat membantu saya untuk menghangatkan badan. Badan saya sudah tidak menggigil lagi, sayapun langsung memasak nasi, telur dadar, dendeng dan sup ayam untuk makan malam. Kami harus tidur nyenyak malam ini, karena besok kami akan muncak menuju Puncak Sejati.. ya Puncak Sejati….</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rabu, 1 Juni 2011 “Terima kasih Matahari….”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 06.00 saya terbangun menyusul Pak Mus yang sedang memasak air untuk membuat susu coklat. Saya langsung membuka kantung kacang ijo yang terselip di plastik logistic kami. Merebus seperempat kilogram kacang ijo dengan banyak air. Waktu menunjukkan pukul 07.30, OMG… kacang ijonya ngga mateng-mateng… sayapun memutuskan untuk memasak air dan membuat bubur Oat untuk sarapan kami bertiga. Sebenarnya saya tidak suka dengan bubur Oat, Mas Bro Rangga pernag menyarankan saya untuk mencampurnya dengan susu kental manis, saya menyarankan yang sama ke Seto dan Pak Mus..</p>
<p style="text-align: justify;">“Semoga hari ini langit cerah”, doaku pagi itu. Setelah menyiapkan 2 buah tali kernmantle, mengenakan Harness, mengaitkan karabiner, runner dan packing cemilan makan siang kami. Pukul 08.10 kami memulai summit attack, berjalan menuju batas vegetasi dan puncak Raung. Hanya membutuhkan 15 menit untuk mencapai Puncak Raung Kalibaru dari POS 4 (Ereng-Ereng Atas). Di Puncak Raung Kalibaru kami menyiapkan tali kernmantke 25 m untuk moving together atau jalan beriringan dihubungkan dengan tali pada masing masing pengaman harness agar apabila ada anggota tim yang terjatuh, bisa diketahui dan ditahan oleh anggota tim yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami bertiga moving together dengan posisi saya di depan, Pak Mus tengah dan Seto di belakang melewati igir-igir tipis dengan masing-masing sisi adalah jurang yang berkedalaman ratusan meter. Sebelum Puncak 17 kami harus sedikit traverse ke kanan dan kamipun bertemu dengan jalur pemanjatan vertical setinggi 5 meter. Saya langsung memanjat jalur tersebut, sebenarnya jalur pemanjatan tersebut tidak begitu sulit, tapi karena d sebelah kanan bawah saya adalah jurang dengan kedalaman ratusan meter, maka saya harus extra hati-hati. Sampai di atas tebing, sayapun langsung memasang cowstail untuk mengamankan diri dan bersiap mem-belay pemanjat kedua dan ketiga dengan teknik upper belay. Setelah kami semua melewati tebimg tersebut, kami berjalan lagi mendekati Puncak 17 dengan jalur berpasir dengan kemiringan yg cukup membuat jantung berdegup cepat. Tepat dibawah puncak 17, Pak Mus memberitahu start awal pemanjatan. Tali 25m kami gunakan untuk memanjat Puncak 17, saya memanjat pertama dengan di-Belay Seto menggunakan pasak yang tertancap d bawah seutas tali prusik dan runner. Tak ada ketakutan sedikitpun pada saat itu, padahal jika terjatuh saat pemanjatan saya bisa membandul sampai jurang d bawah start awal pemanjatan. Sempat pijakan kaki saya lepas karna menginjak batuan yang ambrol, untunglah pegangan saya pada batuan yang solid, jantung langsung berdetak cepat, sayapun lebih hati-hati memilih pegangan dan pijakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di puncak 17 saya dan Seto berkomunikasi dengan HT pinjaman dari Om Timmy. Karena konon, kalau kami berteriak, maka kabut akan naik. Di Puncak 17 saya langsung memasang cowstail pada beberapa pasak yang tersedia untuk mengamankan diri dan bersiap mem-belay pemanjat selanjutnya yaitu Pak Mus dan Seto dengan teknik upper belay. Setelah semua tim aman di Puncak 17, kami berjalan ke sisi belakang Puncak 17. Pak Mus dengan cekatan membuat pengaman sebagai penambat untuk kami Rapeling menuruni Puncak 17 sepanjang 60 meter. Tali yang kami gunakan hanya sepanjang 50m, dan kami akan menggunakan 2 webbing untuk menyambung tali tersebut. Pak Mus Rapeling pertama, saya kedua dan Seto ketiga menggunakan figure of eight. Jalur Rapeling menuruni Puncak 17 tidak berupa jalur lurus, tapi harus berbelok ke kanan, oleh karena itu kita harus memasang runner pada pasak yang berada d tengah jalur, agar menjaga tali tetap pada tempatnya, tidak bergeser karena angin dan yang lain pada saat kita tinggalkan untuk melanjutkan pendakian. Kabutpun mulai naik, menemani kami… brrrr….</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah semua pemanjat aman, kamipun melanjutkan pendakian melewati punggungan tipis selebar kurang dari satu meter. Di jalur ini kami harus lebih hati-hati, berjalan menyusuri punggungan lalu sedikit belok kanan dan turun sepanjang lima meter dan kembali menyusuri punggungan tipis tepat disamping jurang. Di ujung punggungan terdapat beberapa pasak dan kami harus menuruni jalur turun sedalam 20 meter, disitu kami kembali menggunakan tali 25m untuk Rapeling menuruni tebing tersebut. Saya membuat simpul delapan yang dikaitkan di dua buah pasak dengan menggunakan karabiner dan runner. Pak Mus Rapeling pertama saya kedua dan Seto ketiga menggunakan figure of eight. Setelah semua tim sampai di bawah, kamipun melanjutkan pendakian melipir tebing ke arah kanan dan turun melewati sebuah celah yang merupakan penghubung jalur. Setelah melewati celah ini kami dihadapkan pada hamparan batuan yang mudah ambrol yang berada tepat di bawah Puncak Tusuk Gigi. Kami terus berjalan mendaki menuju Puncak Tusuk Gigi, Pak Mus berada jauh di atas kami, berteman kabut tebal kami terus berjalan. Tepat di bawah batuan besar yang berdiri berbentuk seperti tusuk gigi, saya melihat sebuah lorong dan ternyata dari situ bisa tembus ke Puncak Tusuk Gigi. Pak Mus yang telah terlebih dahulu sampai di Puncak Tusuk Gigi kaget karena saya tiba-tiba muncul di sisi kanannya. “lho kamu kok ada disitu Chit?” katanya, “aku lewat situ pak, ada lubang tembus, jadi tidak perlu repot-repot memanjat batu besar di Puncak Tusuk Gigi.. heheee” kataku sembari nyengir…</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Puncak Tusuk Gigi kami berjalan ke kanan dan memanjat jalur setinggi 2 meter. Nah, dari balik tebing itu kami tinggal berjalan menuju Puncak Sejati Gunung Raung. Akhirnya pada pukul 12.00 kami bertiga berhasil menjejakkan kaki di PUNCAK SEJATI GUNUNG RAUNG 3344mdpl… yeeeaaahhhhh&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sayang sekali Plat yang bertuliskan Puncak sejati 3344mdpl milik tim perintis PATAGA Surabaya sudah tidak berada di tempatnya. Seto telah mengetahui hal tersebut, karena itu dia membawa ROKOK SEJATI untuk difoto dan kami hisap bersama-sama di Puncak Sejati… hahahaha… gw suka gaya loe Brow…</p>
<p style="text-align: justify;">Selebrasi pencapaian terbaik saya dengan sebatang Coklat Almond.. makasih bgt… <img src='http://jejakpetualang.org/jp/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Sempat juga menelpon Boim Akar, untuk mengabarkan bahwa kami telah berhasil mencapai Puncak Sejati. <img src='http://jejakpetualang.org/jp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 13.00 kami memutuskan untuk turun, Karena rencana awal, jika kami bisa mencapai POS 4 (Ereng-Ereng Atas) pada jam 15.00 kami akan langsung packing dan turun sampai Puncak Wates dan bermalam disana supaya besok bisa lebih santai untuk turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Menuruni Puncak Sejati kami dihadapkan pada kabut tebal yang membawa bulir-bulir air, menyebabkan batuan disekitar puncak menjadi basah dan licin. Dibawah Puncak Tusuk Gigi jarak pandang kami hanya sekitar 5 meter. Kami terus menuruni Puncak Tusuk Gigi dengan perlahan karena licin dan labilnya hamparanatuan yang kami injak. Kabut semakin tebal dan kamipun kehilangan arah, karena kabut tebal saya hanya bisa melihat ikat kepala Pak Mus yang berwarna merah yang bergerak mencari jalur menuju Puncak 17. Saya baru sadar ternyata jalur yang kami lalui pada saat naik tadi sangat berbahaya. Sekarang jurang-jurang itu ada di hadapan saya, belum lagi batuan yang mudah ambrol apabila terinjak.. Ya Allah…</p>
<p style="text-align: justify;">“Braakkkk….!!! “ Seto menginjak batu sebesar kepala dan batu itu menggelinding ke arah Pak Mus yang berada di bawah, saya reflek berteriak kepada Pak Mus untuk menghindar, untung pak mus langsung berlindung di balik batu besar disampingnya. Alhamdulillah Ya Allah..</p>
<p style="text-align: justify;">Pergelangan kaki Seto sempat berdarah karena tergelincir saat kejadian itu. Mulai saat itu kami pun berjalan dengan sangat hati-hati dan agak terpencar, tidak dalam satu garis lurus.</p>
<p style="text-align: justify;">Matahari mulai nampak, kabut mulai menghilang sedikit demi sedikit, puncak 17 semakin terlihat jelas dan kamipun menemukan jalur menuju Puncak 17, kami bergegas menaiki tebing terakhir dengan teknik prusiking, Prusiking adalah teknik menambah ketinggian dengan bantuan tali prusik yang di simpulkan (simpul prusik) ke tali kernmantle, yang apabila tali prusik ini terbebani maka tali tersebut akan mengunci sehingga beban tetap tertahan dan tidak terjatuh.Saya naik pertama disusul Pak Mus, dan Seto naik dengan teknik upper belay sekaligus sebagai cleaner jalur.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibawah Puncak 17 Pak Mus mengeluhkan sakit di kepalanya, lalu saya menyuruh Pak Mus untuk naik duluan ke Puncak 17 dengan teknik prusiking sambil menunggu Seto datang merapihkan tali dan alat-alat. Setelah Pak Mus sampai di Puncak 17 saya menyusul, dan Seto naik dengan teknik upper belay sambil clean jalur. Saat di Puncak 17 Pak Mus masih saja mengeluhkan sakit dikepalanya dan dia ingin cepat cepat sampai POS 4 (Ereng-Ereng Atas), lalu saya membiarkan dia untuk turun dari Puncak 17 duluan dengan teknik rapeling double rope, disusul saya dan Seto.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat saya sampai bawah Puncak 17 ternyata Pak Mus berjalan duluan melewati igir-igir menuju Puncak Raung. Masalah pun terjadi saat kami ingin menarik tali kernmantle yang membawa kami menuruni Puncak 17. “Tali ngga bisa di tarik…!!!” damn…</p>
<p style="text-align: justify;">Saya dan Seto memutar otak, tadinya Seto akan melakukan climb down, tapi resikonya terlalu besar apabila terjatuh. Akhirnya saya menyarankan untuk meninggalkan webbing diatas sebagai penambat, dengan harapan tali pada webbing akan lebih mudah di tarik daripada tali disematkan langsung pada pasak. Seto pun naik lagi ke puncak 17 dengan teknik Prusiking, sampai di atas kami berkomunikasi lewat HT. Perasaan tidak karuan menyerang, khawatir dengan keadaan Pak Mus yang berjalan sendiri dan Seto yang masih ada diatas Puncak 17. Seto pun turun dengan meninggalkan webbing sebagai pengaman, meski masih ada perasaan takut talinya tidak bisa ditarik… Saya mulai menarik tali tersebut, Anjrittt beraatttt… jangan-jangan ngga bisa di tarik lagih…</p>
<p style="text-align: justify;">Saya tarik berdua dengan Seto, Alhamdulillah talinya bisa di tarik… Kamipun mengeluarkan seluruh sisa tenaga kami untuk menarik tali tersebut. Membereskan alat dan langsung berjalan menuju Puncak Raung Kalibaru untuk menyusul Pak Mus.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai di batas vegetasi hampir gelap, saya menghentikan langkah Seto untuk masuk hutan.. “gw pengen nikmatin Sunset dulu To, kapan lagi kita kesini…” sambil mengeluarkan kamera, kuabadikan setiap momen sunset dan setiap sudut pemandangan dari Puncak Raung Kalibaru. Di sebelah barat, semburat keemasan berada tepat di atas gugusan pegunungan hyang Argopuro, dengan hamparan awan yang melayang-layang disekelilingnya. Ditimur terdapat punggungan batuan pasir Gunung Raung dengan guratan merah muda pada langit biru  di atasnya semakin menambah cantik pemandangan sore itu…</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah agak puas dan mulai gelap, kamipun bergegas kembali ke POS 4 (Ereng-Ereng Atas). But DAMN.. “Jalurmya yang mana yak…?” OMG kami lupa jalur menuju POS 4, ada tanda TWKM pada sebuah pohon cantigi, kamipun memasuki jalur tersebut tapi kok beda dengan jalur tadi kami berangkat. Merasa tidak yakin kami balik lagi ke titik awal batas vegetasi, sambil berteriak memanggil-manggil Pak Mus.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah berteriak-teriak akhirnya Pak Mus membalas teriakan kami, kami langsung mencari sumber suara Pak Mus, Syukurlah kami dapat menemukan POS 4, kejadian tadi bener-bener shock terapi yg cukup membuat keringat dingin untuk saya.. whooosssaaahhhhh…..</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 06.10 Saya dan Seto sampai di POS 4, Pak Mus masih berada di Sleeping bag dengan tubuh kedinginan. Sementara Seto membereskan alat dan Pak Mus beristirahat, saya membuat minuman hangat dan memasak makan malam untuk kami bertiga. Menu makan malam kita adalah Nasi, telur dan kornet tumis mentega ala Chef Uchit Cuiittt.. mmmhhh yummy…</p>
<p style="text-align: justify;">Sehabis makan dan minum obat, tak lama Pak Mus kelihatan sehat dan beliaupun langsung membuat perapian untuk menghangatkan tubuh-tubuh kami yang mulai kedinginan. Mantaapp..</p>
<p style="text-align: justify;">Seto langsung tidur, sedangkan saya dan Pak Mus masih berbincang di depan perapian, berbincang tentang keluarga besarnya, pekerjaannya sebagai petani kopi dan pengalaman mengantar tamu-tamunya menjejakkan kaki ke Puncak Sejati Gunung Raung. Saya hanya mendengarkan, bertanya sesekali, sambil meminum kopi hitam kami. Memandang langit cerah yang bertabur bintang banyak sekali, malam itu tak seperti malam-malam sebelumnya, seolah langitpun merayakan keberhasilan kami menggapai Puncak Sejati, tetapi pikiran saya sedang tidak disini… andai bukan Pak Mus yang duduk disamping saya…. aahhh…</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>Oh, bukankah kupernah melihat bintang</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>senyum menghiasi sang malam</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>yang berkilau bagai permata</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>menghibur yang lelah jiwanya….</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>menghibur yang sedih hatinya….</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center">Sang Penghibur by Padi</p>
<p style="text-align: justify;">Semua kayu telah menjadi arang, apipun mengecil.. Saya dan Pak Mus bergegas tidur mengumpulkan tenaga karena perjalanan kami masih panjang esok hari…</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kamis, 2 Juni 2011 “Terima kasih Bintang….”</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 05.30 saya terbangun dan langsung memasak sisa logistic kami, nasi putih, ikan sarden, dan telur dadar. Setelah sarapan, kami packing untuk turun ke Dusun Wonorejo. Pukul 08.30 kami mulai berjalan turun, melalui jalur dengan turunan curam dan tanaman-tanaman yang kurang bersahabat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sempat bertemu dengan 3 orang pendaki dari UPN Jogja dengan seorang porternya Mas Sumardi/bendot di atas Camp Cemara.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami makan siang di Camp Qisyute, karna saya sudah drop, Pak Mus menggantikan posisi saya untuk masak. Setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan turun dan sampai di POS 1 (Pondok Pak Sunarya) pukul 15.00 tepat. Alhamdulillah…</p>
<p style="text-align: justify;">Membuat segelas kopi dan meminumnya bersama-sama, sambil menunggu ojek-ojek kami datang menjemput.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>-End-</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih untuk Sang Pencipta kami, orang tua kami, sahabat-sahabat kami…</p>
<p style="text-align: justify;">Pencapaian ini untuk kalian….</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Uchit d’climber &amp; Seto Yohanes</strong></p>
<p><strong>Biaya – biaya:</strong></p>
<p>1.       Kereta gaya baru malam Ps. Senen 12.30 – Gubeng SBY 03.05  = 34000</p>
<p>2.       Kereta comuter Gubeng 04.15 – St Waru 04.35  =   2000</p>
<p>3.       Bus ekonomi SBY – term. Jember  = 28000</p>
<p>4.       Bus ekonomi term. Jember – Kalibaru  = 10000</p>
<p>5.       Ojek Kalibaru – Rumah Pak Mus = 15000</p>
<p>6.       Ojek rumah Pak Mus – POS 1 (pondok Pak Sunarya) = 25000</p>
<p>7.       PORTER per hari   =100000</p>
<p>8.       Kereta Sri tanjung Kalibaru 07.20 – Gubeng SBY 14.00 = 24000</p>
<p>9.       Kereta Kertajaya Ps. Turi 15.30 – Ps. Senen 05.30 = 43500</p>
<div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Big-wall.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-509" title="SONY DSC" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Big-wall.jpg" alt="" width="540" height="800" /></a></div>
</div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Pak-Mus.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-515" title="SONY DSC" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Pak-Mus.jpg" alt="" width="800" height="538" /></a></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/rapeling.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-516" title="SONY DSC" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/rapeling.jpg" alt="" width="540" height="800" /></a></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Seto-on-Sejati.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-517" title="SONY DSC" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Seto-on-Sejati.jpg" alt="" width="800" height="538" /></a></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Seto.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-518" title="SONY DSC" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Seto.jpg" alt="" width="800" height="538" /></a></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/seto-climb.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-520" title="seto-climb" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/seto-climb.jpg" alt="" width="540" height="800" /></a></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"></div>
<div data-tooltip="Hide expanded content"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Jalur-Kalibaru.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-519" title="Jalur-Kalibaru" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/03/Jalur-Kalibaru.jpg" alt="" width="419" height="617" /></a></div>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #888888;">======================<br />
BlackCoffeetography&#8230;.<br />
======================</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=508</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Uji Nyali di Lawang Sewu</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=497</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=497#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 05:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[catper]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[
Semarang sebagai salah satu tempat tujuan mudik menyimpan banyak tempat wisata. Baik wisata kuliner, wisata alam maupun wisata sejarah. Salah satu tempat yang sempat kami kunjungi pada saat mudik ke Semarang kemarin adalah Gedung Lawang Sewu. Ketika kami mendatangi Lawang Sewu menjelang tengah malam, cukup ramai pengunjung yang masih berada disana. Jika ada yang mengira syuting film fenomenal Ayat-ayat cinta dilakukan seluruhnya di Mesir, berarti tertipu. Karena hampir sebagian besar syuting film tersebut dilaksanakan digedung ini. Misalnya tangga tempat Fahry diadili, kamar rumah sakit tempat maria dirawat, jembatan tempat Maria ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Semarang sebagai salah satu tempat tujuan mudik menyimpan banyak tempat wisata. Baik wisata kuliner, wisata alam maupun wisata sejarah. Salah satu tempat yang sempat kami kunjungi pada saat mudik ke Semarang kemarin adalah Gedung Lawang Sewu. Ketika kami mendatangi Lawang Sewu menjelang tengah malam, cukup ramai pengunjung yang masih berada disana. Jika ada yang mengira syuting film fenomenal Ayat-ayat cinta dilakukan seluruhnya di Mesir, berarti tertipu. Karena hampir sebagian besar syuting film tersebut dilaksanakan digedung ini. Misalnya tangga tempat Fahry diadili, kamar rumah sakit tempat maria dirawat, jembatan tempat Maria dan Fahry membicarakan mengenai sungai nil, serta kamar tempat tinggal Fahry semua dilakukan di gedung ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Lawang sewu merupakan gedung tua di pusat kota Semarang. Dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1903 dan selesai dibangun serta diresmikan penggunaannya pada 1 Juli 1907. Gedung megah bergaya art deco hasil karya 2 arsitek ternama Belanda saat itu yaitu : Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Queendag. Pada masa pendudukan Belanda, gedung tersebut digunakan sebagai kantor dari NIS atau Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau kantor pusat sebuah perusahaan kereta api (trem) milik Belanda. Pada jaman penjajahan Jepang, gedung tersebut digunakan sebagai markas dan tempat penyiksaan tawanan. Setelah masa kemerdekaan gedung itu dipakai sebagai kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Selain itu pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam) IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Perhubungan Jawa Tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Gedung tersebut dikenal masyarakat dengan nama Lawang Sewu dikarenakan memiliki banyak pintu. Lawang berarti pintu, Sewu berarti seribu. Berlokasi di depan monument Tugu Muda Semarang. Gerbang utama gedung diapit oleh dua menara kembar di sisi kiri dan kanannya. Fungsi kedua menara kembar adalah sebagai tempat penyimpanan air. Di atas menara tersebut, bertengger bak penampungan air yang sangat besar. Di depan di dekat pagar masuk, terdapat sumur air dengan kedalaman sekitar 900 meter. Tujuan diletakkan sumur air di depan gedung adalah untuk memaksimalkan penjagaan terhadap sumur air. Kamar mandi atau toilet hanya berjumlah 6 buah, berada di luar gedung. Alasan dipisahnya bangunan toilet dan bangunan kantor mungkin dikarenakan alasan kesehatan. Tak banyak ruangan yang dimasuki di lantai 1. Di lantai 2, terdapat ruang-ruang yang dulunya dijadikan kantor. Jika dilihat dari ruangan paling ujung, terlihat bahwa ruangan-ruangan itu mirip dengan gerbong-gerbong kereta api. Mungkin karena pada awalnya digunakan sebagai kantor pusat kereta api sehingga ruangannya pun disesuaikan. Selain itu terdapat pula sebuah ruangan besar yang pada jaman dulu digunakan sebagai ruang dansa, atau tempat pertemuan.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1q.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-500" title="Untitled-1q" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1q.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di lantai paling atas terdapat sebuah ruangan besar yang berada tepat di bawah atap. Seperti pada umumnya bangunan eropa, ruangan tersebut difungsikan oleh Belanda sebagai gudang, ruangan penyimpanan barang-barang. Namun pada saat dikuasai oleh Jepang, ruang tersebut dialih fungsikan menjadi ruangan penyiksaan. Karena atapnya yang rendah sehingga banyak kuda-kuda yang terbuat dari besi yang bisa digunakan untuk menggantung tawanan sambil disiksa.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1w.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-501" title="Untitled-1w" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1w.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di samping ruangan terdapat tangga besi melingkar, disebut tangga titanic. Menurut penuturan guide yang menemani kami berkeliling, tangga tersebut digunakan untuk menurunkan tawanan yang telah menjadi mayat.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-13.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-502" title="Untitled-13" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-13.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah puas mengelilingi gedung lawang sewu, tujuan terakhir dari tur ini adalah ruang bawah tanah. Untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah, pengunjung harus menggunakan sepatu boot dan membawa senter. Sepatu boot dibutuhkan karena ada beberapa tempat yang digenangi air, sedangkan senter digunakan untuk menerangi jalan karena di dalam ruang bawah tanah tidak terdapat penerangan. Tujuan awal dibangunnya ruang bawah tanah adalah sebagai tempat penampungan air apabila Semarang diguyur hujan deras dan terdapat ancaman banjir besar. Sehingga terdapat bak-bak kecil dan pipa-pipa besi. Pipa besi digunakan untuk menyalurkan uap air dingin yang berasal dari bak-bak penampungan air tersebut ke seluruh ruangan gedung lawang sewu. Sebelum ada alat pendingin ruangan, Belanda telah menggunakan uap air dingin untuk mendinginkan ruangan. Namun pada masa penjajahan Jepang, ruang bawah tanah dialihfungsikan menjadi ruang penyiksaan tawanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan masuk ke ruang bawah tanah berupa pintu kecil dengan tangga sekitar 10 anak tangga. Begitu menginjakkan kaki di ruang bawah tanah, kita akan menghadapi sebuah lorong panjang dengan lebar sekitar 1,5 meter dan tinggi 2 meter. Itu biasa dikenal dengan lorong pertama. Setelah melewati pintu pertama, di sebelah kanan terdapat ruangan besar dengan kotak-kotak kecil menyerupai bak air. Bak-bak air berukuran sekitar 1,5 x1,5 meter dengan tinggi sekitar 0,5 m digunakan sebagai penjara jongkok. 5 – 9 orang tawanan dimasukkan ke dalam bak tersebut, sedangkan di atasnya dipasang terali besi yang dikunci, sehingga para tawanan tersebut tidak bisa berdiri dan hanya bisa berjongkok. Setelah itu para tawanan tersebut direndam dengan air setinggi leher dan didiamkan berhari-hari. Tujuannya adalah agar para tawanan tersebut meninggal dunia. Apabila masih ada tawanan yang bertahan, maka tawanan tersebut dipindahkan ke ruang penampungan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1e.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-503" title="Untitled-1e" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1e.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di ujung lorong pertama di sebelah kanan terdapat tembok dengan bayangan rembesan air. Rembesan air tersebut membentuk sosok tubuh yang mirip dengan sosok noni Belanda yang muncul dalam acara uji nyali yang diadakan oleh salah satu televisi swasta. Namun di ujung lorong tersebut kita berbelok ke sebelah kiri menuju lorong ke dua. Untuk masuk ke lorong kedua kita harus melewati semacam jendela kecil. Di lorong kedua itu terdapat 1 ruangan yang digunakan para penjaga untuk mandi dan keluar dari ruangan menuju lantai atas apabila air menggenangi lorong tersebut. Tujuan digenanginya lorong tersebut dengan air adalah untuk merendam ruangan penampungan yang berisi tawanan yang belum meninggal. Setelah beberapa hari penjaga akan turun kembali ke bawah untuk memeriksa, apakah seluruh tahanan telah meninggal. Di samping tempat mandi, terdapat ruang pemenggalan kepala. Bagi tawanan yang masih belum juga meninggal akan dipenggal di ruangan tersebut. Semacam ruangan dengan 2 bak di sisi kiri kanannya. Di tengah-tengah terdapat patok-patok besi yang dulunya adalah tempat kaki meja tempat pemenggalan. Pemenggalan dilakukan dengan menggunakan samurai. Setelah meninggal, mayat diletakkan di bak sebelah kiri yang berisi pasir. Pasir tersebut berguna untuk menyerap darah jenazah. Setelah kering dipindahkan ke bak yang sebelah kanan. Di dinding kanan bak terdapat seperti lubang kecil yang berfungsi sebagai jalan dikeluarkannya jenazah tersebut. Setelah itu jenazah akan di bawa dan dibuang ke kali yang berada di samping lawang sewu untuk kemudian hanyut menuju laut. Pada masa itu, kali selalu berwarna merah, dikarenakan banyaknya mayat dari lawang sewu yang dibuang kesana.</p>
<p style="text-align: justify;">Diantara lorong 1 dan 2 terdapat ruangan yang ditembok rapat sekelilingnya. Menurut penuturan pemandu kami, pada saat terjadi pertempuran semarang 5 hari pada 14 &#8211; 19 Agustus 1945, para tentara Jepang tidak bisa membuang mayat para tawanan, sehingga akhirnya memutuskan untuk membuang ke dalam ruangan tersebut dan ditutup rapat agak tidak diketahui keberadaannya. Dari lorong ke 2, kami menuju ke lorong ke 3. di lorong ke 3 di sisi kiri terdapat penjara jongkok yang telah kami lihat sebelumnya, di sebelah kanan terdapat penjara berdiri. Penjara berdiri dibuat karena penjara jongkok pada saat itu sudah dipenuhi oleh tawanan. Penjara berdiri berupa kamar berukuran 1 x 1 meter dengan tinggi sekitar 2 meter. Dalam ruangan tersebut diisi sekitar 5 – 6 orang tawanan setelah sebelumnya disiksa. Dalam kondisi berdesakkan seperti itu, tawanan akan dibiarkan meninggal. Begitu pun jika ada tawanan yang belum meninggal maka akan dipindahkan ke ruang penampungan. Di lorong ketiga terdapat juga pintu rahasia untuk membuang mayat. Pada awalnya pintu itu digunakan untuk memasukkan air hujan ke dalam ruangan. Apabila pintu besi ruangan tersebut ditutup, dari luar hanya tampak seperti bak sampah begitu pun dari dalam, hanya tampak seperti pintu tempat pembuangan sampah. Di ujung lorong ketiga terdapat dinding dengan rembesan air.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-504" title="Untitled-1" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Untitled-1.jpg" alt="" width="600" height="398" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Gedung Lawang Sewu sempat menjadi salah satu lokasi uji nyali yang diadakan oleh salah satu televisi swasta. Pada episode lawang sewu tersebut terjadi penampakan seorang noni Belanda. Sang pelaku uji nyali tersebut sempat koma selama 3 hari setelah kejadian tersebut dan dirawat di rumah sakit. Menurut cerita pemandu kami, sang noni terus mengikuti pria tersebut hingga di rumah sakit. Di akhir perjalanan kami mencoba melakukan uji nyali dengan duduk di lorong pertama, tempat dilakukannya uji nyali waktu itu. Seluruh senter kami matikan, dan duduk berdiam diri selama kurang lebih 5 menit. Namun tidak terjadi hal yang aneh-aneh, mungkin saat itu noninya lagi mudik ke Belanda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=497</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedai Cak Mis&#8230; Mangan &#8220;Pisuhan&#8221; wareg cuk!!</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=490</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=490#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 15:06:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[nogkrong asik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=490</guid>
		<description><![CDATA[

ada Krisdayanti, cucak rowo, keong racun dan kepala pusing..

Bagi Backpacker, tak afdol rasanya jika main ke kota Surabaya tanpa mampir ke kedai kaki lima ini. Sebuah warung kaki lima akan sangat identik dengan dunia jalanan versi rakyat kelas ekonomi. Apalagi jika kaki lima itu berada di kota Surabaya yang yang kental dengan grammar “pisuhan” cak cuk-nya. Bagi saya yang asli Jawa Tengah tentunya akan merasa asing dengan bahasa-bahasa yang selalu bersliweran ditelinga kota ini. 9 tahun hidup dikota Surabaya tapi hati ini belum sreg utuk ikut ikutan menggunakan kosakata itu.
Contohnya:

Djancuk&#8230;!
Jangkrik&#8230;!
Ndasmu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div style="text-align: justify;"><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/hs054.ash2/36064_1503130693833_1101198037_31405897_6604741_n.jpg" alt="" /></div>
<div style="text-align: justify;">ada Krisdayanti, cucak rowo, keong racun dan kepala pusing..</div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Bagi Backpacker, tak afdol rasanya jika main ke kota Surabaya tanpa mampir ke kedai kaki lima ini. Sebuah warung kaki lima akan sangat identik dengan dunia jalanan versi rakyat kelas ekonomi. Apalagi jika kaki lima itu berada di kota Surabaya yang yang kental dengan grammar “pisuhan” cak cuk-nya. Bagi saya yang asli Jawa Tengah tentunya akan merasa asing dengan bahasa-bahasa yang selalu bersliweran ditelinga kota ini. 9 tahun hidup dikota Surabaya tapi hati ini belum sreg utuk ikut ikutan menggunakan kosakata itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya:<em><br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Djancuk&#8230;!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jangkrik&#8230;!</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ndasmu Pecah&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mbokmu ancuk (Mother Fucker)</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>dkk</em></p>
<div style="text-align: justify;">
<div><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/69120_1503129133794_1101198037_31405893_5022756_n.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-491" title="69120_1503129133794_1101198037_31405893_5022756_n" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/69120_1503129133794_1101198037_31405893_5022756_n.jpg" alt="" width="350" height="467" /></a></div>
<div>bu Tika ngitung bathi sak trek&#8230;</div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Nah bagi anda yang belum pernah mendengarkan Pisuhan versi kaki lima Jawa Timuran, saya sarankan untuk mengunjungi warung kaki lima di jalan Bintoro ini. Lokasi sangat mudah dicapai karena dekat dengan jalan raya Darmo, jalan utama menuju tengah kota Surabaya. Pemiliknya adalah Cak Mis, yang dibatu oleh Ibu Tika sebagai Manager Marketing dan Pak Bowo sebagai bartender alias peracik minuman handal.  Tidak ada yang istimewa dengan barang dagangan yang sebagian besar berupa gorengan atau jajanan pasar. Tapi yang menjadikanya unik dan istimewa adalah nama-nama yang diberikan untuk setiap makanan yang ada disana.</p>
<p style="text-align: justify;">“Cak aku njaluk <em>sembakone</em>” (Bang saya minta nasi bungkusnya) pelanggan yang baru datang meminta sebungkus nasi.</p>
<p style="text-align: justify;">“ iwak opo cak?, kering bali daging opo kering bali telor” (Lauk apa mas? Orek + Daging sayur Bali atau Telor sayur Bali) pelayanan pertama. “digondol mulih opo diciak kene?” (dibawa pulang atau dimakan sini?) lanjutanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Lapangan</em>e wes ono opo durung, ngawe <em>sekrop</em> opo <em>kolam renang</em>” (Piringnya sudah apa belum?, pake sendok atau pake cuci tangan)</p>
<p style="text-align: justify;">“Ngumbe opo? <em>Mbok Nom</em>, opo <em>estewe</em>” (Minumnya apa? Sinom atau esteh)</p>
<div style="text-align: justify;">
<div><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs264.snc4/39524_1503129533804_1101198037_31405894_2586315_n.jpg" alt="" /></div>
<div>wisatawan jepang dan Luken</div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Itulah introduce yang sering dilakukan antara pembeli dan penjual, bagi yang belum pernah kesana tentu akan bingung dengan  nama-nama yang digunakan. Apalagi mau makan bukanya dikasih sendok malah dikasih sekrop, belum lagi dikasih kolam renang…. Behh..</p>
<p style="text-align: justify;">Tentunya pisuhan diantara mereka bertiga sahut menyahut saling meramaikan tanpa tedeng aling aling, yang menambah kebersamaan diantara kehidupan rakyat. Dan tentunya menambah kenikmatan jajanan versi kaki lima ini. Buka mulai siang hari menjelang sore hingga tengah malam. Saking larisnya sekitar jam 8 malam sembako yang dijual sudah dipastikan akan <em>amblas</em> dinikmati.  Bukan hanya orang-orang jalanan yang menikmati menu makanan disini, bahkan sebagian rakyat kelas menengah atas atas pun ikut menikmatinya, tentunya Tanpa undang-undang yang mengaruskan mereka membeli Pertamax <img src='http://jejakpetualang.org/jp/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mempermudah jika anda berkunjung kesana, mari saya sebutkan beberapa istilah untuk makanan yang ada disana beserta nama keren yang diciptakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sembako</strong> : Nasi bungkus (dibungkus dengan daun pisang)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lapangan</strong> : piring yang terbuat dari logam. Biar awet gak mudah pecah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekrop</strong> : sendok</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kolam renang</strong> : kobokan, air untuk cuci tangan (bukan untuk diminum !!! hahaha&#8230;)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>lap Lambe</strong> : tisu (pembersih mulut)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Wong mlarat</strong> : Bakwan (dalam jawatimuran = ote-ote, ote-ote diartikan juga dengan tanpa baju, jadi karena tanpa mengenakan baju maka disebut wong mlarat = miskin)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Krisdayanti </strong>: sate usus yang dikasih bumbu bali(mirip rambut kritingnya Krisdayanti)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keong racung</strong> : sate keong mas</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cucak Rowo</strong> : sate Telor Puyuh</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Udang dibalik batu</strong> : sate udang</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kulit landak</strong> : sate kulit ayam yang digoreng kering</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cah elek</strong> : sate cecek (kikil)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Usus mbulet</strong> : sate usus yang goreng</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kepala pusing</strong> : kepala ayam</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pakan Doro</strong> : dadar jagung (makanan burung dara)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lonte</strong> : lento, makanan yang biasa dicampurkan pada lontong balap terbuat dari kacangan</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tahu isi</strong> : tahu isi, tahu brontak</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Martabak India</strong> : Martabak Telor</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Guling</strong> : Lumpia</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Spring bed </strong>: Pastel</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Damp Trek</strong> : Molen (Dump Truk, molen: mesing penggiling semen)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Risoles</strong> : ?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bantal</strong> : Roti goreng</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Lumpur Lapindo</strong> : kue puding bubur sumsum</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mbok nom</strong> = Sinom (sak gallon = sinom satu botol aqua besar)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Estewe</strong> = Es the</p>
<p style="text-align: justify;">..dan  lagi sebuah nama yang tidak kalah kontrofersialnya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kopi Ngac*ng (maaf!)</strong> = kopi Ginseng CNI</p>
<p style="text-align: justify;">dan dulu ada menu yang tidak kalah uniknya&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Larangane Gusdur</strong> : didih (darah ayam, karena Haram sudah tidak dijual lagi)</p>
<div style="text-align: justify;">
<div><img src="http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs909.snc4/72208_1503130013816_1101198037_31405895_2432004_n.jpg" alt="" /></div>
<div>Cak Mis, Bu Tika dan Pak Bowo</div>
</div>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah kosakata yang wajib diapalkan jika ingin berkunjung ke Warung cak Mis&#8230;kalo nggak apal juga nggak apa ding, dijamin wareg ngekek&#8230; Masih ada beberapa jenis makanan yang belum sepenuhnya saya hapalkan, Nanti jika ada kesempatan kesana lagi coba mengumpulkan materi lain untuk mengupdate tulisan ini. jangan dikira meskipun hanya berjualan kaki lima dengan satu grobak ala kadarnya Cak Mis, Bu Tika dan Pak Bowo pernah beberapa kali saya melihatnya di SBO TV dan TRANS TV&#8230; wow!!</p>
<p style="text-align: justify;">“Bu Tika aku wis mari, mangan sembako sitok, ngombene Mbok Nom karo Estewe, Krisdayanti, Guling, Martabak India, Lumpur Lapindo…. Kabeh piro”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sembako..mbok nom estewe…. Jajan… kabeh Rp13,500,” bu Tika menghitung dengan kalkulator bakul berasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Suwun bu”</p>
<p style="text-align: justify;">“<strong>Matur Kebacut</strong>” Cak Mis menjawab kalimat penutupnya</p>
<p style="text-align: justify;">-hans-</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.trihans.com/" rel="nofollow" target="_blank">www.trihans.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=490</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diving di Pulau Rubiah &#8211; Aceh &#8230;My First Diving</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=461</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=461#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 14:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[diving]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[ 
“Rugi loe ke Aceh nggak nyobain diving” ucapan seorang teman terngiang-ngiang ketika bangun pagi itu, di suatu tempat di ujung barat Indonesia. Matahari belum sempurna menampakkan tubuhnya, tapi saya dan 2 orang teman sudah bersiap-siap untuk main air pagi itu. Pemandangan dari depan kamar berupa laut yang terlihat jernih hingga ikan-ikan pun terlihat wara-wiri di bawah sana membuat keinginan untuk ‘nyemplung’ semakin kuat.
Rubiah Tirta Diver, operator menyelam yang ada di Iboih masih tertutup rapat ketika kami lewat, ketika kami bertanya kepada seorang pria yang tengah menyapu halaman, ternyata mereka baru ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"> <a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0834-11.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-477" title="IMGP0834-(1)" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0834-11.jpg" alt="" width="450" height="600" /></a><br />
“Rugi loe ke Aceh nggak nyobain diving” ucapan seorang teman terngiang-ngiang ketika bangun pagi itu, di suatu tempat di ujung barat Indonesia. Matahari belum sempurna menampakkan tubuhnya, tapi saya dan 2 orang teman sudah bersiap-siap untuk main air pagi itu. Pemandangan dari depan kamar berupa laut yang terlihat jernih hingga ikan-ikan pun terlihat wara-wiri di bawah sana membuat keinginan untuk ‘nyemplung’ semakin kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rubiah Tirta Diver, operator menyelam yang ada di Iboih masih tertutup rapat ketika kami lewat, ketika kami bertanya kepada seorang pria yang tengah menyapu halaman, ternyata mereka baru buka jam 9. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari sarapan dan setelah itu bermain-main air saja di pantai tepat di depan kantor mereka. Walaupun pantai, tetapi pemandangan bawah lautnya sudah mampu membuat kami berkali-kali berseru wow (dalam hati tentunya karena mulut kami tersumpal snorkle).</p>
<p style="text-align: justify;">Ikan-ikan berwarna biru, kuning, bulu babi di bawah karang, ikan hijau berseliweran di depan mata kami, berhubung kami baru, kami tidak tahu nama dan jenis ikan-ikan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0916.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-478" title="IMGP0916" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0916.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Sekitar pukul ½ 10, seseorang dari kantor operator memanggil dan mengatakan instruktur yang bisa menemani kami untuk menyelam sudah datang. Di sana kami diminta untuk mengisi formulir dan beberapa pertanyaan terkait kesehatan kami, oh iya, ini adalah kali pertama kami untuk diving. Setelah mengisi formulir dan menandatangani pernyataan, mulailah instruktur tersebut memberi beberapa penjelasan mengenai diving. Apa itu diving, bagaimana cara diving, apa yang harus kami lakukan di bawah sana, apa yang tidak boleh dilakukan, alat-alat yang digunakan, bagaimana cara bernafas dengan alat, kode-kode isyarat, dan hal-hal semacam itu. Setelah menjelaskan dan menjawab pertanyaan dari kami, mas Isfan – sang instruktur mengajak kami ke samping kantor. Disana sudah tersedia semacam rompi yang namanya BCD dan tabung. Dengan panduan dari dia, kami mulai memasang tabung di BCD, lalu memasang pipa ke tabung, dan mencoba menggunakan BCD. Setelah selesai, kami diberikan baju selam, fin atau kaki katak, pemberat dan masker. Setelah lengkap, mulailah kami memasang semua perlengkapan tersebut dengan urutan, baju selam, pemberat, BCD dan tabungnya, masker, dan sambil menenteng fin kami berjalan tertatih-tatih menahan beratnya tabung menuju pantai untuk belajar menyelam.</p>
<p style="text-align: justify;"> <a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0947.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-479" title="IMGP0947" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0947.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Di air, beban berat tabung dan pemberat menjadi tak terasa, mulailah kami belajar untuk tenggelam, dan ternyata tak segampang itu rupanya kami tenggelam. Saya saja sampai 3 kali ditambah pemberat karena setiap kali terangkat lagi ke atas. Setelah itu, mulailah kami diajak berenang mengitari daerah sekitar pantai, ketika di satu titik saya melihat rombongan ikan hijau dengan berbagai ukuran, huaaaah kamera gak di tangan, akhirnya hanya bisa tiduran di dasar laut sambil bertopang dagu memandangi mereka berenang-renang, memotret dengan mata dan merekamnya dalam otak. Sekitar ½ jam kami membiasakan diri di dasar laut, belajar menyesuaikan tekanan di telinga, belajar membersihkan masker yang buram, kami kembali naik ke permukaan dan memuat alat-alat tersebut ke atas kapal, dan dipersilahkan untuk makan siang dahulu sebelum memulai penyelaman yang sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;"> <a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0962.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-480" title="IMGP0962" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP0962.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah shalat dan makan siang, saya dan rombongan kembali ke pantai dan menuju kapal yang telah disiapkan tadi. Dengan kapal kami menuju Pulau Rubiah yang berjarak hanya sekian ratus meter dari Iboih. Rubiah sea garden merupakan salah satu titik penyelaman. yang cukup banyak didatangi wisatawan. Anggota rombongan menjadi 6 orang karena 3 orang teman saya baru sampai di Iboih ketika kami tengah belajar di dasar pantai tadi. Dari 6 anggota rombongan tersebut, hanya 2 orang yang memberanikan diri untuk diving, sisanya snorkling di sekitar pulau Rubiah. Sebelum naik kapal, sebuah bbm masuk, “hati-hati ya hen, klo di sea world sih gpp lha ini kan di kolamnya gusti Allah”, ugh jadi deg-degan.</p>
<p style="text-align: justify;"> <a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP1098.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-481" title="IMGP1098" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP1098.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan mengucap bismillah, mulailah saya terjun dari kapal seperti yang biasa dilakukan para penyelam lainnya, yaitu punggung duluan (euhh meni gaya). Didampingi oleh mas Isfan, kami turun ke dasar laut, kira-kira sampai kedalaman 5 meter (melihat dari salah satu alat yang kami gunakan). Setelah itu mulailah kami mengexplore daerah bawah laut, dan kali ini kamera saya tak lupa terikat di tangan kanan. Pertama-tama berada di bawah air dan bernafas menggunakan alat cukup kagok, bernafas serasa nggak puas, tapi pelan-pelan mulai terbiasa. Beberapa kali juga masker berembun dan memburamkan pandangan, mungkin karena tanpa sengaja hidung ikut menghembuskan udara.</p>
<p style="text-align: justify;">Di bawah laut, pemandangannya lebih menakjubkan, lebih banyak ikan, lebih banyak mahluk laut, lebih banyak karang, dan lebih banyak berkata wow dalam hati. Sayang karang-karangnya sebagian hancur, katanya karena efek tsunami beberapa tahun yang lalu. Tapi melihat bunga di atas karang, melihat ikan-ikan, melihat mahluk-mahluk laut, membuat semakin mengingat sang pencipta. Subhanallah, bagusnyaaaa. Sekitar satu jam kami berkeliling di bawah, kami kembali ke permukaan dan meneruskan dengan snorkeling di sekitar kapal bersama teman-teman yang lain sebelum akhirnya kembali ke Iboih dan mengakhiri pengalaman diving pertama kami.</p>
<p style="text-align: justify;"> <a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP1111.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-482" title="IMGP1111" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/IMGP1111.jpg" alt="" width="600" height="450" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Oh iya, sebagai catatan, selama satu jam di bawah, karena masih takut terbawa arus, tangan kiri hampir tak lepas dari memegang tangan mas Isfan, sementara tangan kanan saya sibuk mengambil gambar, dan tangan kiri mas  tak lepas di genggam oleh Mia teman saya, hihihi makasih ya mas Isfan bersabar menemani kami melihat-lihat pemandangan bawah air.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah untuk kesempatan ini, untuk mas Isfan dari Rubiah Tirta Divers, dan hey kamu bekicot sawah, lain kali kamu ya yang menggandeng tanganku dan menemani berkeliling di bawah air ^o^</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;">Ditulis Oleh : Henie </span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=461</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My First Narsis Diving</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=434</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=434#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 06:07:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[diving]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[
Ketemu lg di hari senin..dan ketemu lg di catper di dunia diving hehehe… Teman-teman nih cerita nya ‘asyiq banget nih..saking asik nya kata-kata asik nya jadi kayak bahasa arab deh..’asyiq..hehehe.. Kemaren itu tgl 12 April kita, aq, mba nita, mba erika, mba mimin, mba betsi, mba abi, mba arin, mba rini, alice..(bukan mba, soalnya yg paling kecil umurnya dan paling gede badannya..hehehe..sorry yah alice..tuing..) ikut diving trip di Pulau Tunda…
Berangkat dari Jakarta jam 06.15, ada yg terlambat datang..harusnya sih jam 05.30, tapi gara gara satu orang yg terlambat..akhirnya telat deh berangkatnya..ngaret sih..sapa sih yg terlambat itu?..besok-besok ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Gw.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-435" title="Gw" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/Gw.jpg" alt="" width="448" height="336" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ketemu lg di hari senin..dan ketemu lg di catper di dunia diving hehehe… Teman-teman nih cerita nya ‘asyiq banget nih..saking asik nya kata-kata asik nya jadi kayak bahasa arab deh..’asyiq..hehehe.. <span id="more-434"></span>Kemaren itu tgl 12 April kita, aq, mba nita, mba erika, mba mimin, mba betsi, mba abi, mba arin, mba rini, alice..(bukan mba, soalnya yg paling kecil umurnya dan paling gede badannya..hehehe..sorry yah alice..tuing..) ikut diving trip di Pulau Tunda…</p>
<p style="text-align: justify;">Berangkat dari Jakarta jam 06.15, ada yg terlambat datang..harusnya sih jam 05.30, tapi gara gara satu orang yg terlambat..akhirnya telat deh berangkatnya..ngaret sih..sapa sih yg terlambat itu?..besok-besok jangan bolehin ikut trip lg tuh..hehehe.. Saat di Jakarta udara cerah..eh pas mo sampai KM 68 tempat meeting point kita, hujan mulai turun, walaupun gerimis, tapi ada juga perasaan was-was dari para diver..jangan-jangan ombak..arus gede..jangan-jangan air keruh visibility kurang…apa itu visibility? aku juga gak tau..Cuma dengar dari para diver juga..hehehe..</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya sampailah kita di dermaga Banjarnegara, dan setelah loading di kapal, berangkat menuju Pulau Tunda dengan suasana hujan gerimis, mana atap kapalnya pada bocor..basah-basah deh..untung gw ada drybag dua biji..hasil hunting di Deep Indonesia kemaren… Mmhh..gara-gara hujan gerimis.. laut jadi berkabut.. pemandangan terbatas.. tapi aku benar-benar berdebar..wah..mo discovery nih.. diving pertama di laut&#8230; mmhh. gimana yah rasanya? mana poping blom lancar lg…theory juga masih sedikit..untung dah sempat latihan 2 kali di senayan with my club, pertama discovery and poping.. ty mei mei for teaching me..hehe..kedua latihan terjun kelaut, giant step sama backscroll..ty pak bowo…semuanya sangat bermanfaat…gak sia-sia latihan di senayan hehehe..</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Waow…pulau Tunda sudah kelihatan..mmh..ko kayak bukan lokasi diving yah?iya lah, wong divingnya di dalam laut bukan di darat. Tapi bener loh teman-teman, itu pulau seakan-akan bukan tujuan wisata..gak ada aroma wisatanya…padahal (buat aku yg pertama diving) pemandangan bawah laut nya…amazing..!!! juga kata teman-temen yg dah sering diving di wilayah timur Indonesia, gak kalah dengan dive site yg di Indoensia Timur…intinya, boleh deh di kunjungin untuk wisata bawah laut..cuman pulaunya blm di kelola aja secara profesional…dan blom di kemas dengan kemasan yg layak jual…jadi yg diving ke pulau itu Cuma datang and pergi, kalo mo nginap juga paling dive aboard..nah istilah apa lagi nih..kata mba erika..itu diving trip yg nginapnya di kapal, jadi kapan aja bisa diving…night diving juga bisa…apa tuh night diving?..tambah banyak aja nih kosa kata diving nya&#8230;</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Wah..ceritanya gak jelas nih..ngalor ngidul…sorry yah…gak biasa nulis soalnya..mo jadi wartawan lepas milis aja gak di terima hehehe..Wah..para diver sudah siap-siap turun nih…timmiiiiiii.. &#8220;nih fin elo…&#8221; kata mba nita..asyik dapat fin gratis…gak sekalian sama regulatornya dan bcd nya mbak..hahahaha…dikasih malah minta nambah hehehe…tau gak teman-teman?.. peralatan aku Cuma masker sama snorkle..modal dasar hehe…fin dikasih mba nita, trus yg lainnya di pinjemin sama Planet Diving.. waow..saat aku make wet suit..benar gak tuh tulisannya? hehhe…aku benar2 merasa dah menjadi seorang diver..so cool..liat deh photonya, pd aja lagi hehehe..ternyata Cuma aku sendiri yg discovery..karena blom ada license…hiks..:(…pd aja lagi hehehe…</p>
<p style="text-align: justify;">Firman mulai kasih instruksi dan pengarahan…ngasih tau apa saja fungsi alat…dan mulai cari buddy masing-masing…aku buddy aku sama Ronny.. Satu-satu mulai turun..aku kebagian yg terakhir sebelum Ronny..trunnya backscroll..untung udah latihan di senayan hehehe..byuuuurrrrr…akhirnya terjun juga ke laut sebagai diver, walaupun discovery…mantap coy..!!</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Satu-satu mulai diving..perasaan gw tambah berdebar..!!!..my turn..Ronny mulai kasih isyarat…jempol kebawah..diiiiiiiiiiiveeeeeeee..!!Oh My God…Amazing..!!! saat turun diving..dah gak tau lg perasaan gw gimana..was was..senang…kagok..panic…campur jadi satu…gado2 deh hehhe…Rony tunjuk hidung..poping…turun lg…isyarat poping tiada henti dari ronny..yes..!!!poping gw aman…!!!akhirnya sampe juga di bawah…aduh..aku blom bisa nikmatin nih…masih kagok dengan perlatan…pertama aku yg pegang influent (tau nih, benar apa gak tulisannya hehe)…masih kagok..gak tau mana yg isi mana yg buang hehehe..walhasil..kadang naik sendiri..kadang turun sendiri hehehe…dah mulai asik…dengan Ronny yg selalu always gak pernah never hehehe..ty ron..</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Aku mulai bisa menikmati Diving…ternyata masih ada masalah…masker aku mulai buram…katanya sih karna baru…rony kasih isyarat dan contoh..masker clearing..karena blom pernah belajar..tau gak teman2 apa yg terjadi??..air masuk semua dalam masker aku…!!!..kacau deh..aku contoh rony..namanya juga nyontoh ya aku ikutin aja..ternyata sblm buka masker, hirup nafas dulu, buka masker..tiup pake hidung kuat2..jadinya air yg dimasker kluar,..jangan hanya main buka aja…bukannya airnya kluar yg ada, malah airnya tambah banyak masuk…dasar loe tim hehehe..aku dah gak bisa liat apa2 lagi..masker aku dah penuh air…aku lgsg pencet influent biar naik..tapi Ronny masih maksa turun..aku naik aja sendiri..Ronny ngikutin..(ternyata setelah dikasih tau,kalo mau naik, harus savety stop dulu..hihihi sorry yah Ron..namanya juga anak baru hehehe)..setiba diatas, haahh..lega..Rony ngasih pengarah cara masker clearing…sekali lg ty Ron..setelah tau cara masker clearing…kita turun lg..ups..hampir lupa poping hehhe..nah..aku mulai bisa nikmatin..mmh..benar2 mantap!!!amazing..!!!ronny nunjuk sesuatu…aku liat..waow..illmaurey!!(gak tau bener gak tulisannya)itu loh belut laut…hihihihi..aku gak berani dekat2..aku dengar dari cerita teman2..itu belut suka nyaplok kalo dekat2..ngeri kan&#8230;.aku lihat teman yg lain jauh dalam dari pada aku nyelamnya..saat aku mo mencapai mereka..ditarik ama ronny..hihihi..discovery diving mo dalam..kagak boleh hehehe…akhirnya tuh influent ga lepas dari tangan ronny…semacam alat kendali biar aku gak jauh2 dari dia…hehhe…</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Ting2..ting..ting..ting..mmh ada bunyi apa tuh.???aku lihat ada yg di tarik ke atas..sapa tuh?ko kayak mba Nita?trus Ronny juga ngajak aku keatas..karena ada isyarat dari firman..ternyata sampai diatas…Mba Nita..!!!!kenapa mba?ada apa? Ternyata Mba Nita vertigo..!!!mba nita muntah2…trus dibawa ke kapal. Saat kita istirahat setelah dive pertama..Mba Nita jadi fokus…hehehe.., ternyata tabung yg dipake mba nita, bau bgt!!!pertama sih dikirain gara-gara regulator barunya, pas di coba pake regulator yg lain sama aja, malah untung regulatornya baru filternya masih bagus… malah mba Nita gak mau turun lg untuk dive ke 2.. dive pertama aku kurang mengesankan..karena masih kagok..belum leluasa…tapi tetap juga jadi bahan pembicaraan saat makan siang..selain vertigonya mba nita.. Tiba saatnya dive 2…mmh aku dah bertekad ntuk bisa menikmatinya…</p>
<p style="text-align: justify;">Firman mulai kasih pengarahan….dan mba nita akhirnya mau lg turun, nah gitu dong mba hehehe…siap-siap turun….tetap aja aku turun terakhir seblom ronny hehehe…loe discovery seh hehehe Diiiiiiiiiveee…poping…3meter..!!visibility jelek..poping…5meter!masih jelek..poping lg..mmhh…visibility bagus..!!!..mantap…waow…aku mulai bisa menikmatinya…benar-benar amazing..!!!(Cuma satu kesan dive pertama…AMAZING..!!!)..gila bener…aje gile…(kata-kata Marley hehehe) wah..susah deh ungkapinnya dengan kata.. I really enjot it.. bener-bener pengalaman pertama yg tidak akan terlupakan…pemandangan bawah laut yg indah..ikan, karang, para diver..mmmhh fantastic…!!!bersatu dengan komunitas bawah laut hehehe…wah aku harus mengabadikannya nih…tapi gimana caranya yah…ada tukang foto gak yah…hihihihi..tuh ada mba Erika bawa kamera, tapi jauh banget di bawah..secara (secara nih ye hehehe) aku gak boleh terlalu dalam…gimana cara manggilnya yah…nah nih mba Nita ada dibawah aku, aku tepokin…dasar bego yah gw..mana kedengaran hehe…aku ke depan ah…aaauu..ada yg tarik fin aku..mh ternyata mba Nita…emang yah mba Nita kata teman..kalo gak bawa kamera tangannya suka jail hehehe…akhirnya mba Erika ngeliat aku dari bawah..mulai lah aku bergaya ala foto model bawah laut..hahahaha..liat deh foto-nya…gak narsis kan hehehe..thanks mba erika atas photo-nya…waoww…ada ilmorey gede!!!ngeriii…matanya seakan2 mo nyaplok…(masak mata nyaplok) hehehe..wah..ada batu karang nih..duduk ah..hhehe..mana tukang fotonya nih…ko gak lewat2..hiks…padahal dah bergaya tuh…tuh..banyak ikan2 gede2..(katanya angle fish)…deketin ah…foto lg…tuh ada tukang foto lewat..mba Rini..hehe..dgn isyarat aku minta mba rini fotoin aku di antara ikan2…yahhh…mba arin lewat..ketutup deh…hiks..hehehe…gak tau tuh gimana hasilnya, foto2nya masih sama mba rini…</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<p style="text-align: justify;">Saking asiknya menikmati diving, tidak terasa, tangki dah di angka 50, saatnya naik…hiks…sedih bgt!!.. Kapan lagi yah..? Baaaaaaaaaa…. Akhirnya sampai lagi di permukaan.. <em>Congratulation</em> Timmi…</p>
<p>Mmhh… Thanks Mba Nita, Mba Eryka, Mba Mimin, Mba Betsy, Mba Abi, Mba Rini, Mba Arin, Alice, dan juga Firman dan Rony dari Planet Diving. <em>It was a great time and great moment, unforgettable trip..</em>  Oh yah satu lg, sampai di rumah aku langsung nyalain tv, trans7.. Waow… Ada diving…penelitian ttg hiu martil dan pari martil..mmh…setelah discovery diving, gw lebih menikmati lg acara diving…tau aja trans7 gw habis diving..Ge-Er loh hehehe… Teman2…sorri yah..catper gw ngasal…yah Cuma seginilah kemampuan gw hehehe..semoga ada manfaatnya, kalo gak ada manfaatnya, gw gak akan posting lagi hehehe..ngambek nih..hiihihi cuman ada beberapa hal yg menjadi catatan bagi aku…betapa kayanya Indonesia dengan wisata bawah lautnya…kenapa pariwisata blom bisa menjadi sumber devisa utama?apa dan siapa yang salah? kurang profesional? kemasanya kurang bagus? mari kita cari jawabannya..hehehe</p>
<p style="text-align: justify;">Ok teman2..mohon maaf atas segala slah tulis..</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih Bapak dan Ibu Moderator</p>
<p style="text-align: justify;">Sampe ketemu di Catper berikutnya</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Pariwisata Indonesia bisa jaya</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">-Timmy Febrin-</div>
<div style="text-align: justify;"><a href="http://timmifebrin.multiply.com/journal/item/2">http://timmifebrin.multiply.com/journal/item/2</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=434</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Burangrang Dalam Sehari</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=428</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=428#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 05:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[mountaineering]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=428</guid>
		<description><![CDATA[

Prologe
Malam itu, setelah menghadiri sebuah seminar di Galery Nasional, Jakarta bertema Food Photography, saya minta diturunkan di sekitaran jembatan Semanggi. Malam minggu, saya memang terbiasa untuk bertemu dengan kawan-kawan JPers atau Jejak Petualang Community di Pasar Festival, Jakarta Selatan. Ditempat ini, kami biasa menghabiskan waktu malam minggu dengan latihan panjat dinding atau sekedar bersilaturahmi, setelah seminggu tidak bertemu.
Dengan Kopaja 66 jurusan Blok M – Manggarai, saya menuju Pasar Festival. Jalanan sabtu malam Jakarta, tidak terlalu membuat jengkel malam itu. Dan di pasfes, sudah beberapa orang JPers yang datang.  Saya memang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/225895_1934633816327_1556763736_2087337_4578020_n.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-431" title="225895_1934633816327_1556763736_2087337_4578020_n" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/225895_1934633816327_1556763736_2087337_4578020_n.jpg" alt="" width="576" height="432" /></a><strong><em style="text-align: center;"><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Prologe</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, setelah menghadiri sebuah seminar di Galery Nasional, Jakarta bertema Food Photography, saya minta diturunkan di sekitaran jembatan Semanggi.<span id="more-428"></span> Malam minggu, saya memang terbiasa untuk bertemu dengan kawan-kawan JPers atau Jejak Petualang Community di Pasar Festival, Jakarta Selatan. Ditempat ini, kami biasa menghabiskan waktu malam minggu dengan latihan panjat dinding atau sekedar bersilaturahmi, setelah seminggu tidak bertemu.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan Kopaja 66 jurusan Blok M – Manggarai, saya menuju Pasar Festival. Jalanan sabtu malam Jakarta, tidak terlalu membuat jengkel malam itu. Dan di pasfes, sudah beberapa orang JPers yang datang.  Saya memang ada janji dengan adik saya dan Owien, yang baru pulang dari pesta makan duren di Kalibata. Huh, bikin ngiri aja.</p>
<p style="text-align: justify;">Tali baru dipasang sekitar jam delapan malam. Dan sampai jam 10 kemudian dipacking. Cukup dua jam saja, latihan manjat hari ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Diculik</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pukul sebelas, saya harus pulang ke Bekasi. Khawatir tidak ada kendaraan, Namun, beberapa teman yang akan melakukan perjalanan ke Gunung Burangrang, Bandung Utara, berhasil saya rayu, untuk membawa saya serta, dan diturunkan di tol Bekasi Timur. Dari sini, rencananya saya akan melanjutkan perjalanan pulang dengan ojek.</p>
<p style="text-align: justify;">Mobil Avanza, ber nomor kendaraan L itu, melaju dengan kencang menyusuri jalanan Jakarta dalam tol menuju  Bekasi Timur. Juppy yang jadi sopir. Sementara, ada 8 orang lain jadi penumpang. Faries, Rangga, Ikhwan,  Jiteng, Heni, Uchi, Ana, dan saya sendiri. Jadilah mobil itu menjadi riuh oleh celoteh mahluk-mahluk nakal JPers seperti biasa. Beberapa kali, godaan untuk ikut ke Burangrang, keluar dari mulut-mulut jahil mereka, yang disambut dengan ramai oleh yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Pintu tol Bekasi Timur, hanya tinggal 500 meter lagi, ketika suara-suara godaan itu tambah riuh. Dan dengan tidak berdaya saya bungkam untuk minta keluar dari sana. Mobil melaju mulus dengan suara horey yang keras. Jadilah penculikan dengan basa-basi itu berawal.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Pendakian</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Menuju Bandung, kami berpindah posisi. Mobil yang seharusnya diisi oleh delapan orang, harus menambah beban satu orang lagi. Jadilah bersembilan kami berangkat. Di Bandung, kami menginap di rumah salah seorang teman, Muchlis, di Cibaduyut. Jam 2 malam kami tiba disana.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam enam pagi, kami meninggalkan Cibaduyut menuju Parongpong.  Perjalanan ke Puncak Burangrang akan kami mulai dari Pos Komando Parongpong. Atau sekitar 30 menit dengan berjalan kaki dari terminal Parongpong. Namun, bisa menggunakan jasa ojek dari jalan raya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pos Komando, adalah pos jaga satuan Kopassus di daerah latihan Situ Lembang dan sekitarnya, termasuk Burangrang. Disini, pendaki melapor untuk mendapatkan wejangan dan mendapat ijin pendakian. Jika belum pernah ke puncak, ada pemandu yang akan mengantarkan menuju puncak Burangrang. Tentunya, tidak gratis. Namun, bisa tetap nego.</p>
<p style="text-align: justify;">Faries dan Jiteng Windu, kebagian membeli makan pagi. Dengan menggunakan motor pinjaman dari salah seorang anggota TNI disana mereka melaju membelah jalanan berbatu menuju warung nasi terdekat. Sementara kami ber tujuh, sibuk mempacking ulang bawaan, meninggalkan yang tidak perlu dibawa, dan hanya membawa bekal perjalanan seperlunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Air, menjadi kebutuhan pokok selama perjalanan ke Burangrang. Meski  hanya setinggi 2050mdpl, ternyata cukup menguras tenaga. Dan sumber mata air, tidak satupun yang bisa ditemui disini. Dan biarpun ada di kawasan Bandung, jalur Pos Komando – Puncak Burangrang, tetap minus air. Jadi, kebutuhan itu, harus disiapkan dari bawah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul sepuluh pagi, rombongan sudah siap. Setelah berpamitan ke petugas dan berdoa, kami bersembilan menyusur jalanan tanah dengan pohon-pohon pinus muda hingga berbelok di torn air. Kemudian masuk ke hutan pinus, yang lebih dikenal dengan Lawang Angin. Hamparan pinus yang rapat dengan daun-daun jarumnya Nampak serasi. Pohon-pohon itu, tinggi menjulang, seolah-olah menujuk-nusuk langit biru diangkasa. Bau pinus yang khas dan tanah basah menjadi medan awal perjalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga masuk pintu rimba, jalanan masih cukup kondusif untuk dilalui. Disatu sisi ditanah datar pertama, pemandangan menakjubkan kami jumpai kembali. Betapa tidak, pucuk-pucuk pinus kehijauan dan daun puspa yang berwarna kekuningan membaur dengan latar belakang gunung tangkuban parahu yang megah dan situ Lembang yang kelihatan  tipis berkabut, melayang-layang dipermukaan air yang kelihatan kehijauan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sini, perjalanan mulai terasa. Tanjakan sudah semakin sulit. Saya berjalan didepan, meski sudah beberapa kali kesini, tetap saja, jalur pendakian ini, mempunyai tingkat kesulitan sendiri. Rimbunnya pohon-pohon di hutan Burangrang, membuat jalanan terasa lembab dan licin. Ini juga kemudian yang membuat faktor  kesulitan pendakian ke Burangrang menjadi semakin tinggi. Dibeberapa bagian jalur akan sangat licin, lebih-lebih setelah hujan turun.</p>
<p style="text-align: justify;">Matahari, bersinar malu-malu hari itu. Mengintip dari balik tajuk-tajuk pohon yang melindungi kami dari sengatannya yang membakar. Namun itu hanya sebentar, setelah pos ke 3, kabut tipis yang melayang-layang berganti dengan gerimis dan kabut tebal. Kami bergegas menuju puncak.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalur menuju Puncak Burangrang, didominasi oleh jalan tanah, tidak berbatu-batu. Dipos terakhir, jalanan akan berbelok ke kiri, dan akan turun terus. Hingga, kita temukan tanjakan yang cukup ekstrim. Di jalur ini, jalanan hanya selebar kurang dari setengah meter, dengan jurang puluhan meter menganga lebar. Sangat tidak disarankan untuk jalan dimalam hari. Karena, dalam terang sekalipun, kita sering terjebak. Namun jangan sedih, karena dari sini, lagi-lagi pemandangan menakjubkan kita temui. Jurang-jurang yang dalam dengan pohon-pohon menghijau dan cadas-cadas berwarna putih kecoklatan, menyembul diantaranya. Eksotis. Sementara hari itu, situ lembang tak bisa terlihat karena pelukan kabut yang tebal.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul satu siang, kami semua tiba dipuncak Burangrang di ketinggian 2050mdpl. Saya baru tahu, ini adalah puncak pertamanya Rangga Dive. Tak heran, jika ia lantas mengenakan snorkel dan google yang dibawa dari bawah untuk dipakai di pakai di puncak Burangrang. Ada-ada saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujan rintik menemani kami di puncak Burangrang. Kabut tipis sesekali datang memberi salam dan selamat kepada kami.  Acara dipuncak diisi dengan makan siang dan kopi panas. Tidak lupa photo-photo mengabadikan kenangan perjalanan hari ini. Meski dingin kemudian menyergap, namun, kebersamaan itu, menghangatkan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan dalam perjalanan ini, ledek-ledekan khas JPers terjadi sepanjang jalan. Dan kata-kata “eh, bapak kamu tukang bla…bla..bla… yah” .. semua mendapat bagian diledek.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan lebih jam tiga siang, kami bergegas turun. Jalanan semakin licin karena hujan rintik-rintik turun sepanjang perjalanan. Dan kabut tebal kembali menyergap. Berkali-kali satu-satu dari kami merasakan jatuh terpeleset. Saya, sempat juga merasakan licin nya dan menghantam tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jam setengah tujuh malam, kami semua tiba di Pos Komando. Dan setelah ganti baju serta merapikan diri, kami pamit ke petugas untuk kembali ke Jakarta. Burangrang hari itu, begitu menawan. Meski hujan turun dank abut tebal yang  menyergap berkali-kali, kami tetap bersemangat. (boim akar)</p>
<p style="text-align: justify;">JPers : Rangga Dive, Juppy Arsana, Ikhwan, Faries Harjo, Jiteng Windu, Heni, Uchi, Ana Kodok</p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://a1.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/225424_1934634136335_1556763736_2087338_1275685_n.jpg" alt="" width="483" height="362" /></p>
<p style="text-align: justify;">rangga dive in action</p>
<p style="text-align: justify;"><img src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/225231_1934634936355_1556763736_2087339_2506417_n.jpg" alt="" width="576" height="432" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=428</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delapan Tahun Jejak Petualang Community</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=391</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=391#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 22:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[on media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=391</guid>
		<description><![CDATA[
Pada tanggal 20 Januari 2012, Komunitas Jejak Petualang tepat berusia 8 tahun. Usia yang cukup panjang untuk sebuah komunitas, terlebih pada awalnya komunitas ini dibentuk dari sebuah milis pada tanggal 20 Januari 2004 yang dibuat oleh Dody Johanjaya bagi para penggemar tayangan Jejak Petualang di stasiun televisi nasional, TV7, yang dibawakan presenter Riyanni Djangkaru. Acara sederhana diadakan di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta namun tetap meriah dengan kehadiran puluhan anggota komunitas, kru Trans7 serta salah seorang presenter Jejak Petualang, Indrayani Laksmi.

Para moderator memberikan sambutan
Saat TV7 menjadi Trans7, jumlah penggemar semakin bertambah banyak seiring dengan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/400x300-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-aP1510753jp.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-396" title="400x300-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-aP1510753jp" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/400x300-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-aP1510753jp.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Pada tanggal 20 Januari 2012, Komunitas Jejak Petualang tepat berusia 8 tahun. Usia yang cukup panjang untuk sebuah komunitas, terlebih pada awalnya komunitas ini dibentuk dari sebuah milis<span id="more-391"></span> pada tanggal 20 Januari 2004 yang dibuat oleh Dody Johanjaya bagi para penggemar tayangan <em>Jejak Petualang</em> di stasiun televisi nasional, TV7, yang dibawakan presenter Riyanni Djangkaru. Acara sederhana diadakan di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta namun tetap meriah dengan kehadiran puluhan anggota komunitas, kru Trans7 serta salah seorang presenter <em>Jejak Petualang</em>, Indrayani Laksmi.</p>
<p><a href="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/400x296-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-aP1510737_jp8.jpg"><img class="size-full wp-image-392 aligncenter" title="400x296-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-aP1510737_jp8" src="http://jejakpetualang.org/jp/wp-content/uploads/2012/01/400x296-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-aP1510737_jp8.jpg" alt="" width="400" height="296" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Para moderator memberikan sambutan</p>
<p style="text-align: justify;">Saat TV7 menjadi Trans7, jumlah penggemar semakin bertambah banyak seiring dengan bertambahnya presenter dan kemudian dibuatlah sebuah forum diskusi <em>online</em> dengan moderator Epik Wasilah, Riri, Timmi Febrin dan Budi Cahyono dan para membernya kemudian disebut dengan &#8216;JPers&#8217;. Forum diskusi<em>online</em> ini tidak hanya berkisah tentang petualangan tetapi juga berbagi info, artikel dan trik yang bermanfaat.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Kue ulang tahun ke-8" href="http://www.tnol.co.id/community/articles/5736/Jejak_Petualang_Community/aP1510749jp.jpg" rel="lightbox[12520]" target="_blank"><img src="http://www.tnol.co.id/images/stories/thumbs/400x300-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-aP1510749jp.jpg" alt="Kue ulang tahun ke-8" width="400" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Kue ulang tahun ke-8</p>
<p style="text-align: justify;">Diawali dari ajakan beberapa &#8216;JPers&#8217; untuk kopdar yang disambut baik oleh member lain, maka dibuatlah berbagai acara. Acara &#8216;JPers&#8217; ini bukan hanya berpetualang tetapi juga dengan mengadakan bakti sosial, seperti mengunjungi sekolah anak-anak pemulung di daerah Plumpang, Jakarta Utara. Kemudian beberapa petualangan atau mendaki gunung bersama. Jejak Petualang Community juga sering berjalan bersama komunitas lain, meskipun bukan dari komunitas pegiat alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Forum &#8216;JPers&#8217; kemudian bertambah anggota dan mulai merambah ke jejaring sosial Facebook. Saat di Facebook inilah mereka mengajak untuk mengadakan <em>Jambore Petualang Indonesia</em> (JPI). Dan JPI ini merupakan jambore dengan jumlah peserta  mencapai 1.000 orang dan melibatkan sekitar 300 orang panitia. Jambore berlangsung pada 8 dan 9 Agustus 2009 di Bumi Perkemahan Ranca Upas Bandung, Jawa Barat. Peserta jambore tidak hanya dari Pulau Jawa, tetapi juga hampir dari seluruh Indonesia seperti dari Sulawesi, Sumatera, Papua. Bahkan, ada pula peserta dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Kuwait.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="Baksos di sekolah anak pemulung Plumpang, Jakarta Utara./ Foto: Riri" href="http://www.tnol.co.id/community/articles/5736/Jejak_Petualang_Community/jp_baksos_di_plumpang_tj_priok_09_sekolah_anak_pemulung_foto_by_ririgoddess.jpg" rel="lightbox[12520]" target="_blank"><img src="http://www.tnol.co.id/images/stories/thumbs/400x266-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-jp_baksos_di_plumpang_tj_priok_09_sekolah_anak_pemulung_foto_by_ririgoddess.jpg" alt="Baksos di sekolah anak pemulung Plumpang, Jakarta Utara./ Foto: Riri" width="400" height="266" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Baksos di sekolah anak pemulung Plumpang, Jakarta Utara./ Foto: Riri</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak suka duka yang mereka alami, tetapi mereka menganggap hal itu sebagai suatu kewajaran. Epik Wasilah yang menjadi anggota forum pada tahun 2007 menceritakan suka dukanya saat sedang pendakian ada teman yang mengalami kelelahan luar biasa (<em>fatigue</em>) karena mungkin saat itu kondisinya sedang kurang baik. Karena, memang saat mendaki ke Gede-Pangrango berangkat dari jam 02.00 WIB dini hari dan sampai puncak jam 22.00 WIB. Untunglah teman itu bisa ditolong bersama-sama dengan pendaki lain meskipun bukan dalam satu tim. Selain itu kadang-kadang saat mengadakan acara, ada beberapa peserta yang tidak mendengarkan arahan pimpinan padahal itu sangat penting lanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Timmi Febrin yang baru aktif bergabung pada tahun 2008, meskipun sebelumnya hanya ikut-ikutan saja, mengatakan banyak yang bisa didapat dari komunitas ini diantaranya bertambah teman, menjalin persaudaraan dan <em>network</em>. Hal senada juga dikatakan oleh Riri, Hans, Diana, Uchit dan Boim. Menurut Boim, salah seorang &#8216;JPers&#8217; senior, dari data anggota diketahui usia termuda adalah 15 tahun dan tertua sampai saat ini 50 tahun. Anggota pun bervariasi dari semua kalangan maupun profesi. Bahkan ada pula ibu rumah tangga. Diakui pula oleh April, salah seorang &#8216;JPers&#8217; pemula yang pada awalnya kagum dengan presenter acara <em>Jejak Petualang</em>, Riyanni Djangkaru.</p>
<p style="text-align: justify;"><a title="'Jambore Petualang Indonesia' di Ranca Upas, Jawa Barat 2009./ Foto: Riri" href="http://www.tnol.co.id/community/articles/5736/Jejak_Petualang_Community/jambore_petualang_indonesia_2009_ranca_upas_bandung_1_ft_diana_susanti.jpg" rel="lightbox[12520]" target="_blank"><img src="http://www.tnol.co.id/images/stories/thumbs/400x300-community-articles-5736-Jejak_Petualang_Community-jambore_petualang_indonesia_2009_ranca_upas_bandung_1_ft_diana_susanti.jpg" alt="'Jambore Petualang Indonesia' di Ranca Upas, Jawa Barat 2009./ Foto: Riri" width="400" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Jambore Petualang Indonesia&#8217; di Ranca Upas, Jawa Barat 2009./ Foto: Riri</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan &#8216;JPers&#8217; yang rutin diadakan diantaranya belajar dan berlatih panjat tebing yang dilakukan seminggu sekali di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta. Siapa pun boleh ikut belajar disana setiap malam Minggu. Selain itu ada juga kegiatan belajar <em>diving</em>, <em>trekking</em>, <em>survival</em> dan lainnya. Bagi yang ingin bergabung, komunitas ini menerima dengan tangan terbuka. Silahkan mengirimkan email ke <em><a href="mailto:jejakpetualang@yahoogroups.com">jejakpetualang@yahoogroups.com</a></em> atau kunjungi<em>jejakpetualang.multiply.com</em>, <em>jejakpetualang.org</em>, atau Facebook di  <em>www.facebook.com/groups/42141434639</em>, serta Twitter @jepecom.</p>
<p style="text-align: justify;">ditulis oleh: Agheelz</p>
<p style="text-align: justify;">sumber: <a href="http://www.tnol.co.id/community/community-writes/12520-delapan-tahun-jejak-petualang-community.html?format=html&amp;lang=id">http://www.tnol.co.id/community/community-writes/12520-delapan-tahun-jejak-petualang-community.html?format=html&amp;lang=id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=391</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membawa Perlengkapan Naik Gunung dan Packing</title>
		<link>http://jejakpetualang.org/jp/?p=248</link>
		<comments>http://jejakpetualang.org/jp/?p=248#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 16:46:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jepecom</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips n trik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jejakpetualang.org/jp/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[Persiapan untuk menghadapi perjalanan petualangan kemanapun dan dimanapun, baik itu naik gunung, hiking, camping dan sebagainya. Penting sekali mempersiapkan diri membawa peralatan yang dibutuhkan. Lebih baik kita bawa, daripada berharap bisa kita temukan di perjalanan dengan cara membeli, namun kemudian ternyata tidak ada, jadi lebih repot lagi kaan. Lebih baik repot dan berat, tapi bawaan kita lengkap dan tidak akan mengganggu perjalanan dengan urusan tetek bengek peralatan.
Untuk perjalanan pendakian gunung dengan ketinggian 3000an mdpl, lamanya sekitar 3 hari 2 malam dg menggunakan ransel 75lt.
Yang perlu dibawa kira-kira,
 
Perlengkapan pribadi :
1. Pakaian cadangan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Persiapan untuk menghadapi perjalanan petualangan kemanapun dan dimanapun, baik itu naik gunung, hiking, camping dan sebagainya. Penting sekali mempersiapkan diri membawa peralatan yang dibutuhkan.<span id="more-248"></span> Lebih baik kita bawa, daripada berharap bisa kita temukan di perjalanan dengan cara membeli, namun kemudian ternyata tidak ada, jadi lebih repot lagi kaan. Lebih baik repot dan berat, tapi bawaan kita lengkap dan tidak akan mengganggu perjalanan dengan urusan tetek bengek peralatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk perjalanan pendakian gunung dengan ketinggian 3000an mdpl, lamanya sekitar 3 hari 2 malam dg menggunakan ransel 75lt.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang perlu dibawa kira-kira,</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perlengkapan pribadi :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1.<strong> </strong>Pakaian cadangan (2 potong)</p>
<p style="text-align: justify;">Pakaian cadangan ini biasanya digunakan kalau pakaian yg kita kenakan basah dan kotor.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Celana pendek (1 potong)</p>
<p style="text-align: justify;">Celana pendek biasa digunakan ketika jalan atau tidur atau ketika bersantai (tergantung kebiasaan). Kalau naik gunung dengan kondisi hutan rapat dengan semak belukar, lebih baik pakai celana lapangan panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Celana panjang (1 potong)</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk cadangan bila celana utama kita basah, kotor atau robek karena satu hal.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Celana dalam (3 potong)</p>
<p style="text-align: justify;">Nah ini sudah jelas, jumlah terserah saja, mau bawa satu juga boleh, biar side A, B, C, D dst silahkaaan…</p>
<p style="text-align: justify;">5. Kaos kaki (2 potong)</p>
<p style="text-align: justify;">Kaos kaki ini juga untuk cadangan bila kaos kaki yg satu sudah bau, kotor atau basah, tidak ada salahnya juga bawa kaos kaki tebal khusus untuk tidur agar kaki lebih hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">6. Sweater</p>
<p style="text-align: justify;">Sweater sangat berguna untuk menahan hawa dingin di pegunungan agar, suhu badan tetap hangat. Kenakan sweater ini disaat aktifitas sehari-hari dan ketika tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Raincoat / jas hujan</p>
<p style="text-align: justify;">8. Handuk kecil</p>
<p style="text-align: justify;">9. Topi/Bandana</p>
<p style="text-align: justify;">10.Kaca Mata</p>
<p style="text-align: justify;">Suhu yang terik dan menyilaukan bisa membuat mata lelah atau iritasi dan membuat mata merah, kaca mata yg mempunyai kemampuan menangkal sinar UV hingga 100% sangat dianjurkan untuk melindungi mata agar tetep fresh dan adem.</p>
<p style="text-align: justify;">11.Kupluk</p>
<p style="text-align: justify;">Di udara dingin terutama ketika tidur, biasanya kuping kedinginan, penggunaan kupluk bisa membuat kepala dan kuping tetap hangat. Kupluk juga melindungi bagian kepala dari dinginnya angin malam bila beraktifitas malam hari.</p>
<p style="text-align: justify;">12.Sepatu gunung</p>
<p style="text-align: justify;">Sepatu inilah yang terbaik dikenakan bila melakukan perjalanan di gunung.</p>
<p style="text-align: justify;">13.Sandal jepit</p>
<p style="text-align: justify;">Sandal jepit dipakai untuk aktifitas sehari-hari disekitar camp, agar tidak repot lepas pakai sepatu gunung.</p>
<p style="text-align: justify;">14.Sarung tangan (2 potong)</p>
<p style="text-align: justify;">Sarung tangan berguna untuk melindungi tangan bila trek atau jalur pendakian terjal dengan batu tajam dimana-mana, sarung tangan yang kita kenakan melindungi tangan dari goresan batu atau semak berduri yang kita pegang.  Satu lagi sarung tangan dari bahan kaos dipakai untuk tidur agar tangan tetap hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">15.Perlengkapan mandi</p>
<p style="text-align: justify;">16.Pisau lipat</p>
<p style="text-align: justify;">Pisau lipat digunakan untuk memotong segala sesuatu yang kecil seperti tali tenda yg kepanjangan, plastik yg terikat mati dan sebagainya. Pisau lipat yang lengkap biasa ada alat lain seperti pinset, tusuk gigi, gergaji, pembuka botol, gunting, dsb.</p>
<p style="text-align: justify;">17.Notes + ballpoint</p>
<p style="text-align: justify;">Notes dan ballpoint berguna untuk mencatat, semua tempat yg dilalui, apa yg belum dan akan dibeli, nama kontak, catatan perjalanan dsb.</p>
<p style="text-align: justify;">20.Gaiters</p>
<p style="text-align: justify;">Gaiter atau penutup dari kain dari kaki hingga betis berguna dipakai bula berjalan di trek pasir, tanah berdebu, agar pasir atau tanah tidak masuk dalam sepatu.</p>
<p style="text-align: justify;">21.Botol minum</p>
<p style="text-align: justify;">22.Payung lipat</p>
<p style="text-align: justify;">Payung ini sangat praktis untuk menahan air hujan yang tidak terlalu besar agar badan dan barang yang kita bawa tidak basah, sementara kita tidak sempat membungkus dengan pelastik.</p>
<p style="text-align: justify;">23.Dll</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perlengkapan tidur :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Tenda</p>
<p style="text-align: justify;">Pastikan tenda yang dibawa dalam kondisi baik, tahan terhadap hujan dan semua peralatan tenda masih lengkap seperti pasak, tali dsb</p>
<p style="text-align: justify;">2. Sleeping bag</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah  tenaga terkuras habis akibat berjalan seharian, saat yang ditunggu-tunggu adalah istirahat tidur untuk memulihkan tenaga guna melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Di gunung biasanya cuaca dingin apalagi dimalam hari dan berangin, Maka sleeping bag yang bagus dan mampu melawan suhu dingin wajib hukumnya dibawa.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Matras</p>
<p style="text-align: justify;">Matras berguna agar badan kita tidak bersentuhan lengsung dengan alas tenda dan tanah yang dingin, jadi kehangatan badan dan sleeping bag kita tetap terjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Bantal Tiup</p>
<p style="text-align: justify;">Bantal tiup ini sebagai pengganti bantal di rumah, agar kita bisa tidur dengan nyenyak dengan beralaskan bantal bak tempat tidur kita di rumah . Bila tidak punya bantal tiup bisa juga menggunakan segala yang empuk seperti pakaian cadangan atau pantat teman kita ….:))</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Perlengkapan masak :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Kompor</p>
<p style="text-align: justify;">2. Botol bahan bakar (spirtus, gas, minyak tanah, bensin, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">3. Korek api</p>
<p style="text-align: justify;">Korek api bisa berupa korek gas, bawa beberapa dan simpan di tempat yg mudah mudah diingat, kalau mau bawa korek biasa taruh di tempat film agar kedap air.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Piring, gelas, sendok, garpu</p>
<p style="text-align: justify;">5. Pisau dapur</p>
<p style="text-align: justify;">6. Alat masak, penggorengan , panic dsb</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bahan makanan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Beras</p>
<p style="text-align: justify;">2. Minyak goreng (botol plastik, agar ringan)</p>
<p style="text-align: justify;">3. Mie instan</p>
<p style="text-align: justify;">4. Bumbu (kecap, sambal saos, garam)</p>
<p style="text-align: justify;">5. Mentega</p>
<p style="text-align: justify;">6. Telur</p>
<p style="text-align: justify;">Taruh di tempat telur yg sudah banyak dijual di pasaran, agar tidak mudah pecah.</p>
<p style="text-align: justify;">7. Sayuran</p>
<p style="text-align: justify;">Perkirakan jumlahnya yg akan dibawa, karena sayuran tidak tahan lama dan mudah busuk.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Makanan kaleng (sarden, korned, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan terlalu banyak bawa makanan kaleng karena akan memberatkan ransel kita.</p>
<p style="text-align: justify;">9. Ikan kering (ikan asin, cumi, dll)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Makanan kecil :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Kacang2an</p>
<p style="text-align: justify;">2. Jelly</p>
<p style="text-align: justify;">3. Keripik</p>
<p style="text-align: justify;">4. Coklat</p>
<p style="text-align: justify;">5. Permen</p>
<p style="text-align: justify;">6. Rengginang</p>
<p style="text-align: justify;">7. Roti</p>
<p style="text-align: justify;">8. Biskuit</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Obat2an pribadi (P3K) :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Antiseptik (obat merah, betadin, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk luka luar, jangan remehkan kena gores, lecet, sobel, teriris, cepat oleskan antiseptic sebelum luka lebih parah karena infeksi.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Tetes mata (rohto, visine, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">3. Flu, demam (decolgen, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">4. Sakit kepala (panadol, dll)                          <wbr>            </wbr></p>
<p style="text-align: justify;">5. Perban (kasa steril)</p>
<p style="text-align: justify;">6. Plester (hendyplas, hansaplas, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">7. Alkohol (70-90 %)</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencuci dan membersihkan luka agar steril, untuk kemudian diolesi antiseptic.</p>
<p style="text-align: justify;">8. Obat Diare (new diatab, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">9. Oralit</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menetralisir racun bila kita keracunan atau sakit perut karena salah makan.</p>
<p style="text-align: justify;">10.Obat Batuk (OBH, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">12.Penkiller</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengurangi rasas sakit misalnya sakit gigi.</p>
<p style="text-align: justify;">13.Keseleo (counterpen, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">14.Antibiotik (amoksilin, dll)</p>
<p style="text-align: justify;">15.Termometer badan</p>
<p style="text-align: justify;">16. Tabir Surya (Sun Block)</p>
<p style="text-align: justify;">Panas terik matahari di pegunungan mampu membakar kulit, untuk melindungi permukaan kulit kita ada baiknya, setiap mulai melakukan perjalanan, seluruh permukaan kulit yang terbuka di olesi sun block.</p>
<p style="text-align: justify;">17. After Sunburn</p>
<p style="text-align: justify;">Bila ada beberapa bagian kulit badan kita memerah akibat  terbakar matahari cepat oleskan ini, untuk mengurangi kerusakan lebih parah.</p>
<p style="text-align: justify;">18. Aspirin</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mengurangi rasa nyeri</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Peralatan Komunikasi dan Navigasi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Jam tangan<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tahu dong gunanya untuk apaa…<strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. </strong>GPS</p>
<p style="text-align: justify;">Di era sekarang GPS sudah banyak di pasaran, peralatan ini sangat membantu setiap aktifitas di luar ruang. Alat ini mampu mengetahui secara akurat (yah kira-kira)  ketinggian, koordinat ketelatakan kita, jarak, kecepatan dan memetakan perjalanan kita, sehingga kita mudah kembali ke trek semula bila tersesat.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Peta</p>
<p style="text-align: justify;">Selain GPS lebih bagus lagi bila kita bawa peta topograpi, terutama di medan gunung yang sama sekali belum pernah kita daki, sehingga kita tahu posisi kita dan posisis tujuan kita dan mengetahui keadaan medan disekitar kita.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Kompas</p>
<p style="text-align: justify;">Kompas sebenarnya ada di GPS namun bila ingin praktis bisa saja bawa alat kompas tersendiri, agar kita cepat tahu arah matahari terbit, kiblat dan sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Mobile Phone</p>
<p style="text-align: justify;">6. Satelite Phone</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara packing</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk membawa sedemikian banyak barang dan bisa masuk dalam ransel perlu memperhatikan beberapa hal. Tenda dan peralatan tidur seperti sleeping bag kita simpan di bagian bawah ransel, krn tidak segera kita gunakan. Lalu menyusul pakaian cadangan (siapkan satu potong kaos dan sweater untuk disimpan di bagian atas ransel). Ini berguna ketika kita beristirahat atau masak makanan, agar tidak kedinginan pakaian basah yg dikenakan selama perjalanan kita ganti dengan pakaian kering dan kemudian kenakan sweate agar lebih hangat. Menyusul kemudian taroh bahan makanan dibagian . Catatan kita sudah memilah dan memisahkan bahan makanan yg hendak kita masak di tengah jalan. Lalu kita masukan alat masak, makanan kecil dan kotak obat2 di bagian atas. Kalau ransel kita ada kantong di bagian luar, bagus kita masukan tisu kering/basah (ini berguna bila kita sewaktu-waktu hendak buang air besar), kantong lain bisa kita isi makanan kecil dan minuman.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>         </strong>Sebelum peking memasukan barang bawaan kedalam ransel, pastikan barang yang mudah basah dan tidak boleh basah sudah di bungkus plastik agar, tidak basah kena hujan.Yang wajib dibungkus rapat pelastik adalah sleeping bag, pakaian cadangan dan semua bahan makanan yang mudah rusak bila kena air. Juga semua peralatan elektronik yang kita bawa, spt hp, pemutar music dsb. Setelah dipastikan semua tersusun rapi dan masuk semua dalam ransel, tidak ada yang tertinggal dan tidak ada yang digantung-gantung di luar ransel, kemudian ransel kita bungkus dengan cover plastik (rain cover) agar ransel lebih tahan dari siraman air hujan dan goresan kayu dan batuan tajam yang akan merusakan ransel kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat mengemas peralatan, selamat bertualang….jangan lupa berdoa.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;">Dody Johanjaya</p>
<p style="text-align: justify;">(Tulisan ini disarikan berdasarkan pengalaman packing dan mendaki gunung mulai dari Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat,  hingga Gunung Kilimanjaro di Africa sana)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jejakpetualang.org/jp/?feed=rss2&#038;p=248</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

